Misteri Jalan Parangtritis: Ketika Kuntilanak Menjelma dari Kegelapan
Jalan Parangtritis, sebuah nama yang selalu dibisikkan dengan dua nada: kekaguman akan keindahan pantainya, dan kengerian akan kisah-kisah gaib yang mengakar di sana. Sebuah jalur aspal yang membentang di pesisir selatan Jawa, seringkali menjadi saksi bisu peristiwa di luar nalar. Banyak yang menyebutnya gerbang menuju dunia lain.
Arya, seorang insinyur muda yang logis, selalu menertawakan cerita-cerita itu. Baginya, mitos hanyalah bualan untuk menakut-nakuti anak kecil. Ia percaya pada sains, pada hal-hal yang bisa dijelaskan oleh akal sehat, bukan pada bisikan angin atau bayangan di sudut mata.
Malam itu, jam menunjukkan pukul sebelas lewat. Arya baru saja menyelesaikan pekerjaan darurat di sebuah proyek di daerah Bantul. Kelelahan dan keinginan cepat sampai rumah mendorongnya memilih jalur yang paling cepat, Jalan Parangtritis yang sepi.
Langit gelap gulita, dihiasi hanya oleh bintik-bintik bintang yang redup. Bulan sabit tipis menggantung di kejauhan, seolah enggan menerangi lebih banyak. Lampu mobil Arya menjadi satu-satunya penerang di antara hutan pinus yang menjulang dan semak belukar yang lebat.
Udara malam mulai terasa menusuk, bukan dingin biasa, melainkan hawa dingin yang aneh, seolah membeku di dalam tulang. Arya menurunkan sedikit jendela untuk menghirup udara segar, namun yang masuk justru aroma melati dan kamboja yang terlalu pekat, tak wajar untuk malam itu.
Pikirannya masih sibuk dengan pekerjaan, mencoba mengabaikan sensasi aneh yang mulai menjalar. Ia menganggap itu hanya efek kelelahan. Radio mobilnya mendadak berderak, sinyalnya menghilang, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kabin.
Keheningan itu bukan kosong, melainkan terisi oleh sesuatu yang samar. Sebuah suara. Mirip desiran angin, namun terlalu berirama. Lalu, sedikit lebih jelas, seperti isakan tangis yang tertahan, melayang-layang di antara pepohonan.
Arya mengerutkan kening. “Apa itu?” gumamnya pada diri sendiri. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah suara binatang malam, mungkin musang atau burung hantu. Namun, isakan itu terlalu manusiawi, terlalu melankolis.
Ia mempercepat laju mobilnya, berharap bisa segera melewati bagian jalan yang paling gelap dan sepi ini. Lampu jauh mobilnya menyorot ke depan, menciptakan terowongan cahaya di tengah kegelapan yang tak berujung.
Tiba-tiba, di sisi jalan, di bawah pohon beringin tua yang rindang, sebuah siluet putih pucat menarik perhatiannya. Arya mengerem mendadak, jantungnya berdegup kencang. Mobilnya berhenti dengan deritan ban yang memecah keheningan.
Siluet itu tak bergerak, seolah menyatu dengan kegelapan. Arya mencoba menajamkan pandangannya. Apakah itu hanya ilusi optik? Sehelai kain putih yang tersangkut di dahan? Ia memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi.
Wanita itu berdiri di sana. Jelas sekali. Mengenakan gaun putih panjang yang lusuh, seolah telah usang dimakan waktu. Rambutnya hitam legam terurai panjang, menutupi sebagian wajahnya yang samar-samar terlihat pucat pasi.
Isakan tangis yang tadi ia dengar kini semakin jelas, menusuk hingga ke tulang. Suaranya terdengar begitu pilu, seperti ratapan dari jiwa yang tersesat. Arya merasakan bulu kuduknya berdiri tegak, merinding hebat.
Kakinya terasa beku, terpaku di pedal rem. Ia ingin menginjak gas, ingin lari, namun tubuhnya seolah tak mau menuruti. Matanya terpaku pada sosok putih itu, yang kini perlahan mulai bergerak.
Bukan melangkah, melainkan melayang. Perlahan, tanpa suara, sosok itu bergerak ke arah mobilnya. Gaun putihnya melambai-lambai lembut, seolah ditiup angin yang tak terasa. Aroma kamboja kembali menusuk hidung Arya, jauh lebih pekat dari sebelumnya.
Keringat dingin membasahi punggung Arya. Ia mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya tercekat. Pikiran rasionalnya berteriak untuk mencari penjelasan, namun tak ada satupun yang masuk akal. Ini bukan mimpi, ini nyata.
Sosok itu semakin dekat. Kini Arya bisa melihat detail wajahnya yang tertutup rambut. Pucat. Sangat pucat, hampir transparan. Bibirnya tipis, sedikit terbuka, dari sanalah suara tangisan itu berasal.
Dan matanya… Atau lebih tepatnya, ketiadaan mata. Hanya cekungan hitam pekat yang memancarkan kedinginan abadi, seolah menatap langsung ke dalam jiwanya. Sebuah tatapan kosong yang mengoyak nalar Arya.
Ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menembus kaca mobilnya, seolah ada dinding es yang baru saja terbentuk. Suara tangisan itu kini begitu dekat, seperti berbisik di telinganya, memohon sesuatu yang tak bisa ia pahami.
Kuntilanak. Nama itu terlintas di benaknya, sebuah mitos yang kini menjelma di hadapannya. Jantungnya berdebar sangat kencang, nyaris meledak. Ia bisa merasakan setiap detak di seluruh tubuhnya.
Dalam kepanikan yang memuncak, dengan sisa-sisa keberanian yang entah dari mana datangnya, Arya menggerakkan tangannya. Ia meraih kunci mobil, memutarnya dengan gemetar, mencoba menyalakan mesin. Namun mesin mobilnya seolah ikut membeku.
Sosok putih itu kini berada tepat di samping jendela pengemudi. Wajahnya yang pucat nyaris menempel di kaca. Rambut hitamnya yang panjang seolah menari-nari di depannya. Arya bisa melihat bayangan wajahnya sendiri terpantul di kaca, diapit oleh kegelapan dan wajah pucat itu.
Tangisan itu berhenti. Digantikan oleh sebuah senyum. Senyum yang tidak manusiawi, terlalu lebar, terlalu dingin. Dan dari senyum itu, terdengar tawa. Tawa yang melengking, tajam, menusuk, menggema di kesunyian malam.
Tawa itu bukan tawa kegembiraan, melainkan tawa kepiluan yang mengerikan, penuh dengan kesedihan dan dendam. Arya merasa jiwanya terisap, seluruh energinya terkuras habis oleh kengerian yang tak terlukiskan ini.
Secara refleks, ia menekan pedal gas sekuat tenaga. Mesin mobil meraung, entah bagaimana akhirnya hidup. Ban mobil berdecit keras, melaju kencang meninggalkan sosok itu. Arya tak berani menoleh ke belakang.
Ia hanya menatap lurus ke depan, tangan mencengkeram erat kemudi, jantungnya masih berdegup kencang seperti genderang perang. Keringat dingin terus mengucur di dahinya, membasahi wajahnya yang pucat pasi.
Jalanan yang tadinya gelap gulita kini terasa lebih terang, atau mungkin karena ia sudah melewati titik paling angker. Arya terus melaju, tak peduli pada kecepatan, yang penting menjauh, sejauh mungkin dari sana.
Beberapa menit kemudian, ia melihat lampu-lampu rumah penduduk di kejauhan. Kehidupan. Manusia. Rasa lega bercampur mual membanjiri dirinya. Ia telah selamat. Namun, ia tahu, ada sesuatu yang telah berubah dalam dirinya.
Malam-malam Arya tidak pernah lagi sama. Bayangan gaun putih itu terus menari di benaknya setiap kali ia memejamkan mata. Aroma kamboja menjadi simbol ketakutan yang paling mengerikan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya halusinasi, efek kelelahan. Namun, ia tak bisa melupakan detail mata kosong itu, atau tawa melengking yang masih terngiang di telinganya.
Arya tidak pernah lagi melewati Jalan Parangtritis di malam hari. Ia selalu memilih jalan memutar yang lebih jauh, meskipun itu berarti membuang waktu. Kengerian malam itu telah mengukir trauma abadi dalam jiwanya.
Jalan Parangtritis tetap menyimpan misterinya, sebuah perbatasan tipis antara dunia nyata dan gaib. Kisah-kisah horornya bukan lagi sekadar bualan, melainkan peringatan akan kekuatan tak kasat mata yang bersemayam di sana.
Dan cerita Arya hanyalah satu dari sekian banyak bisikan yang tak terpecahkan, menambah lapisan kengerian pada legenda Kuntilanak di jalur yang sunyi itu. Sebuah bukti bahwa terkadang, hal yang tak bisa dijelaskan akal sehat, memang benar-benar ada.







