Scroll untuk baca artikel
DIY

Bukit Bego Menyimpan Rahasia — Dan Suara Itu Bagian dari Petunjuknya

10
×

Bukit Bego Menyimpan Rahasia — Dan Suara Itu Bagian dari Petunjuknya

Share this article

Bukit Bego Menyimpan Rahasia — Dan Suara Itu Bagian dari Petunjuknya

Jeritan Abadi di Bukit Bego: Kisah Misteri yang Terkubur

Bukit Bego. Sebuah nama yang mengundang senyum sinis, namun menyimpan misteri kelam yang berbisik di setiap hembusan anginnya. Bukan sekadar gurauan, bukit terpencil di jantung Jawa Barat ini adalah saksi bisu dari jeritan pilu yang tak pernah padam. Jeritan yang membuat bulu kuduk berdiri, mengoyak sunyi malam, dan menancapkan ketakutan mendalam di hati siapa pun yang mendengarnya.

Kisah ini bermula dari Ardi, seorang jurnalis investigatif yang haus akan cerita-cerita tak terjamah. Ia mendengar desas-desus tentang Bukit Bego, tentang suara-suara aneh yang penduduk setempat tak berani menyebutnya. Rasa ingin tahu Ardi melampaui rasa takutnya, mendorongnya untuk menjejakkan kaki di tanah yang dianggap terkutuk itu.

Desa terdekat, yang hanya berjarak beberapa kilometer, hidup dalam bayang-bayang bukit. Penduduknya ramah, namun sorot mata mereka selalu menyimpan kekhawatiran yang sama. Mereka menghindari menyebut nama Bukit Bego, seolah-olah nama itu sendiri memiliki kekuatan untuk memanggil kegelapan.

Ardi tiba di desa itu di suatu senja, disambut oleh embusan angin dingin yang membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang tak bisa ia definisikan. Ia menyewa sebuah pondok kecil, bersiap untuk ekspedisi yang akan mengubah pandangannya tentang realitas. Malam pertama, ia hanya mendengar desau angin.

Namun, ketenangan itu adalah tipuan. Malam kedua, saat bulan sabit menggantung tipis di langit kelabu, suara itu muncul. Bukan jeritan manusia, bukan lolongan binatang. Itu adalah paduan dari keduanya, disaring melalui saringan kepedihan yang tak terhingga, menusuk langsung ke relung jiwa.

Ardi merasakan nadi berdenyut kencang di pelipisnya. Ia bangkit dari tidurnya, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Suara itu, samar namun jelas, datang dari arah Bukit Bego, seolah memanggil, mengundang siapa pun yang berani mendekat untuk menyaksikan sumber kesengsaraannya.

Ia memutuskan untuk tidak menunggu. Berbekal senter, kamera, dan perekam suara, Ardi mulai mendaki bukit sebelum fajar menyingsing. Udara dingin menggigit, dan kabut tebal menyelimuti pepohonan, menciptakan siluet-siluet menyeramkan yang menari-nari dalam kegelapan.

Setiap langkah terasa berat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya. Pepohonan tua dengan akar menjalar tampak seperti jari-jari raksasa yang mencengkeram tanah. Di kejauhan, ia mendengar gemericik air, menambah nuansa angker pada pendakiannya.

Pagi menjelang, dan suara jeritan itu telah mereda, digantikan oleh suara burung hantu yang menyelimuti hutan. Ardi menemukan sebuah celah goa kecil yang tersembunyi di balik semak belukar. Hawa dingin yang menusuk keluar dari sana, lebih dingin dari suhu pagi yang seharusnya.

Ia ragu sejenak, namun rasa penasaran lebih kuat dari ketakutannya. Dengan senter di tangan, ia memasuki celah sempit itu. Bau lembap dan apek langsung menyeruak, bercampur dengan aroma amis yang samar, membuat perutnya mual.

Goa itu tidak terlalu dalam, namun dindingnya dipenuhi coretan aneh yang tidak ia mengerti. Gambar-gambar menyerupai bentuk manusia yang terdistorsi, dengan mata kosong yang seolah menatapnya. Di tengah goa, ia menemukan sebuah gundukan tanah yang tampak seperti kuburan tak bertanda.

Ia mengambil beberapa foto, mencatat penemuannya, lalu bergegas keluar. Cahaya matahari pagi terasa seperti berkah setelah kegelapan di dalam goa. Ardi kembali ke desa, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab. Ia membutuhkan lebih banyak informasi.

Ia mendatangi Pak Budi, tetua desa yang dikenal sebagai penjaga sejarah lisan. Pak Budi adalah seorang pria tua dengan mata sendu dan kerutan dalam di wajahnya. Awalnya ia enggan berbicara, namun ketulusan Ardi akhirnya meluluhkan hatinya.

“Bukit Bego itu… dulunya bukan seperti ini,” Pak Budi memulai, suaranya parau. “Dulu, ada sebuah desa kecil di lerengnya, damai. Sampai musibah itu datang, puluhan tahun silam.”

Ia menceritakan tentang sebuah wabah penyakit misterius yang melanda desa di bukit. Penduduk meninggal satu per satu, dan kepanikan melanda. Orang-orang dari desa lain mengisolasi mereka, takut tertular, meninggalkan mereka sendirian untuk menghadapi takdir.

“Jeritan yang kau dengar itu,” lanjut Pak Budi, matanya menerawang jauh, “adalah jeritan mereka. Jeritan keputusasaan, kepedihan, dan kemarahan karena ditinggalkan.” Ia menambahkan bahwa ada rumor tentang seorang dukun desa yang berusaha melawan wabah itu dengan ritual terlarang.

Dukun itu, yang putus asa, konon memanggil entitas kuno untuk menyelamatkan desanya. Namun, alih-alih bantuan, yang datang adalah malapetaka yang lebih besar. Wabah itu lenyap, namun digantikan oleh kutukan yang mengikat arwah-arwah yang tersiksa di bukit itu.

“Mereka terperangkap,” kata Pak Budi, “tidak bisa pergi. Dan setiap malam, terutama saat bulan purnama, mereka akan menjerit. Mencari keadilan, atau mungkin, mencari jalan keluar.”

Ardi merasa merinding. Teori wabah penyakit terdengar logis, namun cerita tentang dukun dan entitas kuno itu menambah dimensi supranatural yang mengerikan. Ia memutuskan untuk kembali ke bukit pada malam bulan purnama berikutnya, berbekal informasi baru ini.

Malam purnama tiba, membawa serta aura magis yang pekat. Ardi mendaki bukit itu lagi, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih genting. Ia membawa peralatan yang lebih lengkap, termasuk alat pendeteksi anomali elektromagnetik.

Semakin tinggi ia mendaki, semakin dingin udara terasa, dan semakin kuat suara jeritan itu. Kali ini, jeritan itu tidak lagi samar. Ia jelas, dekat, dan seolah mengelilinginya dari segala arah, menciptakan simfoni horor yang memekakkan telinga.

Alat pendeteksi anomali mulai berbunyi nyaring, jarumnya melonjak gila-gilaan. Ardi tahu ia berada di tempat yang tepat. Ia terus melangkah, mengikuti instingnya, menuju sumber suara yang paling intens.

Ia sampai di sebuah clearing kecil, di mana pepohonan membentuk lingkaran tak sempurna. Di tengah clearing itu, berdiri sebuah pohon beringin tua yang sangat besar, akarnya menjalar seperti tentakel raksasa. Dari pohon itulah, jeritan itu paling kuat.

Tiba-tiba, suara jeritan itu berhenti. Hening total. Ardi merasakan napasnya tertahan di dada. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada jeritan itu sendiri. Ia menyorotkan senternya ke segala arah, mencari tahu apa yang terjadi.

Lalu, ia melihatnya. Samar-samar, di antara akar-akar beringin, terlihat sosok-sosok transparan. Bentuk-bentuk manusia yang berkedip-kedip, seolah terbuat dari kabut tipis. Mereka tidak bergerak, hanya berdiri di sana, menatapnya dengan mata kosong yang tak berkedip.

Ardi merasakan dingin menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Ia mencoba mundur, namun kakinya terasa terpaku di tanah. Sosok-sosok itu tidak bergerak, namun kehadirannya memenuhi udara dengan aura kesedihan dan kemarahan yang luar biasa.

Ia memejamkan mata, berharap semua ini hanyalah ilusi. Namun ketika ia membukanya lagi, sosok-sosok itu masih ada. Salah satu sosok, yang tampak lebih jelas dari yang lain, mengangkat tangannya perlahan, menunjuk ke arahnya.

Bersamaan dengan gerakan itu, jeritan kembali pecah. Kali ini, jeritan itu bukan hanya dari satu sumber, melainkan dari puluhan, ratusan tenggorokan yang tersiksa. Suara itu begitu keras, begitu memilukan, seolah ingin merobek telinga dan akal sehatnya.

Ardi jatuh berlutut, mencoba melindungi kepalanya dari gelombang suara yang menyerangnya. Ia bisa merasakan energi dingin yang mengalir melalui tubuhnya, mencoba merasukinya. Ia merasa seperti ditarik ke dalam jurang kegelapan.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia merangkak mundur. Ia harus keluar dari sana. Ia harus lari. Jeritan itu seolah mengejarnya, membisikkan nama-nama yang tidak ia kenal, kisah-kisah penderitaan yang tak terhingga.

Ia berlari menuruni bukit tanpa menoleh ke belakang, napasnya tersengal-sengal. Bayangan-bayangan di sekelilingnya tampak seperti hantu-hantu yang mengejarnya. Ia tidak berhenti sampai ia tiba di pondoknya, tubuhnya gemetar hebat.

Sejak malam itu, Ardi tidak pernah kembali ke Bukit Bego. Ia menulis laporannya, namun ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa sepenuhnya menggambarkan kengerian yang ia alami. Ia tidak pernah bisa melupakan jeritan-jeritan itu.

Jeritan itu masih menghantuinya dalam mimpi, dan terkadang, di tengah malam yang sunyi, ia bersumpah masih bisa mendengarnya dari kejauhan. Bukit Bego tetap menjadi misteri, sebuah monumen bisu bagi arwah-arwah yang terperangkap.

Kisah tentang jeritan abadi di Bukit Bego terus hidup, diceritakan dari mulut ke mulut, menjadi peringatan. Peringatan akan masa lalu yang tragis, akan kutukan yang tak terucap, dan akan batas tipis antara dunia kita dan dunia yang tak terlihat.

Beberapa orang mengatakan itu hanya angin. Beberapa orang mengatakan itu adalah ilusi. Namun bagi mereka yang pernah mendengarnya, yang pernah merasakan dinginnya kehadiran mereka, jeritan di Bukit Bego adalah bukti nyata dari misteri yang tak terpecahkan, abadi dalam kegelapan.

Suara Teriakan di Bukit Bego

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *