Misteri Siluet Kelam di Jantung Bantul
Jalanan Bantul, di bawah selimut malam yang pekat, seringkali menyimpan bisikan rahasia. Bagi Arif, seorang pekerja kantoran yang setiap hari melintasi jalur sepi menuju rumahnya di pinggiran kota, malam adalah waktu yang damai. Ia tak pernah menyangka, ketenangan itu akan robek oleh sesuatu yang tak masuk akal.
Suatu malam, tepatnya di tikungan dekat persawahan tua Jalan Imogiri, ia melihatnya untuk pertama kali. Sebuah siluet hitam pekat, menjulang tinggi, berdiri tegak di tepi jalan. Tanpa gerakan, tanpa pantulan cahaya, seolah menelan kegelapan di sekitarnya.
Arif mengerem mendadak, jantungnya berpacu. Ia memicingkan mata, mencoba memahami apa yang dilihatnya. Namun, sosok itu tak berbentuk jelas, hanya bayangan yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Seolah sebuah lubang hitam berdiri tegak di sana.
Ketakutan mencekiknya. Ia memutar gas motornya, melesat pergi tanpa menoleh lagi. Pikirannya kalut, mencari penjelasan logis. Mungkin tiang listrik yang aneh? Atau hanya imajinasinya yang lelah? Ia memutuskan untuk mengabaikannya.
Namun, malam berikutnya, sosok itu kembali. Di tempat yang sama. Diam, membisu, menunggu. Kali ini, Arif memperlambat lajunya, berusaha melihat lebih jelas. Rasa dingin menjalar dari tulang ekornya.
Sosok itu tak punya wajah, tak punya detail. Hanya sebuah bentuk manusia yang sempurna, namun terbuat dari kehampaan. Seperti bayangan yang terlepas dari pemiliknya, berdiri di bawah temaram lampu jalan yang redup.
Arif merasakan tekanan di dadanya, seolah udara di sekitarnya menipis. Ia tahu ini bukan halusinasi. Ini nyata. Dan ini sangat, sangat salah. Ia mempercepat motornya lagi, meninggalkan misteri itu di belakangnya.
Malam demi malam, teror itu berulang. Setiap kali ia melintasi tikungan itu, sosok hitam itu akan ada di sana. Selalu di tempat yang sama, selalu dalam posisi yang sama. Tak bergerak, tak bereaksi. Hanya berdiri.
Ketegangan mulai menggerogoti Arif. Tidurnya terganggu oleh bayangan hitam itu. Rasa penasaran bercampur ketakutan mendalam memaksanya untuk mencari tahu. Ia mulai bertanya kepada penduduk setempat, para tetua kampung.
Awalnya, mereka hanya tersenyum maklum, menganggapnya hanya cerita hantu biasa. Namun, ketika Arif menjelaskan detailnya, senyum itu memudar. Mata mereka menunjukkan kilatan ketakutan yang serupa.
“Sosok Hitam,” bisik seorang kakek tua, suaranya bergetar. “Sudah lama tidak terlihat. Dulu, orang-orang menyebutnya Penjaga Batas. Atau mungkin, Penunggu Jalan itu.”
Kakek itu bercerita tentang legenda kuno. Konon, di masa lalu, jalan itu adalah jalur penting menuju sebuah situs kuno yang sakral. Sosok hitam itu adalah entitas yang menjaga batas antara dunia manusia dan alam lain.
Atau, ada versi lain, sosok itu adalah roh penasaran yang terperangkap. Arwah seseorang yang meninggal secara tragis di tempat itu, dan kini mencari sesuatu yang hilang. Penjelasan itu tak membuat Arif lega, justru menambah kengerian.
Beberapa warga lain menceritakan pengalaman serupa, namun tak seintens Arif. Mereka hanya sekilas melihatnya, lalu segera melupakan. Tak ada yang berani mendekat atau mencoba berinteraksi.
Ketakutan Arif berubah menjadi obsesi. Ia mulai sengaja melewati jalan itu di jam-jam berbeda. Pagi, siang, sore. Sosok itu tak pernah ada. Hanya muncul di kegelapan malam, seolah terikat pada bayangan.
Rasa ingin tahu yang tak terkendali mendorongnya. Suatu malam, ia memutuskan untuk berhenti. Jantungnya berdebar kencang di balik rusuknya. Udara dingin terasa menusuk hingga ke sumsum tulang.
Ia memarkir motornya agak jauh, lalu berjalan perlahan mendekati tikungan. Cahaya rembulan samar menyoroti siluet itu, membuatnya tampak semakin menakutkan. Sebuah ketiadaan yang berbentuk.
Setiap langkah terasa berat. Otaknya berteriak untuk berbalik, untuk lari. Namun kakinya seolah terpaku, ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Dingin yang menusuk kini terasa seperti sentuhan.
Ia semakin dekat. Sepuluh meter. Tujuh meter. Lima meter. Sosok itu tetap diam, tegak seperti patung. Tidak ada suara, tidak ada napas. Hanya keheningan yang memekakkan telinga.
Arif mengangkat tangannya, mencoba meraihnya. Ingin menyentuh, ingin memastikan. Apa itu padat? Apakah itu hampa? Rasa penasaran telah mengalahkan rasa takutnya.
Saat ujung jarinya hampir menyentuh siluet pekat itu, sebuah desisan halus terdengar. Bukan dari sosok itu, melainkan dari udara di sekelilingnya. Desisan yang seperti bisikan dari ribuan jiwa.
Lalu, hal yang tak pernah ia bayangkan terjadi. Sosok hitam itu, untuk pertama kalinya, bergerak. Perlahan, kepalanya miring. Seolah sedang menatapnya, meskipun tak ada mata yang terlihat.
Arif merasakan gelombang energi dingin yang luar biasa menerpanya. Seperti es yang menusuk ke dalam otaknya. Sebuah suara, tanpa nada, tanpa kata, namun menggema langsung di benaknya.
“Pergi…”
Suara itu bukanlah suara, melainkan getaran murni dari kengerian. Arif terhuyung mundur, napasnya tercekat. Rasa takut yang murni dan tak terkira melumpuhkannya.
Ia terjatuh, pandangannya kabur. Saat ia berusaha bangkit, sosok hitam itu mulai memudar. Bukan menghilang, melainkan seolah menyerap kembali ke dalam kegelapan malam yang ada.
Dalam hitungan detik, ia lenyap sepenuhnya. Tikungan itu kembali kosong, hanya menyisakan keheningan yang mengerikan. Arif terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat.
Ia merangkak kembali ke motornya, lalu memacu kendaraan secepat mungkin. Malam itu, ia tak pulang ke rumah. Ia pergi ke tempat temannya, tak berani sendirian.
Sejak kejadian itu, Arif tak pernah lagi melewati jalan itu di malam hari. Ia mengambil rute memutar yang lebih jauh, walau memakan waktu. Kenangan tentang sosok hitam itu masih menghantuinya.
Ia sering terbangun di tengah malam, keringat dingin membasahi tubuhnya. Bisikan “Pergi…” masih terngiang, seolah tertanam di setiap sel otaknya. Ia tahu, ia telah melewati batas yang seharusnya tidak ia sentuh.
Penduduk Bantul mungkin akan terus bercerita tentang legenda Sosok Hitam itu. Namun bagi Arif, itu bukan lagi sekadar legenda. Itu adalah trauma yang nyata, sebuah peringatan.
Bahwa di balik ketenangan pedesaan, ada dimensi lain yang tersembunyi. Dan beberapa misteri, lebih baik tetap tak terpecahkan. Karena terkadang, yang paling menakutkan adalah yang tak bisa dijelaskan.







