Kisah Desa Karangtalun: Kabut Hitam di Balik Keheningan
Desa Karangtalun tersembunyi jauh di balik punggung pegunungan. Aksesnya sulit, jalanan berkelok, dan sering diselimuti kabut tebal. Jarang ada orang luar yang berani menyambangi, apalagi menetap lama di sana. Keheningan desa itu menyimpan bisikan-bisikan kelam.
Bukan karena teror fisik, melainkan aura mistis yang begitu pekat. Penduduknya ramah, namun sorot mata mereka selalu menyimpan ketakutan. Mereka hidup dalam bayang-bayang sebuah misteri yang tak terpecahkan, sebuah “larangan” yang turun-temurun.
Kisah ini dimulai ketika seorang jurnalis muda bernama Arya tiba. Arya adalah seorang skeptis, selalu mencari penjelasan logis. Ia datang ke Karangtalun untuk menyingkap tabir hilangnya beberapa pendaki gunung. Mereka terakhir terlihat di sekitar perbatasan desa.
Rumor tentang desa itu sudah sampai ke telinganya. Ada yang bilang Karangtalun adalah sarang makhluk halus. Ada pula yang menyebutnya desa terkutuk, tempat di mana waktu berhenti berputar. Arya hanya tersenyum tipis mendengar desas-desus itu.
Perjalanan menuju Karangtalun terasa mencekam. Pepohonan raksasa menjulang, seolah menelan cahaya matahari. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan daun-daun busuk. Hutan lebat itu seakan mengawasi setiap langkahnya.
Setibanya di desa, Arya merasakan keanehan yang pertama. Suara-suara alam seolah padam, digantikan keheningan absolut. Tidak ada kicauan burung, tidak ada lolongan anjing, hanya desiran angin pelan yang melewati atap-atap rumah kayu.
Ia menginap di rumah kepala desa, Bapak Karta. Pria tua itu menyambutnya hangat, namun sorot matanya menyimpan kegelisahan. “Anak muda, hati-hati di sini,” katanya lirih. “Ada hal-hal yang lebih tua dari kita di desa ini.”
Arya mencoba menggali informasi tentang pendaki yang hilang. Bapak Karta hanya menghela napas panjang. “Mereka melanggar pantangan,” jawabnya singkat. “Pantangan yang sudah ada sejak nenek moyang kami.”
Pantangan itu adalah “Larangan Memasuki Hutan Larangan.” Sebuah area hutan di sisi barat desa yang ditandai dengan pohon beringin raksasa. Konon, siapa pun yang nekat masuk, tidak akan pernah kembali. Arya tentu saja tidak percaya.
Malam pertama di Karangtalun, Arya sulit memejamkan mata. Suhu mendadak turun drastis, menusuk hingga ke tulang. Dari kejauhan, ia mendengar suara gamelan sayup-sayup, namun iramanya terdengar pilu dan tidak wajar.
Suara itu datang dari arah hutan, namun tidak ada pemukiman lain di sana. Arya menatap keluar jendela. Kabut tebal mulai menyelimuti desa, membuatnya terlihat seperti lukisan buram. Bayangan-bayangan menari-nari di balik tirai kabut.
Pagi harinya, Arya bertanya pada Bapak Karta tentang suara gamelan itu. Kepala desa hanya menggelengkan kepala. “Itu bukan gamelan manusia, Nak,” jawabnya dengan suara bergetar. “Itu adalah panggilan dari ‘mereka’.”
Rasa penasaran Arya semakin membuncah. Ia mulai berkeliling desa, berbicara dengan warga. Kebanyakan enggan bercerita banyak, mereka hanya menunduk atau mengalihkan pandangan. Namun, seorang nenek tua memberanikan diri.
“Dulu, desa ini makmur, Nak,” bisik Nenek Surti, matanya menerawang jauh. “Tapi ada harga yang harus dibayar. Sebuah perjanjian kuno, dengan penunggu hutan itu.” Ia menunjuk ke arah pohon beringin raksasa.
Nenek Surti menceritakan tentang hilangnya anak-anak desa di masa lalu. Mereka tidak pergi jauh, hanya bermain di dekat hutan. Lalu, tiba-tiba lenyap, tanpa jejak, seolah ditelan bumi. Kisah itu selalu berulang setiap beberapa dekade.
Arya memutuskan untuk menyelidiki Hutan Larangan itu sendiri. Ia membawa kamera, senter, dan peralatan navigasi. Bapak Karta sudah melarangnya keras, namun Arya bertekad membuktikan bahwa semua ini hanyalah takhayul.
Saat ia mendekati batas hutan, udara menjadi semakin dingin. Pohon beringin raksasa itu berdiri menjulang, akarnya melilit tanah seperti ular raksasa. Auranya begitu kuat, memancarkan perasaan tidak nyaman. Arya merasakan bulu kuduknya merinding.
Ia melangkah masuk, melewati batas tak kasat mata. Seketika, suara-suara alam lenyap sepenuhnya. Keheningan yang memekakkan telinga menyelimuti. Hanya ada suara langkah kakinya sendiri yang bergema di antara pepohonan kuno.
Pohon-pohon di dalam hutan tumbuh sangat rapat, membentuk kanopi gelap. Cahaya matahari nyaris tidak bisa menembus. Suasana terasa sangat lembap, dengan bau lumut dan tanah basah yang kuat. Arya merasa seperti memasuki dunia lain.
Ia terus berjalan, mengandalkan insting dan kompasnya. Beberapa kali ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya. Bayangan-bayangan bergerak di sudut matanya, namun saat ia menoleh, tidak ada apa-apa. Jantungnya mulai berdebar kencang.
Tiba-tiba, ia mendengar bisikan. Bukan bahasa manusia, melainkan gumaman aneh yang terdengar seperti ratusan suara menyatu. Bisikan itu seolah mengelilinginya, datang dari segala arah, memanggil namanya dengan nada mengejek.
Arya mempercepat langkahnya, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia mulai merasa sesak napas. Rasa takut yang selama ini ia tepis, kini mulai merayap naik. Hutan itu seolah hidup, bernapas di sekelilingnya.
Ia menemukan sebuah altar batu kuno di tengah hutan. Altar itu ditutupi lumut tebal, namun ia bisa melihat ukiran-ukiran aneh di permukaannya. Di depannya, tergeletak sesajen yang sudah mengering, persembahan yang sangat tua.
Saat ia mendekat, hawa dingin yang luar biasa menyeruak. Bisikan-bisikan itu semakin jelas, membentuk kata-kata yang tidak ia pahami. Ia merasakan kehadiran yang sangat besar, sangat tua, dan sangat jahat di tempat itu.
Tiba-tiba, kabut tebal menyelimutinya. Arya tidak bisa melihat apa-apa. Ia mendengar suara langkah kaki yang sangat berat, mengelilinginya. Bau busuk yang menusuk hidung tiba-tiba tercium, seperti bau mayat yang membusuk.
Ia mencoba menyalakan senternya, namun cahayanya redup dan berkedip-kedip. Dari dalam kabut, sebuah bayangan hitam raksasa muncul. Bentuknya tidak jelas, namun ukurannya sangat besar, lebih tinggi dari pohon tertinggi.
Bayangan itu mendekat, dan Arya bisa merasakan hawa dingin yang mematikan. Ia melihat dua titik merah menyala di tengah kegelapan, seperti mata yang menatapnya tajam. Suara gumaman itu kini terdengar seperti tawa sinis.
Arya menjatuhkan kameranya. Ketakutan yang amat sangat membuatnya lumpuh. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap bayangan itu yang semakin mendekat, menelan segala cahaya.
Ia merasakan sentuhan dingin di bahunya, seperti cengkeraman kuku-kuku panjang. Bau busuk itu semakin menyengat. Arya tahu, ia telah melanggar batas. Ia telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.
Dalam kepanikan yang luar biasa, ia memejamkan mata dan berlari. Ia tidak tahu ke mana, hanya berlari sekuat tenaga menembus kabut dan pepohonan. Bisikan-bisikan itu mengejarnya, tawa sinis itu terus menggema di telinganya.
Ia tersandung akar pohon dan jatuh. Saat ia mencoba bangkit, ia melihat sepasang kaki pucat tanpa alas kaki berdiri di depannya. Kakinya kotor oleh lumpur, namun kulitnya putih pucat dan kuku-kukunya panjang kehitaman.
Arya mendongak perlahan. Ia melihat sosok perempuan berambut panjang menjuntai, mengenakan gaun putih compang-camping. Wajahnya tertutup rambut, namun ia merasakan tatapan tajam dari balik helainya. Itu bukan Kuntilanak biasa.
Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya. Matanya hitam pekat tanpa pupil, kosong namun memancarkan aura mengerikan. Bibirnya tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi runcing. Arya tahu ia telah menemukan salah satu “penunggu” itu.
Ia tidak menunggu lagi. Dengan sisa tenaga, Arya bangkit dan berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia terus berlari, menembus hutan, hingga akhirnya ia melihat batas desa. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa menemukan jalan keluar.
Arya tiba di desa dalam keadaan compang-camping dan shock. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kengerian. Bapak Karta dan warga desa lainnya melihatnya, namun tidak ada yang bertanya. Mereka tahu apa yang telah terjadi.
Arya tidak pernah lagi menjadi skeptis. Ia meninggalkan Karangtalun keesokan harinya, tanpa menoleh ke belakang. Kisahnya tentang pendaki yang hilang dan apa yang ia temukan di Hutan Larangan tidak pernah ia publikasikan.
Ia tahu, ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Karangtalun tetap menjadi desa misterius, diselimuti kabut dan rahasia kuno. Dan di dalam Hutan Larangan, “mereka” masih bersemayam, menunggu pelanggar batas berikutnya.
Hingga hari ini, setiap kali kabut tebal menyelimuti kota, Arya akan teringat suara gamelan pilu itu. Ia akan teringat mata hitam tanpa pupil dan tawa sinis yang menggema di hutan. Desa Karangtalun adalah pengingat bahwa terkadang, misteri lebih baik tetap menjadi misteri.







