Bisikan Rimba Sungsang: Kisah Sang Penunggu
Arka, seorang peneliti muda, tiba di Desa Sungsang. Niatnya sederhana: mengumpulkan kisah-kisah kuno tentang makhluk gaib. Desa itu tersembunyi di balik rimbunnya hutan belantara. Sebuah permukiman terpencil yang seolah membeku dalam waktu.
Ia datang membawa skeptisisme seorang akademisi. Percaya pada logika, menolak takhayul. Hutan ini, baginya, hanyalah objek studi. Ia tak tahu, rimba itu berdenyut dengan rahasia. Rahasia yang jauh lebih kelam dari disertasinya. Siap membungkam setiap keraguan dalam benaknya.
Langit Sungsang selalu diselimuti kabut tipis. Pepohonan menjulang tinggi, seolah mencapai nirwana. Setiap ranting dan dedaunan seakan mengamati. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan lumut tua.
Penduduk desa menyambutnya dengan ramah, namun terselip ketakutan di mata mereka. Mereka berbicara tentang “Penunggu Rimba”. Entitas purba yang menjaga hutan, namun juga menuntut tumbal jika dilanggar. Arka tersenyum maklum, menganggapnya bagian dari folklor.
“Jangan pernah masuk ke bagian terdalam hutan, Nak,” pesan Pak Lurah, suaranya bergetar. “Terutama saat senja tiba. Ada yang menunggu. Yang bukan manusia.” Arka hanya mengangguk, hatinya dipenuhi rasa ingin tahu, bukan gentar.
Hari-hari pertama Arka berlalu dengan damai. Ia merekam cerita, memotret artefak kuno. Kisah-kisah tentang Genderuwo yang menyesatkan, Kuntilanak yang meratap, dan Leak yang bergentayangan. Semua terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
Namun, perlahan, keanehan mulai muncul. Rekaman suaranya sering kali diinterupsi oleh bisikan-bisikan tak jelas. Seperti desahan angin, namun terlalu berirama. Terlalu dekat. Terlalu nyata.
Malam-malamnya menjadi gelisah. Ia mendengar langkah kaki di luar gubuknya. Berat dan menyeret, seperti seseorang yang terseret rantai. Ketika Arka mengintip, hanya kegelapan yang menyambutnya. Hutan yang membisu, seolah menahan napas.
Suatu pagi, ia menemukan jejak kaki di tanah basah dekat gubuknya. Jejak itu besar, dengan cakar tajam yang mengukir dalam. Bukan jejak binatang biasa. Arka mencoba meyakinkan dirinya, mungkin itu beruang atau babi hutan. Tapi, hatinya mulai berdebar kencang.
Anjing-anjing desa mulai melolong setiap malam. Lolongan mereka panjang, pilu, dan penuh kengerian. Mereka menghadap ke arah hutan, bulu-bulunya berdiri. Tak ada yang berani keluar. Suasana mencekam menyelimuti desa.
Beberapa hari kemudian, seorang pemburu muda bernama Rendi menghilang. Ia dikenal sangat berpengalaman. Penduduk desa panik. Mereka membentuk tim pencarian, termasuk Arka. Mereka mengikuti jejak Rendi ke dalam hutan.
Di sana, di antara pepohonan raksasa, mereka menemukan senapan Rendi tergeletak. Ada goresan panjang, dalam, seperti cakaran, pada batangnya. Darah mengering di gagangnya. Namun, tak ada tanda-tanda Rendi.
Hanya ada aroma aneh yang menusuk hidung. Aroma amis, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang busuk. Arka merasa mual. Ia melihat sekeliling, merasakan sepasang mata mengawasinya dari balik kegelapan.
Malam itu, desa diselimuti ketakutan. Ibu Rendi menangis histeris. Arka sendiri tak bisa tidur. Bisikan itu kembali. Kali ini, lebih jelas. Memanggil nama Rendi. Kemudian, nama Arka. “Arka… Arka….”
Suara itu terdengar seperti suara anak kecil, namun berat dan serak. Seperti tawa yang tercekik. Jantung Arka berdegup kencang. Ia menggenggam erat senter di tangannya. Matanya memandang kosong ke arah pintu.
Beberapa warga desa mulai jatuh sakit. Mereka demam tinggi, mengigau tentang bayangan hitam dan mata merah menyala. Mereka menunjuk ke arah hutan, berteriak ketakutan. “Dia datang… Dia lapar…”
Arka merasa skeptisisme yang selama ini ia pegang teguh mulai runtuh. Ia tidak bisa menjelaskan semua ini. Logikanya terbentur pada dinding ketidakmungkinan. Ada sesuatu yang nyata. Sesuatu yang jahat.
Terdesak rasa ingin tahu dan ketakutan, Arka memutuskan untuk melanggar peringatan Pak Lurah. Ia harus tahu. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi pada Rendi. Ia mempersiapkan diri, membawa senter, pisau, dan kamera.
Saat senja mulai turun, Arka memasuki bagian terdalam hutan. Kabut semakin tebal, menelan cahaya matahari. Pepohonan menjadi lebih rapat, membentuk terowongan gelap. Udara menjadi lebih dingin. Dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
Suara-suara hutan menghilang. Tidak ada cicit burung, tidak ada desiran angin. Hanya keheningan yang memekakkan. Keheningan yang lebih menakutkan dari lolongan anjing. Arka berjalan perlahan, setiap langkahnya terasa berat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan. Tangisan seorang anak kecil. Pilu dan memilukan. Arka terpaku. Instingnya mengatakan untuk lari, namun rasa ingin tahu dan naluri penyelamat menariknya maju. Ia mengikuti suara itu.
Tangisan itu membimbingnya ke sebuah celah di antara akar-akar pohon raksasa. Sebuah gua kecil yang gelap. Aroma busuk semakin menyengat. Arka menyalakan senternya, mengarahkan cahayanya ke dalam.
Apa yang dilihatnya membuat jantungnya serasa berhenti. Di dinding gua, terukir simbol-simbol aneh. Seperti hieroglif kuno, namun terlihat hidup. Berdenyut. Di tengah gua, tergeletak benda-benda pribadi milik Rendi. Dompet, arloji, dan sebuah gelang anyaman.
Dan di sampingnya, sebuah boneka dari akar-akar pohon, diikat dengan rambut manusia. Rambut Rendi. Darah kering menempel di sana. Arka merasakan gelombang mual yang luar biasa. Ia tahu Rendi tidak akan kembali.
Tiba-tiba, senternya berkedip-kedip, lalu mati. Kegelapan total menyelimutinya. Tangisan itu berubah. Bukan lagi tangisan anak kecil, melainkan tawa serak, rendah, dan penuh ejekan. “Kau datang… Kau datang padaku…”
Arka merasakan hawa dingin yang menusuk. Sesuatu bernapas di belakang lehernya. Bau busuk itu semakin kuat. Ia merasakan embusan napas hangat, namun busuk, menyentuh telinganya. “Kau milikku sekarang…”
Dengan sisa keberanian, Arka meraba-raba pisau di sakunya. Ia berbalik, mengayunkannya membabi buta ke arah suara itu. Ia merasakan bilah pisau mengenai sesuatu yang kenyal. Sesuatu berteriak.
Jeritan itu bukan jeritan manusia. Lebih mirip raungan binatang purba, bercampur lolongan kesakitan. Arka terjatuh. Ia merangkak mundur, menjauh dari kegelapan. Ia bisa merasakan sesuatu bergerak di dekatnya.
Matanya beradaptasi dengan kegelapan. Ia melihat bayangan. Besar. Hitam. Dengan mata merah menyala, seperti bara api. Bayangan itu bergerak cepat. Lalu, menghilang ke dalam kegelapan hutan.
Arka berlari. Ia tidak tahu ke mana. Ia hanya berlari, menembus semak belukar, tersandung akar-akar pohon. Suara langkah kaki berat mengejarnya. Ia mendengar desahan, bisikan, dan tawa serak yang terus membuntutinya.
Ia merasa cakar-cakar tajam menggores punggungnya. Darah mengalir. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin keluar. Keluar dari hutan terkutuk ini. Keluar dari cengkeraman “Penunggu Rimba”.
Dengan sisa tenaga, ia berhasil keluar dari hutan. Terhuyung-huyung, ia sampai di pinggir desa. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal. Ia jatuh ke tanah, tubuhnya gemetar tak terkendali.
Penduduk desa menemukannya. Mereka melihat matanya yang kosong, ketakutan yang mendalam. Mereka melihat luka cakaran di punggungnya. Mereka tidak bertanya. Mereka tahu. Arka telah melihatnya.
Arka tidak bisa lagi tidur. Bisikan itu mengikutinya, bahkan setelah ia meninggalkan Sungsang. Ia mendengar tawa serak itu dalam mimpinya. Ia melihat mata merah menyala di setiap bayangan.
Ia mencoba menulis disertasinya, namun tangannya bergetar. Kata-kata ilmiahnya terasa hampa. Ia tahu kebenaran yang tak bisa dijelaskan oleh sains. Kebenaran yang dingin, gelap, dan mengerikan.
Kadang, di tengah malam yang sunyi, ia merasa hawa dingin di belakang lehernya. Aroma busuk itu kembali. Ia akan mendengar bisikan itu, jelas di telinganya: “Kau milikku… kau takkan pernah pergi…”
Arka kini tahu, “Penunggu Rimba” tidak hanya menjaga hutan. Ia juga menjaga jiwa-jiwa yang pernah melangkah terlalu jauh. Dan ia, Arka, adalah salah satu dari mereka. Selamanya terperangkap dalam bayangan rimba. Selamanya terganggu oleh bisikan-bisikan dari kegelapan.







