Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Sungai Serayu Menyimpan Penjaga Tak Kasat Mata — Ini Kisah Nyatanya

10
×

Sungai Serayu Menyimpan Penjaga Tak Kasat Mata — Ini Kisah Nyatanya

Share this article

Sungai Serayu Menyimpan Penjaga Tak Kasat Mata — Ini Kisah Nyatanya

Sosok Penjaga Sungai Serayu: Bisikan dari Kedalaman

Sungai Serayu membentang laksana urat nadi, membelah lanskap Jawa Tengah dengan gemuruh airnya yang abadi. Dari hulu di lereng Gunung Prau hingga muara di Samudra Hindia, ia menjadi saksi bisu ribuan tahun peradaban. Namun, di balik keheningan itu, Serayu menyimpan bisikan kuno yang tak terucap.

Bisikan tentang sebuah sosok. Sebuah entitas misterius yang konon menjaga kedalaman sungai, muncul dari kabut fajar, dan menghilang ditelan senja. Penduduk sekitar menyebutnya “Penjaga Serayu,” meski ada pula yang bergidik menyebutnya arwah penasaran. Kisah ini telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Rian, seorang peneliti muda yang terobsesi dengan cerita rakyat dan ekologi sungai, tiba di desa terpencil di tepi Serayu. Ia datang dengan logika ilmiah, berbekal kamera dan alat perekam suara. Tujuan awalnya adalah mendokumentasikan keanekaragaman hayati Serayu, jauh dari mitos dan takhayul.

Namun, desas-desus tentang sosok misterius itu tak bisa dihindarinya. Setiap warung kopi, setiap pertemuan dengan nelayan tua, selalu berakhir pada cerita yang sama. Seorang wanita berbalut kebaya hijau, rambut panjang terurai, dengan tatapan mata yang kosong namun penuh duka.

Awalnya Rian menertawakan cerita-cerita itu. Ia menganggapnya sebagai bumbu penyedap hidup masyarakat pedesaan. Namun, keanehan mulai merayap pelan, seperti lumut yang tumbuh di bebatuan sungai. Udara di sekitar Serayu terasa lebih dingin, bahkan di siang bolong sekalipun.

Suatu sore, saat Rian merekam suara burung di tepi sungai yang sepi, ia mendengar sebuah melodi. Senandung lirih, begitu merdu namun pilu, seolah datang dari kedalaman air. Ia menoleh, namun tak ada siapa pun di sana, hanya riak air yang memantulkan langit senja.

Malam harinya, Rian tak bisa tidur. Melodi itu terus terngiang di benaknya, diselingi bisikan-bisikan yang tak jelas. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi akibat kelelahan. Namun, naluri aneh mulai tumbuh, sebuah perasaan tak nyaman yang sulit dijelaskan.

Beberapa hari kemudian, saat fajar menyingsing, Rian menyiapkan perahunya untuk menyusuri bagian hulu. Kabut tebal masih menyelimuti permukaan air, menciptakan pemandangan surealis. Ia mengayuh perlahan, menikmati kesunyian yang diselingi suara dayung.

Tiba-tiba, di tengah kabut yang begitu pekat, ia melihatnya. Sesosok bayangan samar, berdiri tegak di tengah sungai, seolah berjalan di atas air. Jantung Rian berdegup kencang. Ia menghentikan dayungannya, menahan napas, dan mencoba melihat lebih jelas.

Bayangan itu mulai bergerak, melayang perlahan mendekatinya. Rian merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, bukan dinginnya kabut, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Sosok itu semakin jelas. Seorang wanita, mengenakan kebaya hijau usang yang basah, rambut hitam panjangnya menutupi sebagian wajah. Matanya tidak terlihat jelas, namun Rian merasakan tatapan yang menembus jiwanya. Ia adalah Sosok Penjaga Serayu yang diceritakan.

Rian memejamkan mata sesaat, berharap semua itu hanyalah mimpi buruk. Ketika ia membukanya lagi, sosok itu telah lenyap, seolah tak pernah ada. Hanya kabut dan keheningan yang tersisa. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, dan ia buru-buru membalikkan perahunya.

Kembali ke desa, Rian menceritakan pengalamannya kepada Mbah Wiro, seorang sesepuh desa yang dikenal bijaksana. Mbah Wiro mendengarkan dengan tenang, matanya yang tua menatap jauh ke arah sungai. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya yang keriput.

“Kau beruntung, Nak,” kata Mbah Wiro dengan suara serak. “Tidak semua orang bisa melihatnya dengan jelas dan kembali. Dia tidak bermaksud jahat, hanya mengingatkan.” Rian tak mengerti. Mengingatkan apa? Apa hubungannya dengan kebaya hijau itu?

Mbah Wiro kemudian bercerita tentang Dewi Rengganis, seorang gadis desa yang hidup berabad-abad lalu. Dewi Rengganis adalah penari yang sangat cantik, selalu mengenakan kebaya hijau kesayangannya. Ia dicintai oleh seluruh desa, namun hatinya hanya terpaut pada seorang pemuda nelayan.

Suatu hari, banjir bandang melanda desa. Sungai Serayu meluap, menelan rumah dan harta benda. Dewi Rengganis tak henti-hentinya membantu menyelamatkan warga, termasuk pemuda yang dicintainya. Namun, takdir berkata lain, pemuda itu hanyut terbawa arus deras.

Dewi Rengganis putus asa. Ia mencarinya berhari-hari, menyusuri tepi sungai yang masih bergejolak. Dalam kesedihannya yang mendalam, ia terjun ke Serayu, berharap bisa bersatu kembali dengan kekasihnya di kedalaman air. Sejak saat itu, ia tak pernah ditemukan.

Namun, tak lama setelah kejadian itu, warga mulai melihat sosoknya. Wanita berkebaya hijau, menampakkan diri di saat-saat tertentu. Terutama ketika sungai akan murka, atau ketika ada yang berniat merusak ekosistem Serayu. Ia menjadi penjaga abadi.

Rian terpaku mendengar kisah itu. Logikanya berbenturan dengan narasi mistis ini. Namun, pengalaman pribadinya tadi pagi tak bisa ia bantah. Sosok itu, melodi pilu itu, semua terasa begitu nyata dan menghantui.

Sejak hari itu, Rian tak lagi melihat Serayu hanya sebagai objek penelitian. Ia merasakan energi yang berbeda, sebuah kehadiran yang kuat. Ia mulai memperhatikan perubahan halus di sungai, seperti perubahan warna air atau perilaku hewan. Ia seolah bisa merasakan bisikan sang penjaga.

Pernah suatu malam, ia mendengar suara gemuruh aneh dari hulu. Suara itu bukan suara air biasa, melainkan seperti raungan kesakitan. Rian bergegas ke tepi sungai, dan ia melihatnya lagi. Sosok berkebaya hijau berdiri di tengah pusaran air, tampak gelisah.

Keesokan harinya, beredar kabar bahwa sebuah proyek penambangan pasir ilegal di hulu tiba-tiba berhenti. Alat berat mereka mogok, dan beberapa pekerja mengalami demam tinggi yang tak jelas penyebabnya. Rian teringat raungan malam itu, dan ia tahu.

Ia mulai memahami peran sosok itu. Bukan sekadar hantu yang gentayangan, melainkan entitas yang terikat pada Serayu, menjadi perwujudan roh sungai itu sendiri. Penjaga yang melindungi Serayu dari keserakahan manusia, dari kerusakan yang tak termaafkan.

Namun, pemahaman itu juga membawa ketegangan baru. Rian merasa seperti sedang berjalan di antara dua dunia. Dunia rasionalitasnya dan dunia mistis yang kini begitu nyata. Bisakah ia hidup dengan pengetahuan ini, tanpa terjerat lebih jauh?

Suatu sore, Rian menemukan sebuah arca kecil di dasar sungai, terbuat dari batu hitam, dengan ukiran seorang wanita yang memegang sebuah kendi. Arca itu memancarkan aura dingin yang aneh. Ia membawanya ke Mbah Wiro, yang terkesiap melihatnya.

“Ini adalah persembahan kuno, Nak,” kata Mbah Wiro. “Untuk menenangkan Serayu, dan Dewi Rengganis. Ia butuh ketenangan, bukan kemarahan.” Mbah Wiro menyarankan Rian untuk mengembalikan arca itu ke tempatnya, dengan hormat.

Rian melakukan ritual sederhana di tepi sungai, mengembalikan arca itu ke kedalaman air. Ia merasakan hembusan angin dingin yang lembut, seolah sebuah ucapan terima kasih. Sejak saat itu, Serayu terasa lebih tenang, dan penampakan sosok itu menjadi lebih jarang.

Namun, Rian tahu, sosok itu tidak pergi. Ia masih di sana, bersembunyi di balik kabut, di balik riak air, di balik suara gemuruh yang tak pernah berhenti. Ia adalah penjaga abadi, pengingat bahwa alam memiliki rohnya sendiri, dan ia tidak akan ragu untuk murka.

Rian memutuskan untuk meninggalkan desa itu, namun ia membawa serta sebuah pelajaran yang mendalam. Sungai Serayu bukan sekadar aliran air. Ia adalah makhluk hidup, dengan masa lalu, emosi, dan seorang penjaga setia yang tak kasat mata.

Hingga kini, kisah tentang wanita berkebaya hijau masih beredar di sepanjang Serayu. Kisah itu menjadi peringatan bagi siapa saja yang berani merusak keseimbangan alam. Bahwa di setiap sungai, di setiap hutan, ada penjaga yang tak terlihat, menunggu untuk menunjukkan kekuatannya.

Dan setiap kali Rian mendengar nama Serayu, ia teringat melodi pilu itu, hawa dingin yang menusuk, dan tatapan mata kosong yang penuh duka. Sosok Penjaga Serayu, misteri yang tak terpecahkan, selamanya terukir dalam ingatan, dan mungkin, di kedalaman jiwanya.

Sosok Penjaga Sungai Serayu: Bisikan dari Kedalaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *