Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Ada yang Bersembunyi di Hutan Samosir — dan Itu Bukan Satwa Liar

11
×

Ada yang Bersembunyi di Hutan Samosir — dan Itu Bukan Satwa Liar

Share this article

Ada yang Bersembunyi di Hutan Samosir — dan Itu Bukan Satwa Liar

Di jantung Danau Toba, tersembunyi sebuah permata hijau yang diselimuti kabut purba: Pulau Samosir. Rimba di punggungnya menyimpan rahasia kelam, bisikan kuno yang tak terucap, menunggu untuk ditemukan atau lebih tepatnya, ditemukan olehnya. Kisah ini dimulai dengan tiga jiwa pemberani yang terpikat oleh misteri itu.

Aris, seorang etnobotanis dengan pikiran rasional; Rina, seniman peka dengan intuisi tajam; dan Budi, fotografer muda yang haus petualangan. Mereka datang bukan untuk wisata, melainkan untuk menjelajahi area terpencil Samosir yang jarang dijamah manusia. Sebuah ekspedisi ilmiah, demikian mereka menyebutnya.

Tujuan mereka adalah menemukan spesies anggrek langka yang konon hanya tumbuh di kedalaman hutan Samosir. Penduduk lokal, dengan tatapan penuh peringatan, telah berulang kali mengingatkan mereka. “Hutan itu bukan milik kita,” kata seorang tetua, “ada penghuni lain di sana.”

Peringatan itu hanya dianggap sebagai bumbu cerita rakyat. Mereka tersenyum tipis, membawa peralatan canggih dan semangat optimis. Mereka siap menghadapi apa pun, kecuali kengerian yang menunggu.

Langkah mereka menembus rimbunnya hutan. Udara mendadak terasa dingin menusuk, meskipun matahari masih bersinar terang di sela dedaunan. Suara hutan yang seharusnya riuh, terasa anehnya senyap. Hanya desau angin dingin yang berbisik di antara dedaunan tua.

Aris mencoba menenangkan diri, menganggap itu hanya perubahan suhu biasa. Rina, bagaimanapun, merasakan getaran aneh. Seperti ada mata yang mengawasi, tersembunyi di balik kegelapan. Ia menggenggam erat kamera di tangannya.

Mereka menemukan jejak aneh di tanah. Bukan jejak hewan, melainkan semacam bekas seretan panjang yang hilang di balik semak. Budi mencoba memotretnya, namun lensanya mendadak buram. Ia mengusapnya, tapi buram itu tak hilang.

Malam pertama, mereka mendirikan tenda di dekat aliran sungai kecil. Api unggun mereka menari, memecah kegelapan yang pekat. Aris membuka peta, mencoba memastikan posisi mereka. Namun, peta digital mereka tiba-tiba mati, layar membeku tanpa sebab.

Hutan itu terasa hidup, bukan dengan nyanyian serangga, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan. Lalu, samar-samar, terdengar bisikan. Bukan angin, melainkan untaian kata tak dikenal, seolah memanggil nama mereka dari kejauhan.

Rina merasakan bulu kuduknya merinding. Budi mencoba mencairkan suasana, namun tatapan Aris tetap tegang. Ada sesuatu yang tak beres, jauh di lubuk hati mereka. Mereka memutuskan untuk tidur bergantian, berjaga.

Dini hari, saat Aris berjaga, ia melihat sesuatu bergerak di antara pohon-pohon. Sebuah siluet tinggi, terlalu kurus untuk manusia, terlalu lambat untuk hewan. Ia mengira itu hanya bayangan ilusi, namun jantungnya berdebar kencang.

Pagi harinya, suasana semakin mencekam. Peralatan mereka sering mengalami malfungsi. Kompas berputar liar, senter berkedip tanpa henti. Mereka merasa seperti tersesat di labirin tanpa ujung, padahal seharusnya mereka masih di jalur.

Rina mulai menggambar di buku sketsanya. Bukan pemandangan indah, melainkan sketsa-sketsa aneh: mata yang mengawasi, tangan kurus yang memanjang, dan sebuah wajah tak berbentuk yang muncul dari kegelapan. Ia menggambar apa yang ia rasakan.

Mereka menemukan ukiran aneh di sebuah pohon tua raksasa. Bentuknya abstrak, primitif, namun memancarkan aura kuno yang mengerikan. Seolah-olah ukiran itu telah ada di sana selama ribuan tahun, menyaksikan segalanya.

Suara bisikan itu semakin jelas, mengelilingi mereka dari segala arah. Terkadang seperti tawa, terkadang seperti tangisan, terkadang seperti panggilan yang tak bisa mereka pahami. Itu bukan bahasa manusia.

Budi mencoba merekam suara itu, namun perekamnya hanya menangkap statis. Frustrasi mulai merayap, menggerogoti logika mereka. Hutan ini seolah memiliki kehendak sendiri, menolak untuk direkam, menolak untuk dipahami.

Malam kedua adalah puncak kengerian. Saat mereka duduk mengelilingi api unggun, bayangan di luar lingkaran cahaya mulai memanjang. Lebih gelap dari kegelapan itu sendiri, lebih pekat dari malam yang gulita.

Rina menjerit tertahan. Di balik bayangan pohon, sesosok makhluk muncul. Tinggi, kurus, dengan anggota badan yang tak wajar. Matanya seperti dua lubang kosong, namun memancarkan kebencian yang dalam.

Makhluk itu tidak bergerak cepat, melainkan melayang perlahan. Setiap gerakannya terasa berat, namun tanpa suara. Seolah ia adalah bagian dari kabut, bagian dari keheningan hutan itu sendiri.

Budi mencoba mengambil gambar, namun tangannya bergetar tak terkendali. Aris meraih parang kecilnya, namun ia tahu itu takkan berguna. Ini bukan sesuatu yang bisa dilukai oleh bilah baja.

Sosok itu mendekat. Bisikan-bisikan itu kini menjadi auman pelan yang menyesakkan, memenuhi gendang telinga mereka. Bau tanah basah dan busuk menyeruak, membuat mereka mual.

“Lari!” teriak Aris. Mereka bangkit, melarikan diri tanpa arah, menembus semak belukar yang berduri. Pohon-pohon seolah menjadi hidup, cabang-cabang mencakar, akar-akar menjerat langkah mereka.

Sosok itu tak mengejar dengan cepat, namun seolah ia selalu ada di belakang mereka, bayangan yang tak terhindarkan. Mereka mendengar napasnya, dingin dan mematikan, menyentuh tengkuk mereka.

Mereka berlari hingga paru-paru mereka terasa terbakar, hingga kaki mereka lemas. Lalu, tiba-tiba, mereka melihat cahaya. Cahaya remang-remang dari sebuah desa di kejauhan.

Mereka terhuyung-huyung keluar dari hutan, ambruk di tanah berlumpur. Wajah mereka pucat pasi, napas terengah-engah. Penduduk desa terkejut melihat kondisi mereka, kotor dan ketakutan.

Aris mencoba menceritakan apa yang terjadi, namun suaranya tercekat. Rina menangis tanpa henti, matanya kosong. Budi hanya bisa terdiam, menggigil, memeluk kameranya yang rusak.

Penduduk desa hanya mengangguk, tanpa terkejut. “Kami sudah memperingatkan,” kata tetua itu. “Hutan itu dijaga. Ia tidak suka jika diganggu.”

Mereka berhasil meninggalkan Samosir, namun hutan itu tak pernah meninggalkan mereka. Bekas goresan misterius muncul di lengan Aris, seolah dicakar oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Mata Rina sering menatap kosong, terperangkap kengerian yang tak terlukiskan. Ia tak lagi bisa melukis, hanya sketsa-sketsa abstrak bayangan dan mata kosong yang memenuhi pikirannya.

Budi berhenti memotret. Setiap kali ia melihat lensa kameranya, ia melihat kembali mata kosong itu. Mereka kembali ke kehidupan normal, namun bayangan Samosir selalu membuntuti.

Hingga kini, mereka tak pernah bisa menjelaskan apa yang mereka lihat. Makhluk apa itu? Roh purba? Penjaga hutan? Atau manifestasi ketakutan terdalam mereka sendiri?

Samosir tetap menyimpan rahasianya, membisikkan peringatan bagi siapa pun yang berani melangkah terlalu jauh. Sebuah kisah misteri yang tak terpecahkan, terukir dalam kegelapan rimba purba.

Hutan Samosir kini bukan hanya sekadar hutan. Ia adalah gerbang menuju kengerian, tempat di mana batas antara dunia nyata dan gaib menjadi kabur. Dan di sana, ia masih menunggu.

Penampakan di Hutan Samosir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *