Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Batu Tua Ini Jadi Saksi Persidangan Aneh di Zaman Dulu — Kamu Percaya?

11
×

Batu Tua Ini Jadi Saksi Persidangan Aneh di Zaman Dulu — Kamu Percaya?

Share this article

Batu Tua Ini Jadi Saksi Persidangan Aneh di Zaman Dulu — Kamu Percaya?

Legenda Batu Parsidangan: Pengadilan Abadi di Jantung Danau Toba

Di jantung Danau Toba yang memesona, tersembunyi sebuah pulau legendaris bernama Samosir. Udara di sana memancarkan ketenangan yang menyesatkan, seolah menyembunyikan rahasia kuno yang jauh lebih gelap dari bayangan pegunungan sekitarnya. Di salah satu sudut Tuktuk, sebuah desa yang damai, berdiri Batu Parsidangan.

Namun, di balik pesona itu, terbentang kisah mengerikan tentang keadilan yang dingin dan tak kenal ampun. Batu Parsidangan bukan sekadar tumpukan batu tua; ia adalah saksi bisu, sekaligus aktor utama, dari sebuah drama keadilan kuno yang jiwanya masih bersemayam di sana. Penduduk setempat berbisik tentang aura kelam yang menyelimutinya.

Batu-batu berbentuk kursi melingkar dan sebuah meja batu di tengahnya, seolah menunggu sidang berikutnya. Legenda mengatakan bahwa di sinilah para raja dan tetua adat Batak dulu mengadili kasus-kasus paling rumit, dari perselisihan tanah hingga kejahatan berat. Namun, ada yang lebih dari sekadar sejarah.

Ada bisikan yang mengatakan bahwa jiwa-jiwa yang tidak bersalah, atau bahkan yang bersalah namun diadili secara tidak adil, masih terperangkap di sana. Mereka meronta dalam keabadian, menunggu keadilan sejati yang tak pernah datang. Aura dingin yang menusuk tulang seringkali terasa di sekitar batu, bahkan di siang bolong.

Seorang peneliti muda bernama Arif, dengan rasa ingin tahu yang tak terbendung, tiba di Samosir. Ia seorang sejarawan yang skeptis, datang untuk mendokumentasikan situs-situs kuno, namun tertarik oleh desas-desus aneh tentang Batu Parsidangan. Tujuan awalnya adalah mengungkap fakta, bukan fiksi.

Tuktuk, desa yang damai dengan senyum ramah penduduknya, menyambut Arif dengan hangat. Namun, ketika ia mulai menanyakan tentang batu legendaris itu, senyum-senyum itu sedikit memudar. Tatapan mereka berubah menjadi campuran hormat dan ketakutan yang mendalam, seolah ia telah menyebut nama yang terlarang.

“Batu itu punya jiwa, Nak,” kata seorang tetua dengan suara serak, matanya menatap jauh ke kejauhan. “Ia mendengar, ia melihat, dan ia mengingat. Jangan coba-coba menguji kesabarannya.” Arif hanya tersenyum sopan, menganggapnya sebagai takhayul lokal. Ia percaya pada logika, bukan legenda.

Dan kemudian, ia melihatnya. Batu Parsidangan berdiri agung di bawah naungan pohon beringin tua, seolah memancarkan energi kuno yang tak terlihat. Permukaannya yang kasar, ditumbuhi lumut, tampak seperti kulit makhluk purba yang tidur panjang. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, lebih dingin.

Arif mulai menghabiskan hari-harinya di dekat situs itu, mencatat detail, menggambar sketsa, dan merekam suara. Ia ingin merasakan “jiwa” yang dikatakan para tetua. Malam pertama di dekat batu, ia merasakan hembusan angin dingin yang aneh, seolah ada sesuatu yang lewat begitu dekat.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya angin malam biasa, pantulan dari danau. Namun, perasaan tidak nyaman itu terus tumbuh. Setiap sentuhan pada permukaan batu terasa seperti sentuhan pada kulit yang hidup, dingin namun memancarkan denyut tak kasat mata. Ia mulai merasa diawasi.

Malam-malam berikutnya, mimpinya berubah. Arif melihat siluet-siluet samar, wajah-wajah tanpa ekspresi yang menatapnya dari kegelapan. Ia mendengar bisikan-bisikan yang tak jelas, seperti suara-suara kuno yang terperangkap dalam angin. Ia terbangun dengan keringat dingin, jantung berdebar kencang.

Skeptisisme Arif mulai goyah. Ia mencari catatan sejarah, arsip-arsip lama, bahkan kisah-kisah lisan yang lebih dalam. Ia menemukan pola yang mengerikan: serangkaian insiden misterius yang terjadi di sekitar Batu Parsidangan selama berabad-abad, sebagian besar tidak pernah terpecahkan.

Ada kisah tentang seorang pemuda yang menghilang tanpa jejak setelah mencoba mengukir namanya di salah satu kursi batu. Ada pula cerita tentang seorang pedagang serakah yang tiba-tiba kehilangan akal sehatnya setelah mencoba mencuri artefak kecil dari area situs. Semua berakhir tragis, tanpa penjelasan logis.

Yang paling mengerikan adalah catatan tentang “persidangan bayangan.” Konon, pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama penuh, sidang-sidang kuno itu hidup kembali. Namun, para hakim dan terdakwa bukanlah manusia, melainkan entitas tak terlihat dari dimensi lain.

Arif merasa sebuah tarikan kuat yang tak bisa dijelaskan. Ia harus mencari tahu lebih banyak. Setiap detail yang ia temukan hanya menambah lapisan misteri, bukan mengungkap kebenaran. Batu itu seolah menggoda, menariknya lebih dalam ke jaring rahasianya.

Suatu malam, Arif memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Ia akan menghabiskan malam di Batu Parsidangan, sendirian, untuk menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Ia membawa kamera inframerah, perekam suara, dan hati yang berdebar kencang antara rasa takut dan penasaran.

Kegelapan malam menyelimuti situs itu, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar menembus dedaunan. Udara menjadi sangat dingin, lebih dingin dari biasanya, seolah seluruh panas telah tersedot keluar. Arif duduk di salah satu kursi, jantungnya berdebar tak karuan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara. Bukan bisikan, melainkan desahan panjang, seperti tarikan napas kolektif dari banyak jiwa. Suara itu datang dari arah meja batu di tengah, perlahan menyebar ke kursi-kursi lain. Arif menegang, bulu kuduknya merinding.

Kamera inframerahnya mulai berkedip-kedip aneh, menunjukkan anomali energi di sekitar batu. Lalu, ia melihatnya. Siluet-siluet samar, tembus pandang, mulai terbentuk di setiap kursi. Mereka duduk tegak, menghadap meja, seolah siap untuk memulai sidang.

Arif merasakan tekanan luar biasa di dadanya, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya. Suara-suara mulai terdengar, lebih jelas sekarang, namun tetap tidak bisa dimengerti. Itu adalah bahasa kuno, sebuah dialek yang terlupakan, penuh dengan ratapan dan tuduhan.

Ia melihat bayangan tangan terangkat, menunjuk ke arahnya. Seketika, rasa dingin yang menusuk berubah menjadi panas membara, seolah ia sedang diadili. Pikiran-pikiran kacau memenuhi benaknya: penyesalan, ketakutan, dan rasa bersalah yang bukan miliknya.

Sebuah suara, jauh lebih jelas dari yang lain, bergemuruh di kepalanya, bukan melalui telinganya. “KAU TELAH MENGINJAK KEADILAN KAMI! KAU TELAH MENGGANGGU KEDAMAIAN ABADI!” Arif terjatuh dari kursi, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar tak terkendali.

Ia merangkak mundur, berusaha menjauh dari lingkaran maut itu. Bayangan-bayangan itu semakin jelas, wajah-wajah penderitaan dan kemarahan menatapnya. Mata mereka kosong, namun memancarkan intensitas yang mengerikan, seolah menarik jiwanya ke dalam kehampaan.

Arif berjuang untuk berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia merasakan sebuah kekuatan tak terlihat menariknya kembali ke arah batu. Ia mendengar jeritan-jeritan yang tak tertahankan, suara-suara jiwa yang terperangkap, dan bisikan keputusan yang akan datang.

Dengan sisa tenaga terakhir, Arif berhasil melarikan diri dari situs itu, berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia terus berlari hingga mencapai penginapannya, terengah-engah, tubuhnya dipenuhi keringat dingin dan ketakutan yang mendalam. Ia tidak pernah merasa begitu dekat dengan kematian.

Pagi harinya, Arif memutuskan untuk meninggalkan Samosir. Ia tidak lagi peduli dengan penelitian, dengan fakta, atau dengan skeptisisme. Ia telah melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Matanya kini dipenuhi kengerian yang tak akan pernah hilang.

Ia meninggalkan Samosir dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, dan sebuah kengerian yang akan menghantuinya selamanya. Batu Parsidangan tetap di sana, sunyi, menunggu sidang berikutnya. Legenda itu bukan lagi sekadar cerita kuno; itu adalah peringatan.

Hingga hari ini, Batu Parsidangan berdiri tegak di Tuktuk, sebuah monumen bisu bagi keadilan kuno yang kejam. Para penduduk setempat tetap menghormatinya dengan ketakutan yang mendalam, tidak berani mengganggunya, tidak berani menantangnya. Mereka tahu, ada harga yang harus dibayar.

Jika Anda berani berkunjung ke sana, perhatikanlah. Rasakan udara dingin yang tak wajar. Dengarkan bisikan-bisikan yang terbawa angin. Dan jika Anda merasa ada yang mengawasi, jangan menoleh. Karena di Batu Parsidangan, sidang tak pernah berakhir, dan keadilan selalu mencari jiwa baru untuk diadili.

Siapa tahu, Anda mungkin menjadi terdakwa berikutnya di pengadilan abadi ini.

Legenda Batu Parsidangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *