Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Awalnya Hanya Mendaki Gunung Batur… Sampai Kamera Menangkap ‘Itu’

10
×

Awalnya Hanya Mendaki Gunung Batur… Sampai Kamera Menangkap ‘Itu’

Share this article

Awalnya Hanya Mendaki Gunung Batur… Sampai Kamera Menangkap ‘Itu’

Misteri Abadi Gunung Batur: Jejak Bayangan di Puncak Kabut

Gunung Batur, dengan kawah raksasa dan Danau Batur yang tenang, adalah permata Bali. Puncaknya menawarkan pemandangan matahari terbit memukau, menarik ribuan pendaki. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan kisah-kisah yang membisikkan kengerian.

Ada legenda kuno tentang penjaga tak kasat mata. Mereka dikatakan mendiami lereng-lereng sunyi, melindungi rahasia gunung. Bagi sebagian orang, legenda itu bukan sekadar cerita rakyat belaka.

Inilah kisah tentang “Tim Penjelajah Malam,” sekelompok pendaki berpengalaman. Mereka tertarik pada sisi lain Batur, bukan keindahan fajar. Arya, sang pemimpin, adalah skeptis yang cerdas.

Risa, dengan indra keenamnya yang tajam, selalu merasakan energi tempat. Bayu, seorang fotografer, mencari bidikan yang tak biasa. Santi, yang paling pemalu, seringkali merasakan ketakutan yang tak terjelaskan.

Malam itu, bulan sabit tipis menggantung di langit gelap. Mereka memulai pendakian di jalur yang jarang dilewati. Udara dingin pegunungan menyelimuti, membawa serta aroma belerang samar.

Suasana hening, hanya ada suara langkah kaki mereka. Namun, Risa segera merasakan perubahan. Bulu kuduknya meremang, seolah ada mata tak terlihat mengawasi setiap gerak mereka.

Arya mencoba mengabaikannya, fokus pada peta. “Mungkin hanya angin gunung,” katanya, mencoba menenangkan diri dan tim. Namun, ada nada keraguan dalam suaranya.

Semakin tinggi mereka mendaki, keheningan semakin pekat. Suara-suara alam seolah padam, digantikan oleh kebisuan yang aneh. Hati Santi mulai berdebar kencang.

Tiba-tiba, senter Bayu berkedip-kedip. Layarnya mati, lalu menyala lagi dengan cahaya redup. Ini aneh, karena baterainya baru saja diganti penuh.

Bayu mengutak-atiknya, mengerutkan kening. “Ada yang tidak beres,” bisiknya. “Seolah ada interferensi yang kuat di sini.” Mereka saling pandang dalam kegelapan.

Risa menunjuk ke arah tebing curam. “Lihat!” bisiknya, suaranya tercekat. Sebuah bayangan melintas di antara bebatuan, terlalu cepat untuk diidentifikasi.

Itu bukan bayangan manusia, terlalu tinggi dan ramping. Arya mengangkat senternya, menyapu area itu. Tidak ada apa-apa, hanya batu-batu kelabu dan semak belukar.

“Hanya ilusi mata, Risa,” kata Arya, meski hatinya mulai goyah. Namun, ia tahu Risa jarang salah tentang hal-hal seperti itu. Kecemasan mulai menyebar di antara mereka.

Mereka melanjutkan perjalanan, langkah kaki terasa lebih berat. Udara semakin dingin, bahkan lebih dari seharusnya. Dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Kemudian, mereka mulai mendengar suara. Bisikan-bisikan samar terbawa angin. Bukan bahasa yang mereka kenal, terdengar seperti gumaman kuno yang dalam.

Santi mencengkeram lengan Arya. “Aku mendengarnya,” gumamnya, matanya membelalak. “Suara itu… itu bukan suara manusia.” Ketakutan melingkupinya.

Arya mengangguk perlahan. Ia juga mendengarnya, sebuah melodi monoton yang merayap. Itu adalah suara yang tak mungkin berasal dari alam.

Mereka mencapai sebuah area yang lebih terbuka, dekat dengan kawah utama. Kabut tebal mulai turun, menyelimuti segalanya. Visibilitas menurun drastis.

Di tengah kabut, Bayu melihat sesuatu. Sebuah cahaya redup berkedip di kejauhan, di tempat yang seharusnya tidak ada perkemahan. Cahaya itu bergerak lambat.

“Apakah itu pendaki lain?” tanya Bayu, mencoba berpikir logis. Namun, cahaya itu terlalu redup dan bergerak dengan pola yang aneh, tidak seperti senter.

Cahaya itu mendekat, lalu menghilang begitu saja. Muncul lagi di tempat lain, seolah mempermainkan mereka. Jantung mereka berdegup tak beraturan.

Rasa dingin yang aneh tiba-tiba merambat di kulit mereka. Bukan dinginnya suhu, melainkan dingin yang berasal dari dalam, dari ketiadaan. Bau tanah basah bercampur dengan aroma aneh.

Aroma itu seperti bunga layu dan sesuatu yang amis. Itu adalah bau yang tidak pernah mereka temui di gunung manapun. Bau itu membuat perut mereka mual.

Kemudian, mereka melihatnya. Di tengah kabut yang bergulir, siluet tinggi muncul. Bentuknya tidak jelas, seperti bayangan yang terbuat dari kabut itu sendiri.

Itu bergerak perlahan, seolah melayang di atas tanah. Tidak ada suara langkah, hanya keheningan yang menakutkan. Sosok itu tampak mengamati mereka.

Santi menjerit tertahan, menutupi mulutnya dengan tangan. Arya menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Itu hanya ilusi,” gumamnya, berusaha meyakinkan.

Namun, Arya tahu itu bukan ilusi. Sosok itu nyata, nyata dalam kengeriannya. Matanya yang gelap terasa menembus ke dalam jiwa mereka.

Tiba-tiba, suara bisikan itu menguat. Kali ini, mereka bisa mendengar beberapa kata, meskipun tidak mengerti artinya. Kedengarannya seperti sebuah peringatan.

Sosok itu mengangkat tangannya yang panjang, menunjuk ke arah mereka. Gerakannya lambat, mengancam. Mereka merasa seperti mangsa yang terpojok.

“Kita harus pergi,” kata Risa, suaranya bergetar. “Sekarang!” Ketakutan yang murni terpancar dari matanya yang lebar.

Mereka berbalik, berlari menuruni jalur yang baru saja mereka daki. Kabut seolah mengikuti mereka, menari-nari di sekitar kaki mereka. Suara bisikan itu tak pernah padam.

Langkah kaki mereka tergesa-gesa, terhuyung-huyung di bebatuan. Mereka terus menoleh ke belakang, khawatir sosok itu akan mengejar. Tetapi sosok itu tidak mengejar.

Ia tetap di tempatnya, mengawasi mereka pergi. Matanya yang tak terlihat memancarkan sesuatu yang lebih dingin dari es. Sesuatu yang kuno dan abadi.

Mereka terus berlari, napas terengah-engah. Adrenalin memompa dalam darah mereka. Ketakutan itu adalah bahan bakar yang mendorong mereka.

Akhirnya, mereka sampai di batas hutan. Kabut mulai menipis, digantikan oleh kegelapan malam yang lebih akrab. Mereka terjatuh, terengah-engah.

Santi terisak di bahu Risa. Bayu memegangi kepalanya, mencoba memproses apa yang terjadi. Arya hanya duduk diam, menatap ke arah gunung yang gelap.

Mereka selamat, tetapi mereka tidak sama. Pengalaman itu telah mengubah mereka. Mereka telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat.

Pagi menjelang, fajar menyingsing. Gunung Batur tampak tenang dan indah seperti biasa. Seolah malam yang mengerikan itu tidak pernah terjadi.

Namun, bagi Tim Penjelajah Malam, Batur tidak akan pernah sama. Mereka membawa pulang bukan hanya foto, tetapi juga trauma yang mendalam.

Mereka tidak pernah membicarakan detail kejadian itu secara terbuka. Kata-kata tidak akan pernah bisa menggambarkan kengerian yang mereka alami.

Yang mereka tahu adalah, ada sesuatu yang hidup di Gunung Batur. Sesuatu yang kuno, penjaga yang tak kasat mata, yang tidak suka diusik.

Setiap malam, mereka teringat bisikan-bisikan itu. Teringat mata yang dingin di balik kabut. Teringat sosok tinggi yang melayang.

Gunung Batur tetap menjadi daya tarik. Ribuan pendaki terus mendaki puncaknya, mengejar matahari terbit yang memesona. Mereka tidak tahu.

Mereka tidak tahu rahasia yang tersembunyi di balik kabut. Rahasia yang hanya diketahui oleh beberapa orang yang berani melangkah terlalu jauh.

Dan mungkin, itu lebih baik. Karena ada beberapa misteri yang sebaiknya tetap menjadi misteri. Terkubur dalam keheningan abadi sebuah gunung.

Misteri Gunung Batur akan terus hidup, di setiap hembusan angin dingin. Di setiap bayangan yang menari di lereng. Di setiap bisikan yang tak terlihat.

Dan bagi mereka yang pernah melihatnya, Batur bukan lagi sekadar gunung. Itu adalah gerbang menuju sesuatu yang tak terjelaskan. Sebuah monumen ketakutan abadi.

Mereka tidak akan pernah kembali ke sana di malam hari. Janji itu terpatri kuat dalam jiwa mereka yang gemetar. Gunung itu telah menunjukkan wajah aslinya.

Wajah yang dipenuhi dengan kekuatan kuno dan aura misteri. Wajah yang akan menghantui mereka selamanya. Wajah sejati Gunung Batur.

Awalnya Hanya Mendaki Gunung Batur… Sampai Kamera Menangkap ‘Itu’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *