Ritual Malam Tanpa Bintang di Lembah Sunyi
Ardi, seorang etnografer muda, selalu mencari kisah yang belum terjamah. Sebuah desas-desus membawanya jauh ke pedalaman Kalimantan. Ada sebuah desa tersembunyi, konon menyimpan ritual kuno. Perjalanan itu berat, hutan menelan jejaknya. Setiap langkah membawa Ardi lebih dekat pada misteri.
Udara lembap memeluk erat, membawa aroma tanah basah dan daun busuk. Suara serangga malam berpadu dengan desau angin, menciptakan simfoni aneh. Kabut tipis mulai menyelimuti, menambah kesan angker. Desa itu bernama “Lembah Sunyi,” namun Ardi merasa ada kegaduhan tak terlihat.
Penduduk desa menyambutnya dengan senyum tipis, namun mata mereka menyimpan rahasia. Ada ketegangan tak terucap di setiap sudut. Mereka berbicara dengan nada rendah, seolah takut didengar angin. Ardi merasakan hawa dingin menusuk, bukan dari suhu.
Ia mendengar bisikan tentang “Ritual Penjaga Batas,” sebuah upacara yang dilakukan setiap lima tahun. Konon, ritual itu untuk menenangkan entitas purba yang bersemayam di lembah. Entitas itu, mereka bilang, adalah pelindung sekaligus peminta. Ardi penasaran, namun hatinya diliputi keraguan.
“Jangan pernah mencari tahu lebih dari yang boleh kau tahu,” seorang tetua beruban memperingatkan. Suaranya serak, penuh beban pengalaman. “Ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi rahasia, agar kita bisa tidur nyenyak.” Peringatan itu justru memicu rasa ingin tahu Ardi.
Malam-malam di Lembah Sunyi terasa panjang dan sunyi. Ardi sering terbangun oleh suara-suara aneh dari hutan. Bisikan samar, langkah kaki tanpa jejak, dan kadang, tawa yang menusuk tulang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi.
Seiring hari berganti, Ardi mulai melihat persiapan ritual. Pria-pria melukis tubuh mereka dengan arang dan tanah liat. Wanita-wanita menyiapkan sesajen dari hasil bumi dan hewan buruan. Atmosfer desa berubah, menjadi semakin tegang, seperti busur yang ditarik kencang.
Bulan sabit mulai memudar, menandakan malam ritual semakin dekat. Penduduk desa terlihat semakin pucat, lingkaran hitam di bawah mata mereka semakin pekat. Ada rasa takut yang nyata menyelimuti mereka, bukan lagi sekadar ketaatan adat. Ardi mulai merasa gelisah.
Malam yang dinanti tiba. Langit pekat tanpa bintang, seolah diselimuti kain hitam tebal. Obor-obor dinyalakan, cahayanya berkedip-kedip, menciptakan bayangan aneh. Seluruh desa berkumpul di sebuah lapangan terbuka di tepi hutan, di mana sebuah altar batu berdiri tegak.
Pusaran asap kemenyan membumbung, membentuk bayangan menari-menari. Suara tabuhan genderang memekakkan telinga, namun ritmis dan menghipnotis. Nyanyian mantra kuno menggema, bukan dari tenggorokan manusia. Suatu energi purba mulai merayap naik.
Sang Tetua, dengan wajah keriput dan mata terpejam, memimpin ritual. Ia melantunkan mantra dengan suara yang semakin berat. Getaran aneh mulai terasa di tanah. Udara menjadi dingin, sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Ardi merasa merinding.
Tiba-tiba, keheningan aneh menyelimuti segalanya. Genderang terhenti mendadak, nyanyian pun membeku. Mata Ardi melebar saat melihat Sang Tetua terhuyung, wajahnya pucat pasi. Bukan arwah leluhur yang datang. Sesuatu yang lain telah merespons.
Hutan di seberang lapangan tampak lebih gelap dari sebelumnya, seolah menelan cahaya obor. Ardi bersumpah ia mendengar suara napas berat dari sana. Suara yang dalam, berderak, seolah terbuat dari batu dan lumut. Ketakutan merayap, mencengkeram jantungnya.
Seketika, semua obor padam, satu per satu, tanpa sebab. Kegelapan total menyelimuti desa. Hanya suara gemuruh napas itu yang terdengar, semakin dekat. Lalu, teriakan pecah. Bukan teriakan ketakutan, melainkan jeritan yang teredam, putus asa, seolah dicekik.
Ardi panik. Ia meraba-raba dalam kegelapan, mencari jalan keluar. Ia mendengar suara langkah kaki berlari, lalu suara jatuh yang berat. Aroma tanah basah bercampur bau amis yang mengerikan. Apa yang telah mereka panggil? Apa yang telah datang?
Cahaya obor kembali menyala, satu per satu, perlahan. Pemandangan di depannya membuat Ardi terkesiap. Sebagian penduduk desa tergeletak tak bernyawa. Tubuh mereka kering, seolah seluruh vitalitasnya disedot. Ada bekas cakaran besar di tanah.
Namun, tidak ada makhluk yang terlihat. Hanya jejak-jejak kekosongan, dan hawa dingin yang menusuk. Penduduk desa yang selamat tampak syok, mata mereka kosong, menatap kehampaan. Ritual itu berhasil, tapi dengan harga yang tak terbayangkan.
Sejak malam itu, desa itu berubah. Senyum tipis berganti tatapan kosong yang jauh. Anak-anak berhenti bermain, suara tawa lenyap ditelan kesunyian. Malam hari, Ardi mendengar bisikan-bisikan aneh. Bisikan yang bukan dari manusia.
Ia mulai mengamati pola. Setiap malam tanpa bulan, satu atau dua penduduk desa menghilang. Tidak ada jejak, tidak ada suara. Hanya kekosongan yang tertinggal. Seolah mereka telah menjadi persembahan, makanan bagi sesuatu yang tak terlihat.
Ardi mencoba bertanya, namun tak ada yang menjawab. Mereka hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Sang Tetua, yang selamat, kini hanya duduk termenung, sesekali meracau tentang “batas yang rusak” dan “harga yang harus dibayar.”
Suatu malam, Ardi memutuskan untuk menyelinap ke hutan. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengikuti jejak samar yang hanya bisa dilihatnya di bawah cahaya rembulan redup. Jejak itu membawanya ke sebuah gua tersembunyi.
Gua itu gelap gulita, namun Ardi merasakan aura kuno yang mencekam. Di dinding gua, ada ukiran-ukiran aneh. Ukiran makhluk besar, bertaring, dengan mata kosong yang menghisap. Dan di kakinya, ada gambar-gambar manusia yang disedot habis.
Ia menemukan sebuah jurnal tua, tergeletak di tanah. Jurnal itu milik seorang penjelajah yang hilang puluhan tahun lalu. Tulisannya buram, penuh ketakutan. Jurnal itu menceritakan tentang “Penjaga Batas” yang sebenarnya.
“Bukan pelindung,” tulis jurnal itu. “Ia adalah entitas kuno yang bersembunyi di balik dimensi. Ritual itu bukan untuk menenangkannya, tapi untuk memberinya jalan. Jalan masuk ke dunia kita, dengan imbalan nyawa.”
“Setiap lima tahun, mereka memberinya makan. Memberinya ‘batas’ untuk dilewati. Dan setiap kali, ia mengambil lebih banyak. Ia tidak pernah kenyang. Ia adalah kekosongan yang berjalan, menunggu untuk menelan segalanya.”
Jurnal itu juga menyebutkan bahwa entitas itu meninggalkan ‘jejak’ di setiap korbannya. Jejak berupa keheningan, kekosongan, dan bisikan yang tak pernah berhenti. Ardi menyadari, ia juga mendengar bisikan itu. Ia telah terkontaminasi.
Ketakutan mencekik Ardi. Ia telah melihat terlalu banyak, membaca terlalu jelas. Ia harus pergi, sebelum ia menjadi persembahan selanjutnya. Ia berlari keluar dari gua, kembali ke desa, jantungnya berdegup kencang.
Namun, saat ia kembali, desa itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada obor, tidak ada suara. Hanya kegelapan dan keheningan yang mematikan. Semua penduduk desa telah lenyap. Altar batu di lapangan tampak kosong, namun terasa penuh.
Ardi tahu ia harus pergi. Ia telah melihat terlalu banyak, mendengar terlalu jelas. Namun, kakinya terasa berat, seolah terpaku di tanah. Bisikan itu kini memanggil namanya, lebih dekat. Ia bukan lagi pengamat, tapi mangsa.
Ia berlari, sekuat tenaga, kembali ke jalan setapak yang membawanya kemari. Hutan di belakangnya seolah hidup, mengejarnya. Ia mendengar suara napas berat di dekat telinganya, merasakan hawa dingin yang menusuk.
Ardi tidak pernah kembali ke peradaban yang sama. Bayangan Lembah Sunyi terus menghantuinya. Apakah ia berhasil lolos? Atau ia membawa pulang sesuatu? Misteri itu tetap tak terpecahkan, terukir dalam setiap mimpi buruknya.
Ada yang mengatakan Ardi ditemukan di tepi hutan, linglung, dengan mata kosong. Ia terus-menerus berbisik tentang “kekosongan” dan “batas yang rusak.” Ia tidak pernah lagi bisa tidur nyenyak, dihantui bisikan dari malam tanpa bintang.
Dan konon, setiap lima tahun sekali, kabut tebal menyelimuti Lembah Sunyi. Penduduk desa terdekat akan mendengar suara tabuhan genderang dari kejauhan. Sebuah peringatan. Sebuah misteri yang terus hidup, menanti mangsa berikutnya.






