Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Penunggu Hutan Bangli Selalu Muncul Saat Matahari Hampir Terbenam

10
×

Penunggu Hutan Bangli Selalu Muncul Saat Matahari Hampir Terbenam

Share this article

Penunggu Hutan Bangli Selalu Muncul Saat Matahari Hampir Terbenam

Penunggu Hutan Bangli: Bisikan Kegelapan yang Abadi

Bangli. Sebuah nama yang berbisik.
Di antara pepohonan tua, kabut pegunungan.
Menyimpan rahasia yang jauh lebih purba.
Dari sekadar usianya di peta.

Dikatakan, hutan-hutan di Bangli adalah penjaga.
Bukan hanya pepohonan, atau aliran sungai jernih.
Melainkan entitas tak kasat mata.
Penunggu purba yang bersemayam di sana.

Mereka bukan sekadar mitos belaka.
Bukan pula cerita pengantar tidur anak-anak.
Bisikan tentang mereka.
Menyelinap di setiap celah sunyi.

Banyak yang berani melangkah masuk.
Mencari keindahan alam yang belum terjamah.
Namun tak sedikit yang kembali.
Dengan mata kosong, jiwa yang terguncang.

Atau, lebih sering lagi.
Mereka tak pernah kembali sama sekali.
Hutan Bangli menelan mereka.
Seperti pusaran air yang tak terlihat.

Inilah kisah tentang Dr. Arjuna.
Seorang etnobotanis muda, penuh ambisi.
Ia datang ke Bangli.
Bukan sekadar mencari flora langka.

Ada ketertarikan mendalam padanya.
Terhadap cerita-cerita lokal yang misterius.
Legenda Penunggu hutan.
Memanggilnya dengan desiran gaib.

Penduduk setempat menatapnya curiga.
Saat ia mengutarakan niatnya.
Memasuki jantung hutan terlarang.
“Jangan ganggu mereka,” bisik seorang sesepuh.

“Mereka menjaga keseimbangan,” lanjutnya.
“Bukan untuk dilihat, apalagi diganggu.”
Arjuna hanya tersenyum tipis.
Sains adalah senjatanya, bukan takhayul.

Ia menyiapkan perbekalan lengkap.
Kamera inframerah, sensor gerak.
Peralatan pendeteksi anomali energi.
Segalanya untuk membuktikan atau menyanggah.

Pagi itu, udara dingin menusuk tulang.
Arjuna melangkah mantap.
Menembus gerbang tak kasat mata.
Hutan Bangli menyambutnya.

Langkah pertamanya menembus kanopi.
Cahaya matahari segera meredup.
Berganti dengan semburat hijau kebiruan.
Seolah ia masuk ke dimensi lain.

Udara menipis, dingin merayap.
Bukan dingin pegunungan biasa.
Ini dingin yang menusuk jiwa.
Dingin yang membawa aura kuno.

Suara serangga sirna seketika.
Hanya ada keheningan mutlak.
Keheningan yang lebih mengerikan.
Daripada badai yang paling dahsyat.

Arjuna merasakan bulu kuduknya meremang.
Perasaan aneh mulai merambati.
Seolah ribuan pasang mata.
Mengawasinya dari balik kegelapan.

Ia menekan tombol rekam kameranya.
“Ekspedisi hari pertama,” bisiknya.
Suaranya terdengar asing.
Tertelan oleh kebisuan hutan.

Pohon-pohon raksasa menjulang.
Akar-akar melilit, membentuk pola aneh.
Mirip ukiran kuno, tak disengaja.
Atau sengaja dibentuk oleh sesuatu?

Bayangan menari di tepi pandang.
Sekilas, seperti gerakan cepat.
Namun saat Arjuna menoleh.
Tak ada apa-apa, hanya dahan kosong.

Ia mulai berjalan lebih dalam.
Kompasnya mulai berputar liar.
Menunjuk ke segala arah.
Tak mau menunjukkan utara.

“Anomali elektromagnetik,” gumamnya.
Mencoba menjelaskan secara logis.
Namun jantungnya berdegup kencang.
Melawan setiap rasionalisasi.

Sebuah bisikan samar terdengar.
Dari arah yang tak tentu.
Mirip desiran daun, namun lebih dalam.
Seolah nama Arjuna dipanggil.

Ia berhenti, menajamkan pendengaran.
Tidak ada angin bertiup.
Namun bisikan itu menguat.
Semakin jelas, semakin dekat.

Sensor gerak miliknya berkedip cepat.
Menandakan ada pergerakan masif.
Namun di depan matanya.
Tak ada satu pun makhluk hidup.

“Siapa di sana?” teriak Arjuna.
Suaranya memantul, lalu menghilang.
Tertelan oleh keheningan hutan.
Hutan yang seolah mengejeknya.

Peralatan elektroniknya mendadak mati.
Kamera, senter, bahkan ponselnya.
Semua layar gelap, tak berfungsi.
Ia terisolasi sepenuhnya.

Keringat dingin membasahi punggungnya.
Ketakutan mulai merayapi benaknya.
Ini bukan sekadar anomali.
Ini adalah peringatan.

Ia mencoba menyalakan senter darurat.
Tak berhasil.
Hanya kegelapan pekat di sekelilingnya.
Dan bisikan yang semakin menusuk.

Bisikan itu kini membentuk kata.
Dalam bahasa yang tak ia pahami.
Namun intonasinya jelas.
Sebuah perintah untuk pergi.

Arjuna merasakan suhu udara turun drastis.
Hembusan napas dingin menyapu tengkuknya.
Ia menoleh perlahan.
Sebuah sosok samar berdiri di sana.

Terbuat dari kabut, atau bayangan.
Tak memiliki bentuk yang jelas.
Namun matanya, ya, matanya.
Berpijar seperti bara api purba.

Bukan mata yang jahat.
Tapi mata yang penuh wibawa.
Penuh kebijaksanaan kuno.
Dan kemarahan yang dingin.

Sosok itu tidak bergerak.
Namun kehadirannya memenuhi ruang.
Menekan dada Arjuna.
Membuatnya sulit bernapas.

Rasa takut bercampur takjub.
Ilmu pengetahuan yang ia pegang.
Hancur berkeping-keping.
Di hadapan entitas ini.

Ia mencoba melangkah mundur.
Namun kakinya terasa berat.
Seolah terikat oleh energi tak terlihat.
Sosok itu mendekat perlahan.

Bukan dengan kaki, tapi melayang.
Tanpa suara, tanpa jejak.
Hingga jarak mereka sangat dekat.
Arjuna bisa merasakan aura kuno itu.

Sebuah suara beresonansi di kepalanya.
Bukan suara fisik, tapi telepati.
“Kau telah melampaui batas,” bisiknya.
“Tempat ini bukan untuk manusia.”

Arjuna ingin berteriak, ingin lari.
Namun ia terpaku di tempat.
Matanya terpaku pada pijaran mata itu.
Melihat ribuan tahun sejarah.

Ia melihat hutan tumbuh dan mati.
Melihat peradaban bangkit dan runtuh.
Melihat kekuatan alam yang tak tergoyahkan.
Semua dalam sekejap mata.

Rasa dingin menusuk hingga jiwa.
Seolah entitas itu menarik energinya.
Memberinya pelajaran.
Tentang kerendahan hati.

“Pergilah,” suara itu menggema lagi.
Kali ini lebih kuat, lebih mendesak.
“Dan jangan pernah kembali.”
“Jika kau ingin hidup.”

Tiba-tiba, ikatan di kakinya lepas.
Arjuna jatuh terduduk di tanah.
Sosok itu perlahan memudar.
Kembali menjadi kabut dan bayangan.

Ia tak menunggu lagi.
Bangkit dengan sekuat tenaga.
Berlari tanpa arah, tanpa henti.
Menembus kegelapan hutan.

Dahan-dahan mencambuk wajahnya.
Akar-akar menjerat kakinya.
Namun ia terus berlari.
Dikejar oleh bisikan di kepalanya.

Ia tidak tahu berapa lama.
Atau seberapa jauh ia berlari.
Hingga akhirnya, ia melihat cahaya.
Cahaya matahari yang hangat.

Ia terhuyung keluar dari hutan.
Menuju ladang penduduk yang sepi.
Terjatuh di tanah, terengah-engah.
Jantungnya masih berdegup kencang.

Saat ia mendongak.
Hutan Bangli membentang di hadapannya.
Tampak tenang, damai.
Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Peralatan elektroniknya?
Semuanya kembali berfungsi normal.
Seolah tak pernah mati.
Hanya baterainya yang terkuras habis.

Penduduk desa menemukannya.
Tergeletak di tepi hutan, pucat pasi.
Mereka tidak bertanya banyak.
Hanya menatapnya dengan tatapan tahu.

Arjuna kembali ke kota.
Dengan fisik yang utuh.
Namun jiwanya tak lagi sama.
Pikiran ilmiahnya hancur.

Ia tahu, ia telah bertemu.
Dengan sesuatu yang melampaui logika.
Sesuatu yang lebih tua dari waktu.
Penunggu Hutan Bangli.

Ia tidak lagi mencari flora langka.
Tidak lagi mencoba membuktikan.
Ia hanya menulis laporannya.
Dengan kata-kata yang penuh misteri.

Hutan Bangli tetap menjadi misteri.
Menyimpan rahasia yang tak terjamah.
Dan di dalamnya, Penunggu itu.
Terus menjaga keseimbangan abadi.

Arjuna kini mengerti.
Mengapa penduduk desa memperingatkannya.
Ada kekuatan di sana.
Yang tak seharusnya diganggu.

Bisikan gelap itu masih terngiang.
Peringatan yang dingin.
Tentang batas yang tak boleh dilintasi.
Oleh manusia fana.

Hingga kini, di Bangli.
Jika kau berani mendekati hutan tua itu.
Dengarkan baik-baik.
Mungkin kau akan mendengar bisikan yang sama.

Sebuah peringatan dari kedalaman.
Dari Penunggu yang tak terlihat.
Menjaga tidur abadi mereka.
Di jantung kegelapan Hutan Bangli.

Penunggu Hutan Bangli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *