Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Senja di Kawah Putih Tak Pernah Sama Setelah Aku Melihat Ini

10
×

Senja di Kawah Putih Tak Pernah Sama Setelah Aku Melihat Ini

Share this article

Senja di Kawah Putih Tak Pernah Sama Setelah Aku Melihat Ini

Suara Gamelan Tengah Malam: Bisikan Parang Ireng

Arjuna tiba di Parang Ireng, bukan sebagai turis biasa.
Ia seorang peneliti, tertarik pada mitos-mitos kuno.
Desas-desus tentang pantai itu telah memanggilnya.
Sebuah bisikan tentang kegelapan yang abadi.

Pantai Parang Ireng, namanya saja sudah menyeramkan.
Pasir hitam legam, karang-karang tajam menusuk langit.
Ombak memecah dengan geram, seperti raungan raksasa.
Udara di sana selalu terasa berat, dingin menusuk tulang.

Malam pertama, ia hanya mendengar desau angin.
Gelombang samudra seolah berbisik rahasia purba.
Arjuna tertidur pulas, letih setelah perjalanan panjang.
Namun, ketenangan itu tak akan bertahan lama.

Malam kedua, menjelang tengah malam, ia terbangun.
Bukan karena mimpi buruk, melainkan melodi asing.
Tipis, samar, namun begitu jelas di telinga.
Suara gamelan.

Mustahil. Di mana ada gamelan di pantai sepi ini?
Tidak ada desa terdekat yang mengadakan pertunjukan.
Arjuna bangkit, jendela kamarnya terbuka sedikit.
Angin laut membawa serta nada-nada itu.

Bunyi bonang mengalun lembut, disusul saron.
Kemudian kenong dan kempul, menciptakan harmoni.
Bukan gamelan meriah, melainkan syahdu dan misterius.
Seolah dimainkan untuk telinga yang tak kasat mata.

Ia mencoba meyakinkan diri, itu hanya halusinasi.
Atau mungkin, penduduk lokal sedang berlatih jauh di pedalaman.
Tapi suara itu terlalu dekat, terlalu nyata.
Gamelan itu seolah bermain di bibir pantai itu sendiri.

Rasa penasaran mengalahkan logikanya yang skeptis.
Arjuna mengenakan jaket tebal, meraih senternya.
Ia harus melihat, harus membuktikan keanehan ini.
Langkahnya mantap menuju kegelapan Parang Ireng.

Begitu ia mencapai pasir hitam, suara itu menguat.
Lebih jernih, lebih menghantui, lebih memukau.
Gong besar berdentum pelan, menggetarkan dada.
Melodi itu seolah memanggil, menariknya ke dalam kabut.

Tidak ada cahaya lain selain rembulan pucat.
Tidak ada jejak kaki, tidak ada tenda, tidak ada orang.
Hanya pasir, ombak, dan suara gamelan itu.
Dimainkan oleh entitas tak terlihat.

Arjuna melangkah hati-hati, mengikuti suara.
Ia berjalan ke arah karang-karang raksasa di ujung pantai.
Di sana, ombak menghantam lebih keras, menciptakan buih.
Udara terasa semakin dingin, seolah mendekati sebuah portal.

Melodi gamelan itu semakin intens, semakin hipnotis.
Seolah-olah ia ditarik ke dalam tarian yang tak terlihat.
Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Gamelan itu seolah bernapas di sampingnya.

Tiba-tiba, suara kendang bergemuruh cepat.
Ritme itu seperti jantung yang berdebar kencang.
Menggema di antara tebing-tebing karang curam.
Arjuna merasakan bulu kuduknya merinding hebat.

Ia menyalakan senternya, menyapu kegelapan.
Cahaya jatuh pada formasi karang yang aneh.
Bentuknya menyerupai panggung alam raksasa.
Di tengahnya, ada cekungan berisi air laut.

Gamelan itu seolah berasal dari cekungan itu.
Dari air yang beriak pelan, memantulkan rembulan.
Arjuna mendekat, jantungnya berpacu kencang.
Ada sesuatu yang salah di sini, sangat salah.

Ia membungkuk, menyorotkan senter ke air.
Tidak ada apa-apa, hanya pantulan langit malam.
Namun, melodi itu semakin kuat, seolah merasuk.
Seolah dimainkan di dalam dirinya.

Ketakutan mencekam tiba-tiba mencengkeramnya.
Bukan takut pada hantu, melainkan pada ketidakberdayaan.
Pada kenyataan bahwa ia tidak memahami apa pun.
Bahwa ia hanyalah pion dalam melodi purba ini.

Suara gamelan itu mulai berubah, bukan lagi syahdu.
Ada nada-nada pilu, desahan kesedihan yang mendalam.
Seolah-olah gamelan itu sedang meratap, menangisi sesuatu.
Atau mungkin, meratapi kehadiran Arjuna.

Ia mencoba mundur, tetapi kakinya terasa kaku.
Seolah terpaku pada pasir hitam itu.
Matanya terpaku pada cekungan air di karang.
Gamelan itu memanggilnya, lebih dekat, lebih dalam.

Kemudian, ia melihatnya, bayangan samar di air.
Bukan pantulan dirinya, melainkan siluet-siluet aneh.
Mereka bergerak, menari dalam formasi yang ganjil.
Sosok-sosok itu menyerupai penari wayang kulit.

Namun, mereka bukan wayang, mereka lebih hidup.
Terbentuk dari kabut dan cahaya rembulan.
Menari mengikuti irama gamelan yang melengking.
Wajah mereka tidak terlihat, hanya kegelapan.

Arjuna merasakan dingin yang menusuk jiwanya.
Ini bukan pertunjukan manusia, ini sesuatu yang lain.
Sesuatu yang kuno, yang tersembunyi di balik ombak.
Sebuah ritual yang tidak seharusnya ia saksikan.

Gamelan itu mencapai puncaknya, iramanya cepat.
Para penari bayangan berputar semakin liar.
Seolah merayakan sesuatu yang mengerikan.
Arjuna merasakan napasnya tertahan di tenggorokan.

Tiba-tiba, salah satu penari menunjuk ke arahnya.
Bukan dengan jari, melainkan dengan gestur aneh.
Seolah mengundangnya bergabung dalam tarian.
Undangan yang dingin dan mematikan.

Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat.
Tubuhnya bergetar tak terkendali.
Gamelan itu seperti mantra, mengikatnya di sana.
Menjelang sebuah persembahan yang tak terduga.

Kemudian, suara gong terakhir berdentum keras.
Gema memenuhi seluruh pantai, menembus telinganya.
Para penari bayangan lenyap secepat mereka muncul.
Gamelan itu tiba-tiba hening, senyap total.

Hanya desau angin dan ombak yang tersisa.
Arjuna tersentak, terlepas dari kungkungan.
Ia berlari, secepat yang ia bisa, tanpa menoleh.
Kembali ke penginapannya, ke cahaya, ke keamanan.

Ia tidak berhenti berlari sampai di kamarnya.
Mengunci pintu, terengah-engah, jantungnya berdebar.
Malam itu, ia tidak bisa tidur, hanya menatap kegelapan.
Suara gamelan itu masih berdenging di telinganya.

Pagi harinya, ia mengemasi barang-barangnya.
Rencana penelitiannya musnah, tergantikan ketakutan.
Ia harus pergi, menjauh dari Parang Ireng.
Dari melodi yang menghantui itu.

Namun, saat mobilnya melaju meninggalkan pantai.
Ia menoleh ke belakang, ke arah pasir hitam itu.
Dan ia bersumpah, ia mendengar bisikan samar.
Melodi gamelan yang tak pernah berhenti.

Sejak saat itu, setiap tengah malam, ia mendengarnya.
Di mana pun ia berada, jauh dari Parang Ireng.
Melodi gamelan yang syahdu namun mengerikan.
Sebuah pengingat akan malam di pantai hitam itu.

Sebuah misteri yang tak terpecahkan.
Suara gamelan tengah malam dari Parang Ireng.
Yang terus memanggil, mengundang, menghantui.
Dan Arjuna tahu, ia takkan pernah sepenuhnya bebas.

Suara Gamelan Tengah Malam: Bisikan Parang Ireng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *