Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Jejak Penari Misterius di Blambangan: Tak Ada yang Berani Mengikuti

10
×

Jejak Penari Misterius di Blambangan: Tak Ada yang Berani Mengikuti

Share this article

Jejak Penari Misterius di Blambangan: Tak Ada yang Berani Mengikuti

Sang Penari Misterius Osing: Jejak Gaib di Tanah Blambangan

Di jantung Banyuwangi, tersembunyi sebuah kawasan yang kaya akan tradisi dan mitos: Tanah Osing. Di antara rimbunnya persawahan dan gema gamelan, tersiar bisikan tentang seorang penari misterius. Ia muncul dari kabut, menari di bawah rembulan, lalu lenyap tanpa jejak, meninggalkan kengerian dan keindahan yang tak terlukiskan.

Kisah ini dimulai dengan kedatangan Wisnu, seorang etnomusikolog muda dari ibu kota. Ia datang ke Osing dengan niat mulia: meneliti keunikan gending-gending lokal yang konon memiliki kekuatan magis. Namun, takdir membawanya pada misteri yang jauh lebih dalam, jauh lebih menakutkan.

Malam pertamanya di desa, Wisnu dikejutkan oleh melodi kuno yang tak dikenal, mengalun dari arah hutan bambu di pinggir desa. Gending itu bukan gending Gandrung atau Barong Osing yang biasa ia dengar. Ada kesedihan, kemarahan, dan keheningan yang mencekam di dalamnya.

Ia mengikuti suara itu, jantungnya berdegup kencang. Di sebuah tanah lapang yang diterangi cahaya rembulan, berdiri sesosok wanita. Gaun putihnya berkibar ditiup angin, rambut hitamnya terurai panjang menutupi wajahnya yang pucat. Ia menari, gerakannya begitu luwes namun menyimpan kekuatan yang tak masuk akal.

Gerakannya bukan tarian manusia biasa. Ada sentuhan primal, seolah ia adalah perwujudan dari angin, air, dan api sekaligus. Wisnu terpaku, antara kagum dan ketakutan. Udara di sekelilingnya terasa dingin menusuk, seolah hawa kematian merayapi setiap sudut.

Para penduduk desa yang ikut menyaksikan dari kejauhan, hanya mampu menunduk, bibir mereka komat-kamit merapalkan doa. Tak ada yang berani mendekat, apalagi menghentikan tarian itu. Mereka tahu, kehadiran sang penari adalah pertanda, namun tak ada yang berani mengucapkannya.

Ketika gending mencapai puncaknya, sang penari berputar dengan kecepatan tak terbayangkan. Sekejap kemudian, ia lenyap, seolah ditelan kabut malam. Hanya aroma melati dan bau tanah basah yang tertinggal, serta keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya.

Wisnu gemetar. Ia mencoba mencari jejak, namun tak ada. Tanah tempat ia menari bersih, seolah tak pernah terinjak. Penduduk desa bubar dalam diam, raut wajah mereka menunjukkan ketakutan yang mendalam. Tak ada yang ingin membahas apa yang baru saja mereka saksikan.

Keesokan harinya, Wisnu mencoba bertanya kepada kepala desa dan beberapa sesepuh. Mereka hanya menggelengkan kepala, enggan berbicara. “Itu bukan urusan kita, Nak. Jangan dicari tahu, nanti celaka,” kata seorang tetua dengan suara bergetar.

Namun, rasa ingin tahu Wisnu terlalu besar. Ia mulai mengumpulkan cerita, mencatat setiap detail yang ia dengar. Ada yang bilang sang penari adalah arwah gentayangan seorang putri dari Kerajaan Blambangan kuno, yang dikhianati dan mati tragis.

Ada pula yang menyebutnya sebagai penjaga gerbang dimensi lain, yang muncul saat keseimbangan alam terganggu. Setiap kemunculannya konon diikuti oleh peristiwa aneh: panen gagal, ternak mati mendadak, atau bahkan penyakit misterius yang menyerang warga.

Wisnu menemukan fakta yang lebih mengerikan. Beberapa orang yang pernah melihat tarian itu dari dekat, mengalami hal aneh. Mereka sering terbangun di malam hari dengan tubuh kaku, seolah jiwanya ditarik paksa ke suatu tempat yang gelap dan dingin.

Mimpi buruk menghantui mereka, tentang sebuah istana kuno yang runtuh, jeritan tak terdengar, dan mata merah menyala yang mengawasi dari kegelapan. Sebagian dari mereka bahkan ditemukan mengigau dalam bahasa kuno yang tak lagi dipahami.

Malam berikutnya, Wisnu menyiapkan kamera dan perekam suara. Ia harus mendapatkan bukti, memahami fenomena ini secara ilmiah. Ia kembali ke tanah lapang itu, bersembunyi di balik pohon besar, menunggu. Udara terasa semakin dingin, seolah malam itu jauh lebih panjang dari biasanya.

Pukul dua dini hari, gending itu kembali terdengar. Lebih kuat, lebih membius, lebih menusuk jiwa. Sang penari muncul lagi, kini lebih dekat dari sebelumnya. Wisnu bisa melihat wajahnya: pucat pasi, namun matanya memancarkan kesedihan yang tak berdasar, sekaligus kemarahan yang membara.

Rambut hitamnya bergerak sendiri, seolah setiap helainya memiliki nyawa. Gerakannya kali ini lebih liar, lebih energik, namun tetap anggun. Ia menari di antara bayangan pepohonan, menciptakan ilusi optik yang membuat Wisnu ragu antara nyata dan khayalan.

Ia mencoba menyalakan kamera, namun baterainya mati mendadak, padahal ia sudah memastikan penuh. Perekam suara juga tak berfungsi. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang tak ingin keberadaan sang penari terekam oleh teknologi manusia.

Saat Wisnu terpaku, sang penari tiba-tiba berhenti. Ia menoleh perlahan, matanya menatap tajam ke arah persembunyian Wisnu. Sebuah senyuman tipis terukir di bibir pucatnya, senyum yang bukan senyum manusia, melainkan seringai yang menggetarkan.

Wisnu merasakan sesuatu mencengkeram dadanya, hawa dingin yang tak tertahankan. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat. Ia ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di tanah. Ia merasa seperti boneka yang tak berdaya di bawah tatapan sang penari.

Kemudian, sebuah bisikan melintas di telinganya, seolah datang dari dalam kepalanya sendiri. “Kau telah melihat, kini kau terikat.” Suara itu dingin, namun begitu jelas, membuat bulu kuduk Wisnu merinding hingga ke ubun-ubun.

Sang penari mengangkat tangannya, menunjuk ke arahnya. Sebuah cahaya biru pucat muncul dari jari-jarinya, merayap di tanah menuju Wisnu. Ia mencoba menghindar, namun cahaya itu begitu cepat, menembus dadanya, dan menghilang.

Sekejap kemudian, sang penari lenyap lagi, meninggalkan Wisnu yang terengah-engah, dengan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia merasakan tubuhnya lemas, pandangannya kabur. Ia tahu, ia telah disentuh oleh sesuatu yang bukan dari dunia ini.

Sejak malam itu, Wisnu tak lagi sama. Ia sering terbangun di tengah malam, mendengar gending yang hanya ia yang bisa dengar. Ia melihat bayangan sang penari di sudut matanya, di keramaian kota, di balik jendela kamarnya. Ia tahu, ia telah menjadi bagian dari misteri itu.

Ia kembali ke ibu kota, namun kenangan akan sang penari terus menghantuinya. Ia mencoba menuliskan pengalamannya, namun kata-kata tak mampu menangkap kengerian dan keindahan yang ia saksikan. Setiap malam, ia merindukan gending itu, sekaligus takut akan kemunculannya.

Beberapa bulan kemudian, kabar dari Osing sampai kepadanya. Ada laporan tentang panen yang melimpah ruah, namun diiringi dengan wabah penyakit misterius yang hanya menyerang kaum muda. Para tetua desa mengatakan, sang penari kembali menari setiap malam.

Konon, ia menari untuk menjaga keseimbangan, untuk mengambil tumbal sebagai ganti kemakmuran. Wisnu tahu, ia telah melihat wajah dari kekuatan primal yang tak terjangkau akal manusia. Sebuah keindahan yang mematikan, sebuah misteri yang takkan pernah terpecahkan.

Di sudut kota yang ramai, Wisnu sering terlihat duduk termenung, menatap kosong ke kejauhan. Wajahnya pucat, matanya menyimpan rahasia yang mengerikan. Ia adalah salah satu dari mereka yang telah melihat, yang telah disentuh, dan yang kini terikat selamanya pada bayangan Sang Penari Misterius Osing.

Setiap embusan angin, setiap alunan musik, setiap bayangan yang melintas, mengingatkannya pada tarian di bawah rembulan itu. Ia tahu, ia takkan pernah lepas. Sang Penari telah menanamkan sebagian dari dirinya di dalam jiwa Wisnu, menjadikannya saksi abadi dari keberadaan gaibnya di Tanah Blambangan.

Dan di Osing, di tengah kabut yang merayap dari lereng Ijen, sang penari masih terus menari. Sebuah legenda yang hidup, sebuah misteri yang tak berujung. Menanti siapa lagi yang akan terpikat oleh keindahannya, lalu terperangkap dalam jerat kekuatan gaibnya.

Sang Penari Misterius Osing: Jejak Gaib di Tanah Blambangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *