Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Menginap di Kamar 07? Hanya Jika Kamu Siap Mendengar Suara Itu…

10
×

Menginap di Kamar 07? Hanya Jika Kamu Siap Mendengar Suara Itu…

Share this article

Menginap di Kamar 07? Hanya Jika Kamu Siap Mendengar Suara Itu…

Kamar 07: Bisikan Purnama Tua di Banyuwangi

Hotel Purnama Tua berdiri angkuh di tepian Banyuwangi, sebuah relik dari masa lalu yang terlupakan. Arsitekturnya yang kolonial, kini lapuk dimakan waktu, memancarkan aura melankolis yang pekat. Catnya mengelupas, jendelanya buram, seolah menatap dunia dengan mata yang lelah.

Arya, seorang penulis yang mencari inspirasi, tertarik pada desas-desus mistis yang menyelimuti hotel ini. Ia mencari bukan sekadar cerita, melainkan esensi kegelapan yang nyata. Kamar 07, yang konon menyimpan rahasia paling kelam, menjadi pilihannya.

Pintu kayu berukir itu terasa dingin saat disentuh, seolah menolak untuk dibuka. Di dalamnya, udara terasa lebih berat, berdebu, dan lembab, membawa aroma apek yang menusuk hidung. Jendela besar menghadap kebun yang rimbun, namun tirai tebal menghalangi sebagian besar cahaya.

Perabotan di dalamnya antik namun usang, terbalut selimut debu yang tebal. Sebuah tempat tidur kanopi dengan kelambu lusuh, lemari pakaian mahoni yang kokoh, dan meja tulis tua mendominasi ruangan. Aura sunyi dan terasing terasa begitu pekat, seolah kamar ini telah lama ditinggalkan oleh kehidupan.

Malam pertama berlalu dengan keheningan yang aneh, terputus oleh suara tik-tok jam tua di lorong. Arya merasakan hawa dingin menusuk, bukan dari pendingin, melainkan dari sudut ruangan yang kosong. Ia mengabaikannya, menganggapnya hanya imajinasi yang dipicu oleh suasana.

Namun, tidur Arya terganggu oleh mimpi-mimpi aneh, potongan-potongan bayangan seorang wanita bergaun putih. Ia terbangun dengan keringat dingin, merasakan sepasang mata mengawasi dari kegelapan. Sensasi itu begitu nyata, membuatnya bergidik dalam selimut.

Malam kedua membawa serta gangguan yang lebih nyata dan tak terduga. Bisikan samar terdengar dari balik dinding, seolah suara tangisan tertahan angin. Buku-buku di meja tiba-tiba bergeser, membuat jantung Arya berdebar kencang, menepis rasionalitasnya yang mulai goyah.

Cermin antik berbingkai perak di sudut kamar memantulkan bayangan yang tak seharusnya ada. Sekilas, Arya melihat siluet samar seorang wanita berambut panjang. Ketika ia berkedip, bayangan itu lenyap, menyisakan kekosongan yang mengerikan dan denyutan di pelipisnya.

Aroma melati yang membusuk tiba-tiba menyeruak, menyesakkan napas Arya. Bau itu datang dan pergi, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata bergerak di sekelilingnya. Udara terasa semakin berat, membuat napasnya sesak, seolah beban tak terlihat menekan dadanya.

Pagi harinya, Arya memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut. Ia mendatangi perpustakaan kota dan mencari arsip lama tentang hotel. Ia menemukan artikel-artikel usang tentang insiden aneh di masa lalu yang selalu terkait dengan Kamar 07.

Beberapa tamu dilaporkan menghilang tanpa jejak, yang lain ditemukan gila setelah menginap di kamar itu, berbicara tentang bisikan dan bayangan. Cerita-cerita itu, yang sebelumnya ia anggap sebagai legenda urban, kini terasa begitu nyata dan mengancam.

Seorang penjaga hotel tua yang enggan berbicara, Pak Kusno, akhirnya membuka suara. Dengan nada bergetar, ia menceritakan tentang ‘penghuni’ kamar itu, seorang wanita bernama Sari yang tewas tragis di sana bertahun-tahun lalu. “Dia masih mencari sesuatu,” bisiknya penuh ketakutan.

Pak Kusno bercerita bahwa Sari adalah seorang penari yang sangat cantik dari desa tetangga, yang selalu memesona setiap mata yang memandangnya. Ia datang ke hotel itu untuk bertemu kekasih rahasianya, seorang saudagar kaya yang telah beristri dan sangat berpengaruh.

Hubungan terlarang itu berakhir tragis ketika Sari hamil. Sang saudagar, yang takut reputasinya hancur, tega menyewa orang untuk membunuh Sari di Kamar 07. Ia dibunuh dengan kejam, bayinya tak pernah lahir, terkubur bersamanya dalam ketidakadilan.

“Arwahnya terikat pada kamar itu, Pak. Ia tidak bisa pergi,” kata Pak Kusno, matanya menerawang kosong. “Ia mencari keadilan, mencari pengakuan atas penderitaannya. Dan siapa pun yang menginap di sana akan merasakan kegelisahannya.”

Malam ketiga tiba dengan awan mendung tebal, seolah alam pun turut menahan napas. Kamar 07 terasa hidup, setiap sudutnya memancarkan energi tak kasat mata. Dingin menusuk tulang, lebih parah dari malam sebelumnya, seolah ruangan itu berubah menjadi makam es.

Arya duduk di tepi ranjang, jantungnya berdebar kencang, mencoba mencerna semua informasi. Ia merasa tidak sendiri. Udara di sekelilingnya berputar, dan suara bisikan kini terdengar lebih jelas, menyerupai tangisan pilu seorang wanita.

Di bawah lemari pakaian tua, Arya merasakan ada celah yang tidak biasa. Dengan penasaran, ia menggeser lemari berat itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah kotak kayu kecil, tersembunyi dengan rapi, seolah tidak ingin ditemukan.

Kotak itu berisi sebuah buku harian lusuh, kertasnya menguning dimakan usia. Tulisan tangan di dalamnya adalah milik Sari, menceritakan kisah cintanya yang tragis dan pengkhianatan kejam yang dialaminya. Setiap kata memancarkan keputusasaan dan rasa sakit yang mendalam.

Sari menuliskan tentang bagaimana ia diperdaya, janji-janji palsu, dan kehamilannya yang tidak diinginkan. Ia menuliskan tentang ketakutannya, tentang ancaman-ancaman yang ia terima, dan tentang hari terakhirnya di kamar itu, menanti kekasihnya yang tak kunjung datang.

Tiba-tiba, suhu kamar anjlok drastis, embun menempel di dinding dan cermin. Sebuah suara gemuruh pelan memenuhi ruangan, seolah ada sesuatu yang besar sedang bergerak. Detak jantung Arya berpacu, merasakan kehadiran yang sangat kuat.

Sosok wanita bergaun putih muncul perlahan dari cermin, wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kesedihan dan kemarahan yang mendalam. Ia adalah Sari, terperangkap di antara dua dunia, manifestasi penderitaan yang tak berkesudahan.

Rambut panjangnya yang hitam terurai, menutupi sebagian wajahnya, namun tatapan matanya menusuk jiwa. Ia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, memancarkan aura kesedihan yang begitu pekat, membuat Arya merasa sesak napas.

Ia tidak ingin menyakiti Arya, melainkan menyampaikan kisahnya yang tak terucap. Ia ingin keadilan, ingin pengkhianat itu tahu penderitaannya, ingin dunia tahu bahwa ia bukan hanya seorang penari, tetapi seorang wanita yang dicintai dan dikhianati.

Suaranya, meskipun tanpa kata, bergema di benak Arya, sebuah jeritan pilu dari masa lalu yang tak terhapuskan. Ia melihat kilasan-kilasan tragedi itu, rasa sakit Sari yang begitu nyata, dan keputusasaan yang mengikatnya pada kamar ini.

Arya menyadari bahwa Sari tidak bisa pergi karena arwahnya terikat pada penderitaan dan penyesalan yang tak terselesaikan. Ia harus menemukan cara untuk membebaskannya, atau setidaknya memberikan penutup pada kisahnya yang tragis.

Ia melihat buku harian itu di tangannya, dan sebuah ide terlintas. Ia harus menuliskan kisah Sari, mempublikasikannya, memberikan suara kepada arwah yang bisu itu. Mungkin dengan begitu, Sari akan menemukan kedamaian yang ia cari.

Dengan tangan gemetar, Arya mulai menulis. Ia menuliskan setiap detail dari buku harian Sari, setiap bisikan yang ia dengar, setiap bayangan yang ia lihat. Ia adalah jembatan antara dunia hidup dan dunia arwah, pembawa pesan terakhir Sari.

Saat Arya menyelesaikan halaman terakhir, dan kata-kata Sari tertuang di lembar-lembar bukunya, ia merasakan energi di kamar melonggar. Dinginnya mencair, dan bau melati memudar. Sosok Sari perlahan memudar dari cermin, senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat.

Ia akhirnya menemukan kedamaian, berkat seseorang yang mau mendengarkan dan menyampaikan kisahnya. Beban di bahu Arya terasa terangkat, digantikan oleh kelelahan yang mendalam dan perasaan haru yang tak terlukiskan.

Pagi harinya, Arya meninggalkan Kamar 07, tidak lagi dengan ketakutan, melainkan dengan beban yang lebih ringan. Hotel Purnama Tua tetap berdiri, namun aura Kamar 07 terasa berbeda. Misteri telah terungkap, namun luka sejarah tetap membekas.

Kisah Sari, yang ditulis Arya, menggemparkan Banyuwangi dan seluruh negeri. Kamar 07 ditutup permanen, menjadi saksi bisu tragedi dan penebusan. Hotel Purnama Tua kini menjadi monumen bagi arwah yang akhirnya menemukan ketenangan.

Namun, siapa tahu, di malam yang paling sunyi, bisikan Sari mungkin masih terdengar, mengulang kisah cinta dan pengkhianatan yang abadi, mengingatkan setiap orang akan penderitaan yang pernah terukir di Kamar 07.

Kamar 07: Bisikan Purnama Tua di Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *