Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Aku Tersesat di Desa yang Tak Pernah Tercatat — dan Tak Bisa Keluar

10
×

Aku Tersesat di Desa yang Tak Pernah Tercatat — dan Tak Bisa Keluar

Share this article

Aku Tersesat di Desa yang Tak Pernah Tercatat — dan Tak Bisa Keluar

Bayang-bayang Desa Terlarang: Terjebak di Titik Nol Peta

Andi, seorang fotografer petualang dengan hasrat pada keindahan tersembunyi, selalu mencari yang tak biasa. Ia mendambakan lanskap yang belum terjamah, budaya yang tak tercatat, dan misteri yang berbisik dari balik cakrawala. Perjalanan terakhirnya membawanya jauh ke pedalaman Jawa, mengejar rumor kabut abadi dan sebuah air terjun mitos.

GPS-nya mulai kehilangan sinyal di jalan setapak yang makin sempit dan berdebu. Papan penunjuk jalan lenyap, tergantikan oleh rimbunnya hutan tropis yang menelan cahaya matahari. Andi tetap melaju, dorongan rasa penasaran mengalahkan kekhawatiran yang mulai menyelinap. Ia merasa di ambang penemuan besar.

Setelah berjam-jam membelah kesunyian, sebuah siluet samar muncul di kejauhan. Bukan air terjun, melainkan gumpalan atap-atap kayu tua yang bersembunyi di balik dedaunan lebat. Sebuah desa. Ia berhenti, terpana. Tempat ini, entah mengapa, terasa asing, bahkan di tengah hutan belantara sekalipun.

Udara mendadak terasa lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang sukar diidentifikasi, seperti lumut purba atau kayu lapuk. Rumah-rumah di sana terbuat dari kayu gelap, berukiran aneh, dan seolah membeku dalam waktu. Tidak ada kabel listrik, tiang telepon, atau tanda-tanda modernitas.

Yang paling aneh adalah kesunyiannya. Desa itu hening, tanpa riuh tawa anak-anak atau suara aktivitas sehari-hari. Hanya desiran angin yang berbisik di antara pepohonan tua. Andi melangkah hati-hati, kamera di tangan, setiap jejak kakinya terasa mengganggu kedamaian yang terlalu sempurna itu.

Beberapa sosok akhirnya muncul dari balik pintu, seperti bayangan yang terbuat dari kabut. Mereka adalah orang-orang tua, berwajah keriput, mengenakan pakaian sederhana yang usang. Mata mereka, entah mengapa, terasa beku, menatap Andi dengan intensitas yang tak bisa ia artikan.

Seorang pria tua dengan janggut putih panjang melangkah maju, tangannya menggenggam tongkat kayu. Wajahnya dipahat oleh waktu, namun matanya memancarkan ketajaman yang mengganggu. “Selamat datang, pengelana,” suaranya serak, tetapi jelas, “Engkau tersesat, bukan?”

Andi mengangguk, sedikit lega menemukan seseorang yang bisa diajak bicara. Ia menjelaskan tujuannya, tentang air terjun dan jalan yang hilang. Pria tua itu hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. “Malam akan tiba. Tinggallah bersama kami. Esok, jalanmu akan ditemukan.”

Tidak ada pilihan lain. Matahari mulai condong, dan kegelapan hutan terasa mengancam. Andi menerima tawaran itu, meski ada firasat dingin yang menjalar di tulang punggungnya. Ia dibawa ke sebuah rumah kosong, sederhana namun bersih, dengan lentera minyak sebagai satu-satunya penerangan.

Makan malam disajikan: bubur jagung yang hambar dan air bening dari kendi tanah liat. Penduduk desa duduk dalam diam, sesekali melirik Andi. Percakapan terasa seperti pantangan di tempat ini. Ada ketegangan tak terlihat yang menggantung di udara, membuat nafsu makannya menghilang.

Malam itu, Andi mencoba mencari sinyal telepon, tetapi gawainya mati total, bahkan tidak bisa diisi daya. Kameranya juga menunjukkan kerusakan aneh, beberapa fotonya menjadi buram atau hilang. Ia mencoba memeriksa peta digital dan fisiknya, namun desa ini tidak tercatat di mana pun.

Ia mencoba tidur, tetapi suara-suara aneh mulai terdengar dari luar. Bisikan-bisikan samar, seperti nyanyian kuno yang menyeramkan, melayang di udara. Terkadang, ia mendengar langkah kaki di luar jendela, berhenti sejenak, lalu pergi lagi. Ia merasa diawasi sepanjang malam.

Pagi harinya, ia mencoba mencari jalan keluar. Ia mengikuti jalan utama desa, berharap menemukan jalur yang menuju ke luar hutan. Namun, setelah berjalan beberapa jam, ia menyadari sesuatu yang mengerikan: ia kembali ke titik awal. Jalan itu seperti berputar, selalu mengarah kembali ke desa.

Keputusasaan mulai merayap. Ia mencoba jalur lain, membelah semak-semak, mencoba menemukan tanda-tanda peradaban. Namun, hutan itu seperti tembok yang tak berujung, menelan jejaknya dan memaksanya kembali. Desa itu adalah satu-satunya titik referensi di tengah kekosongan.

Penduduk desa, terutama pria tua itu, selalu muncul entah dari mana. Mereka tidak menghalangi Andi secara fisik, tetapi tatapan mereka yang dingin dan tanpa emosi sudah cukup membuat nyali menciut. Seolah-olah mereka tahu ia tak akan pernah bisa pergi.

Andi mulai menyadari keanehan lain. Penduduk desa tidak menua. Wajah-wajah yang dilihatnya kemarin persis sama dengan yang dilihatnya hari ini, dan sepertinya, sama dengan yang akan dilihatnya besok. Tidak ada anak-anak, tidak ada orang muda, hanya wajah-wajah keriput yang beku dalam waktu.

Ia mencoba bertanya kepada beberapa penduduk, namun mereka hanya membalas dengan tatapan kosong atau senyum yang tak berarti. Mereka seolah boneka hidup, tanpa emosi, tanpa keinginan. Kecuali, tentu saja, pria tua itu, yang sepertinya adalah pemimpin mereka.

Bubur jagung dan air yang diberikan setiap malam mulai menimbulkan efek aneh. Andi merasa linglung, pikirannya kabur, dan ingatannya samar. Ia sering lupa mengapa ia datang ke tempat ini, atau bahkan namanya sendiri. Rasa takutnya pun perlahan terkikis, digantikan oleh rasa pasrah yang aneh.

Suatu sore, saat Andi berjalan tanpa arah, ia melihat sebuah bangunan yang berbeda dari yang lain. Letaknya sedikit terpencil, tampak lebih tua, dan dikelilingi oleh ukiran-ukiran simbol aneh. Rasa penasaran yang samar mendorongnya untuk mendekat, mengalahkan sisa-sisa rasa takutnya.

Pintu bangunan itu terbuat dari kayu berat, berlumut, dan tidak terkunci. Andi mendorongnya perlahan. Bau apak dan tanah memenuhi rongga hidungnya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah ruangan gelap, dengan beberapa rak usang berisi gulungan-gulungan perkamen dan buku-buku bersampul kulit.

Tangannya gemetar saat ia meraih salah satu gulungan. Isinya adalah tulisan tangan kuno yang ia tak mengerti, namun ada beberapa gambar yang mengerikan. Sketsa-sketsa manusia yang tersesat, dikelilingi oleh sosok-sosok bayangan yang mirip penduduk desa, dengan mata yang menghisap.

Ia menemukan sebuah buku harian tua, tulisannya sudah pudar. Dengan susah payah, ia membaca beberapa baris. Kisah-kisah tentang pengelana yang tersesat, seperti dirinya. Mereka diterima, diberi makan, dan perlahan, ingatan mereka terkikis, jiwa mereka diserap, menjadi bagian dari desa.

Desa itu, menurut tulisan itu, adalah entitas hidup yang tersembunyi dari dunia. Ia tidak ada di peta karena ia tidak ingin ditemukan. Ia “memanggil” orang-orang yang tersesat, yang memiliki jiwa petualang dan pikiran terbuka, untuk datang dan menjadi “makanannya.”

Penduduk desa bukanlah manusia hidup, melainkan sisa-sisa dari para korban sebelumnya, yang jiwanya terperangkap dan digunakan untuk mempertahankan keberadaan desa. Makanan dan minuman yang mereka berikan mengandung ramuan yang menghapus ingatan dan melemahkan tekad.

Panik menerpa Andi. Ia harus pergi. Sekarang juga. Sebelum semua ingatan, semua identitasnya, lenyap ditelan desa ini. Sebelum ia menjadi salah satu dari mereka, boneka tanpa jiwa yang melayani entitas purba ini.

Dengan sisa-sisa akal sehatnya, ia berlari keluar dari bangunan itu. Ia harus mencari jalan, apa pun. Ketakutannya kembali, lebih pekat dari sebelumnya. Ia melihat penduduk desa berkerumun di kejauhan, menatapnya. Mata beku mereka kini terasa seperti lubang hitam yang menghisap.

Ia berlari tanpa arah, menabrak rumah-rumah kosong, menerobos semak-semak. Ia mendengar langkah kaki di belakangnya, bukan suara lari, melainkan langkah-langkah lambat dan menyeret yang tak pernah berhenti. Mereka tidak perlu terburu-buru. Mereka tahu ia takkan ke mana-mana.

Tiba-tiba, pria tua itu muncul di depannya, entah dari mana. Wajahnya tidak lagi tersenyum. Matanya kini berkilat dengan energi gelap. “Kau tidak bisa pergi, pengelana,” suaranya menggelegar, “Engkau telah menjadi bagian dari kami. Ingatanmu akan menjadi kekuatan kami.”

Andi merasa energinya terkuras, kakinya berat, dan pikirannya kabur. Namun, sebuah naluri primitif muncul. Ia melihat sebuah celah sempit di antara dua rumah tua yang ia belum pernah perhatikan sebelumnya, tersembunyi di balik semak belukar lebat.

Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menerjang celah itu. Ranting-ranting dan duri mengoyak pakaiannya, melukai kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya mendengar suara-suara di belakangnya yang semakin dekat, bisikan-bisikan yang ingin menelannya.

Ia merangkak dan berguling menuruni lereng curam, menembus kegelapan yang pekat. Tubuhnya terasa remuk, tetapi ia terus bergerak, dorongan untuk hidup mengalahkan rasa sakit. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, hanya tahu ia harus menjauh dari desa itu.

Ketika ia sadar, ia terbaring di pinggir jalan raya yang ramai, di tengah keramaian yang bising. Tubuhnya penuh luka, pakaiannya robek, dan ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sana. Orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan aneh, beberapa menawarkan bantuan.

Ia dibawa ke rumah sakit, didiagnosis menderita dehidrasi parah dan kelelahan ekstrem. Ketika ditanya tentang desa itu, ia mencoba menceritakan semuanya. Namun, kata-katanya terdengar tidak masuk akal, seperti delusi demam. Tidak ada yang mempercayainya.

Kameranya ditemukan rusak total, kecuali satu foto yang aneh. Foto itu menunjukkan siluet kabur sebuah desa tua, namun di tengahnya ada distorsi aneh, seperti pusaran yang menghisap cahaya. Dan matanya, mata-mata beku itu, seolah menatap langsung padanya.

Andi kembali ke kehidupannya, namun ia tidak lagi sama. Ingatannya tentang beberapa hari itu kosong, tetapi rasa takut dan kengeriannya tetap nyata. Ia mencoba mencari desa itu di peta, di internet, di buku-buku sejarah, namun tak ada jejaknya.

Setiap malam, bisikan-bisikan itu kembali, mengambang di tepi pendengarannya. Ia tahu, desa itu masih ada di luar sana, bersembunyi di balik kabut, menunggu pengelana berikutnya. Dan sebagian kecil dari dirinya, ingatan yang hilang, mungkin masih terperangkap di sana, selamanya.

Tersesat di Desa yang Tak Ada di Peta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *