Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Tangisan dari Balik Pintu Mushola Itu Masih Terdengar… Hingga Hari Ini

10
×

Tangisan dari Balik Pintu Mushola Itu Masih Terdengar… Hingga Hari Ini

Share this article

Tangisan dari Balik Pintu Mushola Itu Masih Terdengar… Hingga Hari Ini

Suara Tangisan dari Balik Pintu Mushola Lama

Malam merangkak pelan di Dusun Cempaka. Hanya bulan sabit tipis yang menerangi jalan setapak berkerikil, membiaskan bayangan panjang dari pepohonan tua. Angin dingin menyapu, membawa serta aroma tanah basah dan daun kering.

Ardi, pemuda yang baru pulang dari ladang, mempercepat langkahnya. Rasa lelah membalut tubuhnya, namun ada perasaan aneh yang mengganjal. Suara-suara malam terasa lebih pekat dari biasanya.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Dari kejauhan, samar-samar, sebuah suara menusuk keheningan. Bukan lolongan anjing atau derik jangkrik. Ini adalah suara tangisan.

Tangisan itu terdengar pilu, seperti isak seorang anak kecil yang tersesat. Ardi mengerutkan kening. Siapa yang menangis selarut ini di tengah dusun yang sepi?

Ia mencoba mengabaikannya, mungkin hanya perasaannya. Tapi suara itu semakin jelas, seolah memanggil-manggil. Sebuah getaran dingin merayap di punggungnya.

Suara tangisan itu berasal dari arah mushola lama, yang sudah puluhan tahun tidak terpakai. Bangunannya reyot, atapnya berlubang, dan pintunya selalu tertutup rapat oleh lumut dan debu.

Warga dusun menghindari tempat itu. Berbagai cerita seram beredar, tentang penampakan dan suara-suara aneh. Konon, ada kejadian tragis di sana bertahun-tahun lalu.

Ardi awalnya tidak percaya takhayul. Namun, malam ini, suara tangisan itu begitu nyata, begitu memilukan. Rasa penasaran mengalahkan ketakutan yang mulai merayap.

Ia berbelok dari jalan utama, menapaki jalur kecil menuju mushola. Semakin dekat, hawa dingin semakin menusuk. Aroma apek dan lumut basah memenuhi udara.

Tangisan itu kini terdengar begitu dekat, seolah di ambang pintu. Isakannya tersendat, diselingi erangan lirih. Jantung Ardi berdegup kencang, memukul-mukul dadanya.

Kakinya terasa berat, namun ia terus melangkah. Cahaya bulan nyaris tidak menembus rimbunnya semak belukar yang mengelilingi mushola. Kegelapan menyelimuti segalanya.

Akhirnya, ia tiba di depan pintu mushola. Pintu kayu tua itu terlihat kokoh meski usang, seolah tak pernah disentuh tangan manusia selama berabad-abad. Kuncinya berkarat dan gemboknya berlumut tebal.

Suara tangisan itu kini sangat jelas, berasal dari balik pintu. Bukan tangisan histeris, melainkan isak pilu yang tak berkesudahan, penuh keputusasaan. Itu suara seorang wanita, atau mungkin anak kecil.

Ardi menempelkan telinganya ke pintu. Ia bisa mendengar napas tersengal, seperti seseorang yang kehabisan udara. “Siapa di sana?” bisiknya, suaranya bergetar.

Tidak ada jawaban, hanya tangisan yang semakin intens. Seolah-olah suara itu tahu ia ada di sana, dan sengaja menangis lebih keras untuk menarik perhatiannya.

Ia mencoba menggenggam gagang pintu, namun tangannya ditarik mundur oleh rasa ngeri. Gagang itu terasa sangat dingin, seperti bongkahan es. Dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Halo? Apakah ada orang di dalam?” Ardi mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, meskipun udara malam begitu dingin.

Tangisan itu tiba-tiba berhenti. Seketika, keheningan mencekam menyelimuti. Hanya suara napas Ardi sendiri yang terdengar begitu keras di telinganya.

Detik-detik berlalu, terasa seperti jam. Ardi menahan napas, menanti. Apakah suara itu sudah pergi? Atau ini hanya jebakan?

Lalu, sebuah suara lain muncul. Bukan tangisan, melainkan bisikan. Sangat pelan, hampir tak terdengar, seolah angin membawa kata-kata yang tak jelas.

“Tolong… buka…” Bisikan itu terdengar seperti suara seorang wanita tua, sangat serak dan lemah. Bulu kuduk Ardi meremang. Ini bukan lagi sekadar tangisan.

Ia mundur selangkah, rasa takutnya memuncak. Ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ada seseorang di dalam mushola terkunci itu? Dan kenapa suaranya begitu… tak bernyawa?

Ardi teringat cerita-cerita lama tentang mushola itu. Dulu, ada seorang janda tua yang meninggal sendirian di sana saat mencari perlindungan dari badai besar. Jasadnya baru ditemukan beberapa hari kemudian.

Ada juga cerita tentang seorang anak kecil yang hilang di sekitar mushola dan tak pernah ditemukan. Kisah-kisah tragis itu kini berputar di benaknya, menambah kengerian.

Ia mencoba melihat melalui celah kecil di antara kusen pintu, namun hanya kegelapan pekat yang menyambutnya. Tidak ada cahaya, tidak ada pergerakan. Hanya kegelapan yang menelan segalanya.

“Siapa kau?” Ardi bertanya, suaranya lebih tegas kali ini, berusaha menutupi ketakutannya. “Tunjukkan dirimu!”

Tiba-tiba, dari balik pintu, terdengar suara gesekan. Seolah ada sesuatu yang bergerak, menyeret diri di lantai. Suara itu berat, menyeramkan, seperti kain yang usang.

Kemudian, suara bisikan itu kembali, kali ini lebih dekat, seolah mulutnya menempel pada celah pintu. “Aku… menunggu…”

Jantung Ardi serasa berhenti berdetak. Ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk dari celah itu. Dingin yang bukan dari udara malam, melainkan dari keberadaan di baliknya.

Ia tahu ia harus pergi. Tetapi kakinya terpaku, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya. Rasa ingin tahu yang mengerikan membelenggunya.

Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh gagang pintu lagi. Kali ini, ia merasakan sensasi aneh. Gagang itu tidak hanya dingin, tetapi juga terasa sedikit lengket.

Sebuah bau amis tipis mulai tercium, bercampur dengan aroma lumut. Bau yang membuat perutnya mual, seperti bau tanah yang baru digali atau darah kering.

“Buka…” Bisikan itu kini terdengar seperti rengekan, disertai erangan panjang. Suara itu semakin memilukan, seolah-olah entitas di baliknya benar-benar menderita.

Ardi menarik napas dalam-dalam. Ia harus melihatnya. Ia harus tahu. Ketakutan itu bercampur dengan keinginan kuat untuk mengakhiri misteri ini.

Ia menarik gagang pintu sekuat tenaga. Gembok berkarat itu berderak, engselnya mengerang pelan, seolah protes karena diganggu dari tidurnya yang panjang.

Pintu itu tidak terbuka. Gemboknya terlalu kokoh. Namun, sedikit celah terbentuk. Cukup untuk Ardi mengintip ke dalam, sekilas.

Melalui celah sempit itu, Ardi hanya bisa melihat kegelapan total. Tidak ada cahaya sama sekali di dalam, bahkan pantulan bulan pun tidak menembus. Itu adalah kegelapan yang pekat, menelan segalanya.

Namun, di tengah kegelapan itu, ia melihat sesuatu. Sebuah bayangan. Samar, tidak jelas, tapi Ardi bersumpah ia melihatnya.

Bayangan itu bergerak. Sangat lambat, sangat ragu. Kemudian, dari dalam kegelapan itu, muncul sepasang mata.

Mata itu bersinar redup, merah menyala, seperti bara api di tengah kegelapan. Mata itu menatap langsung ke arahnya, tanpa berkedip. Tatapan yang kosong, namun penuh kesedihan dan rasa sakit.

Ardi menjerit. Jeritan yang tertahan di tenggorokannya, tak mampu keluar sepenuhnya. Ia tersentak mundur, terhuyung-huyung.

Ia terjatuh ke tanah, napasnya tersengal. Jantungnya berdebar begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya.

Mata merah itu, tatapan itu, seolah terukir di retinanya. Suara tangisan itu kembali terdengar, namun kali ini bukan dari balik pintu.

Tangisan itu kini ada di dalam kepalanya, bergema tanpa henti. Isakan pilu yang tak berkesudahan, memanggil-manggil namanya.

Ardi bangkit dengan susah payah, kakinya lemas. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah mushola. Ia berlari, sekuat tenaga, tanpa peduli arah.

Ia terus berlari, menembus kegelapan malam, menjauhi mushola terkutuk itu. Suara tangisan itu masih menggema, seolah mengikutinya, mengejarnya.

Ia tidak tahu apa yang dilihatnya. Apakah itu hantu janda tua? Atau arwah anak yang hilang? Ia tidak ingin tahu.

Pagi menjelang, Ardi ditemukan warga tergeletak pingsan di pinggir dusun, tubuhnya demam tinggi dan menggigil. Ia tidak bisa bicara, hanya terus-menerus meracau tentang mata merah dan tangisan.

Warga menggelengkan kepala, memahami apa yang terjadi. Mushola lama itu memang menyimpan misteri yang tak terpecahkan. Sebuah rahasia yang tak seharusnya digali.

Sejak malam itu, Ardi tidak pernah berani mendekati mushola lama lagi. Dan setiap kali malam tiba, ia bersumpah masih bisa mendengar tangisan pilu itu, terbawa angin malam.

Tangisan dari balik pintu mushola lama, sebuah misteri yang abadi, menunggu korban selanjutnya untuk mencoba membukanya. Dan di dalamnya, sesuatu yang tak bisa dilihat, tak bisa disentuh, namun nyata adanya.

Mushola itu kini semakin terabaikan, ditelan semak belukar dan lumut. Pintunya tetap terkunci rapat, menyimpan rahasia abadi di baliknya. Dan di malam hari, di tengah keheningan, suara tangisan itu masih terdengar oleh mereka yang berani mendengarnya.

Suara Tangisan dari Balik Pintu Mushola Lama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *