Kopi Senyap Tengah Malam
Ardi selalu mencari inspirasi di tempat-tempat tak terduga. Sebagai seorang penulis, ia haus akan kisah, terutama yang berbalut misteri. Suatu malam, ia menemukan Kopi Senyap.
Sebuah kedai kecil di ujung gang buntu, nyaris tak terlihat. Siang hari, tempat itu tampak usang, jendela berdebu, dan pintu selalu tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Namun, saat jam beranjak tengah malam, semuanya berubah. Sekitar pukul dua dini hari, cahaya remang-remang memancar dari celah jendela. Suara samar percakapan mulai terdengar.
Kedai yang tadinya mati itu tiba-tiba dipenuhi bayangan manusia. Ardi, yang awalnya hanya penasaran, kini tertarik lebih dalam. Ia memutuskan untuk masuk.
Udara di dalam terasa dingin, meskipun aroma kopi pekat menyeruak. Ada keheningan aneh yang menyelimuti, seolah waktu melambat di sana. Ini bukan kedai kopi biasa.
Para pengunjungnya bukan seperti pelanggan kafe pada umumnya. Mereka duduk dalam diam, menyeruput kopi hitam pekat dari cangkir keramik. Mata mereka seringkali kosong.
Pancaran mata itu seolah pikiran mereka jauh melayang, entah ke mana. Hanya bisikan-bisikan pendek yang sesekali memecah keheningan. Bisikan yang nyaris tak terdengar.
Bisikan itu seperti desiran angin melewati dedaunan kering. Mereka tidak tertawa, tidak bercanda, hanya ada keseriusan yang mencekam di setiap wajah.
Pemiliknya, seorang pria tua bernama Pak Cokro, adalah misteri itu sendiri. Ia bergerak tanpa suara, menyajikan kopi dengan gerakan mekanis yang nyaris robotik.
Wajahnya datar, keriput dalam menghiasi kulitnya. Namun, matanya selalu mengawasi setiap sudut ruangan, seolah ia adalah penjaga rahasia yang tak terucap.
Ardi memesan secangkir kopi hitam. Rasanya pekat, pahit, namun meninggalkan jejak hangat yang aneh di tenggorokan. Ada sesuatu yang berbeda dari kopi ini.
Ia merasakan energinya seperti terkuras, namun di saat bersamaan, pikirannya terasa lebih jernih. Tidur menjadi hal yang sulit setelah menyesapnya.
Malam demi malam, Ardi kembali ke Kopi Senyap. Ia mengamati, mencatat, dan mencoba memahami. Ia mencoba berinteraksi dengan pelanggan lain.
Namun, setiap upaya percakapan berakhir di jalan buntu. Mereka akan menatapnya dengan tatapan kosong, atau hanya menjawab dengan anggukan singkat.
Seolah mereka adalah boneka yang digerakkan oleh benang tak kasat mata. Ardi mulai merasa ngeri, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
Ia mencoba mencari informasi tentang Kopi Senyap di internet. Hasilnya nihil. Tak ada jejak digital, tak ada ulasan, tak ada sejarah. Kedai itu seolah tak ada.
Ardi bahkan mencoba datang pada siang hari. Kedai itu selalu tertutup, gelap, dan sunyi. Bahkan jendela yang semalam memancarkan cahaya, kini tampak buram.
Seolah Kopi Senyap hanya ada di dimensi lain saat tengah malam. Sebuah ilusi yang menjadi nyata ketika kegelapan pekat menyelimuti kota.
Suatu malam, Ardi memperhatikan detail yang lebih aneh. Beberapa pelanggan memiliki tato samar di pergelangan tangan mereka. Simbol yang sama, seperti tanda kuno.
Simbol itu menyerupai mata yang melingkar, dengan tetesan air mata di bawahnya. Ardi diam-diam mencatatnya, merasa merinding. Apa arti tanda itu?
Ia juga mulai menyadari pola yang mengganggu. Para pelanggan tampaknya tidak pernah menua. Wajah mereka sama dari malam ke malam, minggu ke minggu.
Bahkan Pak Cokro pun terlihat abadi. Keriputnya tak bertambah, gerakannya tak melambat. Seolah waktu tak berlaku bagi mereka yang berada di dalam Kopi Senyap.
Ardi mulai merasa lelah, namun ia tak bisa berhenti datang. Ada dorongan tak terlihat yang menariknya kembali, seperti magnet yang tak bisa ditolak.
Insomnia kronis mulai menghantuinya. Ia hanya bisa merasa terjaga dan berfungsi saat berada di Kopi Senyap, di tengah kerumunan bayangan itu.
Suatu malam, ia mendengar bisikan yang lebih jelas. Bukan dari satu orang, melainkan dari banyak suara, seperti paduan suara yang terdistorsi.
“Dia tahu… dia mencari… dia akan menjadi salah satu dari kita…” Bisikan itu seolah mengarah padanya. Jantung Ardi berdegup kencang.
Ia mengangkat kepalanya, mencoba mencari sumber suara. Namun, semua mata tetap kosong, semua wajah tetap datar. Tidak ada yang menatapnya langsung.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia merasa seperti mangsa yang terjebak dalam sarang laba-laba raksasa. Kopi di tangannya terasa dingin.
Ardi mencoba menahan diri untuk tidak lari. Ia memaksakan diri untuk tetap tenang, mengamati Pak Cokro yang tiba-tiba berhenti menyeduh kopi.
Pak Cokro menoleh perlahan ke arah Ardi. Untuk pertama kalinya, ada ekspresi di wajah tuanya. Bukan senyum, bukan marah, hanya semacam kepuasan.
Matanya yang biasanya kosong kini memancarkan cahaya aneh. Seolah ia melihat jauh ke dalam jiwa Ardi, menembus setiap lapis pertahanan.
“Kau semakin dekat, Nak,” suara Pak Cokro terdengar serak, namun jelas. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari pemilik kedai itu.
“Apa yang dekat, Pak Cokro?” Ardi memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar. Udara di sekitarnya terasa semakin dingin, mencekik.
Pak Cokro tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. “Kebenaran. Dan tempatmu.” Ia menunjuk ke kursi kosong di samping Ardi.
“Tempatku?” Ardi merasa bingung. Kursi itu kosong, seperti semua kursi lainnya di Kopi Senyap. Atau tidak? Apakah ada yang salah dengan kursinya?
Tiba-tiba, ia merasakan sakit menusuk di pergelangan tangan kirinya. Sebuah rasa terbakar yang membakar kulitnya dari dalam. Ia menarik lengan bajunya.
Di sana, samar namun jelas, sebuah tato mulai terbentuk. Simbol mata melingkar dengan tetesan air mata, persis seperti yang ia lihat pada pelanggan lain.
Ardi terkesiap. Ia adalah salah satu dari mereka. Ia telah minum kopi itu berkali-kali. Ia telah terjebak dalam lingkaran waktu yang aneh ini.
Panik melandanya. Ia mencoba berdiri, melarikan diri. Namun kakinya terasa berat, seolah terpaku ke lantai. Pandangannya mulai buram.
Suara bisikan kembali terdengar, kini lebih jelas, lebih nyaring. “Selamat datang di keabadian… Selamat datang di Kopi Senyap…”
Kepalanya berdenyut hebat. Ia melihat ke sekeliling. Para pelanggan lain kini menatapnya. Mata mereka tidak lagi kosong. Ada semacam cahaya di dalamnya.
Cahaya yang aneh, dingin, dan sangat kuno. Mereka tersenyum, senyum yang sama sekali tidak manusiawi. Senyum yang penuh rahasia dan kepuasan.
Ardi merasakan kehangatan di telapak tangannya. Cangkir kopinya kini terasa panas, membakar kulitnya. Aroma kopi tiba-tiba terasa sangat manis.
Terlalu manis, seperti bau darah. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat. Paru-parunya terasa sesak, seolah tak bisa menghirup udara lagi.
Lalu, kegelapan menelannya. Bukan kegelapan yang menenangkan, melainkan kegelapan yang pekat, abadi, dan penuh bisikan tak berujung.
Ketika Ardi membuka mata lagi, ia masih di Kopi Senyap. Cangkir kopi ada di tangannya. Aroma kopi pekat memenuhi indranya.
Ia melihat sekeliling. Pelanggan lain duduk dalam diam, menyeruput kopi mereka. Mata mereka kosong, seperti biasa. Tapi tidak untuknya.
Ardi merasakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak lagi merasakan kantuk. Tidak ada rasa lelah. Hanya ada keheningan yang sempurna.
Ia melihat tangannya. Tato mata itu kini terlihat jelas, seolah selalu ada di sana. Ardi menyentuhnya, terasa dingin dan nyata.
Kemudian, seorang pria masuk ke Kopi Senyap. Pria itu tampak bingung, mata penuh rasa penasaran. Ardi mengenali tatapan itu.
Itu adalah tatapan yang sama seperti tatapannya sendiri beberapa minggu yang lalu. Tatapan seorang pencari, seorang yang haus misteri.
Ardi merasakan dorongan aneh. Sebuah keinginan untuk mengamati pria baru itu. Untuk melihatnya terjebak, seperti dirinya.
Ia mengangkat cangkirnya, menyeruput kopi hitam pekat. Rasanya sama, pahit namun dengan jejak hangat yang aneh. Abadi.
Ia adalah salah satu dari mereka sekarang. Bagian dari Kopi Senyap. Menunggu. Mengamati. Menjadi bagian dari misteri yang tak terpecahkan.
Dan setiap malam, di tengah keheningan yang mencekam, Kopi Senyap akan kembali ramai. Menanti jiwa-jiwa penasaran berikutnya.
Ardi duduk diam di kursinya. Matanya kosong, pikirannya jauh melayang. Hanya sesekali, bisikan samar keluar dari bibirnya.
“Dia akan tahu… dia akan mencari… dia akan menjadi salah satu dari kita…” Dan lingkaran itu terus berputar, abadi, di Kopi Senyap.





