Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Warga Bilang Sepeda Itu Ditinggal Mati… Tapi Masih Sering Terlihat Bergerak

10
×

Warga Bilang Sepeda Itu Ditinggal Mati… Tapi Masih Sering Terlihat Bergerak

Share this article

Warga Bilang Sepeda Itu Ditinggal Mati… Tapi Masih Sering Terlihat Bergerak

Si Kuno Mengayuh Sendiri: Misteri di Balik Pedal Berkarat

Desa Harmoni bukanlah tempat yang asing bagi ketenangan. Kabut tipis selalu menyelimuti pagi, dan suara jangkrik menjadi melodi malam. Namun, ketenangan itu kini diusik oleh desas-desus ganjil.

Sebuah cerita bisik-bisik mulai menyebar, tentang sebuah sepeda tua. Bukan sepeda biasa, melainkan si Kuno, sepeda ontel berwarna hitam legam dengan jejak karat di sana-sini. Konon, ia mengayuh sendiri.

Awalnya, hanya dianggap bualan orang tua. Kisah pengantar tidur yang dilebih-lebihkan. Namun, semakin hari, semakin banyak saksi mata yang bersumpah telah melihatnya.

Saya, Arka, seorang jurnalis yang selalu skeptis, memutuskan untuk menyelidiki. Saya tiba di Desa Harmoni dengan kamera dan keraguan yang tebal di hati.

Penduduk desa menyebut si Kuno “roh penunggu.” Sepeda itu tersimpan di gudang tua Pak Hadi, seorang kakek yang dulunya adalah penjaga stasiun.

Pak Hadi bercerita, sepeda itu adalah peninggalan ayahnya. Sudah puluhan tahun tak tersentuh, berdebu dan usang. Sampai suatu malam, ia mendengar derit aneh.

“Rodanya berputar, Arka,” bisik Pak Hadi, matanya menerawang. “Seperti ada yang mengayuhnya, tapi tak ada siapa-siapa.” Saya mencatat, berusaha menahan senyum.

Malam pertama di Desa Harmoni terasa dingin. Saya menginap di sebuah penginapan kecil, dekat dengan gudang tua itu. Udara dipenuhi aroma tanah basah dan ketegangan yang tak terlihat.

Sekitar pukul dua dini hari, sebuah suara membangunkan saya. Derit logam yang berirama, seolah roda berputar perlahan. Jantung saya berdegup kencang.

Saya melompat dari ranjang, meraih kamera dan senter. Mengendap-endap menuju gudang. Udara semakin dingin, dan bulu kuduk saya meremang.

Dari celah dinding, saya melihatnya. Sebuah bayangan samar, nyaris tak terlihat. Dan di tengah bayangan itu, roda belakang si Kuno berputar pelan.

Tidak ada angin, tidak ada yang menyentuhnya. Hanya putaran roda yang lambat, konstan, dan mengerikan. Saya menekan tombol rekam, tangan gemetar.

Pagi harinya, saya menunjukkan rekaman itu kepada Pak Hadi. Wajahnya pucat pasi. “Itu dia, Arka. Rohnya sedang gelisah.” Ia menolak bicara lebih jauh.

Saya memutuskan untuk menyelidiki sejarah si Kuno. Bertanya kepada sesepuh desa, membaca arsip lama. Ada satu nama yang terus muncul: Ningsih.

Ningsih adalah putri Pak Hadi. Gadis cantik yang hilang secara misterius puluhan tahun lalu. Sepeda itu adalah miliknya.

Konon, Ningsih selalu menggunakan si Kuno. Setiap sore, ia mengayuhnya menuju hutan pinus di ujung desa. Sampai suatu hari, ia tak pernah kembali.

Polisi mencari, penduduk desa menyisir. Namun Ningsih lenyap tanpa jejak. Si Kuno ditemukan tergeletak di tepi jurang, roda depannya bengkok.

Sejak itu, Pak Hadi menyimpan si Kuno di gudang. Sebagai pengingat, sebagai kenangan pahit. Ia tak pernah bisa merelakan putrinya.

Beberapa warga bercerita, si Kuno mulai mengayuh sendiri setelah kejadian itu. Namun hanya saat-saat tertentu, dan selalu di dalam gudang.

Saya merasa ada pola. Setiap kali si Kuno mengayuh, selalu ada hujan lebat atau kabut tebal. Seolah-olah ia ingin menyembunyikan pergerakannya.

Saya menghabiskan beberapa hari di gudang itu. Menyiapkan kamera tersembunyi, sensor gerak. Berharap menangkap lebih dari sekadar roda berputar.

Malam kelima, alarm berbunyi. Layar monitor menunjukkan si Kuno bergerak. Kali ini bukan hanya roda, tapi seluruh sepeda itu terangkat.

Pelan-pelan, dengan derit yang memilukan, si Kuno bergerak maju. Keluar dari gudang, menembus kabut malam yang tebal. Saya mengikutinya, jantung di tenggorokan.

Si Kuno bergerak lambat, namun pasti. Ia melintasi jalan setapak yang nyaris tak terlihat. Jalan yang menuju ke hutan pinus. Jalan yang dulunya sering dilalui Ningsih.

Saya berjalan kaki di belakangnya, menjaga jarak. Lampu senter saya menyoroti jejak roda yang samar di tanah basah. Setiap detik terasa seperti berabad-abad.

Udara semakin dingin. Suara jangkrik lenyap diganti desiran angin di antara pepohonan pinus. Saya merasa seperti memasuki dunia lain.

Si Kuno berhenti di sebuah lokasi. Sebuah pohon pinus tua yang menjulang tinggi, dengan akarnya yang besar mencengkeram tanah. Di bawah pohon itu, tanah tampak sedikit gembur.

Saya mendekat perlahan. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah, akar, dan kehampaan. Lalu, si Kuno bergerak lagi. Mengitari pohon itu tiga kali.

Setiap putaran, deritnya semakin kencang, seperti rintihan. Dan di putaran ketiga, ia berhenti tepat di depan saya, lalu terjatuh ke samping.

Tiba-tiba, sebuah suara bisikan samar terdengar dari tanah. “Temukan… aku…” Suara itu nyaris tak terdengar, seperti hembusan angin.

Saya mematikan senter, mencoba menenangkan diri. Lalu saya menyalakannya lagi, mengarahkannya ke tanah di bawah pohon. Saya mulai menggali.

Saya menggali dengan tangan kosong, lalu dengan ranting kayu. Tanah itu gembur, seperti baru saja digali. Dan tidak butuh waktu lama.

Saya menemukan sesuatu. Sebuah kotak kayu tua, basah dan lapuk. Di dalamnya, sebuah diari usang dan sebuah kalung perak.

Diari itu milik Ningsih. Halaman-halaman terakhirnya penuh dengan tulisan panik. Ia menulis tentang seorang pria yang menguntitnya.

Seorang pria dari desa tetangga, yang terobsesi padanya. Ia mencoba melarikan diri, tapi pria itu mengejarnya sampai ke hutan pinus.

Ningsih menulis tentang persembunyiannya. Tentang bagaimana ia menyembunyikan diari dan kalungnya di bawah pohon pinus tua itu. Ia berharap suatu hari ditemukan.

Ia juga menulis tentang si Kuno. “Sepedaku akan tahu. Ia akan membawa siapa pun ke sini. Ia akan menunjukkan jalan.”

Air mata saya menetes membaca baris terakhir. Ningsih tidak pernah kembali, namun rohnya, atau setidaknya energinya, terikat pada sepeda kesayangannya.

Si Kuno, setia pada pemiliknya, mencoba menyampaikan pesan. Mengayuh sendiri, menembus waktu, menunjukkan lokasi rahasia. Ia adalah penunjuk jalan.

Saya membawa diari itu kepada Pak Hadi. Kakek tua itu menangis tersedu-sedu. Akhirnya, ia tahu nasib putrinya. Akhirnya, ada penutupan.

Pencarian baru dilakukan, kali ini dengan petunjuk diari. Beberapa hari kemudian, kerangka Ningsih ditemukan di sebuah gua tersembunyi tak jauh dari pohon pinus itu.

Pelaku akhirnya tertangkap, seorang pria tua yang kini tinggal di kota lain. Kisah ini menjadi berita utama. Misteri si Kuno terpecahkan.

Namun, yang paling mengherankan adalah apa yang terjadi pada si Kuno. Sejak Ningsih ditemukan, sepeda itu tidak pernah lagi mengayuh sendiri.

Ia tetap di gudang Pak Hadi, berdebu dan usang. Namun kini, ia terasa lebih damai. Seperti sebuah misi telah selesai.

Kadang, saat kabut tebal menyelimuti Desa Harmoni, saya masih teringat derit roda itu. Mengingatkan saya pada sebuah rahasia yang terkuak.

Sebuah sepeda tua yang mengayuh sendiri. Bukan hantu yang menakutkan, melainkan sebuah jiwa yang mencari keadilan. Dan akhirnya, ia menemukannya.

Sepeda Tua yang Mengayuh Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *