Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Konon, Siapa Pun yang Menantang Penjaga Hutan Palutungan Tak Pernah Kembali

10
×

Konon, Siapa Pun yang Menantang Penjaga Hutan Palutungan Tak Pernah Kembali

Share this article

Konon, Siapa Pun yang Menantang Penjaga Hutan Palutungan Tak Pernah Kembali

Hutan Palutungan: Senyapnya Rimba dan Tatapan Sang Penjaga Bayangan

Di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, tersembunyi sebuah permata hijau yang menawan: Hutan Palutungan. Udara dingin pegunungan menyapa setiap napas, membawa aroma lumut dan tanah basah yang kental. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, membentuk kanopi hijau abadi yang jarang ditembus sinar matahari.

Keindahan Palutungan seringkali membius para pendaki dan penjelajah. Namun, di balik keagungan alamnya, tersimpan bisikan-bisikan kuno. Cerita-cerita tentang entitas tak kasat mata, tentang sebuah keberadaan yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.

Desas-desus itu menyebutkan “Sang Penjaga Bayangan”. Sebuah makhluk purba yang menghuni kedalaman rimba, mengawasi setiap langkah yang menginjak tanah sakralnya. Konon, ia adalah roh hutan itu sendiri, manifestasi kemarahan dan kebijaksanaan alam.

Bagi sebagian besar orang, ini hanyalah bualan atau takhayul belaka. Sebuah dongeng pengantar tidur untuk anak-anak desa. Namun, bagi mereka yang berani melangkah terlalu jauh ke dalam Hutan Palutungan, garis tipis antara mitos dan kenyataan akan luntur.

Dr. Arya, seorang etnobotanis ternama, adalah salah satu dari mereka yang menolak percaya. Baginya, legenda hanyalah bumbu cerita rakyat, tak lebih dari imajinasi kolektif. Ia datang ke Palutungan membawa misi ilmiah, mencari spesies tumbuhan langka yang konon hanya tumbuh di sana.

Dilengkapi peralatan canggih dan keyakinan teguh pada logika, Arya memulai ekspedisinya. Ia memilih jalur yang jarang dilewati, menuju jantung hutan yang masih perawan. Keinginannya untuk menemukan sesuatu yang baru membakar semangatnya.

Hari pertama berjalan mulus, diwarnai penemuan beberapa spesimen menarik. Arya mendirikan tenda di sebuah dataran kecil, dikelilingi pohon-pohon pinus tua. Ketenangan malam itu terasa sempurna, hanya dipecah oleh suara serangga malam.

Namun, di tengah keheningan itu, sebuah perasaan aneh mulai menyergap. Arya merasa seperti diperhatikan. Sebuah tatapan tak terlihat yang menusuk dari balik kegelapan rimba. Ia mengira itu hanya kelelahan setelah seharian berjalan.

Malam kedua, gangguan mulai nyata. Suara ranting patah di kejauhan, seolah ada sesuatu yang besar bergerak perlahan. Arya menyalakan senter, menyapu cahaya ke segala arah, namun tak menemukan apa pun kecuali bayangan pohon yang menari.

Beberapa kali, ia bersumpah melihat siluet hitam melintas di ujung pandangannya. Terlalu cepat untuk diidentifikasi, terlalu samar untuk dipastikan. Jantungnya mulai berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya hewan malam.

Pagi harinya, GPS-nya eror total. Layarnya hanya menampilkan koordinat acak, tak mampu menunjukkan lokasinya. Kompasnya pun berputar tak menentu, seolah medan magnet di hutan itu telah gila.

Arya mencoba kembali ke jalur yang ia tandai sebelumnya, namun jejak itu seolah menghilang ditelan bumi. Pohon-pohon yang ia ingat sebagai penanda kini tampak asing. Hutan Palutungan seolah berubah bentuk, sengaja menyesatkannya.

Ketegangan mulai merayapi benak Arya. Ia bukan lagi seorang ilmuwan yang rasional, melainkan seorang penjelajah yang tersesat dan mulai ketakutan. Persediaan makanannya menipis, dan ponselnya tak mendapat sinyal sama sekali.

Di hari keempat, ia bertemu seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik semak. Wajahnya keriput, matanya penuh peringatan. “Pergi, Nak,” bisiknya dengan suara serak. “Sebelum dia melihatmu lebih jauh.”

Arya mencoba bertanya siapa “dia” yang dimaksud, namun kakek itu hanya menggelengkan kepala. “Hutan ini punya penjaga. Dia tidak suka orang asing yang tamak,” katanya, lalu menghilang secepat ia muncul, meninggalkan Arya dalam kebingungan.

Peringatan itu tak dihiraukan sepenuhnya oleh Arya. Rasa penasaran bercampur ketakutan justru mendorongnya lebih dalam. Ia harus membuktikan bahwa semua ini hanyalah kebetulan atau halusinasi akibat kelelahan.

Malam kelima menjadi titik baliknya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk hingga ke tulang. Suara bisikan tanpa sumber jelas mulai memenuhi telinganya, seolah ribuan suara tanpa wujud berbicara kepadanya.

Aroma aneh menyeruak. Bukan aroma lumut atau tanah, melainkan sesuatu yang busuk dan manis secara bersamaan. Aroma yang membuat perutnya mual, namun juga membuatnya terpaku di tempatnya.

Arya tak bisa tidur. Matanya terus menatap kegelapan di luar tenda. Ia mendengar suara napas berat, sangat dekat, di balik kanvas tendanya. Suara itu bukan milik hewan biasa. Itu adalah napas predator besar, namun tanpa irama yang teratur.

Tiba-tiba, tendanya berguncang hebat. Arya terlonjak kaget. Ia mencengkeram pisau lipatnya erat-erat, jantungnya berpacu seperti drum. Sebuah bayangan gelap melintas di celah kecil tenda, diikuti suara dengusan rendah.

Dengan keberanian yang tersisa, Arya membuka ritsleting tenda. Kabut tebal menyelimuti hutan, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam. Di antara pepohonan, ia melihatnya.

Sebuah siluet tinggi, sangat tinggi, berdiri tegak di antara pepohonan. Bentuknya ramping namun kokoh, diselimuti sesuatu yang tampak seperti bulu hitam pekat. Matanya membara, bukan merah seperti darah, melainkan hijau gelap yang memancarkan cahaya dingin.

Makhluk itu tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, mengawasinya. Arya merasakan hawa dingin yang luar biasa memancar darinya, bukan dingin fisik, melainkan dingin yang membekukan jiwa. Ia tak sanggup berteriak, tenggorokannya tercekat.

Arya mencoba mundur perlahan, namun kakinya terasa berat, seolah terpaku pada tanah. Bayangan itu tiba-tiba bergerak, meluncur tanpa suara di antara pepohonan. Kecepatannya di luar nalar.

Dalam sekejap, makhluk itu sudah berada di depannya. Arya bisa melihat detailnya sekarang. Wajahnya bukan wajah manusia, melainkan perpaduan antara hewan dan manusia. Taring panjang mencuat dari bibir tipisnya, dan cakarnya tampak tajam seperti belati.

Mata hijaunya menatap lurus ke dalam jiwanya, seolah membaca setiap ketakutan dan niat tersembunyi. Arya merasakan otaknya berputar, diliputi gelombang horor yang tak terlukiskan. Ia tak bisa berpikir, hanya merasakan teror murni.

Makhluk itu mengangkat tangannya yang bercakar. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menunjuk ke arahnya. Lalu, suara berat, bergemuruh, namun tanpa nada, memenuhi kepalanya. Bukan suara yang keluar dari mulut, melainkan telepati langsung.

“Kau melanggar… batas…” Suara itu bergetar di benak Arya, menciptakan resonansi yang menyakitkan. “Hormati… atau binasa…”

Cakar tajam itu tiba-tiba menggores punggungnya. Bukan serangan yang mematikan, melainkan peringatan. Garis darah tipis mengalir, panas dan perih. Rasa sakit itu menyadarkan Arya dari kelumpuhan terornya.

Ia jatuh tersungkur, tersandung akar tua. Makhluk itu hanya mengawasinya, matanya masih menyala hijau. Arya bisa merasakan kehadirannya yang dominan, namun anehnya, ia tidak bergerak untuk menghabisinya.

Itu bukan pembunuhan yang ia cari. Melainkan pesan, peringatan keras. Makhluk itu adalah Sang Penjaga Bayangan, penjaga sejati Hutan Palutungan. Ia tidak membunuh mereka yang tersesat, hanya mereka yang berniat jahat atau tidak menghormati.

Dengan sisa tenaga, Arya merangkak pergi, menjauh dari tatapan mengerikan itu. Ia terus merangkak, lalu berlari sekencang mungkin, tanpa arah, menembus kabut dan pepohonan yang kini terasa seperti labirin neraka.

Ia tak tahu berapa lama ia berlari. Sampai akhirnya, ia pingsan di pinggir sebuah sungai, nyaris tak sadarkan diri. Warga desa menemukannya beberapa jam kemudian, tubuhnya lemah, punggungnya berdarah, dan matanya dipenuhi ketakutan yang mendalam.

Dr. Arya selamat. Ia kembali ke peradaban, namun ia bukan lagi Arya yang sama. Ia tak pernah menceritakan detail apa yang ia alami di dalam hutan. Ia hanya mengatakan tersesat dan diserang hewan liar.

Namun, luka goresan dalam di punggungnya, yang tak pernah sembuh sempurna, menjadi saksi bisu. Dan sorot matanya yang berubah, penuh kengerian dan rasa hormat yang aneh terhadap alam. Ia telah melihatnya.

Hingga kini, Hutan Palutungan tetap menyimpan misterinya. Sang Penjaga Bayangan masih bersemayam di kedalamannya, mengawasi dengan mata hijaunya yang membara. Menanti mereka yang berani melanggar batas, memberikan pelajaran tentang batas manusia dan keagungan alam. Sebuah kisah yang tak akan pernah diceritakan kecuali oleh mereka yang cukup berani, atau cukup bodoh, untuk mengalaminya sendiri.

Hutan Palutungan dan Makhluk Penjaganya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *