Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jangan Pernah Abaikan Suara Gending dari Tempat Sepi Ini

10
×

Jangan Pernah Abaikan Suara Gending dari Tempat Sepi Ini

Share this article

Jangan Pernah Abaikan Suara Gending dari Tempat Sepi Ini

Suara Gending Tanpa Asal

Arjuna adalah seorang peneliti budaya Jawa yang memutuskan untuk menyepi. Ia menyewa sebuah rumah tua di pinggir kota kecil yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Tujuannya adalah menyelesaikan disertasinya tentang filosofi gamelan, mencari ketenangan dan inspirasi di tengah alam pedesaan. Rumah itu berdiri kokoh, berarsitektur kolonial kuno, dengan taman luas yang ditumbuhi pepohonan rindang.

Minggu-minggu pertama berlalu dalam kedamaian. Arjuna menghabiskan hari-harinya membaca buku-buku tebal, menulis, dan menikmati kopi di beranda. Angin sepoi-sepoi selalu mengalir di antara pepohonan, membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Suasana di sana begitu menenangkan, seolah waktu berjalan lebih lambat dari seharusnya.

Namun, ketenangan itu mulai terusik suatu malam. Ketika jam menunjukkan pukul dua belas tengah malam, sebuah suara tipis menyelinap masuk melalui jendela kamarnya. Suara itu adalah gending, melodi gamelan Jawa yang lembut namun jelas. Arjuna mengernyitkan dahi, bingung.

Tidak ada tetangga yang memainkan gamelan di jam selarut ini, apalagi di daerah sesunyi ini. Ia mencoba mengabaikannya, berpikir itu hanya khayalannya atau suara dari kejauhan yang terbawa angin. Namun, melodi itu semakin jelas, seolah dimainkan tepat di luar rumahnya. Nada-nada itu begitu merdu, namun juga anehnya, sangat mengganggu.

Ia bangkit dari tempat tidur, mendekati jendela, dan mengintip keluar. Gelap gulita menyelimuti taman, hanya diterangi rembulan yang bersembunyi di balik awan. Tidak ada siapa pun, tidak ada cahaya, tidak ada tanda-tanda aktivitas. Suara gending itu tetap mengalun, tanpa sumber yang terlihat.

Arjuna merasa bulu kuduknya meremang. Ia adalah seorang rasionalis, namun pengalaman ini menantang logikanya. Ia menutup jendela rapat-rapat, berharap suara itu akan lenyap. Namun, gending itu tetap menembus dinding, meresap ke dalam kamarnya, seolah dimainkan di dalam kepalanya sendiri.

Malam itu, ia tidak bisa tidur. Melodi gending itu berputar-putar di benaknya, sebuah komposisi yang ia kenali sebagai “Ladrang Wilujeng,” sebuah gending untuk upacara keselamatan. Ironisnya, ia merasa sangat tidak aman. Pagi hari tiba, membawa kelegaan, dan suara itu akhirnya menghilang bersama terbitnya matahari.

Keesokan harinya, Arjuna mencoba mencari penjelasan. Ia bertanya kepada Pak Karto, penjaga rumah yang tinggal di desa sebelah. Pak Karto hanya menggelengkan kepala, mengatakan tidak pernah ada yang memainkan gamelan di sekitar sana. Wajahnya tampak sedikit pucat, seolah ia tahu sesuatu yang tidak ingin ia katakan.

“Mungkin hanya perasaan Bapak saja, Den,” kata Pak Karto, menghindari tatapan mata Arjuna. “Rumah ini memang sudah tua, banyak cerita di baliknya.” Ia lalu buru-buru pamit, meninggalkan Arjuna dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Arjuna merasakan ada yang disembunyikan.

Malam berikutnya, suara itu kembali, tepat di jam yang sama. Kali ini, gending itu terdengar lebih jelas, lebih kuat. Arjuna bangkit, mengambil senter, dan memberanikan diri keluar. Ia berjalan mengelilingi rumah, menyusuri taman, bahkan memeriksa gudang tua di belakang. Tidak ada apa-apa, hanya hembusan angin malam.

Namun, di setiap sudut rumah yang ia lewati, suara gending itu terasa semakin dekat. Seolah-olah sumber suara itu bergerak bersamanya, mengikutinya dalam kegelapan. Ia bahkan bisa merasakan getaran tipis di tanah, seolah ada instrumen berat yang dipukul di dekatnya. Ketakutan mulai merayap.

Arjuna kembali masuk, mengunci pintu dan jendela. Ia duduk di ruang tamu yang temaram, memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi pada suara itu. Ia berusaha menganalisisnya secara ilmiah, mencari pola, mencari anomali. Namun yang ia temukan hanyalah sebuah melodi sempurna yang dimainkan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Beberapa malam berikutnya, pola itu terus berulang. Setiap pukul dua belas malam, gending “Ladrang Wilujeng” itu akan mulai mengalun. Awalnya lembut, lalu menguat, dan menghilang saat fajar menyingsing. Arjuna mulai mengalami insomnia parah, matanya cekung, pikirannya terusik.

Ia mencoba mencari informasi di perpustakaan desa, mencari arsip koran lama atau catatan sejarah lokal. Ia menemukan beberapa kisah tentang rumah itu, yang pernah dimiliki oleh seorang bangsawan kaya pada zaman kolonial. Namun, tidak ada yang menyebutkan tentang gamelan atau kejadian aneh.

Suatu sore, saat Arjuna sedang membaca di beranda, ia melihat seorang nenek tua berjalan melewati rumahnya. Nenek itu mengenakan kebaya lusuh dan selendang batik. Ia terlihat sangat sepuh, namun matanya memancarkan kebijaksanaan yang mendalam. Arjuna memberanikan diri menyapa.

“Permisi, Nek. Maaf mengganggu,” kata Arjuna ramah. “Saya pendatang baru di sini. Nenek tahu tentang rumah ini? Saya sering mendengar suara gamelan di malam hari.” Nenek itu menghentikan langkahnya, menatap Arjuna dengan sorot mata yang sulit diartikan. Senyum tipis terukir di bibirnya yang keriput.

“Oh, gending itu,” kata nenek itu pelan, suaranya serak. “Sudah lama sekali tidak ada yang mendengar gending itu lagi, Nak.” Ia lalu menceritakan sebuah kisah lama yang sudah menjadi legenda di desa itu. Kisah tentang seorang niyaga (pemain gamelan) bernama Kertajaya.

Kertajaya adalah seorang seniman gamelan yang sangat berbakat, hidup di zaman dulu. Ia tinggal di rumah ini dan sangat mencintai musiknya. Namun, ia dikisahkan memiliki obsesi aneh terhadap kesempurnaan melodi. Ia percaya ada sebuah gending yang mampu membuka gerbang ke alam lain, sebuah melodi yang sempurna dan tak tertandingi.

Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari dan menyusun gending itu, mengasingkan diri dari dunia luar. Suatu malam, ia berhasil. Nenek itu berkata, “Konon, gending itu terdengar sangat indah, namun juga sangat mengerikan. Kertajaya memainkan gending itu tanpa henti selama berhari-hari, sampai ia lenyap.”

“Lenyap?” tanya Arjuna, merasa tenggorokannya tercekat. Nenek itu mengangguk. “Ya, lenyap. Bersama dengan seperangkat gamelannya. Sejak saat itu, rumah ini kosong dan kadang kala, gending itu terdengar kembali di malam hari. Sebuah gending tanpa asal, karena pemain dan instrumennya telah pergi.”

Nenek itu lalu melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Arjuna dalam keheningan yang mencekam. Kisah itu terasa begitu nyata, begitu sesuai dengan pengalamannya. Gending “Ladrang Wilujeng” yang ia dengar, adalah salah satu gending yang paling rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi untuk dimainkan.

Malam itu, Arjuna memutuskan untuk tidak tidur. Ia ingin menghadapi sumber suara itu. Ia menyiapkan kamera dan perekam suara. Tepat pukul dua belas, gending itu kembali mengalun, lebih kuat dari sebelumnya. Kali ini, ia bisa merasakan udara di sekitarnya menjadi sangat dingin.

Ia menyalakan perekam suara, lalu berjalan perlahan ke ruang tengah. Di sana, di tengah ruangan, ia melihat sesuatu. Sebuah bayangan tipis, transparan, seolah-olah asap yang membentuk siluet manusia. Bayangan itu bergerak, seolah-olah sedang memainkan gamelan.

Arjuna merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba menyalakan kamera, namun baterainya mendadak habis. Ia mencoba menyalakan lampu, namun listrik padam. Ia terjebak dalam kegelapan, hanya ditemani suara gending dan bayangan yang menari di depannya.

Gending itu semakin cepat, semakin intens, seolah-olah melodi itu ingin menariknya ke dalam. Nada-nada itu mulai terasa menyakitkan di telinganya, menembus otaknya. Arjuna merasakan kepalanya pening, tubuhnya lemas. Ia ambruk ke lantai, mencoba menutup telinganya.

Bayangan itu mendekat, melingkari dirinya. Arjuna bisa merasakan embusan napas dingin di lehernya, mencium aroma melati kering yang kuat. Dalam kegelapan itu, ia melihat sepasang mata merah menyala, menatapnya tajam. Mata itu penuh kesedihan, namun juga obsesi yang mengerikan.

“Kau mendengarnya… kau akan mengerti…” sebuah bisikan parau terdengar di telinganya, seolah-olah suara itu datang dari dalam kepalanya sendiri. Gending itu mencapai puncaknya, sebuah crescendo yang memekakkan telinga. Lalu, tiba-tiba, semuanya berhenti.

Kegelapan lenyap, digantikan cahaya fajar yang menembus jendela. Suara gending itu menghilang sepenuhnya, bersama dengan bayangan dan hawa dingin. Arjuna tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar, napasnya tersengal-sengal. Ia selamat, namun tidak utuh.

Sejak hari itu, Arjuna tidak pernah lagi mendengar gending itu di rumah. Ia mencoba menjelaskan pengalamannya kepada beberapa teman dan kolega, namun mereka hanya menganggapnya stres dan kurang tidur. Ia tetap tinggal di rumah itu, menyelesaikan disertasinya dengan tergesa-gesa.

Namun, setiap kali ia mendengar melodi gamelan, bahkan di televisi atau radio, ia merasakan kepalanya sakit. Ia sering terbangun di tengah malam, mendengar bisikan gending itu di telinganya, gending “Ladrang Wilujeng” yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Ia tahu, melodi itu telah meresap ke dalam jiwanya.

Arjuna akhirnya menyelesaikan disertasinya, namun ia tidak pernah lagi bisa merasakan ketenangan. Ia selalu merasa diawasi, selalu merasa ada sesuatu yang menemaninya. Suara gending tanpa asal itu mungkin tidak lagi terdengar di rumah tua itu, namun ia kini bersemayam di dalam diri Arjuna.

Ia menjadi saksi bisu dari obsesi Kertajaya, sebuah melodi yang tidak pernah benar-benar lenyap. Gending itu kini mengalun di dalam dirinya, sebuah melodi yang menuntunnya perlahan-lahan ke batas kewarasan. Dan di setiap malam, ketika keheningan menyelimuti, Arjuna tahu ia tidak pernah benar-benar sendiri.

Suara Gending Tanpa Asal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *