Di tengah malam yang buta, saat hujan menari tak berirama di kaca jendela mobil, aku tersesat. GPS mati, sinyal lenyap, dan kegelapan menelan setiap jejak peradaban. Hanya ada hutan pinus yang menjulang, seolah mengawasi setiap gerakku.
Panik mulai merayapi, napas terasa berat, hingga sekelebat cahaya kuning samar muncul di kejauhan. Sebuah harapan kecil, menembus kabut tebal yang tiba-tiba saja turun. Aku membelokkan setir, mengikuti arah cahaya itu.
Jalan berkerikil menuntunku ke sebuah persimpangan yang sunyi, tak ada papan nama, tak ada penunjuk arah. Di sana, bertengger sebuah bangunan tua berkayu lapuk, memancarkan cahaya remang dari lentera minyak. Di atasnya, sebuah papan usang bertuliskan: “Warung Kopi Simpang Sunyi.”
Bau kopi yang pekat, dicampur aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua, menusuk hidungku. Aku melangkah masuk, disambut keheningan yang mencekam. Tidak ada riuh percakapan, hanya desisan pelan dari teko air yang mendidih.
Seorang pria tua dengan rambut memutih dan mata setajam elang, duduk di balik meja. Wajahnya dipenuhi kerutan, seolah menyimpan rahasia ribuan tahun. Ia tidak menyapa, hanya menatapku dengan tatapan kosong namun penuh arti.
Selain kami berdua, ada tiga orang pelanggan lain. Mereka duduk membeku di bangku panjang, pandangan menerawang ke depan. Secangkir kopi mengepul di hadapan masing-masing, namun tak satu pun dari mereka menyentuhnya.
“Kopi?” suara Pak Tua itu serak, nyaris berbisik. Aku mengangguk, merasa tercekik oleh atmosfer yang aneh ini. Ia menuangkan cairan hitam pekat dari teko tembaga ke dalam cangkir keramik berukir.
Kopi itu memiliki warna yang lebih gelap dari malam itu sendiri, memancarkan uap tipis yang menari-nari. Aroma pahitnya begitu kuat, bercampur dengan wangi rempah yang tak kukenali. Seolah setiap tetesnya mengandung cerita.
Aku menyesapnya perlahan. Rasa pahitnya menyengat lidah, diikuti manis samar yang aneh. Lalu, sensasi hangat menjalar ke seluruh tubuh, bukan hanya fisik, tetapi juga pikiranku. Kabut di kepalaku seolah sirna.
Namun, bersamaan dengan itu, sebuah perasaan aneh muncul. Seolah waktu berhenti berputar. Aku menengok ke jam dinding yang tergantung di dekat pintu, tetapi jarumnya tak bergerak sama sekali. Membeku di angka dua belas.
Aku mencoba mengeluarkan ponsel, tetapi layarnya tetap gelap. Tidak ada daya, padahal tadi pagi baterainya penuh. Kekuatan yang tak terlihat seolah mematikan setiap koneksiku dengan dunia luar.
“Anda datang dari jauh?” suara Pak Tua memecah keheningan. “Banyak yang tersesat di persimpangan ini.” Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya, melainkan hanya menggerakkan kerutan di wajahnya.
Aku mencoba memulai percakapan, tetapi kata-kata tercekat di tenggorokanku. Aku melirik ke arah para pelanggan lain. Salah satu dari mereka, seorang wanita berambut panjang, tiba-tiba menoleh padaku.
Matanya kosong, kulitnya pucat pasi, seperti patung lilin. Ia mengangkat tangan, seolah ingin meraih sesuatu. Lalu, bibirnya bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara. Sebuah bisikan hampa yang menusuk sanubari.
Ketakutan dingin merayapiku. Aku buru-buru menoleh ke Pak Tua, tetapi ia kembali ke posisi semula, menatap ke arah cangkir kopi di depannya. Seolah ia tidak melihat apa pun yang baru saja terjadi.
Aku menoleh lagi ke wanita itu, tetapi ia sudah kembali ke posisi semula. Beku. Aku mengusap mataku, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi akibat kelelahan dan kopi yang kuat ini.
Namun, perasaan gelisah tak mau pergi. Aku ingin segera meninggalkan tempat ini. Aku meletakkan beberapa lembar uang di meja dan berdiri. “Terima kasih, Pak. Saya harus melanjutkan perjalanan.”
Pak Tua mendongak. Tatapannya kini lebih intens, seolah mengunci setiap gerakanku. “Jalanan di luar gelap. Kopi Anda belum habis,” ucapnya datar, menunjuk cangkirku yang masih setengah penuh.
Aku merasa ada sesuatu yang menarikku kembali ke kursi. Sebuah kekuatan tak terlihat yang mengikatku pada tempat ini. Aku mencoba melangkah lagi, tetapi kakiku terasa berat, seolah tertanam di lantai.
Aku menatap ke luar jendela. Kabut semakin tebal, menelan hutan dan jalanan. Tidak ada apa pun yang terlihat selain dinding putih pekat. Aku merasa terjebak, terperangkap di antara waktu dan ruang.
Aku mencoba berteriak, tetapi suaraku hanya menjadi bisikan. Para pelanggan lain tetap diam, membeku, seolah mereka tidak mendengar apa pun. Aku merasa seperti satu-satunya makhluk hidup yang berjuang.
Pak Tua bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekatiku. Setiap langkahnya terasa seperti gema di keheningan warung. “Warung ini adalah tempat persinggahan. Bagi mereka yang tersesat.”
Ia berhenti di depanku, menatap mataku lekat-lekat. “Kopi ini… menghubungkan. Dengan mereka yang telah menanti. Mereka yang juga tersesat, namun tidak pernah menemukan jalan keluar.”
Jantungku berdebar kencang. “Apa maksud Bapak?” bisikku. Keringat dingin membasahi pelipisku. Aku mulai memahami, atau setidaknya aku mulai takut untuk memahami.
Ia tidak menjawab, hanya menunjuk ke salah satu pelanggan yang membeku. “Mereka semua adalah tamu. Seperti Anda. Mereka minum kopi ini. Dan mereka tidak pernah pergi.”
Napas tercekat di tenggorokanku. Aku menatap ke arah para pelanggan. Mereka bukanlah orang-orang yang sedang beristirahat. Mereka adalah… terperangkap. Jiwa-jiwa yang terikat pada warung kopi ini.
Aku menatap cangkir kopi di depanku. Cairan hitam pekat itu kini tampak seperti pusaran gelap yang siap menelan apa pun. Aroma rempah yang tadi wangi kini terasa busuk, seperti bau kematian.
Aku harus keluar dari sini. Sekarang. Aku mengerahkan seluruh tenagaku, mendorong kursi ke belakang hingga jatuh. Aku berlari menuju pintu, tangan gemetar meraih kenop yang terasa dingin dan berkarat.
Pintu terbuka dengan derit panjang yang memekakkan telinga. Aku melesat keluar, menembus kabut yang pekat. Aku berlari tanpa arah, tanpa mempedulikan semak belukar atau akar pohon yang menjerat.
Aku terus berlari, napasku tersengal, paru-paruku serasa terbakar. Aku tidak tahu berapa lama aku sudah berlari. Kabut seolah tidak ada habisnya, dan aku merasa seperti berlari di tempat.
Tiba-tiba, sebuah cahaya samar muncul di kejauhan. Sebuah lentera kuning, memancar dari balik pepohonan. Aku memaksakan diri berlari ke arahnya, berharap itu adalah jalan keluar.
Namun, saat aku mendekat, jantungku mencelos. Di sana, di tengah kabut yang tak kunjung sirna, berdiri lagi bangunan tua itu. “Warung Kopi Simpang Sunyi.” Persis seperti yang kutinggalkan.
Aku terengah-engah, jatuh terduduk di tanah basah. Aku berbalik, melihat jejak kakiku sendiri yang samar di tanah. Mereka mengarah kembali ke warung itu. Aku tidak pernah pergi.
Suara Pak Tua bergema di telingaku, seolah ia berada tepat di belakangku. “Tidak ada jalan keluar dari Simpang Sunyi. Begitu kau minum kopi kami, kau menjadi bagian dari kami.”
Aku merangkak mundur, menjauhi warung itu. Aku melihat ke dalam melalui jendela yang retak. Para pelanggan tetap membeku, cangkir kopi mereka mengepul abadi. Dan Pak Tua, ia duduk di sana, menatapku.
Wajahnya kini tidak lagi hanya keriput. Ada sesuatu yang lebih kuno, lebih menyeramkan, terukir di sana. Matanya bersinar merah samar, seolah ia adalah penjaga gerbang neraka itu sendiri.
Aku memejamkan mata, memohon agar ini semua hanyalah mimpi buruk. Namun, saat kubuka mata, warung itu masih di sana, menunggu. Aku merasakan dinginnya malam merasuk ke tulang.
Dan kemudian, aku menciumnya lagi. Aroma kopi yang pekat, dicampur bau tanah basah dan… sesuatu yang lebih busuk. Bau kematian. Bau keabadian yang terperangkap.
Aku tahu, aku adalah salah satu dari mereka sekarang. Jiwa yang tersesat, terperangkap di Simpang Sunyi. Warung Kopi itu bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah entitas yang haus akan jiwa-jiwa.
Aku berdiri, melangkah pelan kembali ke pintu warung. Kaki-kakiku terasa ringan, seolah bukan milikku lagi. Aku tahu tak ada gunanya melawan. Nasibku telah ditentukan.
Saat aku melangkah masuk, keheningan menyambutku. Aku melihat bangku kosong di samping wanita berambut panjang. Cangkir keramik berukir sudah menantiku di sana, mengepulkan uap tipis.
Aku duduk, pandanganku menerawang ke depan, sama seperti mereka. Aroma kopi memabukkan. Aku tahu, aku tidak akan pernah meninggalkan Warung Kopi Simpang Sunyi. Aku adalah bagian dari keabadian yang sunyi itu.





