Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Nenek Bergaun Hitam Selalu Muncul di Tengah Kebun… Tepat Saat Matahari Terbenam

10
×

Nenek Bergaun Hitam Selalu Muncul di Tengah Kebun… Tepat Saat Matahari Terbenam

Share this article

Nenek Bergaun Hitam Selalu Muncul di Tengah Kebun… Tepat Saat Matahari Terbenam

Di sudut desa terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota, berdirilah sebuah rumah tua berarsitektur kolonial. Dikelilingi kebun yang luas dan rimbun, tempat itu menyimpan misteri yang tak terpecahkan. Penduduk setempat menjulukinya “Rumah Senyap,” dan tak ada yang berani mendekat setelah senja tiba.

Arif, seorang penulis muda yang mencari inspirasi dan ketenangan, memutuskan untuk menyewa rumah itu. Ia tak percaya takhayul, menganggap cerita-cerita seram hanyalah bualan. Baginya, rumah itu adalah kanvas sempurna untuk imajinasinya.

Namun, sejak hari pertama ia menjejakkan kaki di sana, sebuah bayangan aneh mulai menyelimuti. Bukan bayangan pepohonan, melainkan siluet seorang wanita tua. Ia selalu terlihat di sudut kebun, bergerak lambat, mengenakan gaun hitam pekat.

Sosok itu muncul tanpa suara, tanpa jejak. Hanya pandangan sekilas, lalu menghilang di balik rimbunnya semak belukar. Arif mencoba mengabaikannya, menganggapnya hanya halusinasi akibat kelelahan.

Tapi bayangan itu kian sering terlihat. Terkadang di pagi hari saat kabut masih menggantung, atau di sore hari ketika matahari terbenam. Selalu di kebun, selalu bergaun hitam, selalu diam.

Penduduk desa, ketika ditanyai, hanya menunduk dan berbisik. Mereka menyebutnya “Nenek Bergaun Hitam,” penunggu kebun yang telah ada selama puluhan tahun. Konon, ia adalah arwah seorang wanita yang meninggal secara tragis di sana.

“Jangan ganggu dia, Nak,” seorang tetua desa memperingatkan Arif. “Biarkan dia dengan dunianya. Dia hanya menjaga kebun itu.”

Arif mulai merasa tidak nyaman. Kata-kata tetua itu terngiang-ngiang. Penjaga? Apa yang sebenarnya dijaga oleh nenek bergaun hitam itu?

Malam-malam di rumah itu semakin dingin, bukan karena suhu, melainkan karena aura. Terkadang, Arif mendengar bisikan samar, seperti desiran daun, namun lebih mirip suara seseorang yang meratap.

Suara itu datang dari kebun. Jendela kamarnya menghadap langsung ke arah sana. Ia sering terbangun dengan perasaan ada yang mengawasi.

Awalnya, bisikan itu halus, nyaris tak terdengar. Namun, seiring waktu, ia menjadi lebih jelas, seperti nama yang dipanggil. Bukan namanya, tapi nama yang asing, nama seorang wanita: “Amara.”

Arif mulai mencari tahu. Ia membaca buku-buku sejarah desa, bertanya pada beberapa orang yang lebih terbuka. Namun, informasi tentang rumah itu sangat minim, seolah ada yang sengaja menyembunyikannya.

Suatu sore, Arif memberanikan diri mendekati kebun. Ia ingin melihat lebih dekat, memastikan apakah nenek itu nyata atau hanya ilusi. Udara di sana terasa lebih berat, seolah ada dinding tak kasat mata yang menghalangi.

Semakin dalam ia melangkah, semakin pekat bayangan yang menaungi. Pepohonan tua menjulang tinggi, dahan-dahannya meliuk seperti tangan-tangan kurus yang meraih. Ada bagian kebun yang terasa sangat dingin, bahkan di tengah hari.

Di sanalah ia melihatnya. Jelas, tak ada keraguan. Seorang wanita tua, sangat kurus, mengenakan gaun hitam panjang yang usang. Rambutnya putih tergerai, wajahnya keriput, namun matanya… matanya kosong, namun penuh kesedihan yang tak terhingga.

Nenek itu berdiri mematung di tengah hamparan bunga melati yang telah layu. Ia tak bergerak, tak berkedip. Hanya menatap kosong ke suatu titik di tanah.

Arif merasa darahnya membeku. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku. Ia tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok itu. Ada sesuatu yang sangat menyedihkan tentangnya, sesuatu yang memilukan.

Tiba-tiba, nenek itu mengangkat tangannya yang keriput. Ia menunjuk ke tanah di depannya. Tidak ada suara yang keluar, tapi isyaratnya jelas: ada sesuatu di sana.

Jantung Arif berdebar kencang. Ia tahu ia harus pergi, namun rasa penasaran menguasainya. Ia mundur perlahan, tak berani membelakangi nenek itu.

Malam harinya, Arif tidak bisa tidur. Bayangan nenek bergaun hitam terus menghantuinya. Ia merasa harus menemukan jawaban, harus mengungkap misteri yang menyelimuti rumah dan kebun itu.

Ia menemukan sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik lemari buku tua. Ruangan itu berbau apak dan lembap, penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Di sana, ia menemukan sebuah kotak kayu tua yang terkunci.

Setelah bersusah payah membukanya, ia menemukan tumpukan surat dan sebuah buku harian yang telah menguning. Tertulis di sampulnya: “Amara.”

Arif mulai membaca. Buku harian itu menceritakan kisah seorang wanita bernama Amara, istri dari pemilik rumah terdahulu. Ia adalah seorang yang cantik dan ceria, namun hidupnya berubah drastis setelah kehilangan putrinya yang masih kecil.

Putrinya, bernama Lily, meninggal karena sakit keras. Amara sangat terpukul, ia tak bisa menerima kepergian buah hatinya. Ia menguburkan Lily di kebun, di bawah pohon melati kesayangan Lily.

Sejak saat itu, Amara mulai kehilangan akal sehatnya. Ia sering terlihat berbicara sendiri, mengenakan gaun hitam setiap hari, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di kebun, di dekat makam putrinya.

Ia menolak makan, menolak tidur, hanya ingin menjaga Lily. Ia bahkan percaya bahwa arwah Lily masih bermain di antara bunga-bunga melati.

Suatu hari, Amara ditemukan tak bernyawa di kebun, tepat di samping makam Lily. Tubuhnya kurus kering, matanya terbuka, seolah masih menatap putrinya. Para tetangga percaya, ia meninggal karena kesedihan yang mendalam.

Buku harian itu berakhir dengan tulisan tangan yang semakin tidak teratur, penuh dengan coretan dan air mata. Kalimat terakhirnya berbunyi: “Aku akan selalu menjagamu, sayangku. Selamanya.”

Arif merasa merinding. Nenek bergaun hitam itu adalah Amara. Ia masih di sana, menjaga makam putrinya, seperti yang ia janjikan.

Keesokan harinya, Arif kembali ke kebun. Ia menemukan gundukan tanah kecil yang ditutupi lumut di bawah pohon melati. Di sanalah Lily beristirahat.

Ia merasakan aura yang berbeda. Kesedihan yang pekat masih ada, namun juga ada semacam ketenangan yang baru. Nenek bergaun hitam tidak terlihat.

Arif memutuskan untuk membersihkan makam Lily. Ia mencabut rumput liar, menata batu-batu kecil, dan menaburkan bunga melati segar yang ia beli dari pasar desa.

Saat ia selesai, sebuah embusan angin dingin menyapanya. Bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin yang menenangkan, seperti sentuhan lembut.

Ia menoleh ke arah pohon melati. Di sana, berdiri nenek bergaun hitam. Kali ini, ia tidak menunjuk atau menatap kosong. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibir keriputnya. Matanya yang dulu kosong kini tampak lebih damai.

Nenek itu mengangguk padanya, sebuah isyarat terima kasih yang tak terucap. Kemudian, perlahan, sosoknya mulai memudar. Bukan menghilang tiba-tiba, tapi seperti kabut yang tersapu angin.

Dalam hitungan detik, ia lenyap sepenuhnya. Kebun itu terasa lebih terang, lebih hangat. Beban berat yang selama ini menggantung di udara seolah terangkat.

Arif tak pernah melihat nenek bergaun hitam lagi. Namun, ia tahu, ia telah menemukan jawabannya. Nenek itu bukan hantu jahat, melainkan seorang ibu yang tak pernah berhenti menjaga anaknya.

Ia melanjutkan menulis di rumah itu. Setiap hari, ia menaburkan bunga melati di makam Lily. Kebun yang dulu menakutkan kini terasa damai, penuh dengan kenangan dan cinta seorang ibu.

Rumah Senyap tidak lagi senyap. Ia kini bernapas dengan kisah Amara, seorang ibu yang menemukan kedamaian setelah bertahun-tahun menjaga putrinya. Dan Arif, ia membawa kisah itu dalam setiap tulisannya, sebagai pengingat akan misteri yang tak selalu menakutkan, melainkan kadang hanya menyembunyikan kesedihan dan cinta yang tak lekang oleh waktu.

Nenek Bergaun Hitam Penunggu Kebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *