Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Sumur Tua di Desa Tegalgondo Menyimpan Rahasia Gelap yang Tak Boleh Diungkap

10
×

Sumur Tua di Desa Tegalgondo Menyimpan Rahasia Gelap yang Tak Boleh Diungkap

Share this article

Sumur Tua di Desa Tegalgondo Menyimpan Rahasia Gelap yang Tak Boleh Diungkap

Bisikan dari Kedalaman: Misteri Penunggu Sumur Tua Tegalgondo

Desa Tegalgondo, tersembunyi di balik perbukitan hijau, selalu diselimuti kabut misteri. Atmosfernya tenang, namun menyimpan rahasia turun-temurun. Sumur tua di ujung desa adalah inti dari semua kisah. Ia telah berdiri di sana ratusan tahun.

Dulu, ia hanya objek dongeng pengantar tidur. Kini, sumur itu pusat ketakutan yang mencekam. Bisikan-bisikan aneh sering terdengar dari kedalamannya. Penduduk enggan mendekat setelah matahari terbenam.

Cerita tentang penunggunya semakin sering beredar. Sosok tak kasat mata yang konon menjaga air purba. Mereka bilang, ia haus, bukan akan air, tapi akan sesuatu yang lain. Kehadirannya kini tak lagi bisa diabaikan.

Rama, seorang pemuda Tegalgondo, awalnya skeptis. Ia menganggap cerita-cerita itu hanya bualan. Namun, serangkaian kejadian aneh mulai menggoyahkan keyakinannya. Sumur itu seolah memanggilnya.

Suatu malam, ternak Pak Karto ditemukan mati di dekat sumur. Matanya melotot, tubuhnya kaku, tanpa luka sedikit pun. Wajah Pak Karto pucat pasi, ia bersumpah mendengar tawa cekikikan dari sumur.

Tak lama setelah itu, Nenek Sari jatuh sakit misterius. Ia terus mengigau tentang bayangan hitam di dasar sumur. Tubuhnya kurus kering, seolah energinya disedot habis. Ketakutan mulai merayapi setiap sudut desa.

Rama mulai merasa penasaran. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut. Ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sumur tua itu seperti magnet baginya.

Ia pertama kali mendekati sumur di siang bolong. Lumut tebal menyelimuti bibirnya, batu-batu kuno tampak rapuh. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, seolah energi kehidupan terserap ke dalamnya.

Rama mencoba mengintip ke dalam. Kedalamannya gelap tak berujung, seperti jurang neraka. Ia merasakan embusan angin dingin naik dari bawah. Sebuah aroma aneh tercium, perpaduan bau tanah basah dan karat.

Beberapa hari kemudian, Rama mendengar cerita dari anak-anak desa. Mereka mengaku melihat pantulan wajah aneh di permukaan air sumur. Wajah itu pucat, mata cekung, dan senyumnya sangat menyeramkan.

Rasa dingin merayapi punggung Rama. Ini bukan lagi sekadar dongeng. Ada sesuatu yang nyata di sana, sesuatu yang mulai menampakkan diri. Tegalgondo tidak lagi aman.

Ia mulai bertanya pada orang-orang tua. Mbah Kromo, tetua desa yang paling dihormati, akhirnya mau bicara. Suaranya bergetar, matanya menerawang jauh. Ia menceritakan legenda kuno.

“Sumur itu bukan hanya sumber air, Nak,” kata Mbah Kromo pelan. “Ia adalah gerbang. Gerbang ke dunia lain, tempat yang tak boleh diganggu.” Wajahnya serius, penuh peringatan.

Mbah Kromo bercerita tentang ritual kuno yang pernah dilakukan di sana. Persembahan untuk menjaga keseimbangan. Namun, ritual itu telah lama ditinggalkan, terlupakan oleh generasi baru.

“Penunggu itu haus, Rama,” lanjut Mbah Kromo. “Haus akan energi, haus akan perhatian. Ia terbangun karena kita melupakannya.” Sebuah firasat buruk merasuki hati Rama.

Rama semakin sering mengunjungi sumur. Tidak lagi di siang bolong, tapi saat senja. Ia ingin merasakan sendiri energi misterius itu. Ingin membuktikan keberadaan sang penunggu.

Suatu sore, saat matahari mulai terbenam, Rama duduk di tepi sumur. Suasana hening mencekam. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian. Lalu, ia mendengarnya.

Bisikan. Sangat pelan, hampir tak terdengar. Seperti desiran angin, namun membawa kata-kata. “Datanglah… lebih dekat…” Suara itu dingin, namun memikat.

Jantung Rama berdebar kencang. Ia tahu itu bukan khayalannya. Bisikan itu nyata, langsung masuk ke dalam pikirannya. Ia merasakan tarikan aneh menuju kedalaman sumur.

Ia menahan diri untuk tidak mendekat. Lalu, ia melihatnya. Di permukaan air yang gelap, sebuah riak kecil muncul. Bentuknya aneh, seperti jari-jari yang panjang dan kurus.

Riak itu membesar, membentuk bayangan samar. Bukan pantulan awan, melainkan siluet. Seperti sosok manusia yang tenggelam, bergerak lambat di bawah permukaan air.

Rama merasa merinding. Ia buru-buru menjauh dari sumur. Namun, bisikan itu terus mengikutinya. “Kau akan kembali… kau akan kembali…”

Malam-malam berikutnya, Rama tak bisa tidur nyenyak. Bayangan di sumur dan bisikan itu menghantuinya. Ia merasa diawasi, bahkan di dalam kamarnya sendiri.

Pernah suatu malam, ia terbangun karena suara gemercik air di dalam rumahnya. Ia mencari sumber suara, namun tak ada apa-apa. Hatinya mencelos, itu suara dari sumur.

Ketakutan itu kini pribadi. Rama tahu ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa lari dari takdir ini. Ia harus menghadapi penunggu sumur itu, entah bagaimana caranya.

Ia kembali menemui Mbah Kromo. Ia menceritakan semua pengalamannya. Mbah Kromo mendengarkan dengan seksama, wajahnya semakin keriput oleh kekhawatiran.

“Ia memilihmu, Rama,” kata Mbah Kromo lirih. “Ia ingin kau mendekat. Ia ingin kau menjadi bagian dari dirinya.” Kata-kata itu menusuk jantung Rama.

Mbah Kromo menjelaskan bahwa penunggu itu adalah entitas kuno. Ia bukan hantu, melainkan roh elemental yang terikat pada air dan tanah. Ia haus akan kesadaran, akan ingatan.

“Ia menyerap energi dari orang-orang yang mendekat,” jelas Mbah Kromo. “Semakin kau mendekat, semakin kuat ia. Semakin kau takut, semakin ia senang.”

Rama bertanya, apa yang harus ia lakukan? Mbah Kromo hanya menggeleng. “Tidak ada yang bisa dilakukan. Ia telah terbangun. Kita hanya bisa berharap ia puas dengan apa yang sudah ia dapat.”

Namun, Rama tidak menyerah. Ia mencari cara lain. Ia membaca buku-buku lama, bertanya pada dukun desa sebelah. Ia ingin menemukan kelemahan sang penunggu.

Ia menemukan sebuah catatan kuno yang samar. Konon, penunggu sumur hanya bisa ditenangkan dengan “persembahan dari hati yang tulus.” Maknanya tidak jelas.

Suatu malam, Rama memutuskan untuk kembali ke sumur. Kali ini, ia membawa sebuah lentera dan tekad bulat. Ia harus mengakhiri teror ini, atau setidaknya memahaminya.

Hujan rintik-rintik mulai turun. Suasana semakin mencekam. Pepohonan di sekitar sumur tampak seperti bayangan menari. Aroma karat dan lumut semakin pekat.

Rama menyalakan lentera. Cahayanya yang redup hanya menambah kesan horor. Ia mendekati bibir sumur, jantungnya berdebar tak karuan. Bisikan itu kembali, kini lebih jelas.

“Kau datang… akhirnya…” Suara itu terdengar seperti ribuan suara yang tumpang tindih. Rama bisa merasakan dinginnya merayap di kulitnya, menembus tulang.

Ia melihat ke dalam sumur. Airnya hitam pekat, namun di tengahnya, sebuah cahaya samar berdenyut. Cahaya itu bukan dari lentera, melainkan dari kedalaman.

Kemudian, sesuatu muncul. Perlahan, sangat perlahan. Bukan wujud utuh, melainkan gumpalan kegelapan yang bergerak. Bentuknya berubah-ubah, seperti kabut yang hidup.

Kadang ia terlihat seperti tangan kurus yang mencoba meraih. Kadang seperti sepasang mata merah yang menatap tajam. Ia tidak memiliki bentuk yang pasti, hanya kengerian yang abstrak.

Rama merasakan energi di sekitarnya tersedot. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas. Ketakutan yang tak tertahankan mencekiknya. Ia ingin lari, namun kakinya terpaku.

Bisikan itu kini berteriak di telinganya. “Berikan padaku… Berikan aku ingatanmu… jiwamu…” Suara itu menusuk, merobek batin Rama.

Rama menutup matanya erat. Ia teringat kata-kata Mbah Kromo: “Persembahan dari hati yang tulus.” Apa artinya? Apa yang bisa ia berikan?

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Kenangan terindah dalam hidupnya. Masa kecilnya, tawa ibunya, kehangatan keluarga. Ia memegang erat kenangan itu di benaknya.

Dengan sisa kekuatannya, Rama membuka mata. Ia menatap gumpalan kegelapan itu. Ia berteriak, bukan karena takut, tapi karena tekad. “Aku tidak akan memberikannya padamu!”

Ia mengangkat lentera tinggi-tinggi. Cahayanya bergetar, namun Rama fokus. Ia memproyeksikan semua kenangan indahnya, semua kebahagiaan yang ia miliki, ke arah sumur.

Bukan sebagai persembahan, tapi sebagai perlawanan. Ia tidak memberikan ketakutan, melainkan kekuatan. Ia membanjiri kegelapan dengan cahaya kehidupannya.

Gumpalan kegelapan di sumur itu tampak bergetar. Bisikan itu berubah menjadi raungan frustrasi. Cahaya di dasar sumur meredup, lalu padam sepenuhnya.

Rama terhuyung mundur. Energi yang tadi menyedotnya kini terasa seperti gelombang kejutan. Ia ambruk di tanah, terengah-engah. Sumur itu kini hening.

Kegelapan kembali menyelimuti sumur. Tidak ada lagi bisikan, tidak ada lagi riak. Hanya keheningan yang dalam, seolah penunggu itu kembali tertidur. Atau mungkin, marah.

Rama berhasil kembali ke desanya. Ia tidak menceritakan detail kejadian itu pada siapa pun. Apa yang ia alami terlalu pribadi, terlalu menakutkan untuk dibagikan.

Desa Tegalgondo kembali tenang, setidaknya di permukaan. Tidak ada lagi ternak yang mati, tidak ada lagi yang sakit misterius. Namun, ketakutan itu tidak pernah hilang.

Sumur tua itu tetap berdiri di ujung desa, diselimuti lumut dan misteri. Tak ada yang berani mendekatinya lagi, bahkan di siang hari. Ia menjadi monumen peringatan.

Rama sendiri tidak pernah sama. Ia tahu apa yang tersembunyi di kedalaman sumur itu. Ia merasakan kehadiran yang dingin, yang menunggu.

Bisikan itu sesekali masih terngiang di telinganya, sebuah janji mengerikan. “Kau akan kembali… dan kali berikutnya, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan…”

Misteri penunggu sumur tua Tegalgondo tidak pernah terpecahkan. Ia hanya kembali ke dalam bayangan, menunggu saat yang tepat untuk bangkit lagi. Dan Rama tahu, saat itu pasti akan datang.

Penunggu Sumur Tua di Desa Tegalgondo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *