Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Mereka Bilang Jangan Lewat Lintasan Itu Setelah Maghrib — Kini Aku Tahu Alasannya

10
×

Mereka Bilang Jangan Lewat Lintasan Itu Setelah Maghrib — Kini Aku Tahu Alasannya

Share this article

Mereka Bilang Jangan Lewat Lintasan Itu Setelah Maghrib — Kini Aku Tahu Alasannya

Lintasan Sepeda yang Tak Pernah Henti

Desas-desus tentangnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Sebuah lintasan sepeda, tersembunyi jauh di dalam hutan, yang konon tidak memiliki awal maupun akhir. Hanya legenda samar, cerita rakyat yang disebarkan dari mulut ke mulut.

Namun, beberapa orang bersumpah pernah melihatnya. Mereka berbicara tentang kabut abadi yang melingkupinya, dan siluet-siluet pengendara yang tak pernah berhenti mengayuh. Sebuah misteri yang menggoda, terlalu aneh untuk diabaikan begitu saja.

Alex, seorang jurnalis lepas yang gemar menyelami kisah-kisah aneh, tergelitik oleh cerita ini. Ia memutuskan untuk mencari kebenaran di balik legenda Lintasan Abadi itu. Berbekal peta tua dan beberapa petunjuk samar, ia memulai perjalanannya.

Setelah berhari-hari menyusuri hutan belantara yang lebat, Alex akhirnya menemukan sesuatu. Bukan jalan setapak, melainkan sebidang aspal kelabu yang memudar, diselimuti kabut tipis yang tak pernah sirna. Aromanya aneh, seperti ozon bercampur lumut basah.

Lintasan itu membentang lurus ke depan, menghilang ke dalam kepekatan kabut di kejauhan. Ke kanan dan ke kiri, lintasan itu sama-sama lenyap ditelan dinding pepohonan dan kabut. Seolah lintasan itu muncul entah dari mana, dan takkan berakhir.

Tak lama kemudian, sebuah suara samar terdengar. Decit rantai, deru ban bergesekan dengan aspal. Dari balik kabut, muncullah siluet pertama. Seorang pengendara sepeda, membungkuk di atas stang, mengayuh dengan ritme monoton.

Alex bersembunyi di balik semak-semak, jantungnya berdegup kencang. Pengendara itu melintas di depannya. Wajahnya pucat pasi, tanpa ekspresi. Matanya kosong, tak memancarkan emosi. Seolah semua kehidupan telah terkuras habis.

Satu demi satu, pengendara lain muncul. Pria, wanita, bahkan beberapa tampak seperti remaja. Mereka semua memiliki karakteristik yang sama: mata hampa, wajah kurus, dan gerakan mengayuh yang nyaris mekanis. Tak ada yang berbicara, tak ada yang saling memandang.

Mereka hanya terus mengayuh, seolah dipaksa oleh kekuatan tak terlihat. Alex mengamati selama berjam-jam. Tak ada yang berhenti untuk beristirahat. Tak ada yang minum atau makan. Mereka terus bergerak, tanpa henti, tanpa lelah.

Matahari mulai condong, namun kabut di lintasan tetap tebal, tak terpengaruh. Alex merasakan hawa dingin yang menusuk, jauh lebih dalam dari dinginnya hutan biasa. Ada sesuatu yang salah, sangat salah, dengan tempat ini.

Ia mencoba berteriak, memanggil salah satu pengendara. Suaranya tenggelam dalam keheningan aneh yang melingkupi lintasan. Pengendara itu tak menoleh, tak menunjukkan reaksi apapun. Mereka seolah tuli, hanya fokus pada kayuhan mereka.

Malam tiba. Alex mendirikan tenda tak jauh dari lintasan, namun ia tak bisa tidur. Suara decit rantai dan deru ban terus menghantuinya. Sesekali, ia melihat bayangan melintas di balik kabut, para pengendara yang tak pernah lelah itu.

Pagi harinya, ia memutuskan untuk menjelajahi lintasan itu sendiri. Ia berjalan beberapa kilometer ke satu arah, lalu ke arah lain. Lintasan itu memang tak berujung. Ia tak menemukan awal atau akhir, hanya aspal yang terus membentang.

Ia bahkan mencoba menempelkan alat rekam suara kecil pada salah satu sepeda yang lewat. Namun, ketika ia memeriksanya kembali, hanya ada statis. Seolah keberadaan mereka sendiri menolak untuk direkam, diabadikan.

Kembali ke desa terdekat, Alex mencari informasi lebih lanjut. Ia mengunjungi perpustakaan desa, menggali arsip-arsip lama. Ia menemukan beberapa laporan polisi yang hilang, tentang orang-orang yang lenyap di sekitar area hutan itu.

Sebuah artikel koran tua tahun 1950-an menceritakan tentang hilangnya sekelompok pesepeda amatir. Mereka pergi untuk menjelajahi hutan dan tak pernah kembali. Penjelasan resminya adalah tersesat, namun ada catatan samar tentang “tempat yang tak seharusnya ada”.

Alex juga menemui seorang tetua desa, Kakek Harun, yang dikenal sebagai penjaga cerita-cerita lama. Kakek Harun menatap Alex dengan mata berkaca-kaca saat Alex menyebut Lintasan Abadi. “Jangan dekati tempat itu, Nak,” bisiknya.

“Itu bukan lintasan biasa. Itu adalah jebakan. Sebuah penjara bagi jiwa-jiwa yang terperangkap dalam obsesi.” Kakek Harun menjelaskan bahwa lintasan itu konon muncul setelah sebuah tragedi besar, puluhan tahun lalu.

Dahulu, ada sekelompok pesepeda fanatik yang terobsesi untuk menaklukkan setiap tantangan. Mereka ingin membangun lintasan terpanjang, yang tak pernah berakhir. Ambisi mereka melampaui batas, menyentuh sesuatu yang seharusnya tak disentuh.

Konon, mereka membuat perjanjian dengan entitas kuno hutan. Sebagai gantinya, lintasan mereka akan menjadi abadi, tak pernah putus. Namun, ada harga yang harus dibayar: mereka sendiri akan menjadi bagian dari keabadian itu.

Mereka akan mengayuh selamanya, terjebak dalam siklus tanpa akhir, tanpa tujuan, tanpa istirahat. Jiwa mereka terikat pada lintasan, menjadi bagian dari mesin yang terus bergerak itu. Sebuah kutukan abadi yang terwujud.

Alex merasa merinding. Kisah Kakek Harun terdengar gila, namun itu adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal untuk apa yang ia lihat. Para pengendara itu bukan manusia lagi, melainkan bayangan dari diri mereka yang dulu.

Ia kembali ke lintasan, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Bukan lagi rasa ingin tahu, melainkan ketakutan. Ia melihat sebuah sepeda tergeletak di pinggir lintasan, tampak lebih tua dan berkarat dari yang lain. Sepeda itu kosong.

Apakah ada yang berhasil melarikan diri? Atau apakah sepeda itu milik seseorang yang baru saja bergabung dengan barisan? Tiba-tiba, ia merasakan tarikan aneh. Bukan fisik, melainkan sesuatu yang merayap di dalam benaknya.

Sebuah bisikan lembut, nyaris tak terdengar, memanggil namanya. Bisikan itu menjanjikan kebebasan, pelepasan dari kekhawatiran dunia. Sebuah janji untuk tak pernah merasa lelah lagi, untuk terus bergerak tanpa beban.

Alex mundur selangkah, namun kakinya terasa berat. Ia merasakan dorongan kuat untuk melangkah ke atas lintasan, untuk mengambil sepeda kosong itu, dan bergabung dengan para pengendara yang tak henti-hentinya itu.

Ia melihat wajah-wajah para pengendara itu lebih dekat. Dalam mata kosong mereka, ia seperti melihat pantulan dirinya sendiri. Sebuah janji keabadian yang mengerikan, sebuah akhir dari segala perjuangan.

Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia harus melarikan diri. Kekuatan lintasan itu, energi yang memenjarakan para pengendara itu, mulai merasuki dirinya. Ia bisa merasakan kelelahan duniawi lenyap, digantikan oleh dorongan untuk terus maju.

Dengan sisa tenaga terakhir, ia membalikkan badan dan lari. Ia berlari tanpa henti, menembus semak belukar, tak peduli pada ranting yang mencabik kulitnya. Ia hanya ingin sejauh mungkin dari lintasan terkutuk itu.

Ia terus berlari hingga kakinya terasa lumpuh dan paru-parunya terbakar. Ketika ia akhirnya tersandung dan jatuh, ia melihat ke belakang. Kabut tebal masih melayang di antara pepohonan, menyembunyikan misteri yang abadi.

Lintasan itu tetap ada. Para pengendara itu masih mengayuh, tak terpengaruh oleh apapun. Mereka adalah bayangan yang terperangkap, pengingat akan ambisi yang salah tempat, dan janji keabadian yang berubah menjadi kutukan.

Alex tak pernah lagi mendekati hutan itu. Ia mencoba menulis kisahnya, namun tak ada penerbit yang mau memercayainya. Mereka menyebutnya khayalan, efek dari stres atau delusi.

Namun, Alex tahu kebenarannya. Ia masih bisa merasakan bisikan itu di malam hari, tarikan lembut yang memanggilnya kembali. Ia melihat sepeda kosong itu dalam mimpi-mimpinya, menunggu untuk diisi.

Ia tahu bahwa Lintasan Abadi itu masih ada. Mengayuh dalam keheningan, menunggu korban berikutnya. Dan terkadang, di tengah malam yang sunyi, ia bersumpah bisa mendengar suara samar deru ban dan decit rantai, bergema dari kejauhan.

Sebuah melodi mengerikan dari keabadian yang terkutuk, yang akan terus berputar, selamanya. Dan Alex, meskipun selamat, tahu bahwa sebagian dari dirinya telah selamanya terikat pada misteri Lintasan Sepeda yang Tak Pernah Henti itu.

Lintasan Sepeda yang Tak Pernah Henti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *