Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Sosok Berkebaya Itu Selalu Muncul di Tengah Kebun — Selalu Menghadapku

10
×

Sosok Berkebaya Itu Selalu Muncul di Tengah Kebun — Selalu Menghadapku

Share this article

Sosok Berkebaya Itu Selalu Muncul di Tengah Kebun — Selalu Menghadapku

Bisikan di Lautan Hijau: Misteri Sosok Berkebaya di Kebun Tebu

Angin berbisik pelan di antara jajaran batang tebu yang menjulang. Siang itu, terik matahari tak mampu mengusir hawa dingin yang merayap di kulit. Arif, seorang jurnalis investigasi, melangkah masuk lebih dalam, mencari jejak sebuah cerita yang tak terungkap.

Ia datang ke dusun terpencil ini demi sebuah laporan tentang industri gula yang hampir punah. Namun, bisik-bisik warga tentang “sosok penunggu” kebun tebu tua itu justru menarik perhatiannya lebih kuat. Rasa penasaran mengalahkan segala ketakutan.

Pertama kali ia melihatnya adalah sekelebat bayangan. Di antara dedaunan lebat, seorang wanita berdiri. Kebaya klasik berwarna gelap membalut tubuhnya, rambutnya tergerai panjang, dan ia membelakangi Arif.

Jantung Arif berdebar kencang, bukan karena terkejut, melainkan karena keindahan dan keanehan pemandangan itu. Ia mengira itu hanya pekerja kebun. Namun, tak ada petani yang bekerja sendirian di tengah kebun sebesar ini.

Ia memanggil, “Permisi!” Suaranya serak ditelan luasnya kebun. Sosok itu tak bergerak, seolah membeku. Arif melangkah maju, ingin mendekat, ingin memastikan.

Tiba-tiba, angin bertiup kencang, menggoyangkan batang-batang tebu dengan brutal. Suara gemerisik daun menjadi deru badai yang memekakkan telinga. Saat pandangan Arif kembali jernih, sosok berkebaya itu telah lenyap.

Lenyap begitu saja, seolah tak pernah ada. Hanya meninggalkan semerbak wangi melati yang samar, menusuk hidung Arif di tengah bau tanah dan manis tebu. Sebuah keanehan yang menggelitik nalar.

Malam harinya, di gubuk sewaan yang remang, Arif membuka kembali catatan penelitiannya. Ia mencoba mencari kaitan antara kebun tebu dan cerita misteri. Warga desa selalu menghindari topik ini dengan tatapan nanar.

“Jangan pernah masuk ke sana saat senja tiba, Mas,” ujar seorang sesepuh desa dengan suara bergetar. “Ada yang tidak ingin ditemukan di dalam sana.” Kata-kata itu berputar-putar di benak Arif.

Keesokan paginya, Arif kembali. Bukan untuk wawancara, melainkan untuk mencari sosok itu. Ia berjalan lebih hati-hati, pandangannya menyapu setiap celah di antara rumpun tebu. Hawa dingin masih menyelimuti.

Kali ini, sosok itu muncul lagi. Lebih dekat, lebih jelas. Wanita itu berdiri di tengah lorong sempit yang terbentuk oleh batang-batang tebu. Kepalanya menunduk, seolah sedang mencari sesuatu.

Arif merasa merinding. Ia yakin kali ini bukan ilusi. Ada sesuatu yang nyata, namun tidak masuk akal. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai rasa takut yang mulai merayapi punggungnya.

Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Rambut panjangnya sedikit tersibak. Mata Arif membelalak. Wajah itu pucat pasi, nyaris transparan, dengan sorot mata yang kosong dan penuh duka.

Bukan hanya itu, ada tetesan merah samar di sudut kebaya putihnya. Bukan merah darah segar, melainkan noda lama yang mengering, seolah menjadi saksi bisu sebuah peristiwa mengerikan yang pernah terjadi.

Arif terdiam, terpaku di tempatnya. Wanita itu tidak bergerak, hanya menatapnya dengan pandangan hampa. Ada sebuah kesedihan mendalam terpancar dari matanya yang legam.

Lalu, perlahan, wanita itu mengangkat tangannya yang kurus. Jari telunjuknya menunjuk ke suatu arah, lebih dalam lagi ke jantung kebun tebu. Seolah memberi petunjuk, sebuah isyarat tanpa suara.

Detik berikutnya, ia kembali menghilang. Seperti embun yang menguap di bawah sinar matahari. Hanya wangi melati yang kini lebih kuat, menusuk, membuat kepala Arif sedikit pening.

Arif memberanikan diri mengikuti arah yang ditunjuk. Langkahnya berat, dipenuhi campuran rasa ingin tahu dan ketakutan yang mencekam. Setiap hembusan angin seolah bisikan gaib.

Ia menemukan sebuah jalan setapak yang nyaris tertutup rimbunnya tebu. Jalan itu mengarah ke sebuah gundukan tanah kecil. Sebuah tempat yang terlihat seperti kuburan tanpa nisan.

Di sana, di atas gundukan itu, tergeletak sebuah selendang sutra tua berwarna senada dengan kebaya yang dikenakan sosok itu. Kain itu terlihat lapuk, namun masih tercium samar aroma melati.

Tepat di samping selendang, ia melihat sebuah liontin perak kuno. Berbentuk hati, dengan ukiran nama yang nyaris tak terbaca: “Kartika”. Sebuah nama yang pernah ia dengar dalam bisikan warga.

Kartika, seorang gadis desa yang menghilang puluhan tahun lalu. Dikatakan ia jatuh cinta pada seorang saudagar kaya, namun kemudian raib tak berbekas setelah menolak lamaran pria lain. Kisah itu tenggelam dalam legenda.

Arif menyadari, sosok berkebaya itu adalah Kartika. Arwahnya, yang terjebak di antara dimensi, mencoba mengungkapkan kebenaran yang terkubur. Ia ingin keadilan, ia ingin ditemukan.

Ia menggali perlahan dengan tangan kosong. Tanah itu gembur, seolah baru saja dipadatkan. Aroma busuk yang menusuk hidung mulai tercium, bercampur dengan wangi melati.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan kerangka manusia. Terkubur dangkal, di bawah gundukan yang ditunjuk oleh sosok berkebaya. Kerangka itu masih mengenakan sisa-sisa kebaya yang sama.

Tubuh Arif gemetar. Misteri puluhan tahun itu kini terkuak di hadapannya. Kartika bukan menghilang, ia dibunuh. Dikubur di tengah kebun tebu yang sunyi, jauh dari mata manusia.

Ia menghubungi pihak berwenang. Penemuan ini mengguncang dusun. Penyelidikan kembali dibuka, dan kebenaran mulai terungkap satu per satu. Pembunuhnya adalah pria yang lamarannya ditolak.

Setelah kasus itu terungkap, Arif kembali ke kebun tebu. Ia berdiri di tempat di mana sosok berkebaya itu selalu muncul. Ia ingin mengucapkan terima kasih.

Angin bertiup lembut, tidak lagi bergemuruh. Aroma melati yang kini terasa damai. Ia tidak melihat sosok Kartika lagi. Sepertinya, jiwanya akhirnya menemukan ketenangan.

Namun, kebun tebun itu tidak lagi sama bagi Arif. Setiap kali angin berbisik di antara jajaran tebu, ia merasa seolah ada rahasia lain yang tersembunyi. Misteri yang takkan pernah terungkap sepenuhnya.

Meskipun kebenaran telah terkuak, bayangan sosok berkebaya itu tetap menghantui ingatannya. Sebuah pengingat bahwa di balik keindahan alam, seringkali tersembunyi cerita-cerita kelam yang menunggu untuk ditemukan.

Dan di tengah lautan hijau yang membentang luas itu, bisikan angin seolah masih membawa cerita-cerita lama. Kisah tentang cinta yang dikhianati, keadilan yang tertunda, dan arwah yang mencari kedamaian abadi.

Sosok Berkebaya Itu Selalu Muncul di Tengah Kebun — Selalu Menghadapku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *