Di sudut loteng yang berdebu, tersembunyi di balik tumpukan kain usang dan furnitur tua, Anya menemukan lemari kayu mahoni yang megah. Permukaan gelapnya tertutup lapisan debu tebal, menyembunyikan detail ukirannya yang rumit dan misterius.
Lemari itu tampak begitu asing, seolah bukan bagian dari rumah warisan yang baru saja ia tempati. Di balik pintu kacanya yang kusam, sebuah siluet kecil menarik perhatian Anya.
Jantungnya berdebar kencang saat menyadari itu adalah sebuah boneka. Boneka kuno, dengan gaun renda yang lusuh dan rambut gimbal tergerai, duduk tegak di bangku mini, matanya terbuat dari kaca yang kosong menatap lurus ke depan.
Senyum beku terukir di wajah porselennya yang retak, memberikan kesan yang anehnya mengganggu. Anya merasakan hawa dingin merayap di lengannya, meskipun loteng itu pengap dan panas.
Ia mencoba pegangan lemari, namun terkunci rapat. Tidak ada kunci yang terlihat, dan rasa penasaran bercampur kegelisahan mulai menyelimutinya. Boneka itu, seolah, tidak ingin dilihat, tidak ingin disentuh.
Malam itu, mimpi aneh mulai menghampiri Anya. Ia melihat dirinya di sebuah ruangan gelap, mendengar bisikan samar, dan merasakan tatapan dingin dari mata kaca yang tak berkedip. Setiap kali ia terbangun, bayangan boneka itu masih melekat di benaknya.
Beberapa hari berikutnya, Anya sering mendapati dirinya tanpa sadar berjalan ke loteng. Ia mencoba berbagai kunci lama yang ia temukan di laci-laci, berharap salah satunya cocok, namun tidak ada yang berhasil.
Boneka itu tetap terkurung, matanya yang kosong seolah mengawasinya dari balik kaca buram. Anya mulai merasa seolah boneka itu bergerak, bergeser sedikit dari posisinya setiap kali ia pergi dan kembali.
Awalnya ia mengira itu hanya imajinasinya, efek dari kurang tidur dan pikiran yang terlalu banyak. Namun, keraguan itu tumbuh menjadi keyakinan yang mengganggu.
Ia bahkan pernah bersumpah melihat pantulan kecil cahaya dari mata kaca boneka itu, seolah ada percikan kehidupan di dalamnya, sebelum lenyap dalam sekejap mata.
Kegelisahan Anya semakin menjadi. Ia mulai mencari tahu tentang sejarah rumah ini dan penghuni sebelumnya. Di tumpukan buku tua di perpustakaan, ia menemukan sebuah jurnal usang tanpa nama penulis.
Jurnal itu menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Elara, yang tinggal di rumah ini pada akhir abad ke-19. Elara adalah anak tunggal, kesepian, dan memiliki keterikatan yang sangat kuat pada sebuah boneka porselen.
Namun, bagian-bagian selanjutnya dari jurnal itu semakin gelap. Ada catatan tentang Elara yang jatuh sakit misterius, tentang bisikan-bisikan yang ia dengar, dan tentang bonekanya yang “berbicara” kepadanya.
Orang tuanya, yang putus asa, memutuskan untuk “mengunci Elara dengan mainannya” agar roh jahat yang mengganggu putrinya tidak bisa keluar. Jurnal itu berakhir tiba-tiba, dengan coretan tangan yang tak terbaca dan noda samar yang tampak seperti air mata.
Anya merasakan tenggorokannya tercekat. Mungkinkah boneka di lemari itu adalah boneka Elara? Mungkinkah itu bukan hanya mainan, melainkan wadah bagi sesuatu yang lain?
Ia kembali ke loteng, kali ini dengan senter dan perasaan yang jauh lebih tegang. Cahaya senter menyoroti lemari, dan mata boneka itu tampak berkilau aneh dalam kegelapan.
Anya memeriksa setiap sudut lemari, mencari petunjuk. Di bagian bawah, terukir sangat kecil, ia menemukan inisial “E.M.” dan sebuah tanggal yang sangat tua. Elara.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Boneka itu tidak boleh dikurung selamanya, bukan? Tapi apa risikonya jika ia membebaskannya?
Malam itu, mimpi Anya semakin intens. Ia melihat Elara, seorang gadis kecil pucat, duduk di hadapannya, memeluk boneka yang sama. Wajah Elara tampak sedih, matanya berkaca-kaca, dan bisikan “Bebaskan aku…” terngiang di telinganya.
Anya terbangun dengan napas terengah-engah. Ia tahu ia harus menemukan kunci itu. Perasaan itu bukan lagi sekadar penasaran, melainkan sebuah dorongan kuat, seolah boneka itu memanggilnya.
Ia kembali ke jurnal. Membacanya berulang kali, mencari petunjuk tersembunyi. Di bagian terakhir yang tidak terbaca, ia melihat sebuah sketsa kecil, samar-samar, sebuah locket yang tersembunyi di balik dinding.
Locket? Anya teringat sebuah locket tua yang ia temukan di saku gaun pengantin neneknya yang tersimpan di peti. Ia segera mencarinya, jantungnya berpacu dengan harapan.
Di dalam locket perak yang berkarat itu, tersembunyi sebuah kunci kecil, antik, dan berukiran rumit. Kunci itu terasa dingin di tangannya, seolah menyimpan rahasia berabad-abad.
Dengan tangan gemetar, Anya kembali ke loteng. Malam telah tiba, dan bayangan-bayangan menari di dinding, membuat boneka itu tampak semakin hidup dan menakutkan.
Ia mendekati lemari, kunci di tangannya terasa berat. Setiap langkah yang ia ambil terasa memakan waktu yang lama. Bau apak di loteng semakin pekat, seolah lemari itu memancarkan aroma masa lalu.
Anya memasukkan kunci ke lubang kunci. Terdengar bunyi klik pelan, menusuk kesunyian malam. Jantungnya terasa berhenti berdetak.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Perlahan, ia membuka pintu lemari.
Cahaya senter menyinari interior lemari. Boneka itu masih duduk di sana, gaunnya yang lusuh tampak lebih gelap dalam kegelapan. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Di pangkuan boneka itu, sebuah gulungan perkamen kecil terikat pita sutra yang memudar. Anya meraihnya dengan tangan gemetar.
Ia membuka gulungan itu. Tulisan tangan yang nyaris tak terbaca, namun jelas: “Dia terkunci, bukan untuk menghukumnya, tapi untuk melindungi kita dari apa yang merasukinya. Rohnya terikat pada mainannya. Jangan pernah lepaskan dia.”
Di bawah catatan itu, tertera sebuah tanggal yang sama dengan kematian Elara. Anya menatap boneka itu lagi, matanya yang kosong kini terasa lebih dingin dan dalam.
Boneka itu bukan hanya boneka. Ia adalah penjaga, atau mungkin, penjara. Anya merasakan beban berat di dadanya. Ia telah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.
Ia menutup kembali lemari itu, menguncinya dengan kunci yang sama. Suara klik kali ini terasa final, namun tidak memberikan kelegaan.
Malam-malam berikutnya, Anya tidak lagi bermimpi tentang Elara. Namun, ia sering mendengar bisikan samar dari loteng, suara tawa anak kecil yang melengking, dan terkadang, ia bersumpah melihat siluet kecil berdiri di ujung koridor.
Boneka kuno di lemari terkunci itu kini bukan lagi sekadar objek misteri. Ia adalah pengingat akan masa lalu yang tersembunyi, sebuah rahasia yang telah Anya lepaskan.
Dan di setiap malam yang sunyi, Anya tidak bisa tidak bertanya-tanya: Siapa yang sebenarnya terkunci di dalam lemari itu? Boneka itu, Elara, ataukah sesuatu yang lain yang telah menunggu begitu lama untuk dibebaskan?
Ia tahu, rumah itu tidak lagi hanya miliknya. Ada kehadiran lain, yang terjaga, yang mengamati dari balik kaca kusam lemari di loteng, menunggu saat yang tepat. Dan kunci itu, kini selalu ia simpan di bawah bantalnya.





