Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Jangan Menoleh Jika Melihat Cahaya Merah di Persawahan Wedi

12
×

Jangan Menoleh Jika Melihat Cahaya Merah di Persawahan Wedi

Share this article

Jangan Menoleh Jika Melihat Cahaya Merah di Persawahan Wedi

Mata Merah di Persawahan Wedi: Bisikan Horor dari Kegelapan

Di balik tirai senja yang memudar, persawahan Wedi terhampar luas, menelan cahaya terakhir mentari. Siang hari, hamparan hijau ini adalah jantung kehidupan desa, denyut nadi yang menopang harapan. Namun, begitu malam tiba, keindahan itu berubah menjadi kanvas hitam yang menakutkan, menyimpan rahasia kelam yang mulai menguak.

Awalnya hanya bisikan, desas-desus yang menyebar di warung kopi dan pinggir jalan. Para petani, yang terbiasa dengan kesunyian malam, mulai melaporkan penampakan aneh. Sepasang mata merah, seperti bara api yang membara di kegelapan pekat, muncul dan menghilang tanpa jejak di antara rumpun padi.

Petani pertama yang melihatnya adalah Pak Karta. Ia sedang membetulkan irigasi di tengah malam saat sepasang mata itu menatapnya tajam dari kejauhan. Bukan mata hewan, katanya, bukan pula pantulan cahaya. Mata itu terlalu besar, terlalu intens, dan memancarkan aura dingin yang menusuk tulang.

Ketakutan mulai merayap pelan, seperti kabut tebal yang menyelimuti persawahan. Warga desa yang awalnya skeptis, mulai merasakan kegelisahan. Semakin banyak laporan bermunculan, dari berbagai sudut sawah, dari petani yang berbeda-beda. Mata merah itu seperti hantu, mengintai tanpa suara.

Suara gemerisik padi yang tertiup angin kini terdengar seperti langkah kaki yang mendekat. Setiap bayangan adalah ancaman, setiap hembusan napas terasa seperti bisikan dari entitas tak kasat mata. Tidur malam menjadi barang mewah bagi para petani Wedi.

Mata merah itu semakin berani. Tidak hanya di kejauhan, terkadang mereka muncul hanya beberapa meter dari pengamat. Tatapannya menusuk, seolah menelanjangi jiwa, menguras keberanian hingga tetes terakhir. Beberapa petani bahkan mengaku mendengar suara lirih, seperti bisikan kuno yang tak dimengerti.

Ternak-ternak ditemukan mati secara misterius, tanpa luka yang jelas, hanya ekspresi ketakutan yang menganga di wajah mereka. Ada pula kejadian di mana hasil panen tiba-tiba layu dalam semalam, padahal sebelumnya subur. Desa Wedi tercekam oleh teror yang tak kasat mata.

Seorang pemuda bernama Bima, yang baru pulang dari kota, awalnya tak percaya. Ia menganggapnya takhayul atau ulah iseng. Dengan keberanian yang membabi buta, ia memutuskan untuk membuktikan bahwa semua itu hanyalah bualan. Malam itu, ia membawa senter dan kamera, menuju ke tengah sawah.

Kegelapan malam di persawahan terasa berbeda dari kota. Lebih pekat, lebih sunyi, dan lebih menekan. Angin dingin berdesir, memainkan daun padi hingga menghasilkan suara gemerisik yang menyerupai bisikan. Bima mencoba menepis ketakutan yang mulai merayap di benaknya.

Ia berjalan terus, melewati pematang yang licin dan berlumpur. Senter di tangannya menari-nari, membelah kegelapan. Tidak ada apa-apa, pikirnya. Hanya angin dan imajinasi liar para petani. Ia mulai merasa konyol karena telah terbawa suasana.

Tiba-tiba, senternya mati. Gelap total. Jantung Bima berdegup kencang. Ia mencoba menyalakannya lagi, namun sia-sia. Dalam kepanikan, ia mendengar suara gemerisik tepat di belakangnya. Bukan gemerisik padi, tapi seperti langkah kaki yang menyeret.

Lalu, di kejauhan, sepasang mata merah menyala. Lebih terang, lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Mata itu bergerak perlahan, seolah mengawasinya. Bima terpaku, tubuhnya kaku, terperangkap dalam teror yang nyata.

Mata itu mendekat, perlahan namun pasti. Cahaya merahnya membesar, mengisi sebagian besar pandangannya. Ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa, seolah-olah seluruh kehangatan di tubuhnya diisap habis. Bisikan itu kembali, kali ini lebih jelas, memanggil namanya.

Bima tak sanggup lagi menahan. Ia berteriak sekuat tenaga, lalu berlari sekencang-kencangnya, tanpa peduli arah. Ia tersandung, jatuh bangun, lumpur menempel di sekujur tubuhnya. Mata merah itu mengejarnya, bayangan hitamnya membayang di belakangnya.

Ia berhasil mencapai batas desa, terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Sejak malam itu, Bima tak pernah lagi berani menginjakkan kaki di persawahan saat gelap. Kesaksiannya menambah daftar panjang cerita horor yang menyelimuti Wedi.

Orang tua desa mulai berbisik tentang legenda kuno. Konon, dahulu kala, ada sebuah perjanjian yang dilanggar di tanah itu. Entitas penjaga yang murka, atau arwah penasaran yang tak tenang, kini kembali menuntut haknya. Mata merah itu adalah wujud kemarahan mereka.

Sesepuh desa, Mbah Joyo, seorang pria tua yang dihormati, akhirnya angkat bicara. Ia berbicara tentang “Penunggu Sawah”, makhluk astral yang menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan terganggu, jika tanah dikotori atau janji dilanggar, mereka akan menampakkan diri dalam bentuk yang paling menakutkan.

Mbah Joyo memimpin ritual, mengumpulkan seluruh warga di batas persawahan. Sesajen diletakkan, doa-doa kuno dipanjatkan dalam bahasa yang tak dimengerti banyak orang. Asap kemenyan mengepul, membawa aroma mistis yang memenuhi udara dingin.

Malam itu, seolah menjawab doa, mata-mata merah itu tidak muncul. Ada kelegaan sesaat yang menyelimuti desa. Namun, kelegaan itu rapuh, seperti daun kering yang siap hancur oleh sentuhan. Mereka tahu, ini hanyalah jeda, bukan akhir.

Ketakutan telah mengakar kuat di Wedi. Para petani kini hanya berani bekerja di siang hari. Malam adalah milik mata merah itu, milik kegelapan yang tak terjamah. Hasil panen menurun drastis, ekonomi desa mulai terpuruk.

Beberapa keluarga memilih untuk pindah, meninggalkan kampung halaman yang telah diwarisi turun-temurun. Mereka tak sanggup lagi hidup dalam bayang-bayang teror yang tak pernah usai. Namun, sebagian besar warga memilih bertahan, terikat pada tanah dan keyakinan.

Kisah tentang mata merah di persawahan Wedi menyebar hingga ke kota-kota tetangga, menjadi legenda urban yang diceritakan di malam hari. Peneliti paranormal datang, namun tak menemukan jawaban ilmiah. Mereka hanya merasakan aura dingin yang mencekam.

Hingga hari ini, misteri mata merah itu tetap tak terpecahkan. Tidak ada yang tahu persis apa mereka, dari mana asalnya, atau apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mereka hanyalah sepasang mata merah yang membara, saksi bisu dari kegelapan yang tak pernah pergi.

Persawahan Wedi kini tak hanya menyimpan kesuburan tanah, tetapi juga rahasia yang mengerikan. Setiap senja tiba, ketika langit memerah, warga desa menatap hamparan hijau itu dengan kecemasan. Mereka tahu, di balik kegelapan yang akan datang, sepasang mata itu akan kembali.

Mengintai. Menanti. Selamanya menjadi penjaga misterius di balik tirai malam Wedi, bisikan horor yang takkan pernah padam. Dan ketakutan itu, seperti akar padi yang menjalar, akan terus tumbuh, mengikat erat jiwa-jiwa di desa itu dalam cengkeraman horor yang abadi.

Mata Merah di Persawahan Wedi: Bisikan Horor dari Kegelapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *