Pura Bayangan Angker: Tari Kematian Sang Leak Sejati
Arya, seorang etnografer dan fotografer yang terobsesi misteri, tiba di sebuah sudut terpencil Bali. Bukan hiruk pikuk Kuta yang ia cari, melainkan bisikan legenda kuno. Tujuannya adalah Pura Bayangan Angker, sebuah pura yang nyaris tak terjamah, terselimuti mitos kelam.
Penduduk desa di kaki bukit memperingatkannya. Mereka menyebut pura itu “dihuni” dan “tempat bersemayam Leak Sejati.” Arya tersenyum skeptis, menganggapnya takhayul belaka. Ia hanya melihat peluang foto yang tak biasa, sebuah kisah yang belum terungkap.
Pura itu benar-benar sepi. Dinding batunya diselimuti lumut tebal, arca-arca kuno memandang kosong. Udara dingin merayap, membawa aroma lembab dan sesuatu yang asing, seperti bau tanah basah bercampur wewangian kemenyan usang. Jauh dari keramaian, di sinilah misteri bersembunyi.
Arya mendirikan tenda kecil di dekat kompleks utama, lengkap dengan peralatan kamera termutakhir. Ia ingin menangkap esensi pura, mungkin juga bisikan-bisikan yang disebut penduduk. Malam pertama berlalu tanpa kejadian berarti, hanya suara jangkrik dan desiran angin.
Namun, malam kedua, sesuatu berubah. Saat senja merayap, udara di sekitar pura menjadi lebih dingin. Sebuah aura tak kasat mata menyelimuti, membuat bulu kuduk Arya merinding. Ia merasakan tatapan, meski tak ada siapa pun di sana.
Gelap sempurna menyelimuti Pura Bayangan Angker. Lalu, sebuah melodi samar terdengar, bukan gamelan yang riang. Ini adalah nada-nada minor, melengking, seolah ditarik dari kedalaman bumi, meresap ke dalam tulang. Jantung Arya berdebar kencang.
Di tengah kepekatan, siluet itu muncul. Di antara pilar kuno, ia muncul tanpa suara. Gerakannya tidak lagi luwes, namun patah-patah, mengancam. Sepasang mata merah menyala menembus kegelapan, laksana bara api di gua hitam.
Itu adalah penari, mengenakan topeng Leak yang mengerikan. Topeng itu bukan sekadar ukiran, melainkan pahatan ekspresi teror yang nyata. Gigi taring mencuat, lidah menjulur panjang, dan rambut kusut terurai liar, seolah hidup.
Tarian itu dimulai. Bukan gerak tari yang biasa. Ini adalah sebuah ritual kuno, brutal dan primordial. Setiap gerakan tubuhnya adalah distorsi, seolah sendi-sendinya tidak mengikuti hukum fisika. Ia meliuk, membungkuk, lalu tegak kembali dengan kecepatan mengerikan.
Arya mencoba membidik kameranya, namun tangannya bergetar. Cahaya infra-merah dari lensanya seolah padam ditelan aura gelap penari. Setiap jepretan menghasilkan gambar buram, dipenuhi garis-garis aneh dan distorsi tak jelas.
Yang paling mengerikan adalah suaranya. Penari itu tidak bernyanyi, melainkan mendesis. Desisan itu berubah menjadi tawa serak, lalu erangan panjang yang menusuk jiwa. Suara itu bukan berasal dari tenggorokan manusia.
Tiba-tiba, penari itu berhenti. Tubuhnya membeku, menghadap langsung ke arah Arya. Mata merahnya menatap tajam, seolah melihat menembus kegelapan dan kamera Arya. Rasa dingin yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya.
Arya merasa terperangkap. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Ia hanya bisa menatap, menjadi saksi bisu ritual yang tak terpahami ini. Ia merasakan pikirannya terkoyak, akal sehatnya diuji di ambang batas.
Lalu, dalam sekejap, penari itu lenyap. Tidak ada jejak, tidak ada suara langkah. Ia hanya menghilang, seolah melebur dengan kegelapan. Arya terengah-engah, merasakan kemejanya basah oleh keringat dingin.
Malam itu, Arya tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah bertopeng merah itu muncul. Suara desisan dan tawa serak itu masih terngiang di telinganya, menggerogoti ketenangannya. Ia mulai meragukan kewarasannya.
Ia memeriksa hasil fotonya lagi dan lagi. Semua buram, tak ada satu pun yang jelas. Namun, di salah satu bingkai, ia melihat sesuatu. Sebuah bayangan samar di balik topeng, seolah ada mata lain yang mengintip dari kegelapan.
Keesokan harinya, Arya mengunjungi kepala desa lagi. Ia menceritakan pengalamannya, tanpa menyebutkan detail mengerikan. Kepala desa hanya mengangguk pelan, tatapan matanya penuh kesedihan dan pengertian.
“Ia tidak bisa difoto,” bisik kepala desa. “Ia bukan manusia, Nak. Itu adalah perwujudan.” Arya merasa jantungnya mencelos. Perwujudan apa? Pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab.
Arya menghabiskan beberapa hari berikutnya di perpustakaan desa, menggali naskah-naskah kuno. Ia menemukan referensi tentang “Leak Sejati,” makhluk yang melampaui batas manusia, mampu berubah wujud dan merasuki jiwa.
Konon, Leak Sejati tidak hanya menari untuk ritual. Mereka menari untuk menarik energi, untuk mencari korban, atau untuk menegaskan keberadaan mereka di alam yang tak terlihat. Pura Bayangan Angker adalah gerbang mereka.
Arya memutuskan untuk kembali. Obsesinya mengalahkan rasa takutnya. Ia harus mendapatkan bukti, harus memahami. Kali ini, ia membawa lebih banyak peralatan, termasuk kamera infra-merah dengan resolusi tinggi.
Malam ketiga di pura, suasana lebih mencekam. Angin membawa bisikan-bisikan aneh. Aroma kemenyan dan darah segar tercium samar. Arya merasa seolah pura itu bernapas, mengawasinya setiap detik.
Melodi serak kembali terdengar, lebih dekat, lebih jelas. Penari itu muncul lagi, namun kali ini ia tidak berada di tengah. Ia berdiri di ambang pintu pura, seolah menyambut Arya ke dalam sarangnya.
Tarian dimulai. Lebih cepat, lebih brutal. Setiap gerakan terasa diarahkan padanya. Mata merah itu seolah membakar jiwa. Arya merasakan jiwanya tertarik keluar dari tubuh, menari bersama entitas mengerikan itu.
Ia menekan tombol rekam, bertekad. Kamera infra-merahnya menangkap setiap detail. Namun, saat ia melihat layar kecilnya, ia terkesiap. Wajah di balik topeng itu, yang samar-samar terlihat, bukanlah manusia.
Itu adalah wajah yang berkerut, seperti kulit kering daun. Matanya terlalu besar, terlalu hitam. Bibirnya tertarik membentuk seringai menakutkan, dan di dalamnya, bukan gigi, melainkan deretan taring tajam.
Arya mundur, napasnya tersengal. Itu bukan topeng. Itu adalah kulit asli dari makhluk itu. Penari Leak itu adalah Leak Sejati itu sendiri. Ia tidak mengenakan topeng, ia adalah topengnya.
Tiba-tiba, tarian berhenti. Penari itu mendekat, satu langkah demi satu langkah. Tidak ada suara langkah, hanya perasaan dingin yang mencekik. Mata merahnya membesar, seolah menelan seluruh cahaya.
“Kau melihatnya,” sebuah suara berbisik, langsung di telinga Arya. Bukan suara di luar, melainkan di dalam kepalanya. Suara itu kering, serak, penuh kekunoan. “Kau telah melihat kebenaran.”
Arya menjatuhkan kameranya. Ia berlari, tanpa arah, tanpa mempedulikan apa pun. Ia berlari menjauh dari pura, dari kegelapan, dari kebenaran mengerikan yang baru saja ia saksikan.
Ia tidak berhenti sampai mencapai desa, terengah-engah, tubuhnya gemetar. Penduduk desa memandangnya dengan tatapan kasihan, seolah mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka tidak bertanya.
Arya meninggalkan Bali keesokan harinya, tanpa menoleh ke belakang. Ia membawa serta trauma, bayangan mata merah, dan suara desisan yang tak pernah hilang. Pura Bayangan Angker tetap ada.
Foto-foto yang ia dapatkan tetap buram, kecuali satu. Satu bingkai terakhir yang ia ambil sebelum melarikan diri. Di sana, di tengah distorsi, sebuah bentuk menyerupai seringai terlihat jelas.
Bukan seringai topeng, melainkan seringai nyata yang terukir di kegelapan. Sebuah pengingat bahwa di balik legenda, terkadang ada kebenaran yang jauh lebih mengerikan, menanti di Pura Sepi.
Arya tak pernah lagi menyentuh kameranya untuk tujuan penelitian. Ia tahu, beberapa misteri lebih baik tetap menjadi misteri. Dan beberapa tarian, adalah tarian kematian bagi jiwa yang berani menyaksikannya.
Hingga kini, terkadang ia terbangun di malam hari, merasakan dingin yang sama, mencium aroma kemenyan dan darah. Dan di telinganya, desisan dan tawa serak Leak Sejati masih menggema, tak akan pernah pudar.






