Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Kamar Homestay Ini Terlihat Biasa… Sampai Jejak Kaki Itu Muncul

11
×

Kamar Homestay Ini Terlihat Biasa… Sampai Jejak Kaki Itu Muncul

Share this article

Kamar Homestay Ini Terlihat Biasa… Sampai Jejak Kaki Itu Muncul

Di ujung jalan setapak yang nyaris tak terlihat, berdiri sebuah homestay tua. Namanya “Pondok Senja,” sebuah nama yang terdengar puitis, namun aura yang memancar darinya lebih condong pada melankolis dan misteri. Maya, seorang penulis lepas yang mencari inspirasi, memilih tempat itu karena janji ketenangan dan isolasi.

Kamar nomor tujuh, yang ia tempati, berbau apak khas bangunan lama. Furnitur kayu yang berat mengisi ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang saat senja merayap masuk. Jendela besar menghadap hutan lebat, memberikan pemandangan yang menenangkan sekaligus sedikit mengintimidasi.

Malam pertama berlalu tanpa insiden berarti, hanya suara jangkrik dan desauan angin. Maya merasa sedikit gelisah, namun ia menganggapnya sebagai efek samping dari isolasi. Ia menghabiskan hari kedua dengan menulis, tenggelam dalam alur ceritanya sendiri.

Saat ia bangkit dari kursi, matanya menangkap sesuatu di lantai kayu yang berdebu. Sebuah pola, samar namun jelas, seperti jejak kaki telanjang. Ia mengerutkan kening. Bukankah ia sudah menyapu pagi tadi?

Maya mengabaikannya, mengira itu hanya debu yang menggumpal atau mungkin jejak kakinya sendiri yang tidak disadari. Ia membersihkan lantai lagi, memastikan tidak ada satu pun noda. Lalu ia pergi tidur, sedikit terganggu oleh pikiran itu.

Pagi berikutnya, saat sinar matahari menembus celah gorden, Maya merasakan dingin yang aneh di kakinya. Ia menyingkap selimut dan melihatnya. Di lantai, tepat di samping tempat tidurnya, ada lagi. Jejak kaki telanjang yang sama, seolah-olah seseorang baru saja berdiri di sana.

Kali ini, jejak itu lebih jelas. Debu di sekitar pola itu tampak terangkat, membentuk kontur tumit dan jari kaki yang presisi. Jantung Maya mulai berdetak lebih cepat. Ia yakin ia telah membersihkan lantai dengan seksama.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya trik cahaya atau kebetulan yang aneh. Mungkin ada retakan di kayu yang menyerupai bentuk kaki. Namun, saat ia mendekat, keraguan itu menguap digantikan oleh rasa ngeri yang perlahan merayap.

Jejak itu tidak statis. Ketika ia melangkah mundur, jejak lain muncul, sedikit bergeser ke arah pintu lemari pakaian. Seolah-olah seseorang, atau sesuatu, sedang berjalan perlahan melintasi kamarnya.

Keringat dingin mulai membasahi punggung Maya. Ia mengambil sapu dan kembali membersihkan seluruh ruangan, kali ini dengan lebih teliti dari sebelumnya. Setiap sudut, setiap celah, dipastikan bersih dari debu.

Ia bahkan menaburkan sedikit bedak bayi di beberapa area, terutama di dekat tempat tidur dan pintu. Ide itu datang dari film horor, sebuah cara kuno untuk mengungkap kehadiran tak kasat mata. Kemudian, ia duduk diam di kursi, menatap lantai, jantungnya berdegak tak keruan.

Waktu berlalu lambat. Setiap detik terasa seperti menit. Maya terus menatap bedak putih di lantai, berharap tidak ada yang terjadi. Namun, harapan itu hancur saat ia melihatnya.

Di tengah lapisan bedak yang rata, perlahan muncul sebuah lekukan. Bukan goresan, melainkan sebuah cetakan. Bentuk telapak kaki, halus namun jelas, seolah-olah ditekan dari atas.

Kemudian, satu lagi, sedikit di depannya. Lalu satu lagi. Jejak-jejak itu terbentuk satu per satu, tanpa suara, tanpa getaran. Seolah-olah ada entitas tak terlihat yang sedang melangkah di atas bedak itu.

Maya menahan napas. Rasa takut yang murni dan mencekam mulai merasuki dirinya. Ini bukan debu, bukan trik cahaya. Ini adalah sesuatu yang nyata, namun tidak terlihat. Sesuatu sedang berjalan di kamarnya.

Ia memperhatikan jejak itu bergerak menuju sudut ruangan, tempat meja rias tua berada. Di sana, jejak berhenti, seolah-olah entitas itu sedang berdiri diam, mungkin mengamati.

Maya merasa seolah-olah ada mata yang tak terlihat sedang menatapnya. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk kulit. Ia menggenggam erat ponselnya, jemarinya gemetar.

Ia memberanikan diri. Dengan langkah pelan, ia mendekati meja rias, mengikuti jejak tak kasat mata itu. Setiap langkah terasa berat, seperti berjalan di lumpur. Ketakutan membelenggu setiap ototnya.

Di atas meja rias, ada sebuah sisir perak kuno. Ketika Maya sampai di sana, ia melihat jejak bedak lain muncul di samping sisir itu. Lalu, perlahan, sisir itu bergeser sedikit, seolah-olah disentuh.

Jantung Maya berdebar begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ia mundur perlahan, matanya tidak lepas dari meja rias. Pikiran tentang sesuatu yang tidak terlihat namun bisa berinteraksi dengan dunia fisik membuatnya hampir gila.

Ia memutuskan untuk tidak tidur di kamar itu malam itu. Ia meraih tas ranselnya, berniat meninggalkan homestay secepatnya. Namun, saat ia berbalik, ia melihat jejak kaki baru.

Kali ini, jejak itu tidak berada di lantai. Jejak itu ada di atas tempat tidurnya, di atas selimut yang telah ia rapikan. Sebuah lekukan samar, seolah-olah seseorang baru saja duduk di sana.

Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan hawa keberadaan yang sangat dekat, seolah-olah entitas itu kini berada di atas tempat tidur, menunggunya.

Ia melangkah mundur, menabrak dinding. Suara napasnya sendiri terdengar seperti raungan di keheningan kamar. Ia tidak bisa lagi menipu dirinya sendiri. Ada sesuatu di sana.

Jejak-jejak itu mulai muncul lebih cepat, lebih banyak. Mereka tersebar di seluruh ruangan, seolah-olah entitas itu kini bergerak dengan panik. Dari lantai ke dinding, bahkan ada satu jejak samar di cermin meja rias.

Teror mencengkeramnya. Maya merasa terjebak, terperangkap di dalam labirin jejak-jejak tak kasat mata. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ke mana ia harus pergi.

Tiba-tiba, ia mendengar suara. Bukan suara kaki, tapi suara gesekan samar, seperti kain yang bergeser. Suara itu berasal dari dalam lemari pakaian tua di sudut kamar.

Jejak-jejak kaki di lantai kini membentuk garis lurus menuju lemari itu. Maya tahu ia harus pergi, harus lari. Tapi rasa penasaran yang bercampur ketakutan membuatnya terpaku.

Ia melangkah mendekat, perlahan, setiap ototnya tegang. Semakin dekat ia dengan lemari, semakin dingin udara di sekitarnya. Bau apak yang tadi samar, kini terasa pekat, bercampur aroma tanah dan sesuatu yang tak bisa ia definisikan.

Ketika ia mencapai lemari, jejak terakhir berhenti tepat di depannya. Ada sebuah celah kecil di pintu lemari yang sedikit terbuka. Dari celah itu, Maya bisa merasakan hembusan udara dingin.

Ia ragu sejenak, lalu tangannya yang gemetar meraih kenop lemari. Dengan satu tarikan napas dalam, ia membukanya. Bagian dalam lemari itu gelap gulita, namun ia bisa melihat deretan pakaian usang tergantung di sana.

Tidak ada yang aneh. Hanya pakaian lama yang sudah berdebu. Namun, saat matanya menelusuri isi lemari, ia melihat sesuatu yang mencuat dari balik tumpukan kain. Sebuah boneka kain tua, lusuh, dengan satu mata kancingnya hilang.

Ia meraih boneka itu. Saat ia menariknya keluar, sebuah amplop kecil terjatuh dari saku boneka. Amplop itu sudah menguning, disegel dengan lilin tua yang retak.

Dengan tangan gemetar, Maya membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah surat yang ditulis tangan dengan tulisan yang halus dan sedikit pudar. Surat itu bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Lily, yang dulu tinggal di homestay ini.

Lily adalah seorang yang kesepian, sering bermain sendiri di kamar nomor tujuh. Ia menulis tentang seorang “teman tak terlihat” yang selalu menemaninya, bermain petak umpet, dan meninggalkan jejak kaki di lantai berdebu.

Surat itu berakhir dengan kalimat: “Temanku tidak pernah pergi. Dia selalu di sini, menungguku. Dia selalu meninggalkan jejak.” Tanggal di surat itu menunjukkan hampir satu abad yang lalu.

Maya menjatuhkan surat itu. Jejak-jejak tak kasat mata di lantai, di tempat tidur, di meja rias, kini terasa seperti sapaan, atau mungkin permintaan. Ini bukan hantu yang menakutkan, melainkan sebuah kehadiran yang terjebak, menunggu.

Ia melihat ke arah lemari pakaian, ke dalam kegelapan tempat boneka itu tersembunyi. Ia merasakan beban tatapan yang tidak terlihat. Bukan lagi tatapan mengancam, melainkan tatapan kesendirian yang mendalam.

Maya tidak bisa lagi tinggal. Ia berlari keluar dari kamar, meninggalkan surat dan boneka itu di sana. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia meninggalkan homestay itu, meninggalkan jejak kaki tak kasat mata yang terus bergerak di kamar nomor tujuh.

Sejak saat itu, setiap kali Maya memasuki ruangan yang sepi, ia merasakan sensasi dingin di kakinya. Ia tahu, jejak-jejak itu mungkin tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Mereka hanyalah pengingat akan Pondok Senja, dan teman tak terlihat yang masih menunggu.

Jejak Kaki Tak Kasat Mata di Kamar Homestay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *