Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Di Balik Kabut Tebal, Tersembunyi Sebuah Lorong Menuju Sesuatu yang Salah

10
×

Di Balik Kabut Tebal, Tersembunyi Sebuah Lorong Menuju Sesuatu yang Salah

Share this article

Di Balik Kabut Tebal, Tersembunyi Sebuah Lorong Menuju Sesuatu yang Salah

Lorong Kabut Menuju Perahu Terbalik

Malam itu, dinginnya Bandung terasa menusuk tulang. Kami bertiga, aku, Rizky, dan Santi, memutuskan nekat. Tujuan kami: Gunung Tangkuban Perahu. Bukan di siang hari, tapi di tengah gelapnya dini hari.

Rizky, si pengemudi, selalu saja punya ide gila. Santi, kekasihnya, menggerutu tapi tetap ikut. Aku hanya pasrah, mencoba menikmati sensasi petualangan yang dijanjikan.

Jeep tua kami meraung, menembus sunyinya jalan. Lampu sorotnya membelah kegelapan. Udara semakin dingin, lembap, dan mulai berbau aneh.

Aroma belerang yang samar, bercampur bau tanah basah. Sebuah pertanda bahwa kami semakin dekat dengan kawah. Tapi ada yang lain, sesuatu yang lebih busuk.

Jalanan mulai menanjak curam. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi, membentuk terowongan gelap. Cabang-cabang mereka tampak seperti tangan-tangan raksasa yang siap mencengkeram.

Santi tiba-tiba bergidik. “Perasaan aneh,” bisiknya. Aku menoleh, tak melihat apa-apa selain kegelapan. Rizky hanya tertawa, “Cuma dingin, Sayang.”

Namun tawa Rizky cepat pudar. Kabut tebal tiba-tiba menyelimuti. Bukan kabut biasa, melainkan kabut yang pekat, bergerak seperti asap hidup.

Visibilitas merosot drastis. Hanya beberapa meter di depan kami yang terlihat. Rizky memperlambat laju mobil, mencengkeram setir erat.

“Ini bukan kabut normal,” gumamnya, suaranya sedikit bergetar. Aku mengangguk, merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari suhu.

Suara-suara aneh mulai terdengar. Desiran daun yang terlalu keras, seolah ada yang bergerak cepat. Lalu, bisikan-bisikan samar.

Kami saling pandang. “Kalian dengar itu?” tanya Santi, matanya melebar. Bisikan itu terdengar seperti gerutuan, atau tangisan yang tertahan.

Jantungku berdebar. Kami berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman. Hanya kami dan keheningan yang menyesakkan ini.

Tiba-tiba, lampu jeep berkedip-kedip. Mesin batuk-batuk, lalu mati total. Gelap pekat langsung menelan kami.

Napasku tertahan. Rizky memutar kunci, mencoba menghidupkan mesin. Hanya suara “klik” kosong yang terdengar.

“Sial!” Rizky memukul setir. “Kenapa sekarang?”

Dalam kegelapan, bisikan-bisikan itu semakin jelas. Seolah mengelilingi mobil kami. Kali ini, aku bisa mendengar kata-kata yang tak jelas, seperti bahasa kuno.

Dari balik jendela, aku melihat bayangan. Sebuah siluet tinggi dan ramping, melintas cepat di antara pohon-pohon. Lalu menghilang.

“Kalian lihat itu?” aku berbisik, menunjuk ke arah hutan. Santi menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak ketakutan.

Rizky menyalakan senter ponselnya. Cahayanya bergetar, menari di antara pepohonan. Tak ada apa-apa. Hanya pohon, kabut, dan kegelapan.

Tapi kami tahu ada sesuatu. Kami bisa merasakannya. Tekanan di udara semakin berat, seperti ada yang mengawasi kami dari balik kegelapan.

Santi mulai menangis pelan. “Ayo pulang, Rizky. Aku mohon.”

“Kita harus menghidupkan mobil dulu,” jawab Rizky, suaranya tegang. Ia mencoba lagi, berkali-kali. Nihil.

Lalu, sebuah suara yang lebih jelas terdengar. Suara langkah kaki. Berat dan lambat. Mendekat ke arah mobil kami.

Setiap langkah terasa seperti pukulan di jantungku. Semakin dekat, semakin dekat. Kami menahan napas, tak berani bergerak.

Langkah itu berhenti di samping pintu pengemudi. Rizky mematikan senter, kami bersembunyi dalam gelap. Berharap tak terlihat.

Sebuah ketukan pelan di kaca jendela. “Tok. Tok.”

Kami terpaku. Siapa itu? Kenapa tidak bicara? Ketukan itu berulang, lebih keras. “Tok. Tok. Tok.”

Kami bisa merasakan napas berat di luar. Suara desisan samar. Bau belerang semakin kuat, bercampur bau busuk yang tadi.

Santi meremas lenganku erat. Aku bisa merasakan getaran tubuhnya. Rizky mencengkeram pisau lipatnya, siap jika sesuatu terjadi.

Tiba-tiba, suara ketukan berhenti. Hening kembali menyelimuti. Hening yang lebih menakutkan dari apapun.

“Dia pergi?” bisik Santi.

Belum sempat kami bernapas lega, terdengar suara gesekan. Seperti sesuatu yang berat diseret di atas tanah. Menjauh.

Rizky perlahan menyalakan senter lagi. Ia menyorot ke luar jendela. Tak ada siapa-siapa. Tapi di tanah, ada bekas seretan panjang.

Bekas itu menuju ke dalam hutan, menghilang di balik kabut tebal. Jejak itu bukan jejak sepatu. Melainkan seperti sesuatu yang besar dan tak beraturan.

Dan di dekat roda mobil, sebuah benda tergeletak. Rizky mengulurkan tangan gemetar, mengambilnya.

Itu adalah sebuah ukiran kayu kecil. Berbentuk perahu terbalik. Dan di permukaannya, ada goresan-goresan aneh.

Mirip tulisan kuno, atau simbol-simbol yang tak kami kenal. Udara di dalam mobil mendadak terasa dingin membeku.

“Legenda Tangkuban Perahu,” bisikku, teringat cerita Sangkuriang. Perahu yang dikutuk menjadi gunung.

“Ini ada hubungannya dengan itu?” tanya Santi, suaranya tercekat.

Rizky mencoba lagi menghidupkan mesin. Kali ini, entah bagaimana, mesin meraung hidup. Lampu sorot kembali menyala terang.

Tanpa bicara, Rizky menginjak gas. Mobil melaju kencang, menembus kabut. Kami tak peduli lagi dengan tujuan. Hanya ingin pergi.

Di spion, aku melihat sekilas. Sebuah bayangan gelap berdiri di tengah jalan. Bentuknya tinggi, dengan lengan-lengan panjang yang menjuntai.

Wajahnya samar, tapi aku merasakan tatapannya. Dingin, kosong, dan penuh dendam. Bayangan itu tak bergerak, hanya berdiri di sana.

Kami terus melaju, meninggalkan lorong kabut itu. Ketakutan masih mencengkeram. Kami tak berani menoleh ke belakang lagi.

Setibanya di kota, napas kami lega. Namun, pengalaman itu membekas. Kami tak pernah lagi berani menuju Tangkuban Perahu di malam hari.

Ukiran perahu terbalik itu masih ada padaku. Kadang, di tengah malam, aku mendengar bisikan-bisikan samar. Bau belerang dan bau busuk itu.

Kami tidak tahu siapa atau apa yang kami temui malam itu. Apakah itu arwah Sangkuriang? Atau penjaga gunung yang murka?

Yang jelas, jalan menanjak menuju Tangkuban Perahu menyimpan misteri. Lorong kabut itu bukan hanya jalan, melainkan gerbang menuju sesuatu yang tak terjelaskan.

Dan terkadang, aku bertanya-tanya. Apakah bayangan itu masih berdiri di sana? Menunggu pengunjung nekat berikutnya di tengah dinginnya malam.

Menjaga rahasia perahu terbalik yang abadi. Di bawah selimut kabut yang tak pernah sepenuhnya sirna.

Dan bisikan-bisikan itu, apakah mereka akan terus menghantui? Atau apakah kami hanya sekadar berhalusinasi di tengah gelapnya hutan?

Pertanyaan itu tetap menggantung. Sebuah misteri yang tak terpecahkan. Dan kami bertiga, selamanya terikat pada malam menakutkan itu.

Lorong Kabut Menuju Perahu Terbalik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *