Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jangan Datang ke Kebun Stroberi Saat Matahari Terbenam

10
×

Jangan Datang ke Kebun Stroberi Saat Matahari Terbenam

Share this article

Jangan Datang ke Kebun Stroberi Saat Matahari Terbenam

Di antara hijaunya daun dan merahnya buah stroberi, kebun itu terhampar luas. Udara pagi selalu membawa aroma manis yang menenangkan, membuai setiap pekerja yang datang. Anya adalah salah satunya, mencari ketenangan di balik hiruk-pikuk kota.

Ia tiba di sana beberapa bulan lalu, mencari pekerjaan sebagai pemetik. Kebun stroberi “Harapan Jaya” milik Pak Budi adalah tempat yang sempurna. Pagi yang damai, tangan yang sibuk, dan pikiran yang kosong.

Namun, kedamaian itu mulai terkoyak di suatu sore yang lembap. Saat matahari condong ke barat, bayangan mulai memanjang di antara barisan tanaman. Sebuah isakan tipis menguar, melayang di antara barisan stroberi.

Bukan suara angin, bukan bisikan dedaunan. Itu adalah tangisan seorang anak. Anya menghentikan tangannya, jantungnya berdegup pelan. Ia menoleh, mencari sumbernya. Hening.

Hanya desiran angin yang menjawab. Anya menggelengkan kepala, meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Mungkin lelah, mungkin terlalu banyak membayangkan. Ia kembali memetik, berusaha mengabaikan.

Keesokan harinya, suara itu kembali. Lebih jelas, lebih dekat. Isakan pilu yang menusuk kalbu, seolah datang dari balik semak-semak yang rimbun. Anya menjatuhkan keranjang kecilnya.

Ia berdiri tegak, memandang ke segala arah. Tidak ada siapa-siapa. Kebun itu kosong, kecuali dirinya dan beberapa pekerja di kejauhan. Mereka tampak sibuk, tidak menyadari apa pun.

Rasa dingin merayapi punggung Anya. Ia melangkah perlahan, mengikuti arah suara. Isakan itu menuntunnya ke tengah kebun, ke area yang jarang disentuh, di mana tanaman tumbuh lebih liar.

Di sana, suara itu berhenti tiba-tiba. Hening. Anya berdiri terpaku, dikelilingi ribuan buah stroberi merah yang mematuk. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda kehadiran siapa pun.

“Halo?” panggil Anya, suaranya bergetar. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan. Ia kembali ke pekerjaannya, namun pikirannya tak lagi tenang.

Malam itu, Anya tak bisa tidur. Tangisan itu terus terngiang di telinganya. Bukan hanya suara, tetapi juga rasa putus asa yang menyertainya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Beberapa hari berikutnya, tangisan itu menjadi rutin. Muncul setiap sore, menjelang senja, selalu di tempat yang berbeda, seolah berpindah-pindah. Kadang di dekat sumur tua, kadang di tepi hutan kecil.

Setiap kali Anya mendekat, suara itu akan menghilang. Ini bukan lagi kelelahan atau halusinasi. Ini nyata. Dan Anya mulai merasa takut. Kebun stroberi yang damai itu kini terasa mencekam.

Ia mencoba bertanya kepada Pak Budi, pemilik kebun. “Pak, apakah Bapak pernah mendengar suara aneh di kebun ini?” tanyanya hati-hati. Pak Budi hanya tertawa kecil.

“Suara aneh? Hanya suara angin, Nak. Atau mungkin tikus-tikus nakal,” jawabnya santai. Mata tuanya menunjukkan kerutan lelah, tanpa sedikit pun bayangan kecurigaan. Anya merasa sendirian.

Ia juga mencoba bertanya kepada pekerja lain. Mereka hanya memandangnya dengan tatapan aneh, seolah Anya mulai gila. Beberapa bahkan menyarankan untuk beristirahat.

Anya merasa terisolasi. Bagaimana mungkin hanya dia yang mendengar? Apakah ada sesuatu yang salah dengannya? Atau ada sesuatu yang begitu jahat bersembunyi di kebun itu, hanya terlihat olehnya?

Tangisan itu mulai berubah. Tidak hanya isakan, tapi juga rintihan. Kadang seperti bisikan nama, yang terlalu samar untuk dimengerti. Anya merasa dipanggil, ditarik ke dalam misteri yang kelam.

Suatu sore, ketika tangisan itu sangat jelas, Anya memberanikan diri. Ia tidak hanya mendekat, tapi berlari. Ia menerobos semak belukar, mengabaikan duri yang menggores kulitnya.

Suara itu menuntunnya ke sebuah area terpencil. Di sana, sebuah pohon beringin tua berdiri kokoh, akarnya menjuntai seperti tirai. Di bawah pohon itu, terasa hawa dingin yang menusuk.

Bahkan stroberi di sekitarnya tampak layu, tidak semerah yang lain. Isakan itu begitu dekat, seolah ada di balik tirai akar beringin. Anya menelan ludah, jantungnya berdentum kencang.

Ia mengulurkan tangan, menyingkap akar-akar tebal itu. Di baliknya, kegelapan pekat menyambutnya. Tidak ada apa-apa. Hanya tanah basah dan aroma lumut. Tangisan itu berhenti.

Anya menarik napas berat. Kecewa dan ngeri bercampur aduk. Ia tahu ada sesuatu di sana, tapi ia tidak bisa menemukannya. Seperti hantu, suara itu datang dan pergi, tanpa jejak fisik.

Beberapa malam berikutnya, mimpi buruk mulai menghantui Anya. Ia melihat seorang anak kecil, bergaun putih kotor, berlari di antara barisan stroberi. Wajahnya kabur, namun tangisannya nyata.

Anak itu selalu menoleh ke belakang, seolah memanggilnya. Anya terbangun dengan keringat dingin, jantungnya berdebar kencang. Kebun stroberi yang dulu damai kini menjadi penjara bagi pikirannya.

Ia mulai melihat bayangan. Sekilas, di ujung matanya, ia melihat sosok kecil berkelebat. Di antara barisan tanaman, di balik semak, selalu menghilang saat ia menoleh penuh.

Ketakutannya semakin menjadi. Ia mulai ragu untuk bekerja di sore hari. Matahari terbenam menjadi momok, membawa serta tangisan yang mengikatnya dalam ketegangan. Ia harus menemukan jawabannya.

Suatu hari, ia kembali ke pohon beringin tua. Ia membawa sekop kecil. Ia ingin mencari tahu, menggali jika perlu. Tangisan itu sudah terlalu lama menguasai hidupnya.

Ia mulai menggali di bawah akar beringin, di mana hawa dingin paling terasa. Tanah di sana lembap dan keras. Setiap ayunan sekopnya terasa berat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya.

Setelah beberapa saat, ujung sekopnya membentur sesuatu yang keras. Bukan batu. Anya menggali lebih cepat, napasnya memburu. Ia menemukan sebuah kotak kayu kecil, lapuk dan kotor.

Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah boneka kain usang, beberapa kelereng, dan sehelai rambut kepang yang sudah memudar warnanya. Ini adalah barang-barang anak-anak.

Dan di dasar kotak, tersembunyi sebuah foto. Foto hitam putih seorang gadis kecil dengan gaun putih. Senyumnya samar, matanya kosong. Tepat di balik foto itu, ada sebuah tulisan tangan.

“Sari, hilang di kebun ini, 1978.” Jantung Anya mencelos. Ini bukan halusinasi. Ini adalah sebuah tragedi yang terlupakan. Tangisan itu bukan imajinasi, melainkan gema dari masa lalu.

Anya merasakan hawa dingin yang lebih menusuk. Di balik pohon beringin, di tengah barisan stroberi, ia mendengar tangisan itu lagi. Kali ini, tangisannya terdengar lega, namun juga sedih.

Seolah menemukan sesuatu, namun juga terjebak selamanya. Anya menutup kotak itu perlahan. Ia tidak bisa lagi bekerja di sana. Kebun stroberi itu menyimpan rahasia kelam.

Ia meninggalkan kotak itu di tempat ia menemukannya, menutupnya kembali dengan tanah. Ia tidak menceritakan apa pun kepada Pak Budi. Beberapa rahasia mungkin lebih baik tetap terkubur.

Namun, sejak hari itu, setiap kali ia mencium aroma stroberi, atau melihat hamparan hijau di bawah langit senja, ia akan selalu mendengar. Tangisan pilu seorang gadis kecil.

Tangisan itu akan selalu menggema di kebun stroberi “Harapan Jaya”. Mengingatkan siapa pun yang berani mendengarnya, bahwa ada lebih dari sekadar buah manis yang tumbuh di sana. Sebuah misteri yang tak pernah terpecahkan, terperangkap abadi di antara buah-buahan merah.

Suara Tangisan di Kebun Strawberry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *