Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Warung Tua Ini Hanya Muncul di Jam Tertentu… dan Tak Semua Bisa Menemukannya

11
×

Warung Tua Ini Hanya Muncul di Jam Tertentu… dan Tak Semua Bisa Menemukannya

Share this article

 

Warung Pojok di Ujung Waktu

Jalan Remang, begitulah warga setempat menyebutnya. Bukan karena minim cahaya, melainkan seringkali menyimpan cerita yang tak terjangkau nalar. Di salah satu sudutnya, berdiri Warung Pojok Bu Minah, ikon kuliner malam yang tak pernah sepi. Aroma nasi goreng dan pecel lele selalu menguar, mengundang siapa saja.

Pak Slamet, pensiunan satpam yang kini mengisi hari dengan kopi dan obrolan, adalah salah satu pelanggan setia. Setiap malam, ia duduk di bangku panjang, mengamati hiruk-pikuk kota. Warung Bu Minah adalah episentrumnya, jantung malam Jalan Remang.

Namun, sesuatu yang ganjil mulai terjadi. Awalnya hanya desas-desus, bisikan-bisikan samar yang tak terbukti. Ada yang bilang, warung itu lenyap saat subuh, seolah ditelan bumi. Pak Slamet menganggapnya lelucon, atau mungkin efek begadang.

Suatu pagi, ia bangun lebih awal dari biasanya. Fajar masih malu-malu menyapa, memulas langit dengan gradasi oranye keunguan. Pak Slamet berniat membeli bubur ayam di seberang warung Bu Minah.

Langkahnya terhenti. Di sudut Jalan Remang, tempat Warung Pojok Bu Minah seharusnya berdiri kokoh, kini kosong melompong. Hanya ada aspal basah bekas embun, dan dinding kusam bangunan di belakangnya. Tak ada jejak, tak ada puing.

Hanya keheningan yang menusuk. Pak Slamet mengucek mata, mengira dirinya masih mengantuk. Ia berkedip beberapa kali, tapi pemandangan itu tak berubah. Warung itu benar-benar tidak ada.

Panik mulai merayapi. Ia berjalan cepat mendekati lokasi, kakinya seolah tak bertulang. Ia mengulurkan tangan, menyentuh udara kosong di mana semalam meja dan kursi berjejer. Dingin, hampa.

Beberapa saat kemudian, Bu Minah sendiri muncul, dari arah gang di belakang warung yang seharusnya ada. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kebingungan yang sama. “Pak Slamet… warung saya…” bisiknya, suaranya tercekat.

Mereka berdua saling pandang, mencari jawaban di mata masing-masing. Tak ada penjelasan. Sebuah warung, lengkap dengan peralatan dan isinya, lenyap tanpa jejak di tengah kota yang padat.

Pagi itu, berita tentang Warung Pojok Bu Minah yang hilang menyebar seperti api. Polisi datang, melakukan penyelidikan singkat. Hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda pencurian besar, tidak ada saksi mata. Hanya kekosongan yang membingungkan.

Anehnya, saat sore menjelang, ketika Pak Slamet kembali melewati Jalan Remang, Warung Pojok Bu Minah sudah berdiri lagi. Persis di tempat yang sama, dengan aroma nasi goreng yang familiar. Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Bu Minah sendiri tampak linglung. Ia bersumpah warungnya hilang, lalu tiba-tiba muncul kembali. Beberapa perkakasnya berpindah tempat, panci nasinya kosong padahal semalam penuh. Pelanggan yang datang hanya bisa berbisik-bisik, menganggapnya lelucon aneh.

Namun, Pak Slamet tahu ini bukan lelucon. Ia merasakan getaran aneh, sensasi dingin yang merambat di punggungnya setiap kali ia melintasi warung itu. Ia memutuskan untuk mengamati, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Malam berikutnya, ia tidak pulang. Ia menyelinap ke bangunan tua di seberang, bersembunyi di balik jendela kotor. Dari sana, ia memiliki pandangan jelas ke Warung Pojok Bu Minah. Ia membawa termos kopi dan tekad bulat.

Jam-jam berlalu. Pelanggan datang dan pergi. Bu Minah sibuk melayani. Lampu neon warung memancarkan cahaya kuning remang, menerangi kabut tipis yang mulai turun. Semua tampak normal, damai.

Lewat tengah malam, Jalan Remang mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan sesekali lewat. Bu Minah mulai membereskan dagangannya, mematikan kompor, dan mengunci warungnya. Ia pulang, menyisakan Pak Slamet dan warung itu dalam kegelapan.

Keheningan semakin dalam. Pak Slamet menahan napas, matanya tak berkedip. Ia melihat jam tangannya. Pukul 03.17 dini hari. Tepat pada jam yang sama saat ia pertama kali menemukan warung itu kosong.

Udara di sekitar warung mulai terasa aneh. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang menusuk, seolah energi kehidupan disedot keluar. Cahaya bulan di atas warung tampak berkedip-kedip, tidak stabil.

Kemudian, ia melihatnya. Mulai dari dasar warung, aspal di bawahnya, udara mulai beriak. Seolah-olah ada panas tak terlihat yang memutar, menciptakan distorsi visual. Bentuk warung itu mulai goyah, seperti pantulan cermin yang bergetar hebat.

Pak Slamet merasakan denyut jantungnya berpacu. Suara-suara kecil mulai terdengar, seperti pecahan kaca yang sangat halus, atau bisikan ribuan serangga yang tak kasat mata. Cahaya neon warung, yang sudah mati, tiba-tiba berpendar lemah, lalu padam total.

Pusaran energi itu semakin kuat. Bukan angin, tapi sesuatu yang tak terlihat. Ia melihat dinding kayu warung itu, atap sengnya, seolah-olah ditarik ke dalam dimensi lain. Bayangan warung itu memanjang, memudar, lalu menyusut menjadi titik kecil.

Dalam hitungan detik, Warung Pojok Bu Minah menghilang sepenuhnya. Tidak ada ledakan, tidak ada suara keras. Hanya keheningan absolut yang tertinggal, dan udara yang masih terasa dingin, kosong.

Pak Slamet terengah-engah, tubuhnya gemetar. Ia baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil. Sebuah warung, sebuah struktur fisik, lenyap di hadapan matanya. Ia mencoba mencatat setiap detail, setiap sensasi.

Pagi harinya, ia melaporkan apa yang dilihatnya. Tentu saja, tidak ada yang percaya. Polisi menganggapnya delusi orang tua. Warga lain menatapnya dengan kasihan. Hanya Bu Minah yang menatapnya dengan tatapan kosong, seolah ia juga tahu, tapi tak sanggup mengucapkan.

Pak Slamet tidak menyerah. Setiap malam, ia kembali ke pos pengamatannya. Setiap malam, tepat pukul 03.17, fenomena itu terulang. Warung itu menghilang, lalu muncul kembali saat sore.

Ia mencoba mencari pola. Apakah ada hubungannya dengan fase bulan? Atau posisi bintang? Ia bahkan mencoba meletakkan benda di dekat warung sebelum menghilang. Sebuah sapu, sebuah batu kecil.

Saat warung itu muncul kembali, sapu itu lenyap. Batu kecil itu ada, tapi permukaannya terasa sangat dingin, seperti baru keluar dari lemari es, dengan pola retakan aneh yang belum pernah ia lihat.

Ketakutan Pak Slamet perlahan berubah menjadi obsesi. Ia membaca buku-buku lama tentang anomali ruang-waktu, tentang dimensi paralel, tentang legenda urban yang tak masuk akal. Warung itu, baginya, adalah portal.

Suatu malam, ia memutuskan untuk lebih dekat. Ia menunggu di gang sempit di samping warung. Dingin mulai merayap, distorsi visual mulai muncul. Ia bisa merasakan tarikan energi itu lebih jelas.

Bau nasi goreng dan kopi yang masih melekat di udara warung mulai memudar, digantikan oleh aroma aneh, seperti ozon bercampur tanah basah dan sesuatu yang busuk. Suara bisikan-bisikan itu semakin jelas, seolah ribuan suara asing saling tumpang tindih.

Pak Slamet melihat warung itu bergetar hebat. Dindingnya tampak transparan, memperlihatkan sekilas bayangan yang bergerak cepat di dalamnya, seperti kilasan dunia lain. Ada suara tawa, jeritan, dan tangisan yang tak berasal dari dunia manusia.

Ia merasakan dorongan kuat untuk lari, namun rasa ingin tahu yang mencekik membuatnya terpaku. Ia melihat ke arah warung, tepat di saat distorsi itu mencapai puncaknya. Sebuah pusaran hitam kecil muncul di tengah warung, seolah menyedotnya ke dalam.

Dalam sepersekian detik sebelum warung itu lenyap, Pak Slamet bersumpah ia melihat siluet seseorang di dalam pusaran itu. Bukan Bu Minah. Sosok tinggi, kurus, dengan mata yang bersinar merah. Ia melambaikan tangan, seolah mengundangnya.

Lalu, warung itu lenyap. Kembali, hanya kehampaan yang tersisa. Pak Slamet jatuh terduduk, napasnya memburu. Ia tahu, warung itu tidak sekadar hilang. Ia pergi ke suatu tempat. Dan ada sesuatu, atau seseorang, yang bertanggung jawab.

Sejak saat itu, Pak Slamet tidak pernah lagi tidur nyenyak. Ia tahu rahasia Jalan Remang. Ia tahu Warung Pojok Bu Minah adalah sebuah gerbang, sebuah anomali yang bersembunyi di balik rutinitas.

Ia terus mengamati, terus mencari tahu. Namun, ia tidak pernah lagi mencoba mendekat saat warung itu lenyap. Tatapan mata merah itu, lambaian tangan itu, selalu menghantuinya.

Warung Pojok Bu Minah masih berdiri kokoh di Jalan Remang setiap sore hingga tengah malam. Aromanya masih memikat, pelanggannya masih ramai. Tapi bagi Pak Slamet, dan mungkin bagi Bu Minah, warung itu adalah misteri yang tak terpecahkan.

Sebuah warung yang hidup di dua dunia, muncul dan menghilang seperti mimpi buruk yang berulang. Dan setiap pagi, ketika matahari mulai menyapa, Jalan Remang akan kembali kosong, menyimpan rahasia kelamnya hingga malam kembali tiba.

Warung Pojok di Ujung Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *