Rumah kost itu berdiri remang di sudut jalan, diselimuti aura usang dan kesunyian yang mencekam. Catnya mengelupas, jendelanya buram, seolah menyimpan rahasia kelam di balik tirai-tirai tebal. Anisa, seorang mahasiswa baru, terpaksa memilihnya karena harganya yang tak masuk akal murahnya.
“Kamar nomor tujuh,” tunjuk Ibu Kost, wanita tua dengan sorot mata lelah. “Agak berdebu, tapi paling luas.” Anisa mengangguk, menyeret kopernya, merasakan hawa dingin menusuk kulitnya meski hari masih siang.
Kamar itu memang luas, namun terasa kosong dan dingin. Di salah satu dinding, tergantung sebuah cermin antik berbingkai ukiran rumit. Permukaannya buram, memantulkan bayangan Anisa yang samar dan terdistorsi.
“Cermin itu sudah ada sejak lama,” kata Ibu Kost, seolah membaca pikiran Anisa. “Jangan dipindahkan, ya.” Suaranya terdengar kaku, seolah ada beban di baliknya.
Anisa mulai membersihkan kamar, mengelap debu tebal yang menempel di mana-mana. Ketika tangannya menyentuh permukaan cermin, ia merasakan sentakan listrik kecil, diikuti hawa dingin yang menusuk tulang. Bayangannya di cermin seolah berkedip sesaat, menjadi sosok lain yang samar, kemudian kembali normal.
“Hanya kelelahan,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengusir rasa tak nyaman. Malam pertama berlalu dengan kegelisahan. Anisa terbangun beberapa kali, merasa diawasi. Setiap kali membuka mata, bayangan samar di sudut ruangan seolah bergerak, menghilang saat ia memfokuskan pandangan.
Pagi berikutnya, saat menyisir rambut di depan cermin, Anisa melihatnya lagi. Bukan bayangannya sendiri, melainkan siluet seorang wanita berambut panjang yang berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya pucat, matanya kosong. Anisa berbalik cepat, namun tak ada siapa-siapa. Kamar itu sunyi, hanya ada ia dan cermin.
Ia mulai bertanya pada penghuni kost lain. Lia, yang menempati kamar di sebelah, hanya tersenyum kecut. “Kamar tujuh memang begitu. Banyak yang tidak betah,” katanya. “Dulu ada yang bilang, cermin itu suka menunjukkan hal aneh.”
Budi, penghuni paling lama, mengangguk setuju. “Ada cerita kalau dulu ada penghuni kamar itu yang meninggal bunuh diri. Tapi Ibu Kost selalu membantah.” Suara Budi berbisik, seolah takut didengar.
Malam-malam Anisa berubah menjadi mimpi buruk. Ia sering terbangun dengan jantung berdebar kencang, mendengar bisikan samar dari arah cermin. Bisikan itu terdengar seperti rengekan, atau kadang tawa pelan yang dingin.
Suatu malam, ia melihat pantulan di cermin tidak hanya dirinya. Ada seorang wanita bergaun putih lusuh berdiri di sampingnya, tatapannya kosong. Wanita itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arahnya. Anisa menjerit, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia melarikan diri dari kamar, berlari ke kamar Lia. Lia menenangkannya, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia mempercayai cerita Anisa. “Mungkin kita harus mencari tahu lebih banyak tentang cermin itu,” usul Lia.
Mereka mulai mencari informasi, mulai dari bertanya pada tetangga lama hingga mencari berita lama di internet. Beberapa hari kemudian, Anisa menemukan sebuah artikel koran tahun 1990-an yang lusuh. Judulnya berbunyi: “Gadis Kost Tewas Misterius, Diduga Bunuh Diri.”
Artikel itu bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Dewi, penghuni kamar nomor tujuh, yang ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Polisi menyimpulkan bunuh diri, namun keluarga bersikeras ada kejanggalan.
“Dewi itu sangat terobsesi dengan penampilannya,” kata seorang tetangga yang diwawancarai di koran. “Dia bisa berjam-jam di depan cermin, seolah berbicara dengan bayangannya sendiri.”
Anisa merasakan bulu kuduknya meremang. Obsesi, cermin, kematian misterius. Semua kepingan teka-teki mulai menyatu. Ia kembali ke kamarnya, menatap cermin itu dengan pandangan baru.
Kini, cermin itu bukan hanya memantulkan bayangannya, tapi juga memancarkan aura kegelapan yang pekat. Anisa melihat pantulan dirinya, namun wajahnya tampak lebih pucat, lebih cekung, seperti Dewi dalam foto lama.
Semakin sering ia menatap cermin, semakin nyata pantulan Dewi muncul. Wanita itu kini tidak hanya berdiri di samping Anisa, tapi juga bergerak, mendekat, seolah ingin meraih Anisa dari dalam pantulan.
Suatu malam, Anisa terbangun karena suara bisikan yang kini sangat jelas. “Kembalikan… kembalikan…” Suara itu melengking, dingin, menusuk. Ia melihat cermin itu bersinar redup.
Pantulan Dewi di cermin kini tidak lagi pucat. Wajahnya dipenuhi amarah, matanya merah menyala. “Kau mengambil tempatku! Kau mengambil cerminku!” teriak suara dari cermin, namun bibir Dewi tak bergerak.
Anisa merasakan tarikan kuat dari arah cermin, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencoba menyeretnya. Ia berpegangan erat pada tepi ranjang, jantungnya berdegup tak karuan.
Cermin itu memancarkan cahaya hijau yang menyilaukan, dan di dalamnya, Anisa melihat gambaran masa lalu. Dewi, dengan wajah putus asa, sedang menatap cermin. Di belakangnya, sosok hitam pekat muncul dari pantulan.
Sosok itu meraih Dewi, menariknya ke dalam cermin. Dewi berteriak, meronta, namun cermin itu seolah menelannya hidup-hidup. Lalu, cermin itu kembali memantulkan wajah Dewi yang kini tersenyum sinis, namun matanya kosong.
Anisa menyadari, cermin itu bukan hanya tempat Dewi meninggal. Cermin itu adalah portal, penjara, dan juga entitas yang lapar. Ia tidak hanya memantulkan, tapi juga menyerap.
“Kau tidak akan mengambilku!” teriak Anisa, mencoba melawan tarikan. Ia meraih vas bunga berat di meja samping, mengangkatnya tinggi-tinggi dengan segenap kekuatannya.
Dengan mata terpejam dan napas memburu, Anisa mengayunkan vas itu sekuat tenaga ke arah cermin. BRUAAK! Suara pecahan kaca memekakkan telinga, diikuti jeritan melengking yang mengerikan.
Cahaya hijau itu padam seketika. Fragmen-fragmen cermin bertebaran di lantai, memantulkan bayangan Anisa yang ketakutan. Dari serpihan itu, ia melihat bayangan Dewi yang hancur, perlahan memudar menjadi asap hitam.
Kamar itu kembali sunyi, namun kali ini, kesunyiannya terasa berbeda. Hawa dingin yang menusuk perlahan menghilang, digantikan oleh kehangatan yang familiar. Anisa terduduk lemas, gemetar, namun lega.
Lia dan Budi, yang mendengar keributan, bergegas masuk. Mereka melihat kamar yang berantakan dan Anisa yang pucat pasi. Ibu Kost pun muncul, menatap serpihan cermin dengan wajah yang kini dipenuhi kengerian, bukan lagi kelelahan.
Anisa akhirnya menceritakan semuanya. Ibu Kost hanya bisa menghela napas, air mata mengalir di pipinya. “Saya tahu ada yang tidak beres dengan cermin itu,” bisiknya. “Tapi saya tidak punya uang untuk membuangnya, dan saya takut.”
Keesokan harinya, Anisa memutuskan pindah. Begitu juga Lia dan Budi. Rumah kost itu kini benar-benar kosong, cermin misterius itu telah hancur. Namun, bayangan wanita berambut panjang dan jeritan melengking itu akan selamanya menghantui mimpi Anisa.
Meski cermin itu telah pecah, Anisa tak pernah lagi bisa menatap pantulannya sendiri dengan cara yang sama. Di setiap pantulan, ia selalu teringat pada wajah pucat Dewi, dan bisikan dingin yang pernah mengoyak malamnya. Ia tahu, beberapa misteri mungkin terpecahkan, tapi jejak ketakutannya akan abadi.







