Scroll untuk baca artikel
DIY

Bayangan Itu Muncul di Tengah Sawah Saat Senja… Tapi Tak Pernah Ada Jejaknya

10
×

Bayangan Itu Muncul di Tengah Sawah Saat Senja… Tapi Tak Pernah Ada Jejaknya

Share this article

Bayangan Itu Muncul di Tengah Sawah Saat Senja… Tapi Tak Pernah Ada Jejaknya

Bayangan di Sawah Senja

Senja merayap perlahan di ufuk barat. Empat bocah, Rio, Rani, Dimas, dan Ardi, masih asyik bermain. Hamparan sawah membentang luas, memantulkan cahaya keemasan. Mereka mengejar bayangan panjang mereka sendiri.

Tawa riang mereka pecah, memantul di udara senja yang hangat. Kaki-kaki kecil mereka berlari lincah, menari di antara petak-petak sawah yang baru ditanami. Bayangan mereka memanjang, meliuk, menjadi teman bermain yang setia, selalu mengikuti setiap gerakan mereka.

Namun sore itu, ada yang berbeda. Sebuah getaran aneh menjalari udara. Bayangan mereka tampak lebih hidup, bergerak dengan intensitas yang tak biasa. Rio tertawa, mengira itu hanya ilusi optik semata.

Ardi, yang paling lincah, mencoba meraih bayangannya yang meliuk. Ia melompat, tangannya menggapai, seolah berusaha menangkap wujud tak kasat mata itu. Bayangannya sendiri seperti merespons, meregang, menjauh dari jangkauannya.

Tiba-tiba, bayangan Ardi memanjang tak wajar. Seolah-olah meraih sesuatu yang tak terlihat di kejauhan, ke arah rumpun padi yang lebat. Rani bergidik, “Itu bukan bayangan kita, Rio.” Udara mendadak terasa dingin, menusuk kulit.

Rio, yang paling tua, mencoba menenangkan. “Ah, itu cuma efek matahari mau tenggelam, Rani.” Namun, hatinya sendiri merasakan kegelisahan. Ada yang tidak beres, sesuatu yang mengusik ketenangan sore itu.

Dimas, yang selalu observatif, menunjuk ke arah lain. “Lihat! Ada bayangan lain!” Mereka menoleh, mata mereka memicing. Di antara batang-batang padi, tampak bayangan-bayangan baru. Bukan dari tubuh mereka, melainkan dari balik rumpun.

Bentuknya aneh, memanjang, dan bergerak cepat. Mereka seperti bayangan tanpa sumber, melayang di atas permukaan tanah. Bayangan-bayangan itu mulai mendekat, seolah punya tujuan, mengimpit ruang gerak anak-anak.

Sebuah bayangan tipis melesat di depan mereka. Lalu, bayangan lain, lebih besar, menyerupai tangan mencakar. Rio merasakan rambutnya meremang. Ini bukan lagi sekadar pantulan cahaya. Ini adalah sesuatu yang lain.

“Kita pulang saja!” desak Rani, suaranya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia menarik-narik ujung baju Rio, matanya penuh ketakutan. Sawah yang tadinya tempat bermain, kini terasa mengancam.

Tapi Ardi, yang tak pernah bisa menahan rasa penasaran, justru melangkah maju. Ia melihat sebuah bayangan mungil, seperti seekor kelinci, melompat di antara petak-petak sawah. Bayangan itu tampak memanggil, mengundang.

“Lihat! Kelinci!” seru Ardi riang, tanpa menyadari bahaya. Ia berlari mengejarnya tanpa pikir panjang, langkah kakinya cepat di atas lumpur. Rio merasakan firasat buruk, sebuah cengkeraman dingin di ulu hatinya.

“Ardi! Jangan!” teriak Rio, suaranya pecah. Tapi Ardi sudah terlalu jauh. Bayangan kelinci itu melesat cepat, menarik Ardi semakin dalam ke tengah sawah. Itu jebakan, Rio menyadari terlalu lambat.

Bayangan-bayangan lain merayap dari segala arah. Mereka bukan lagi sekadar bentuk samar. Mereka tampak padat, seperti kain hitam raksasa yang bergerak. Mereka membentuk jaring, memerangkap Ardi di tengah.

Teriakan Ardi pecah, ketakutan yang murni. Suaranya melengking, memotong keheningan senja. Bayangan-bayangan itu menelannya, menyelimutinya dalam kegelapan pekat. Rio dan Rani hanya bisa terpaku, terkejut.

Sekejap kemudian, Ardi menghilang. Tidak ada jejak, tidak ada suara. Hanya hamparan sawah yang kembali sunyi, dan bayangan-bayangan yang kini berdiri tegak, memanjang, seolah mengawasi mereka.

Rio tersentak, menarik Rani dan Dimas mundur. “Lari!” perintahnya, suaranya serak. Mereka harus lari, itu satu-satunya pilihan. Ketakutan yang membeku kini berubah menjadi adrenalin yang memacu jantung.

Bayangan-bayangan itu mengikuti. Mereka tidak terburu-buru, seolah bermain-main dengan mangsanya. Langkah kaki mereka terasa berat di lumpur sawah, setiap napas adalah perjuangan. Aroma tanah basah bercampur bau aneh, seperti belerang.

Matahari hampir terbenam, kegelapan merangkak dengan cepat. Cahaya senja yang tersisa hanya memperpanjang bayangan-bayangan itu, membuatnya tampak lebih mengerikan. Mereka mengejar dengan kecepatan mengerikan, tanpa suara.

Bayangan-bayangan itu melompat, melingkar, seolah berusaha menjerat kaki mereka. Rani tersandung, hampir jatuh. Dimas menariknya, wajahnya pucat pasi. Mereka terus berlari, tak berani menoleh ke belakang.

Suara desisan samar terdengar, seperti bisikan angin di antara padi. Atau mungkin itu suara bayangan-bayangan itu? Rio tidak tahu, dan ia tidak ingin mencari tahu. Yang penting adalah lari, lari sejauh mungkin.

Sebuah gubuk tua terlihat di kejauhan. Sebuah struktur reyot yang selama ini mereka anggap menyeramkan, kini menjadi satu-satunya harapan. Harapan terakhir mereka, perlindungan dari bayangan-bayangan itu.

Rio mendorong teman-temannya masuk, mengabaikan debu dan sarang laba-laba. Ia membanting pintu rapuh itu, berusaha menguncinya. Engselnya berderit, tapi gemboknya berkarat, sulit dikunci.

Bayangan-bayangan itu berhenti di ambang, ragu-ragu. Mereka tidak bisa masuk? Atau mereka hanya mengintai, menunggu? Cahaya terakhir senja memudar, dan gubuk itu diselimuti kegelapan total.

Di dalam, mereka terengah, bersembunyi di sudut gelap. Udara lembap, bau tanah dan ketakutan mengisi ruangan. Jantung mereka berdegup kencang, memukul-mukul tulang rusuk. Mereka tak berani bersuara.

Suara gesekan terdengar dari luar, menakutkan. Seperti kain kasar yang diseret di atas tanah. Lalu, suara ketukan pelan di dinding kayu gubuk. Ketukan itu berirama, seolah mencari celah, mencari jalan masuk.

Rani terisak pelan, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Rio. Dimas memeluk lututnya, matanya melotot ke arah pintu. Apakah bayangan itu bisa masuk? Atau mereka hanya mengintai, menunggu hingga mereka menyerah?

Malam tiba sepenuhnya. Gubuk itu diselimuti sunyi yang mencekam. Mereka tidak berani bergerak, hanya mendengarkan. Setiap suara kecil, setiap gesekan angin di luar, terasa seperti ancaman.

Suara-suara di luar perlahan mereda, lenyap. Tidak ada lagi gesekan, tidak ada lagi ketukan. Hanya keheningan yang menyesakkan, yang lebih menakutkan daripada suara apa pun. Mereka menunggu, menunggu sampai pagi.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap detik seperti jam. Mereka tak tahu apakah bayangan-bayangan itu sudah pergi, atau hanya bersembunyi di balik kegelapan malam, menunggu mereka lengah.

Akhirnya, secercah cahaya muncul di celah-celah dinding. Pagi datang, matahari perlahan mengusir bayangan malam. Dengan keberanian yang tersisa, Rio membuka pintu yang reyot.

Mereka keluar, gemetar, mata mereka melirik ke segala arah. Sawah tampak biasa lagi, hamparan hijau yang tenang di bawah mentari pagi. Seolah tidak ada yang pernah terjadi di sana semalam.

Tapi ada kekosongan, sebuah ketiadaan yang mencolok. Tempat Ardi berdiri terakhir, kini hanya lumpur basah. Ardi tak pernah ditemukan, seolah lenyap ditelan bumi, ditelan bayangan-bayangan itu.

Sejak itu, anak-anak tak pernah bermain di sawah lagi saat senja. Mereka menghindari area itu, bahkan di siang hari. Trauma malam itu terlalu dalam, terlalu nyata untuk dilupakan.

Setiap senja, saat matahari mulai terbenam, mereka melihat bayangan memanjang di kejauhan. Bayangan pohon, bayangan gubuk, bayangan diri mereka sendiri yang memanjang. Tapi mereka tahu, ada bayangan lain.

Kadang, mereka bersumpah melihat bayangan Ardi melambai di antara rumpun padi. Sebuah bayangan kecil, melambai dengan putus asa, seolah terjebak di dunia antara cahaya dan kegelapan.

Itu adalah sebuah peringatan. Sebuah bisikan dari sawah. Bahwa tidak semua bayangan itu tanpa jiwa. Beberapa bayangan memiliki niat. Beberapa bayangan memiliki cengkeraman. Dan beberapa bayangan, bisa menelanmu utuh.

Misteri bayangan di sawah senja itu tak pernah terpecahkan. Hanya ada desas-desus, cerita bisu yang diwariskan dari bibir ke bibir. Tentang anak-anak yang bermain terlalu dekat dengan kegelapan. Dan bayangan yang membawa pergi salah satu dari mereka.

Bayangan di Sawah Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *