Scroll untuk baca artikel
DIY

Siapa yang Mengumandangkan Adzan di Tempat Tak Berpenghuni Itu?

11
×

Siapa yang Mengumandangkan Adzan di Tempat Tak Berpenghuni Itu?

Share this article

 

Siapa yang Mengumandangkan Adzan di Tempat Tak Berpenghuni Itu?

Suara Adzan dari Kekosongan

Kampung Senja, sebuah nama yang melukiskan ketenangan. Tersembunyi di antara perbukitan hijau, ia adalah permata sunyi yang nyaris terlupakan. Pohon-pohon rindang memayungi jalan setapak, sementara sungai kecil mengalirkan melodi damai.

Arif, yang baru pulang dari kota, mencari kedamaian itu. Ia merindukan udara bersih, keramahan tetangga, dan terutama, rutinitas adzan yang syahdu. Panggilan suci yang selalu tepat waktu, penanda batas hari.

Namun, ketenangan itu retak suatu senja. Mentari masih menggantung tinggi, memancarkan bias jingga keemasan. Ayam-ayam jago belum bersiap untuk kandang, dan anak-anak masih riuh bermain di tanah lapang.

Tiba-tiba, sebuah suara mengudara. Sebuah kumandang adzan yang jernih, menggetarkan, dan sangat familiar. Namun, ada yang salah. Suara itu datang terlalu cepat. Jauh sebelum waktunya Maghrib tiba.

Arif terdiam, menghentikan langkahnya. Ia melihat sekeliling, mencari sumber suara. Masjid desa masih sepi, tak ada tanda-tanda persiapan. Waktu Maghrib masih sekitar satu jam lagi, mungkin lebih.

“Apa itu tadi?” gumamnya, pada dirinya sendiri. Ia mengira mungkin hanya halusinasi, atau mungkin telinganya yang salah dengar. Namun, suara itu begitu nyata, begitu jelas, seolah-olah dari dekat.

Beberapa warga desa mulai keluar rumah. Wajah-wajah mereka menunjukkan kebingungan yang sama. Mereka saling pandang, mencoba mencari penjelasan atas fenomena aneh yang baru saja terjadi.

Kyai Hasan, imam masjid yang dihormati, keluar dari rumahnya dengan kening berkerut. “Adzan apa itu?” tanyanya, suaranya dipenuhi nada tidak percaya. “Bukan dari masjid, itu pasti.”

Keesokan harinya, hal serupa terulang. Kali ini, saat adzan Ashar. Lagi-lagi, suaranya muncul sekitar setengah jam lebih awal. Menggema dari suatu tempat yang tak bisa dipastikan, bukan dari pengeras suara masjid.

Desa mulai diliputi kecemasan. Bisik-bisik ketakutan menyebar seperti api. “Pertanda apa ini?” “Jangan-jangan ada yang tidak beres.” “Apakah ada jin yang mencoba menyesatkan kita?”

Arif mencoba berpikir logis. Ia memeriksa sistem pengeras suara masjid, memastikan tidak ada kerusakan atau gangguan. Ia bahkan bertanya ke desa tetangga, barangkali ada yang iseng atau salah jadwal.

Namun, tidak ada jawaban. Sistem masjid berfungsi normal. Desa tetangga juga tidak mendengar apapun yang aneh. Suara adzan awal itu hanya terdengar di Kampung Senja, dan hanya di waktu-waktu tertentu.

Setiap hari, ketegangan semakin memuncak. Adzan Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Semuanya datang lebih awal. Terkadang hanya beberapa menit, terkadang hingga satu jam penuh.

Suara itu kadang terdengar begitu dekat, seolah di samping telinga. Di lain waktu, ia terdengar jauh, samar, seperti berasal dari dimensi lain. Namun, ia selalu ada, sebuah pengingat akan kejanggalan.

Warga desa mulai mengubah rutinitas mereka. Beberapa ada yang mengikuti adzan awal itu, mendirikan shalat lebih cepat. Yang lain menolak, menunggu jadwal resmi dari Kyai Hasan.

Perpecahan kecil mulai terjadi. Ketidakpastian menciptakan keraguan. Malam-malam menjadi lebih gelap, lebih sunyi, dipenuhi kecemasan yang tak terucap. Setiap orang menunggu, dan sekaligus takut, mendengar panggilan berikutnya.

Nenek Salmah, seorang wanita tua yang bijaksana dan sedikit misterius, sering terlihat duduk di teras rumahnya. Matanya yang keriput menatap kosong ke arah langit, seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata.

“Ini bukan adzan biasa,” bisiknya suatu sore pada Arif, suaranya serak. “Ini panggilan dari masa lalu. Atau dari tempat yang bukan milik kita.” Kata-katanya membuat bulu kuduk Arif merinding.

Arif mencoba menanyakan lebih lanjut, namun Nenek Salmah hanya menggeleng. “Ada sesuatu yang terbangun. Sesuatu yang seharusnya tetap tertidur. Suara itu adalah kuncinya.”

Ketegangan mencapai puncaknya saat adzan Isya suatu malam. Suara itu tidak hanya datang lebih awal, tetapi juga terdengar berbeda. Ada nada sumbang, sebuah gema aneh yang menyertainya.

Seolah-olah banyak suara yang tumpang tindih, bersahutan dalam kekacauan. Kumandangnya tidak lagi syahdu, melainkan mengerikan, seperti rintihan yang tak berkesudahan.

Anak-anak mulai menangis. Orang dewasa menutup telinga, mencoba mengusir suara yang menusuk jiwa. Beberapa bahkan jatuh sakit, demam tinggi, dengan mimpi buruk yang terus menghantui.

Kyai Hasan memanggil semua warga untuk berkumpul di masjid. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan tekad. “Kita tidak bisa membiarkannya berlarut-larut,” ujarnya tegas. “Kita harus mencari tahu sumbernya.”

Arif mengajukan diri untuk memimpin pencarian. Bersama Kyai Hasan dan beberapa pemuda desa yang berani, mereka memulai perjalanan di tengah malam yang gelap gulita.

Mereka membawa obor, sinarnya menari-nari di antara bayangan pepohonan. Udara terasa dingin, menusuk tulang. Setiap suara ranting patah atau gesekan daun terdengar seperti langkah kaki hantu.

Suara adzan itu terus menggema, membimbing mereka. Kini, ia terdengar lebih sering, lebih lantang, dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Seolah-olah mengundang mereka ke dalam jurang kegelapan.

Mereka menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui, menuju bagian hutan yang lebih dalam. Pepohonan di sana tumbuh lebih lebat, sulurnya melilit seperti lengan-lengan yang siap menerkam.

Semakin dalam mereka melangkah, semakin kuat suara adzan itu. Ia bukan lagi hanya sebuah suara, melainkan sebuah tekanan. Sebuah vibrasi yang terasa di dada, di kepala, mengancam untuk meremukkan akal sehat.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah tempat. Sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pohon-pohon raksasa. Di tengahnya, berdiri sebuah bangunan tua yang hampir runtuh, tertutup lumut dan sulur.

Itu adalah sebuah musholla kecil yang sudah lama ditinggalkan. Dulu, ia adalah tempat ibadah bagi para penebang kayu di masa lalu, namun sudah puluhan tahun tak terjamah. Cerita lama mengatakan, tempat itu angker.

Suara adzan itu kini memekakkan telinga, seolah berasal dari dalam musholla itu sendiri. Kumandangnya berputar-putar, melengkung, dan bercampur dengan desahan aneh.

Dengan jantung berdebar kencang, Arif dan Kyai Hasan mendekat. Pintu musholla yang reyot terbuka sedikit, mengundang mereka ke dalam kegelapan yang pekat.

Mereka melangkah masuk. Debu tebal menutupi lantai. Sarang laba-laba menggantung seperti tirai. Bau apak dan tanah basah menusuk hidung. Tidak ada apa-apa di sana, hanya kekosongan.

Namun, suara adzan itu masih ada. Ia tidak datang dari pengeras suara, tidak dari seseorang yang mengumandangkannya. Ia datang dari udara itu sendiri, dari dinding-dinding yang lapuk, dari kekosongan di tengah ruangan.

Kyai Hasan mengangkat obornya, cahayanya menyorot ke sudut ruangan. Di sana, di balik tumpukan batu bata yang runtuh, mereka melihat sesuatu. Sebuah lubang kecil, seolah retakan di dinding dunia.

Dari lubang itu, suara adzan misterius itu mengalir keluar. Bukan hanya suara, tapi juga sebuah sensasi. Dingin. Kosong. Sebuah tarikan halus, seolah ada sesuatu yang mencoba menarik mereka ke dalam.

Arif merasa pusing, seolah otaknya berputar. Suara itu semakin kuat, hampir memecahkan gendang telinga. Itu bukan suara adzan yang mereka kenal. Itu adalah gema dari kekosongan yang tak berujung.

Tiba-tiba, suara itu berhenti. Seketika. Hening total. Keheningan yang lebih mengerikan dari suara apapun yang pernah ada. Mereka semua terengah-engah, merasakan kelegaan yang dibarengi kengerian.

Kyai Hasan menjatuhkan dirinya berlutut. Matanya terpejam, bibirnya bergerak dalam doa. “Kita telah menemukan sumbernya,” bisiknya, suaranya gemetar. “Tapi kita tidak tahu apa itu.”

Mereka memutuskan untuk menutup lubang itu. Dengan susah payah, mereka mengumpulkan batu dan kayu, menutupi retakan itu sekuat tenaga. Setiap kali batu diletakkan, terasa ada dorongan balik dari dalam.

Setelah lubang itu tertutup rapat, mereka kembali ke desa. Kampung Senja kembali sunyi. Tidak ada lagi adzan awal, tidak ada lagi panggilan misterius. Ketenangan kembali menyelimuti.

Namun, ketenangan itu tidak lagi sama. Bekas luka tetap ada. Mimpi buruk masih menghantui beberapa warga. Dan setiap kali waktu adzan tiba, sebuah ketakutan halus menyelinap.

Arif sering mengunjungi musholla tua itu, memastikan lubang itu masih tertutup. Ia tahu, ada sesuatu yang pernah terbuka di sana. Sebuah gerbang kecil menuju sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Kampung Senja telah belajar sebuah pelajaran. Bahwa ada hal-hal di dunia ini yang lebih tua dari waktu, lebih misterius dari mimpi. Dan terkadang, sebuah panggilan suci bisa menjadi pembawa kengerian.

Adzan kembali tepat waktu. Namun, setiap kali kumandangnya terdengar, penduduk Kampung Senja tak bisa tidak memikirkan suara lain. Suara yang datang dari kekosongan, dari celah di antara realitas, sebuah misteri yang takkan pernah terpecahkan sepenuhnya.

Suara Adzan dari Kekosongan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *