Suara Ketukan di Pondok Kayu Jati: Misteri Malam Tak Berujung
Kabut tebal memeluk Pondok Kayu Jati, menyembunyikan siluet pegunungan. Ardi tiba di sana, mencari ketenangan, inspirasi untuk novelnya yang macet. Udara dingin menusuk tulang, membawa serta aroma lumut dan kayu lapuk.
Pondok itu terpencil, jauh dari keramaian, berdiri sendiri di tengah hutan pinus yang sunyi. Hanya suara angin berdesir yang sesekali memecah keheningan. Sebuah tempat sempurna untuk melarikan diri dari dunia.
Malam pertama berlalu dengan damai, hanya ditemani derik jangkrik. Ardi menulis, larut dalam alur ceritanya. Ia merasa ini adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat. Kedamaian yang mutlak.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Saat jarum jam menunjuk angka dua dini hari, sebuah suara samar memecah kehenatan. “Tok… tok…”
Ardi mengangkat kepala dari laptopnya. Ia mengerutkan kening, mencoba memastikan. Mungkin ranting pohon yang bergesekan dengan dinding, pikirnya. Atau mungkin hanya imajinasinya saja.
Ia kembali mengetik, namun suara itu datang lagi. Kali ini lebih jelas, lebih teratur. “Tok… tok… tok…” Tiga ketukan berurutan, seolah ada yang sengaja membuatnya.
Ia bangkit, melangkah ke jendela. Di luar, hanya kegelapan pekat dan siluet pohon pinus yang menari diterpa angin. Tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia mencoba menenangkan diri, mungkin tikus atau hewan lain. Tapi irama ketukan itu terlalu teratur untuk seekor hewan.
Ia memutuskan untuk mengabaikannya. Kembali ke meja, ia mencoba fokus. Namun, suara itu kini terasa lebih dekat, seolah berasal dari dalam dinding kamarnya sendiri. “Tok… tok… tok…”
Ardi merasakan bulu kuduknya merinding. Ia memukul dinding dengan telapak tangannya. “Siapa di sana?” suaranya bergema, terdengar asing di keheningan. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang lebih dalam.
Malam itu, tidur tak menjemput Ardi. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ketukan itu muncul lagi. Kadang pelan, kadang sedikit lebih keras, selalu dengan irama tiga kali yang sama.
Pagi harinya, Ardi bertanya pada Pak Hadi, penjaga pondok yang sudah tua. Pak Hadi hanya tersenyum tipis, matanya menyimpan rahasia. “Pondok ini memang punya banyak cerita, Nak,” katanya singkat.
Ardi mendesak, “Cerita apa, Pak? Soal ketukan itu?” Pak Hadi hanya menggeleng, enggan melanjutkan. Ia hanya menyarankan Ardi untuk tidak terlalu memikirkannya.
Sepanjang hari, Ardi mencoba mencari penjelasan logis. Ia memeriksa setiap sudut kamar, setiap panel kayu. Tidak ada retakan, tidak ada celah, tidak ada tanda-tanda kerusakan.
Ia bahkan berjalan mengelilingi pondok, mencari sumber suara dari luar. Pohon-pohon berdiri kokoh, tidak ada ranting yang terlalu panjang. Udara tenang, tidak ada angin kencang.
Malam kedua, ketukan itu kembali. Kali ini lebih berani, lebih mendesak. “Tok… tok… tok… tok… tok…” Lima ketukan. Irama baru, intensitas yang meningkat.
Ardi tak bisa lagi mengabaikannya. Ia menyalakan senter, menyorot setiap sudut kamar. Suara itu kini terasa bergeser, kadang dari dinding di samping tempat tidur, kadang dari belakang lemari.
Ia bahkan membuka pintu kamar, melihat ke koridor yang gelap. Koridor itu kosong, hanya bayangan panjang yang diciptakan oleh lampu remang-remang di ujung.
Ketukan itu seolah menggodanya, memanggilnya. Ardi merasakan adrenalin memompa dalam nadinya. Ini bukan sekadar suara; ini adalah pesan, sebuah komunikasi yang tak terucap.
Ia mencoba meniru ketukan itu. “Tok… tok… tok…” Ia menunggu. Setelah beberapa detik, suara itu membalas, persis sama. “Tok… tok… tok…”
Ardi merasakan dingin menjalar di punggungnya. Ini interaksi. Ada sesuatu, atau seseorang, yang mencoba berkomunikasi dengannya melalui ketukan ini. Tapi siapa? Dan apa yang mereka inginkan?
Ketakutan bercampur rasa penasaran yang luar biasa. Ia menghabiskan sisa malam itu dalam keadaan terjaga, mendengarkan, mencoba memahami pola ketukan yang kini berubah-ubah.
Beberapa kali ketukan itu membentuk pola yang aneh, seolah-olah mencoba mengeja sesuatu. Ardi mencoba menuliskan pola itu di buku catatannya, berharap menemukan petunjuk.
Pagi harinya, ia kembali menemui Pak Hadi. Kali ini, ia lebih tegas. “Pak, saya serius. Ada yang aneh di pondok ini. Ketukan itu… itu bukan cuma suara biasa.”
Pak Hadi menatap Ardi lama, sorot matanya yang tua kini penuh kesedihan. “Ada seorang anak, Nak,” bisiknya pelan. “Namanya Ayu. Dia… dikurung di sini, bertahun-tahun yang lalu.”
Ardi merasa merinding. “Dikurung? Kenapa?” Pak Hadi menghela napas panjang. “Orang tuanya percaya dia ‘berbeda’. Mereka malu, jadi mereka menyembunyikannya di pondok ini.”
“Ayu suka mengetuk-ngetuk dinding,” lanjut Pak Hadi, suaranya tercekat. “Itu cara dia berkomunikasi, meminta perhatian. Dia kesepian. Sampai suatu hari, ketukan itu berhenti.”
“Berhenti… selamanya?” Ardi bertanya, suaranya nyaris tak terdengar. Pak Hadi mengangguk. “Mereka bilang dia sakit, lalu meninggal. Dikubur di suatu tempat di sekitar sini.”
Malam ketiga, Ardi kembali ke pondok dengan beban cerita itu. Ketukan itu muncul lagi, tapi kali ini terasa berbeda. Lebih sendu, lebih putus asa. Bukan lagi teror, melainkan kesedihan.
“Tok… tok… tok…” Irama tiga ketukan itu kini terasa seperti rintihan. Ardi menyadari, itu adalah irama ketukan pertama yang ia dengar, irama paling dasar dari penderitaan Ayu.
Ia merasa ada dorongan kuat untuk mencari. Bukan lagi karena ketakutan, tapi karena simpati. Ia ingin menemukan tempat di mana Ayu dikurung, tempat di mana ketukan itu berasal.
Ia mengikuti suara itu. Ketukan itu kini stabil, berasal dari satu titik di dinding kamar, di balik sebuah lemari tua yang berat. Ardi berusaha menggeser lemari itu.
Dengan susah payah, ia berhasil menggesernya. Di baliknya, terlihat sebuah panel kayu yang sedikit longgar, warnanya lebih gelap dari dinding sekitarnya. Ini bukan bagian asli dinding.
Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba mencongkel panel itu. Kayu lapuk itu rapuh, dan dengan sedikit dorongan, panel itu terbuka, menampakkan sebuah rongga gelap di dalamnya.
Ardi menyalakan senternya dan menyorot ke dalam. Ruangan itu kecil, pengap, dan berdebu. Di tengahnya, teronggok sebuah kotak kayu kecil yang usang.
Ia meraih kotak itu. Di dalamnya, ada beberapa mainan kayu sederhana, sebuah boneka kain lusuh, dan yang paling mengejutkan, sebuah buku harian kecil yang sudah menguning.
Dengan tangan gemetar, Ardi membuka buku harian itu. Tulisan tangan anak-anak yang tak teratur memenuhi halaman-halamannya. Itu adalah tulisan Ayu.
“Hari ini aku mengetuk tiga kali. Tapi tidak ada yang datang. Aku ingin bermain,” sebuah baris berbunyi. Baris lain: “Mereka bilang aku jahat. Tapi aku hanya kesepian.”
Ketukan di dinding kini terdengar lagi, pelan, seolah berterima kasih. Ardi menyadari, Ayu tidak ingin menakutinya. Ia hanya ingin kisahnya didengar, keberadaannya diakui.
Ardi duduk di lantai, membaca setiap kata dalam buku harian itu. Ia merasakan kesedihan yang mendalam atas nasib anak kecil itu, yang terkurung dan terlupakan.
Ia menemukan halaman terakhir. Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan goresan pensil yang samar: “Aku tidak akan berhenti mengetuk sampai ada yang mendengarkan.”
Saat Ardi menutup buku harian itu, ketukan di dinding berhenti. Hening kembali menyelimuti Pondok Kayu Jati, namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Bukan lagi mencekam, melainkan damai.
Ia menghabiskan sisa malam itu merenung. Bukan hantu yang mencoba menakutinya, melainkan jiwa yang merindukan kebebasan, yang ingin didengar setelah bertahun-tahun terdiam.
Pagi harinya, Ardi tidak lagi merasakan ketakutan. Ia merasa telah memenuhi sebuah janji, sebuah harapan dari masa lalu. Ia telah mendengar ketukan itu, dan ia telah mengerti.
Ia meletakkan kembali kotak itu ke dalam rongga tersembunyi, menutup panel kayu. Ia tahu, kisah Ayu kini akan menjadi bagian dari dirinya, sebuah inspirasi yang tak terduga.
Ardi meninggalkan Pondok Kayu Jati beberapa hari kemudian. Ia tak lagi mendengar ketukan itu, namun suara itu akan selamanya terukir dalam ingatannya.
Sebuah misteri yang terungkap, bukan dengan teror, melainkan dengan empati. Pondok itu tetap berdiri di sana, sunyi, namun kini menyimpan rahasia yang telah diceritakan, dan akhirnya didengar.
Dan Ardi, penulis yang mencari inspirasi, kini memiliki kisah yang jauh lebih dalam untuk ditulis. Sebuah kisah tentang ketukan yang menembus waktu, mencari pendengar di tengah sunyi.






