Tangisan di Bukit Angker: Misteri Anak yang Tak Pernah Ditemukan
Arif, seorang jurnalis investigasi yang haus akan kebenaran, tiba di Desa Sembunyi. Desa terpencil itu diselimuti kabut abadi dan bisikan aneh. Penduduknya, berwajah kuyu, selalu menunduk saat Bukit Angker disebut.
Di sanalah, di puncak bukit yang selalu diselimuti bayangan, misteri bersemayam. Bukan hanya mitos, tapi sebuah tangisan. Tangisan pilu seorang anak kecil yang tak pernah berhenti, tak peduli siang atau malam.
Arif, dengan segala skeptisismenya, menganggapnya hanya cerita rakyat. Ia datang untuk mengungkap penipuan atau histeria massal. Namun, saat malam pertama tiba, suara itu menusuk gendang telinganya.
Sebuah isak tangis yang begitu nyata, begitu memilukan. Seolah-olah seorang anak kecil sedang menderita, sendirian di kegelapan. Suara itu datang dari Bukit Angker, tak salah lagi.
Keesokan paginya, Arif mencoba bertanya pada penduduk. Mereka semua bergeming, mata mereka dipenuhi ketakutan. “Jangan ke sana, Nak,” bisik seorang nenek tua, jemarinya bergetar. “Dia akan memanggilmu.”
Arif tak gentar. Dengan kamera dan alat rekam di tangan, ia memutuskan untuk mendaki. Langkah kakinya berat, seolah bukit itu enggan menerima kedatangannya. Udara terasa dingin, bahkan di bawah terik matahari.
Semakin tinggi ia mendaki, semakin jelas tangisan itu terdengar. Bukan lagi isak, melainkan rengekan yang putus asa. Arif mempercepat langkahnya, hatinya berdebar tak karuan. Ia yakin akan menemukan anak itu.
Puncak bukit itu gersang, hanya ditumbuhi pohon-pohon tua yang keriput. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi seorang anak. Namun, suara tangisan itu kini begitu dekat, seolah di sampingnya.
Arif memutar kepalanya, mencari-cari. Tidak ada siapa-siapa. Ia mulai merinding. Apakah ini hanya halusinasi? Tapi suara itu begitu otentik, begitu menyayat hati.
Ia merekam suara itu, berharap analisis audio bisa mengungkap keanehan. Malam itu, ia memutar rekaman di penginapannya. Tangisan itu mengisi ruangan, membuat bulu kuduknya berdiri.
Analisis awal menunjukkan tidak ada manipulasi. Itu murni suara anak kecil yang menangis. Arif mulai terobsesi. Ia harus menemukan sumber suara itu, harus mengakhiri penderitaan anak tersebut.
Selama beberapa hari berikutnya, Arif menjelajahi setiap jengkal Bukit Angker. Ia menemukan jejak kaki kecil yang samar, seolah anak itu baru saja lewat. Namun, jejak itu selalu berakhir tiba-tiba.
Ia juga menemukan mainan kayu yang usang, terkubur separuh di tanah. Sebuah boneka kecil tanpa mata, tergeletak sendirian. Mungkinkah ini milik anak yang menangis itu?
Penduduk desa semakin menjauhinya. Mereka melihatnya sebagai orang yang dikutuk, orang yang telah membuka tabir terlarang. “Dia telah mengikatkan diri padanya,” bisik-bisik mereka.
Suatu malam, Arif terbangun oleh tangisan itu. Kali ini, suara itu bukan hanya dari bukit. Suara itu ada di dalam kamarnya, di samping telinganya. Ia merasakan embusan napas dingin di pipinya.
Ia melompat dari tempat tidur, menyalakan lampu. Tidak ada siapa-siapa. Namun, aroma tanah basah dan lumut tua memenuhi ruangan. Aroma khas Bukit Angker.
Ketakutan mulai menyusup ke dalam dirinya. Ini bukan lagi sekadar investigasi. Ini adalah perburuan, atau mungkin, ia yang sedang diburu. Anak itu seolah-olah mengikutinya.
Arif memutuskan untuk mencari tahu sejarah bukit itu. Ia berhasil membujuk seorang tetua desa yang sangat tua untuk berbicara. Kakek itu, dengan mata berair, menceritakan kisah lama.
Berpuluh-puluh tahun lalu, di bukit itu pernah berdiri sebuah desa kecil yang kini terlupakan. Desa itu dilanda wabah mengerikan, merenggut banyak nyawa, terutama anak-anak.
Seorang anak kecil bernama Sari, meninggal dunia sendirian di sebuah gua tersembunyi. Ibunya yang putus asa, konon melakukan ritual terlarang untuk memanggil arwahnya kembali.
Ritual itu berhasil, namun dengan konsekuensi mengerikan. Arwah Sari tidak kembali seutuhnya. Ia terjebak di antara dua dunia, menangis tanpa henti, memanggil ibunya.
Dan yang lebih mengerikan, arwah Sari tidak sendiri. Ritual itu membuka gerbang. Sesuatu yang lain, sesuatu yang kuno dan jahat, ikut tertarik. Ia kini menggunakan tangisan Sari sebagai umpan.
“Dia bukan anak kecil biasa lagi,” kata kakek itu berbisik. “Dia adalah penarik, Nak. Dia menarik orang-orang yang berani mendekat, orang-orang yang hatinya tergerak oleh tangisannya.”
“Apa yang terjadi pada orang-orang itu?” tanya Arif, suaranya tercekat.
Kakek itu hanya menggeleng. “Mereka tidak pernah kembali. Atau, mereka kembali, tapi bukan lagi diri mereka sendiri.” Matanya menatap tajam, “Mereka menjadi bagian dari bukit itu.”
Arif merasa darahnya membeku. Tangisan itu, jejak kaki itu, mainan itu, semua adalah jebakan. Ia telah ditarik, selangkah demi selangkah, ke dalam kegelapan.
Ia mencoba pergi dari desa itu, namun kakinya terasa berat. Setiap kali ia mendekati jalan keluar, tangisan itu semakin keras, seolah menariknya kembali.
Dalam tidurnya, ia melihat wajah Sari. Wajah seorang anak kecil yang pucat, mata cekung, dan senyum yang menyeramkan. Sari mengulurkan tangan kurusnya, mengundangnya.
“Datanglah padaku,” bisik suara itu, bukan lagi tangisan. “Aku sendirian. Temani aku.”
Arif tahu ia harus melawan. Ia kembali ke bukit, kali ini dengan tekad yang berbeda. Ia tidak mencari anak itu, melainkan mencari cara untuk melepaskan diri.
Ia menemukan gua yang diceritakan kakek. Dingin dan lembap, gua itu dipenuhi ukiran kuno yang aneh. Di tengah gua, ada sebuah batu datar yang tampak seperti altar.
Tangisan itu kini menggema di dalam gua, memekakkan telinga. Arif merasakan kehadiran yang sangat kuat, bukan hanya dari Sari, tapi sesuatu yang jauh lebih tua, lebih gelap.
Ia melihat bayangan kecil melintas di sudut matanya. Kemudian, tangisan itu berhenti. Keheningan yang tiba-tiba lebih menakutkan daripada suara apa pun.
Dari kegelapan gua, muncul sesosok wujud. Bukan anak kecil, bukan pula wanita. Itu adalah bentuk yang samar, berdenyut, dengan mata merah menyala. Tangisan itu adalah tipu daya.
Wujud itu merangkak mendekat, mengeluarkan suara mendesis yang mengerikan. “Kau telah datang,” bisiknya, suaranya adalah gabungan ribuan tangisan dan jeritan. “Kau telah mendengar panggilanku.”
Arif terpaku, tubuhnya kaku karena teror. Ini bukan Sari. Ini adalah entitas yang lebih tua dari waktu, yang bersembunyi di balik penderitaan seorang anak.
Entitas itu melayang di atasnya, bayangannya menelan seluruh gua. Arif merasakan cengkeraman dingin di jiwanya, seolah bagian dari dirinya ditarik keluar.
Ia berteriak, namun suaranya tak terdengar. Ia mencoba melarikan diri, tapi kakinya tak bisa digerakkan. Wujud itu tertawa, tawa yang tak ada bedanya dengan tangisan.
Saat kesadaran Arif memudar, ia melihat wajah-wajah lain di sekeliling wujud itu. Wajah-wajah pucat, mata kosong, yang tampak seperti bayangan Sari. Mereka semua adalah yang terpanggil.
Mereka semua adalah korban dari tangisan yang memilukan itu. Arif kini tahu mengapa tidak ada yang pernah kembali. Mereka semua menjadi bagian dari bukit, bagian dari entitas yang haus.
Desa Sembunyi tetap diselimuti kabut, dan Bukit Angker tetap mengeluarkan tangisan. Tangisan seorang anak kecil yang memilukan. Tapi kini, ada nada baru dalam tangisan itu.
Sebuah nada yang lebih dalam, lebih gelap, seolah ada suara lain yang ikut menangis. Suara itu kini memiliki resonansi baru, resonansi keputusasaan yang tak terhingga.
Dan di antara bisikan angin di puncak bukit, terkadang terdengar sebuah nama. Nama seorang jurnalis yang datang untuk mencari kebenaran, namun menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.
Arif.
Tangisan itu terus memanggil, abadi, dari bukit yang kini telah menelan satu lagi jiwa. Dan di Desa Sembunyi, tak ada yang berani lagi menyebut namanya. Mereka hanya menunduk, mendengarkan.
Mendengarkan tangisan itu, yang kini terasa semakin kuat, semakin nyata, seolah-olah ia ada di samping mereka. Menunggu giliran mereka untuk dipanggil oleh suara dari Bukit Angker.






