Scroll untuk baca artikel
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Jangan Pandangi Air Pelabuhan Terlalu Lama… Rambut Itu Akan Menyambutmu

10
×

Jangan Pandangi Air Pelabuhan Terlalu Lama… Rambut Itu Akan Menyambutmu

Share this article

 

Di antara riuhnya mesin kapal dan lolongan sirene kabut, Pelabuhan Tanjung Harapan menyimpan rahasia yang lebih kelam dari lautan itu sendiri. Malam selalu membawa aura berbeda di sana, bau amis ikan berpadu dengan karat dan minyak, sementara bayangan raksasa crane menari-nari di bawah rembulan pucat.

Penjaga malam bernama Arya adalah saksi bisu atas transformasi ini. Selama bertahun-tahun, ia telah terbiasa dengan kesunyian yang mencekam setelah hiruk-pikuk siang mereda, hanya ditemani desiran angin laut dan gelegar ombak yang menghantam dermaga. Namun, belakangan ini, kesunyian itu dipecah oleh sesuatu yang lain.

Bisikan-bisikan aneh mulai menyelinap di antara tumpukan kontainer, seperti suara tangisan yang tertahan. Arya, seorang pria rasional yang tak percaya takhayul, awalnya mengira itu hanya kelelahan atau ilusi pendengaran yang disebabkan oleh angin. Namun, frekuensinya semakin sering, semakin jelas.

Suatu malam, saat ia melakukan patroli rutin di gudang nomor tujuh yang terbengkalai, bau lembap dan anyir tiba-tiba menusuk hidungnya. Suhu udara di sekelilingnya mendadak anjlok, mengirimkan getaran dingin hingga ke tulang sumsumnya.

Dari balik tumpukan jaring usang dan peti kayu lapuk, sesosok bayangan mulai terbentuk. Samar, transparan, namun tak diragukan lagi adalah siluet seorang wanita. Rambutnya yang panjang terurai basah, menempel di wajah pucat yang tak terlihat jelas, seolah baru saja keluar dari kedalaman laut.

Wanita itu hanya berdiri mematung, menatap Arya dengan tatapan kosong yang mengoyak jiwa. Tak ada suara, tak ada gerakan berarti, hanya kehadiran dingin yang menusuk. Dalam sekejap mata, ia menghilang, meninggalkan Arya terengah-engah, jantungnya berdegup tak beraturan.

Kejadian itu berulang. Setiap kali Arya berpatroli di area tertentu—terutama di sekitar dermaga lama atau gudang-gudang terbengkalai—sosok wanita berambut basah itu akan muncul. Terkadang ia terlihat berjalan perlahan di sepanjang bibir dermaga, jejak kakinya basah namun tak meninggalkan bekas.

Penasaran bercampur ketakutan mulai menggerogoti pikiran Arya. Ia mulai bertanya kepada para nelayan tua dan buruh pelabuhan yang telah puluhan tahun bekerja di sana. Awalnya mereka enggan bicara, mata mereka memancarkan ketakutan yang mendalam.

Namun, setelah beberapa kali dibujuk, cerita-cerita samar mulai terkuak. Ada legenda tentang seorang wanita muda yang hilang bertahun-tahun lalu, seorang penari yang sering menghibur para pelaut. Ia menghilang secara misterius, tak pernah ditemukan, seolah ditelan oleh lautan itu sendiri.

Namanya adalah Laras. Kisah-kisah beredar bahwa ia memiliki hubungan terlarang dengan seorang kapten kapal, atau mungkin terlibat dalam bisnis ilegal yang disembunyikan di balik gemerlap pelabuhan. Tak ada yang tahu pasti, hanya desas-desus yang mengambang seperti kabut pagi.

Arya mulai mengamati pola kemunculan hantu itu. Ia selalu muncul di tempat-tempat yang sepi, terpencil, dan terasa “dingin” secara harfiah. Ada semacam kesedihan mendalam yang terpancar dari keberadaannya, seolah ia ingin menyampaikan sesuatu, namun terhalang oleh tabir kematian.

Suatu malam, saat hantu itu muncul lagi di gudang nomor lima, ia melakukan sesuatu yang berbeda. Alih-alih hanya berdiri, kali ini ia menunjuk ke arah tumpukan karung goni tua yang nyaris roboh. Gerakannya lambat, namun penuh urgensi.

Arya merasakan dorongan aneh untuk mengikuti isyarat itu. Ia mendekati tumpukan karung, jantungnya berdebar kencang. Di baliknya, tersembunyi sebuah peti kayu yang tampak usang, terkunci dengan gembok berkarat.

Rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya. Dengan susah payah, Arya berhasil membongkar gembok itu. Di dalam peti, ia menemukan beberapa barang pribadi yang sudah lapuk: sehelai selendang sutra berwarna merah, sebuah jepit rambut berbentuk bunga melati, dan sebuah buku harian kecil yang sampulnya sudah menguning.

Ia membawa barang-barang itu ke pos penjagaan, tangannya gemetar saat membuka buku harian. Tulisan tangan di dalamnya mulai memudar, namun masih bisa terbaca. Itu adalah buku harian Laras.

Setiap halaman mengungkap kisah hidup Laras yang penuh warna, mimpinya sebagai penari, dan kisah cintanya dengan seorang pria misterius yang ia sebut “Bayangan.” Namun, ada bagian-bagian yang mulai terasa gelap, tentang ancaman, tentang rahasia besar yang ia tak sengaja ketahui.

Laras menulis tentang sindikat penyelundupan yang beroperasi di pelabuhan, melibatkan orang-orang berpengaruh, termasuk beberapa petinggi pelabuhan dan seorang kapten kapal yang kejam. Ia menyebutkan sebuah lokasi spesifik: “Gudang Bawah Tanah Blok 13,” tempat mereka menyembunyikan barang-barang ilegal.

Halaman terakhir buku harian itu sangat mengerikan. Laras menulis bahwa ia telah melihat terlalu banyak, dan “Bayangan” yang ia cintai ternyata adalah bagian dari sindikat itu, bahkan mungkin pemimpinnya. Ia menyadari nyawanya terancam, merasa terjebak, dan ia takut akan malam yang akan datang.

Tanggal terakhir di buku harian itu cocok dengan tanggal hilangnya Laras secara misterius bertahun-tahun lalu. Arya merasakan hawa dingin yang lebih menusuk daripada sebelumnya. Hantu itu bukan hanya sekadar penampakan; ia adalah arwah yang mencari keadilan.

Dengan informasi dari buku harian itu, Arya segera menghubungi pihak berwenang. Awalnya mereka skeptis, menganggapnya cerita karangan atau halusinasi. Namun, kegigihan Arya dan detail-detail spesifik yang ia berikan, terutama lokasi “Gudang Bawah Tanah Blok 13,” membuat mereka tertarik.

Tim investigasi dan kepolisian akhirnya melakukan penggerebekan di lokasi yang disebutkan. Gudang Bawah Tanah Blok 13 ternyata adalah sebuah bunker tua yang tak terdaftar, tersembunyi di bawah salah satu gudang paling usang di pelabuhan.

Di dalamnya, mereka menemukan bukti-bukti penyelundupan yang mengejutkan, jaringan rahasia yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Dan di balik dinding palsu, yang tertutup rapat, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Sebuah kerangka manusia, terikat, dengan sisa-sisa gaun penari yang lusuh. Di sampingnya, tergeletak sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk bunga melati—persis seperti jepit rambut yang ditemukan Arya di peti kayu. Itu adalah Laras.

Berita penemuan ini mengguncang seluruh kota, terutama komunitas pelabuhan. Identitas kerangka dikonfirmasi melalui tes forensik, dan beberapa orang berpengaruh yang disebut dalam buku harian Laras ditangkap, termasuk mantan kapten kapal yang kini menjadi pengusaha sukses, dialah “Bayangan” yang kejam itu.

Sejak malam itu, hantu wanita berambut basah tak pernah terlihat lagi di Pelabuhan Tanjung Harapan. Udara di sekitar dermaga lama terasa lebih ringan, kesedihan yang mencekam perlahan menghilang, digantikan oleh ketenangan yang damai.

Arya, sang penjaga malam, tak lagi dihantui ketakutan. Ia kini memahami bahwa di balik setiap misteri yang tak terpecahkan, ada sebuah kebenaran yang menanti untuk diungkap. Dan terkadang, keadilan harus dicari oleh mereka yang tak lagi memiliki suara, dibantu oleh tangan-tangan manusia yang berani.

Pelabuhan Tanjung Harapan kini terasa lebih aman, namun cerita tentang hantu berambut basah yang mencari keadilan akan selalu menjadi bisikan di antara desiran angin laut, pengingat akan rahasia kelam yang pernah tersembunyi di kedalamannya. Arya tahu, Laras akhirnya menemukan kedamaiannya, berlayar menuju keabadian tanpa beban.

Hantu Berambut Basah di Pelabuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *