Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Jantung Candi Kuno Ini Menyimpan Bayangan yang Tak Pernah Pergi

10
×

Jantung Candi Kuno Ini Menyimpan Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Share this article

Jantung Candi Kuno Ini Menyimpan Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Sosok Bayangan di Jantung Candi Kuno

Dr. Arka, seorang sejarawan yang gemar menguak tabir masa lalu, merasakan panggilan kuat. Kompleks candi kuno itu selalu memanggilnya. Kali ini, ia datang bukan sekadar meneliti arca.

Ia ingin menyingkap rahasia yang tersembunyi. Desas-desus tentang penampakan di sana sudah lama beredar. Arka, seorang rasionalis, hanya menganggapnya mitos belaka.

Malam pertama tiba, Arka memilih tinggal di pos penelitian. Angin dingin berhembus melalui sela-sela stupa. Bulan purnama menyinari pahatan-pahatan kuno.

Kesunyian malam itu pekat, hampir mencekam. Hanya suara jangkrik memecah keheningan. Arka membuka lembaran catatannya, mencoba fokus.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas. Samar, cepat, nyaris tak terlihat. Itu hanya sekelebat di ujung matanya. Arka menghela napas, mengira ia hanya kelelahan.

Pagi menjelang, Arka melanjutkan pekerjaannya. Ia menjelajahi pelataran candi. Setiap sudut dan relung seolah menyimpan kisah.

Siang itu, ia merasa ada yang memperhatikannya. Perasaan aneh, seperti tatapan tak terlihat. Ia menoleh, tapi tak ada siapa-siapa.

Malam kedua, suasana semakin terasa ganjil. Arka memutuskan untuk berpatroli kecil. Ia berjalan di antara reruntuhan gelap.

Dinginnya malam terasa menusuk kulit. Ia berjalan perlahan, senter di tangan. Cahayanya menari di antara relief-relief kuno.

Di lorong sempit menuju candi utama, ia melihatnya lagi. Kali ini lebih jelas, namun tetap tak berwujud. Sosok tinggi, hitam pekat, seolah menyerap cahaya.

Sosok itu berdiri di kejauhan. Tak bergerak, tak bersuara. Hanya siluet yang tak dapat dijelaskan. Jantung Arka berdegup kencang.

Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat. Sosok itu perlahan melayang. Bukan berjalan, tapi melayang tanpa suara.

Ia menghilang di balik pilar besar. Arka mengedipkan mata berkali-kali. Apakah ia bermimpi? Apakah itu hanya ilusi optik?

Rasionalitasnya memberontak. Ia adalah seorang ilmuwan. Hal-hal seperti ini tidak seharusnya ada. Namun, kengerian itu nyata.

Keesokan harinya, Arka mulai mencari tahu. Ia bertanya pada penjaga candi, Pak Jaya. Pak Jaya hanya menggelengkan kepala pelan.

“Bukan hal baru, Nak Arka,” katanya lirih. “Para leluhur memang ada di sini. Mereka menjaga.”

Arka merasa merinding. Kata-kata Pak Jaya bukan penjelasan. Justru menambah lapisan misteri baru. Penjaga? Apa yang mereka jaga?

Malam ketiga, Arka tidak bisa tidur. Ia menyiapkan kamera inframerah. Ia ingin merekamnya, membuktikan keberadaannya.

Ia menunggu di dekat candi utama. Angin dingin membawa bisikan-bisikan tak jelas. Seolah suara-suara kuno berbicara padanya.

Pukul dua dini hari, suhu tiba-tiba turun drastis. Embun mulai terbentuk di udara. Sebuah hawa dingin menusuk tulang.

Kemudian, ia melihatnya lagi. Kali ini, lebih dekat dari sebelumnya. Sosok itu muncul dari balik sebuah arca.

Ia tidak memiliki wajah atau detail. Hanya gumpalan kegelapan yang bergerak. Arka menahan napas, tangannya gemetar.

Kamera merekam, lampunya berkedip. Sosok itu perlahan mendekat. Ia melayang tanpa suara, tanpa jejak.

Arka bisa merasakan aura dinginnya. Sebuah tekanan kuat menimpa dadanya. Ia ingin lari, namun kakinya terpaku.

Sosok itu berhenti beberapa meter darinya. Kemudian, sebuah suara. Bukan suara yang didengar telinga. Tapi suara di dalam kepala Arka.

Itu bisikan, atau mungkin gumaman. Kata-kata kuno yang tak dimengerti Arka. Namun, nadanya penuh kesedihan.

Sosok itu mengangkat tangannya. Atau setidaknya, bagian yang menyerupai tangan. Menunjuk ke arah sebuah relief.

Relief itu menggambarkan pertempuran kuno. Ksatria-ksatria bertarung sengit. Arka merasa seperti ada arus listrik.

Tiba-tiba, ia melihat kilasan memori. Bukan miliknya. Tapi seperti ingatan yang diproyeksikan. Peristiwa masa lalu.

Ia melihat pertempuran itu terjadi. Darah membanjiri pelataran candi. Teriakan dan ratapan memenuhi udara.

Candi itu, yang kini tenang, pernah menjadi medan perang. Banyak jiwa yang gugur di sana. Terutama di area relief itu.

Kilasan itu menghilang secepatnya. Sosok itu masih di sana. Namun, kini ia terlihat lebih… transparan.

Seolah energinya telah terkuras. Ia melayang kembali ke arah relief. Lalu, perlahan-lahan menghilang ke dalamnya.

Arka terdiam, menggigil hebat. Ia telah menyaksikan sesuatu yang tak terbayangkan. Bukan sekadar mitos.

Rekaman kamera inframerahnya menunjukkan hal aneh. Ada fluktuasi energi besar. Tapi tidak ada sosok yang jelas.

Hanya seperti distorsi udara. Namun, pengalaman Arka sangat nyata. Ia tidak bisa menyangkalnya lagi.

Malam-malam berikutnya, Arka terus mengamati. Sosok itu muncul lebih sering. Selalu di sekitar area pertempuran.

Ia menyadari sesuatu. Sosok itu bukan ancaman. Ia bukan hantu yang menakutkan. Ia adalah penjaga.

Atau mungkin, ia adalah salah satu dari mereka yang gugur. Jiwa yang terikat pada tempat ini. Melindungi sesuatu.

Arka mulai mempelajari sejarah candi lebih dalam. Ia mencari catatan tentang pertempuran itu. Ia menemukan hal mengejutkan.

Sebuah artefak penting hilang setelah pertempuran. Sebuah patung kecil berukir mantra kuno. Diyakini memiliki kekuatan besar.

Patung itu disebut “Patung Penjaga Hati.” Konon, ia menyimpan esensi keberanian. Penting bagi kejayaan kerajaan.

Apakah sosok bayangan itu adalah penjaga patung itu? Apakah ia masih mencari patung yang hilang? Atau ia menjaga tempat itu?

Arka merasa ada ikatan yang terbentuk. Antara dirinya dan sosok itu. Sebuah pemahaman tanpa kata.

Ia mulai membersihkan area relief. Dengan hati-hati, ia membersihkan lumut dan debu. Seolah memberi hormat pada sosok itu.

Setiap malam, ia melihat sosok itu. Tidak lagi menakutkan. Tapi lebih seperti pengawas sunyi.

Suatu malam, ia melihat sosok itu bergerak. Ia tidak melayang. Tapi seperti… mencoba menunjuk ke bawah tanah.

Di bawah relief pertempuran itu. Ada retakan kecil di tanah. Arka belum pernah memperhatikannya.

Ia memutuskan untuk menggali. Dengan peralatan sederhana, ia mulai bekerja. Hatinya berdebar kencang.

Tanah itu keras, namun Arka tak menyerah. Berjam-jam ia menggali. Hingga akhirnya, tangannya menyentuh sesuatu.

Dingin, halus, seperti batu. Ia menggali lebih dalam. Kemudian, ia melihatnya. Patung Penjaga Hati.

Patung itu tersembunyi dengan sempurna. Terkubur puluhan abad. Terlindung oleh tanah dan waktu.

Arka mengangkat patung itu perlahan. Debu menempel di permukaannya. Namun, auranya terasa kuat.

Saat ia memegang patung itu, ia merasakan sesuatu. Kehangatan yang menjalar. Sebuah rasa damai.

Ia menoleh ke arah relief. Sosok bayangan itu ada di sana. Kali ini, ia tidak lagi gelap pekat.

Ada cahaya samar yang memancar darinya. Ia terlihat lebih jernih. Bahkan, ia terlihat seperti tersenyum.

Kemudian, perlahan, sosok itu memudar. Bukan menghilang tiba-tiba. Tapi seperti larut ke dalam udara.

Ia pergi. Pergi untuk selamanya. Tugasnya telah selesai. Hati Arka diliputi perasaan campur aduk.

Sedih, namun juga lega. Ia telah membantu jiwa yang terikat itu. Ia telah menemukan apa yang hilang.

Candi itu terasa berbeda. Lebih tenang, lebih damai. Kehadiran misterius itu telah tiada.

Dr. Arka kembali ke dunianya. Namun, ia bukan lagi orang yang sama. Ia telah menyaksikan hal-hal di luar nalar.

Misteri candi itu tak lagi sekadar catatan sejarah. Ia adalah kisah hidup dan kematian. Tentang jiwa yang tak pernah pergi.

Patung Penjaga Hati kini berada di museum. Namun, bagi Arka, maknanya jauh lebih dalam. Ia adalah bukti keberadaan yang tak terlihat.

Dan setiap kali ia melihat candi itu, ia teringat. Pada sosok bayangan yang menjaga. Pada rahasia yang terkuak di bawah bulan purnama.

Kompleks candi itu menyimpan lebih dari sekadar batu tua. Ia adalah saksi bisu waktu. Rumah bagi penjaga abadi.

Sebuah misteri yang kini menjadi bagian dari dirinya. Sebuah kisah yang tak akan pernah ia lupakan. Selamanya terukir di jiwanya.

Sosok Bayangan di Jantung Candi Kuno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *