Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Jangan Pernah Hentikan Mobilmu Saat Melihat Boneka Seperti Ini

11
×

Jangan Pernah Hentikan Mobilmu Saat Melihat Boneka Seperti Ini

Share this article

 

Malam telah menelan segala cahaya, menyisakan kerlip bintang yang samar di atas jalan raya yang sepi. Angin dingin berbisik di antara pepohonan tua, membawa serta aroma tanah basah dan kesunyian yang mencekam. Hanya deru mesin truk tua milik Arif yang memecah keheningan.

Perjalanan jauh ini sudah ia lakoni berkali-kali. Rute yang sama, pemandangan yang sama, dan rasa kantuk yang sama. Namun, malam ini berbeda. Sebuah anomali muncul di tengah kegelapan, memaksa Arif untuk mengerem mendadak.

Di depannya, tepat di garis putus-putus tengah jalan, duduk sebuah boneka. Bukan boneka yang terserak tak sengaja, melainkan duduk tegak, seolah sengaja diletakkan di sana. Punggungnya menghadap Arif, bahunya sedikit condong ke depan.

Cahaya lampu depan truk membanjiri wujud kecil itu. Boneka porselen, sepertinya. Rambutnya gimbal dan kusam, gaunnya lusuh berwarna putih gading, dan ada noda gelap yang samar di bagian belakang.

Arif merasa aneh. Siapa yang akan meninggalkan boneka di tengah jalan seperti ini? Mungkin anak-anak nakal, pikirnya, mencoba mengusir rasa tak nyaman yang tiba-tiba merayap di benaknya.

Ia mematikan mesin, keheningan langsung menyergap. Hanya detak jantungnya yang bergemuruh di telinga. Ia mencoba melihat lebih jelas, namun posisi boneka itu tidak berubah. Tetap membelakanginya, seolah menolak untuk dilihat.

Dingin menusuk tulang, bukan hanya dari suhu malam, tapi juga dari aura misterius yang terpancar dari boneka itu. Arif merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang tidak beres.

Ia ragu untuk keluar. Naluri mengatakan agar tetap di dalam truk, mengabaikan boneka itu, dan melanjutkan perjalanan. Namun, ada dorongan aneh, rasa penasaran yang tak tertahankan, yang mengikatnya.

Perlahan, Arif membuka pintu truk. Kaki-kakinya terasa berat melangkah di atas aspal dingin. Setiap langkahnya terasa seperti gema di keheningan yang tebal. Matanya tak lepas dari boneka itu.

Semakin dekat, semakin jelas detailnya. Wajah porselennya retak di beberapa tempat, memberinya ekspresi yang sulit diartikan. Satu matanya terlihat pecah, menyisakan lubang kosong yang gelap.

Dan yang paling mengerikan, mata satunya yang utuh, berwarna biru pucat, tampak menatap lurus ke depan. Seolah melihat sesuatu yang tidak Arif lihat. Atau, lebih buruk lagi, seolah ia bisa merasakan kehadiran Arif di belakangnya.

Arif berhenti beberapa langkah dari boneka itu. Ia bisa merasakan hawa dingin yang lebih pekat di sekitar boneka tersebut. Udara terasa berat, menekan dadanya. Ia menelan ludah yang terasa kering.

“Hei,” bisiknya pelan, suaranya tercekat. “Boneka… kau baik-baik saja?” Pertanyaan bodoh, ia tahu. Tapi ia tak tahu harus berkata apa lagi. Boneka itu tidak bergerak.

Tiba-tiba, ia mendengar suara. Bukan suara yang jelas, lebih seperti bisikan angin, namun terasa begitu dekat. “Dia tidak suka…” Suara seorang anak kecil, samar, hampir tak terdengar.

Arif tersentak mundur. Ia menoleh ke segala arah, namun tak ada siapa-siapa. Hutan di sisi jalan terlihat gelap dan pekat, menelan semua cahaya dan suara.

Jantungnya berdebar tak karuan. Bisikan itu, suara anak kecil itu, darimana asalnya? Apakah ia hanya berhalusinasi karena kelelahan? Atau boneka ini…

Ia kembali menatap boneka itu. Kini, ia merasa boneka itu tidak hanya diam. Ia merasa mata biru pucat yang utuh itu seolah bergerak, melirik sedikit ke arahnya. Hanya sedikit, namun cukup untuk membuat Arif terkesiap.

Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia harus pergi. Cepat. Ia berbalik, bergegas kembali ke truknya. Langkahnya semakin cepat, hampir berlari.

Saat tangannya hampir mencapai gagang pintu truk, ia mendengar suara lagi. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Suara tawa seorang anak perempuan. Tawa yang polos, namun di tengah kesunyian itu, tawa itu terasa dingin dan menusuk.

Ia menoleh cepat. Boneka itu. Boneka itu kini menghadap ke arahnya. Wajah retaknya seolah tersenyum tipis, dan mata biru pucatnya menatap lurus, tanpa berkedip, langsung ke mata Arif.

Lutut Arif lemas. Ia terjatuh, namun berhasil bangkit lagi. Ia melompat masuk ke dalam truk, mengunci pintu, dan memutar kunci kontak. Mesin truk bergetar, namun tidak mau menyala.

Panik mulai melanda. Ia mencoba lagi, dan lagi. Mesin tersendat, batuk-batuk, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya. Ia melirik spion samping. Boneka itu masih di sana, menatapnya.

Tiba-tiba, suara tawa itu terdengar lagi, kali ini seolah dari dalam kabin truk. Arif bergidik, menoleh ke kursi penumpang, ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.

Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Ini tidak nyata. Ini hanya imajinasinya. Ia membuka mata lagi. Dan di kursi penumpang, duduklah boneka itu.

Jantung Arif serasa berhenti. Boneka itu, dengan gaun lusuh dan mata pecahnya, duduk tegak di sampingnya. Mata biru pucatnya kini menatap lurus ke wajah Arif, sangat dekat. Aroma debu dan sesuatu yang apek memenuhi kabin.

Arif berteriak. Ia mendorong boneka itu sekuat tenaga. Boneka itu terlempar ke pintu, membentur kaca dengan bunyi ‘duk’ yang mengerikan. Lalu terjatuh ke lantai.

Saat itu juga, mesin truk menyala dengan raungan keras. Arif tidak berpikir dua kali. Ia menginjak gas dalam-dalam, mengabaikan boneka yang tergeletak di lantai. Truk melaju kencang, meninggalkan tempat itu.

Ia terus mengemudi, tak peduli seberapa jauh. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, napasnya tersengal. Ia terus melirik spion tengah, takut boneka itu muncul lagi di jalan di belakangnya.

Namun, tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan dan jalan kosong. Ia melirik ke lantai kabin. Boneka itu sudah tidak ada. Hilang. Seolah tak pernah ada di sana.

Malam itu, Arif tidak tidur. Ia langsung menuju kedai kopi terdekat, mencari keramaian dan cahaya. Ia mencoba menceritakan apa yang dialaminya kepada seorang pelayan tua.

Pelayan tua itu mendengarkan dengan seksama, mengangguk-angguk pelan. “Boneka porselen, kau bilang? Di jalan tua itu?” tanyanya, suaranya serak.

Arif mengangguk cepat. “Ya. Gaun putih, mata satu pecah.”

Pelayan itu menghela napas panjang. “Itu boneka milik Laras, nak.” Ia mulai bercerita. Laras adalah seorang gadis kecil yang hilang puluhan tahun lalu di jalan itu. Saat itu, Laras sedang bermain dengan boneka kesayangannya.

“Ada yang bilang dia diculik. Ada yang bilang dia tersesat di hutan dan tak pernah ditemukan. Tapi semua orang tahu, boneka kesayangannya, boneka porselen dengan gaun putih, hilang bersamanya.”

“Beberapa orang yang lewat di jalan itu, terutama saat malam, sering melaporkan melihat boneka itu. Duduk di tengah jalan, seperti menunggu.”

“Tapi tak ada yang berani mendekat,” lanjut pelayan itu, matanya menatap jauh. “Konon, arwah Laras masih mencari boneka itu. Atau, boneka itu yang mencari Laras.”

“Dan jika kau berani menyentuhnya, atau membawanya pergi…” Pelayan itu berhenti, menatap Arif dengan sorot mata peringatan. “Dia akan mengikutimu. Mencari sesuatu yang hilang darinya. Atau mungkin, mencari teman bermain.”

Arif teringat tawa anak kecil itu, dan bagaimana boneka itu tiba-tiba berada di sampingnya. Rasa takut yang ia rasakan semalam kembali menusuknya. Jadi, itu bukan halusinasi.

Sejak malam itu, Arif tidak pernah lagi melewati jalan tersebut. Ia memilih rute yang lebih panjang, memakan waktu lebih banyak, namun ia rela. Bayangan boneka porselen dengan mata kosong dan senyum retak itu menghantuinya.

Terkadang, saat ia sendirian di truk, ia merasa udara tiba-tiba menjadi dingin. Atau ia mendengar bisikan samar tawa seorang anak perempuan di sudut telinganya.

Ia selalu menoleh, mencari. Namun tak ada apa-apa. Hanya kegelapan dan kesendirian. Kecuali, terkadang, ia bersumpah melihat pantulan kecil di spionnya.

Sebuah bayangan samar, seperti gaun putih lusuh, atau sepasang mata biru pucat yang menatapnya dari kejauhan. Sebuah pengingat bahwa misteri di tengah jalan itu mungkin belum selesai.

Boneka itu mungkin tidak lagi duduk di tengah jalan, menunggu. Tapi entah bagaimana, Arif merasa, ia kini selalu berada di suatu tempat. Menunggu. Dan mengawasi. Dan tawa kecil itu, tawa dingin yang polos, terkadang masih terdengar dalam mimpinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *