Di kedalaman rimba yang belum terjamah, tersembunyi sebuah dusun yang namanya sendiri sudah mengundang rasa ngeri: Dusun Angker. Bukan tanpa alasan julukan itu melekat erat pada permukiman terpencil ini, sebab di sana bersemayam sebuah Makbarah Tua, makam keramat yang menjadi pusat segala misteri. Kisah-kisah pilu tentang tangisan tak berwujud di tengah malam seringkali berhembus, menyeruak dari balik pepohonan pinus yang menjulang tinggi.
Arif, seorang peneliti muda yang haus akan pengetahuan, tiba di Dusun Angker dengan niat murni. Ia tertarik pada folklor dan legenda lokal yang tersebar luas, mencari korelasi antara mitos dan realitas. Desas-desus tentang tangisan di makam keramat itu menarik perhatiannya secara khusus, dianggapnya sebagai anomali yang butuh penjelasan logis, bukan sekadar bualan takhayul.
Sambutan di desa itu dingin, nyaris tak acuh. Penduduk Dusun Angker adalah orang-orang yang pendiam, wajah mereka seringkali memancarkan kesedihan dan ketakutan yang mendalam. Mereka hidup dalam bayang-bayang Makbarah Tua, seolah-olah setiap napas yang mereka hirup mengandung partikel ketakutan yang abadi.
Mbah Karto, juru kunci makam yang berusia senja, akhirnya bersedia menemuinya. Pria tua itu memiliki sorot mata yang penuh kearifan, namun juga menyimpan kesedihan yang tak terucap. Ia memperingatkan Arif tentang kekuatan tak kasat mata yang bersemayam di tempat itu, sebuah entitas yang tak bisa diukur dengan logika manusia.
“Tempat ini bukan untuk main-main, Nak,” bisik Mbah Karto lirih, suaranya serak dan berat. “Banyak yang mencoba mengusik, dan tak satu pun yang kembali dengan jiwa utuh. Hawa di sana tak sama dengan di tempat lain.”
Arif mengangguk, mencoba menyembunyikan keraguan di hatinya. Sebagai seorang ilmuwan, ia percaya pada data dan bukti konkret, bukan pada cerita-cerita hantu. Namun, aura Mbah Karto yang begitu kuat, dan tatapan mata tuanya yang begitu meyakinkan, sedikit mengusik rasionalismenya.
Malam pertama Arif di Dusun Angker terasa dingin dan sunyi, diselimuti kegelapan pekat yang hanya ditembus cahaya rembulan. Ia menyiapkan peralatannya, termasuk perekam suara sensitif dan kamera inframerah. Angin berdesir melalui pepohonan, menciptakan simfoni menakutkan yang seolah-olah berbisik di telinganya.
Namun, tangisan yang dijanjikan tak kunjung terdengar. Hanya suara jangkrik dan lolongan anjing hutan yang memecah keheningan. Arif mencatatnya dalam buku hariannya, menduga bahwa cerita itu hanyalah ilusi akustik atau mitos yang dibesar-besarkan. Ia merasa sedikit kecewa, namun tekadnya untuk membuktikan kebenaran justru semakin membara.
Malam kedua, Arif memutuskan untuk mendekati makam itu lebih jauh. Ia berdiri di batas gerbang bambu tua, memandangi deretan nisan yang hitam dan lumutan. Hawa dingin menusuk tulangnya, namun ia tetap bertahan, menajamkan indranya.
Samar-samar, sebuah suara melayang dari dalam kompleks makam. Bukan tangisan, melainkan desahan panjang yang menyesakkan dada, seperti seseorang yang menahan napas dalam kesedihan yang tak terhingga. Arif menajamkan pendengarannya, mencoba mencari sumbernya. Suara itu menghilang secepat ia datang, meninggalkan kegelisahan yang tak bisa dijelaskan.
Beberapa penduduk desa mulai mendekatinya dengan tatapan cemas. Seorang gadis muda bernama Maya, yang tampak pucat dan gemetaran, mendekatinya dengan langkah ragu. “Jangan terlalu dekat dengan makam itu, Mas,” katanya bergetar, suaranya nyaris tak terdengar.
“Sudah banyak yang mencoba mencari tahu, dan tak ada yang kembali utuh. Mereka pulang dengan tatapan kosong, atau bahkan hilang akal.” Mata Maya memancarkan ketakutan yang mendalam, seolah ia pernah menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya dilihat manusia.
Arif mencoba menenangkan Maya, meyakinkannya bahwa ia hanya melakukan penelitian ilmiah. Namun, di dalam hatinya, benih keraguan mulai tumbuh. Ketakutan para penduduk desa terasa begitu nyata, bukan sekadar fiksi. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar cerita rakyat biasa.
Malam ketiga, Arif memutuskan untuk bermalam di dekat Makbarah Tua, nekad ingin membuktikan kebenasan suara itu. Ia membawa senter berkekuatan tinggi, kamera inframerah, dan nyali yang tak tergoyahkan, atau setidaknya, itulah yang ia yakini. Ia memilih sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjulang tinggi sebagai tempat berlindung.
Pukul dua belas malam, udara terasa menekan dan dingin yang tak wajar. Bau tanah basah bercampur aroma bunga melati menyengat hidung, menciptakan sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Arif menyalakan perekam suaranya, membiarkannya menangkap setiap desiran angin.
Tiba-tiba, suara itu muncul, jelas, menusuk sanubari, seolah berasal dari inti bumi. Tangisan seorang wanita, pilu, penuh duka yang tak terhingga, mengalir di antara nisan-nisan tua. Seolah-olah semua kesedihan di dunia tercurah dalam satu suara itu, sebuah ratapan yang abadi.
Arif merasakan bulu kuduknya merinding, jantungnya berpacu tak keruan. Rasa dingin yang ia rasakan bukan lagi karena suhu, melainkan sensasi yang lebih dalam, seolah-olah udara di sekitarnya mengental. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi tubuhnya mulai bergetar tak terkendali.
Ia menyalakan senternya, menyapu kegelapan di sekelilingnya, berharap menemukan sumber suara itu. Di balik sebuah nisan kuno yang ditumbuhi lumut tebal, bayangan samar terlihat bergerak. Bentuknya tak jelas, hanya siluet yang bergetar dalam kegelapan, seolah-olah terbuat dari kabut dan kesedihan.
Tangisan itu semakin keras, hampir histeris, membuat telinganya sakit dan kepalanya pening. Arif merasa ada tekanan tak terlihat yang menghimpit dadanya, membuatnya sulit bernapas. Suara itu bukan lagi sekadar tangisan, melainkan ratapan yang bercampur dengan erangan, seolah ada penderitaan abadi yang ingin dilepaskan.
Ia memberanikan diri melangkah maju, tangannya gemetar memegang senter. Setiap langkah terasa berat, seolah ia berjalan di bawah air. Aroma melati semakin kuat, nyaris memabukkan, bercampur dengan bau anyir yang tak dikenal. Ia mengarahkan senter tepat ke arah bayangan itu, ingin mengakhiri misteri ini.
Namun, yang ia lihat hanyalah kabut tipis yang mengepul, menari-menari di antara nisan. Tidak ada wujud fisik, tidak ada sosok wanita yang menangis. Kabut itu berputar perlahan, membentuk pusaran kecil. Di tengah pusaran kabut, sebuah mata merah menyala menatapnya tajam, penuh amarah dan kesedihan yang tak terlukiskan.
Mata itu memancarkan rasa sakit yang mendalam, seolah telah menyaksikan penderitaan selama berabad-abad. Arif merasa seolah-olah jiwanya dihisap oleh tatapan itu, semua rasionalitasnya runtuh dalam sekejap. Ia terlempar ke belakang, terhuyung-huyung oleh rasa takut murni yang melumpuhkan.
Ia tak peduli lagi pada penelitian atau keberaniannya yang semula menggebu. Satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah lari, sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu. Ia berlari tanpa arah, menembus semak belukar dan akar-akar pohon, tak memedulikan goresan di kulitnya.
Tangisan itu masih menggema di telinganya, bahkan saat ia telah jauh dari makam. Suara itu mengikutinya, merasuk ke dalam benaknya, menjadi melodi teror yang abadi. Sejak malam itu, Arif tak pernah lagi sama seperti dulu. Tidurnya dihantui oleh suara tangisan dan mata merah yang menyala dalam kegelapan.
Ia kembali ke kota, membawa rekaman suara yang tak bisa dijelaskan oleh logika ilmiah mana pun. Suara tangisan itu terekam jelas, pilu, dan menggema, tetapi tanpa sumber visual yang dapat diidentifikasi. Para ahli suara tak bisa menjelaskan fenomena itu, hanya bisa mengatakan bahwa itu adalah anomali yang belum pernah mereka temui.
Makbarah Tua tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan, sebuah tabir kegelapan yang tak bisa disingkap. Penduduk Dusun Angker masih hidup dalam ketakutan, menjaga jarak dari makam keramat itu. Dan Dusun Angker selamanya diselimuti oleh tangisan pilu di malam hari, sebuah ratapan abadi yang mengunci jiwa-jiwa dalam ketakutan yang tak berkesudahan.
Kisah tentang tangisan di makam keramat itu menjadi legenda yang diceritakan dari mulut ke mulut, sebuah peringatan akan batas tipis antara dunia nyata dan alam tak kasat mata. Arif, dengan mata yang kini dipenuhi bayangan ketakutan, hanya bisa menyimpan rahasia itu dalam hatinya, selamanya menjadi saksi bisu dari misteri yang tak terpecahkan. Ia tahu, ada hal-hal di dunia ini yang sebaiknya dibiarkan tetap menjadi misteri, agar akal manusia tidak hancur oleh kebenarannya yang mengerikan.





