Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Mau Coba? Air Hangat Ini Bikin Tidurmu Punya Cerita Lain

12
×

Mau Coba? Air Hangat Ini Bikin Tidurmu Punya Cerita Lain

Share this article

Mau Coba? Air Hangat Ini Bikin Tidurmu Punya Cerita Lain

Air Hangat yang Membawa Mimpi Aneh: Sebuah Kisah Terlarang

Arya menatap rumah tua itu. Jendela-jendela kosong, seperti mata tanpa jiwa. Debu tebal menyelimuti setiap sudut, aroma apek menusuk hidung. Kontrak sewanya murah, terlalu murah, tapi ia butuh tempat tinggal baru.

Namun, ada sesuatu yang menariknya, sebuah ketertarikan aneh. Terutama kamar mandi utama, dengan bak mandi pualam yang usang, memancarkan aura misterius yang tak bisa ia jelaskan.

Air yang mengalir dari keran kuningan selalu anehnya hangat. Hangat yang tidak wajar, seolah dipanaskan dari dalam bumi, tanpa perlu pemanas air sama sekali. Sebuah keanehan yang menyenangkan, pikirnya.

Arya menyukai sensasinya, relaksasi yang instan. Ia tak tahu, kehangatan itu adalah gerbang menuju mimpi-mimpi mengerikan, sebuah portal ke masa lalu yang terkubur dalam kegelapan.

Malam pertama, mimpi itu samar. Siluet seorang wanita, menangis tanpa suara, terperangkap dalam kabut putih yang berputar-putar. Suara bisikan tanpa kata, seperti angin melalui daun kering, memenuhi telinganya.

Arya terbangun dengan keringat dingin, jantung berdebar kencang di dadanya. Ia mengabaikannya, menganggapnya hanya kelelahan setelah seharian membereskan barang-barang di rumah baru itu.

Tapi malam berikutnya, air hangat itu memanggil lagi, janjikan ketenangan yang ia butuhkan. Ia menyerah pada panggilannya, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kehangatan yang menyesatkan itu.

Dan mimpi itu kembali, lebih jelas. Wajah pucat, mata cekung, menatapnya penuh keputusasaan dari balik tirai air yang mengalir. Ada luka lama di sana, sebuah cerita yang ingin diceritakan.

Setiap kali ia mandi air hangat itu, mimpi-mimpi itu datang. Mereka menjadi semakin intens, semakin nyata, seperti film horor yang diputar berulang-ulang di benaknya.

Sosok wanita itu kini memiliki nama, meski tak terucap: Elara. Ia melihat Elara berjalan di lorong rumah, menangis di sudut kamar, dan yang paling mengerikan, terperangkap dalam sebuah ruangan gelap.

Ruangan itu pengap, berbau tanah dan keputusasaan. Elara tampak mencoba menjangkau sesuatu, sebuah benda yang terkubur di bawah lantai, tapi tangannya selalu gagal meraihnya.

Arya mulai merasa letih. Garis-garis hitam muncul di bawah matanya, setiap bayangan di rumah tampak menari, berbisik, memanggil namanya. Tidurnya terganggu, hidupnya perlahan-lahan terenggut.

Ia mencoba tidak mandi air hangat itu, tapi rasa dingin menjalarinya, bukan dari suhu udara, melainkan dari dalam. Bak pualam itu memanggil, sebuah bujuk rayu yang tak bisa ia tolak.

Mimpi-mimpi itu kini seperti rekaman yang rusak. Ada pengulangan, sebuah adegan yang sama terus-menerus terputar, selalu berakhir dengan Elara menunjuk ke sudut gelap yang sama.

Sudut itu ada di dalam rumah, di suatu tempat yang tersembunyi, sebuah rahasia yang terkunci. Arya mulai merasa bahwa mimpi-mimpi ini bukanlah sekadar mimpi, melainkan pesan.

Obsesinya kian menjadi. Arya mulai mencari tahu sejarah rumah itu, ke perpustakaan tua di kota, menggeledah arsip-arsip berdebu yang jarang disentuh orang lain.

Catatan-catatan kuno, berita lokal yang usang, ia mencari benang merah. Akhirnya, ia menemukan sebuah kisah tragis seorang wanita, Elara Harding, di tahun 1950-an.

Elara, seorang seniman yang hidup menyendiri, menghilang secara misterius dari rumah ini. Polisi tak pernah menemukan jasadnya, hanya sketsa-sketsa terakhirnya yang penuh keputusasaan.

Rumah itu kosong bertahun-tahun setelahnya, reputasinya sebagai tempat berhantu menyebar luas di kalangan penduduk setempat. Tak ada yang berani mendekat, apalagi menempati.

Arya membaca bahwa Elara memiliki kebiasaan mandi air hangat setiap malam. Ia juga dikenal sering melukis di ruang bawah tanah, tempatnya menemukan ketenangan.

Koneksi antara Elara, rumah ini, dan air hangat itu terlalu kuat untuk diabaikan. Arya merasa merinding, menyadari bahwa ia mungkin sedang berkomunikasi dengan arwah seorang wanita yang tak tenang.

Mimpi terakhir itu adalah puncaknya. Arya melihat Elara, bukan lagi sebagai bayangan, tapi nyata, penuh luka dan keputusasaan yang mendalam. Wajahnya begitu dekat, matanya memohon.

Ia berada di ruang bawah tanah, tempat yang Arya tak pernah jamah sebelumnya. Elara terperangkap, memegang sebuah liontin perak di tangannya, berbisik tanpa suara.

Liontin itu jatuh dari genggamannya, menggelinding di atas lantai tanah yang lembap, berhenti tepat di bawah sebuah tumpukan kayu bakar usang yang tertata rapi di sudut ruangan.

Arya terbangun, napasnya tersengal, keringat membanjiri tubuhnya. Kali ini, ia tahu harus ke mana. Ia harus mengakhiri semua ini, memberikan Elara kedamaian yang ia cari.

Dengan senter di tangan, jantung berdebar keras, Arya memberanikan diri menuju ruang bawah tanah yang gelap. Udara di sana terasa dingin, berbeda dengan kehangatan air di bak mandi.

Aroma lembap dan tanah basah menyengat hidung. Lampu senter menari di kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan yang seolah bergerak di setiap sudut.

Ia melangkah perlahan, mencari tumpukan kayu bakar yang Elara tunjukkan dalam mimpinya. Di sana, tepat di bawah tumpukan itu, tanah tampak sedikit berbeda, lebih gembur.

Sebuah firasat menusuknya, sebuah kebenaran yang mengerikan mulai terkuak. Arya mulai menggali, dengan tangan gemetar, menggunakan sekop kecil yang ia temukan di gudang.

Tanah itu mudah digali, seolah baru saja dipindahkan. Setelah beberapa saat, tangannya menyentuh sesuatu yang keras, sebuah objek yang tersembunyi di bawah lapisan tanah.

Sebuah kotak kayu kecil, lapuk dan hampir hancur dimakan usia. Dengan susah payah, Arya membukanya. Di dalamnya, sebuah liontin perak yang sudah kusam, berukir nama “Elara.”

Di samping liontin itu, ada secarik kertas yang juga lapuk. Dengan hati-hati, Arya membukanya. Itu adalah surat terakhir Elara, yang ditujukan kepada kekasihnya yang tak pernah kembali.

Surat itu menceritakan keputusasaan Elara, tentang pengkhianatan yang ia alami, dan bagaimana ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri di rumah itu, di ruang bawah tanahnya.

Ia menuliskan bahwa ia ingin jasadnya ditemukan, agar kisahnya tak dilupakan. Liontin itu adalah satu-satunya peninggalan dari kekasihnya, dan ia ingin ia dikubur bersamanya.

Namun, jasadnya tak pernah ditemukan. Ia menghilang, terkubur di bawah tanah ruang bawah tanah itu sendiri, oleh dirinya sendiri, agar tak ada yang menemukan dan menghakiminya.

Arya menyadari kebenaran yang mengerikan. Air hangat itu, yang selama ini menjadi sumber mimpinya, adalah air mata Elara yang tak pernah kering, merembes dari tanah tempat ia berbaring.

Ia adalah perwujudan dari keputusasaan dan keinginan Elara untuk ditemukan, untuk diakui keberadaannya. Ia ingin kisahnya didengar, setelah puluhan tahun terkubur dalam kegelapan.

Dengan tangan gemetar, Arya membersihkan liontin itu, merasakan getaran dingin di tangannya. Ia menguburkannya kembali di tempat yang layak, di sebuah taman kecil di belakang rumah.

Malam itu, ia mandi lagi. Airnya masih hangat, tapi sensasinya berbeda. Tidak ada lagi panggilan atau desakan, hanya kehangatan yang menenangkan, seolah sebuah arwah telah menemukan kedamaian.

Mimpi-mimpi itu berhenti. Rumah itu terasa lebih ringan, beban berat terangkat dari pundaknya. Namun, pertanyaan tetap ada, bergelayut di benaknya seperti kabut tipis.

Darimana kehangatan air itu berasal? Apakah ia benar-benar adalah air mata Elara yang tak pernah kering, mencari kedamaian yang layak, sebuah pengakuan terakhir?

Arya tak pernah tahu pasti. Ia hanya tahu, setiap kali ia menyentuh air hangat itu, ia akan selalu teringat pada Elara. Pada wanita yang terjebak di antara dua dunia, mencari keadilan.

Dan pada misteri tak terpecahkan yang terkubur dalam kehangatan yang menyesatkan itu, sebuah rahasia yang menunggu untuk bangkit dari kegelapan, meminta untuk didengar.

Air Hangat yang Membawa Mimpi Aneh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *