Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Tikungan Ini Selalu Memakan Korban — Konon Dijaga Naga Hitam

11
×

Tikungan Ini Selalu Memakan Korban — Konon Dijaga Naga Hitam

Share this article

Tikungan Ini Selalu Memakan Korban — Konon Dijaga Naga Hitam

Perjalanan Terhenti di Tikungan Maut: Misteri Naga Hitam

Angin dingin menerpa wajah Andi saat mobilnya membelah kegelapan malam. Ia adalah seorang penulis perjalanan, selalu mencari kisah tersembunyi, legenda yang terlupakan. Perjalanan kali ini membawanya ke pelosok Jawa Barat, menuju sebuah desa terpencil yang konon menyimpan rahasia kuno.

Tujuan utamanya adalah mendokumentasikan festival adat yang hanya diadakan setiap tujuh tahun sekali. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada daya tarik lain: Tikungan Naga Hitam. Sebuah tikungan tajam yang terkenal angker, tempat banyak nyawa melayang tanpa penjelasan logis.

Warga setempat menyebutnya “Tikungan Maut”. Mereka berbisik tentang kehadiran tak kasat mata, tentang jiwa-jiwa yang terperangkap, dan tentang kemurkaan entitas purba yang bersemayam di sana. Andi, dengan segala skeptisisme modernnya, menganggapnya hanya takhayul.

Ia ingin membuktikan bahwa semua itu hanyalah mitos, hasil dari kelalaian pengemudi atau kondisi jalan yang buruk. Malam itu, ia memutuskan untuk mengambil rute memutar yang melewati tikungan itu, sekadar untuk merasakan atmosfernya, mungkin mengambil beberapa foto.

Jalanan mulai menyempit, dikelilingi oleh hutan lebat yang menelan cahaya bulan. Kabut tipis mulai turun, merayap dari pepohonan, menciptakan selubung misterius di sekeliling mobilnya. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya seolah menahan napas.

Radio mobil tiba-tiba berderak, hanya mengeluarkan suara statis yang menusuk telinga. Andi mencoba mengubah saluran, namun hasilnya sama. Sebuah firasat aneh merayap, rasa tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan.

Tiba-tiba, lampu depan mobilnya menangkap sesuatu di kejauhan. Sebuah kendaraan, mungkin truk, tampak berhenti tepat di tengah tikungan. Anehnya, tidak ada lampu belakang yang menyala, dan bentuknya tampak kabur di tengah kabut.

Andi mengurangi laju mobilnya, mengira ada kecelakaan. Namun, saat ia mendekat, ada yang aneh. Kendaraan itu tidak bergerak, bahkan tidak ada tanda-tanda kerusakan atau aktivitas. Seperti sebuah siluet kosong yang menanti.

Jarak tinggal beberapa meter, saat keanehan sesungguhnya terjadi. Tanpa suara, tanpa sedikit pun getaran, kendaraan di depannya itu lenyap. Benar-benar lenyap, seolah ditelan kabut atau ditarik ke dimensi lain.

Andi menginjak rem mendadak. Ban mobilnya berdecit keras, dan mobilnya berhenti tepat di bibir tikungan. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tercekat di tenggorokan. Apa yang barusan ia lihat?

Ia mematikan mesin, mencoba menenangkan diri. “Ini pasti kelelahan,” bisiknya pada diri sendiri. “Atau ilusi optik karena kabut.” Namun, akalnya tahu, apa yang disaksikannya tadi jauh dari sekadar ilusi.

Ia mencoba menyalakan mesin lagi, tetapi mesin mobilnya mati total. Berulang kali ia memutar kunci, namun hanya terdengar suara “klik” yang hampa. Ponselnya? Tidak ada sinyal sama sekali. Ia benar-benar terisolasi.

Dingin mulai menusuk tulang. Andi memutuskan untuk keluar dari mobil. Udara di luar terasa lebih pekat, lebih dingin. Kabut semakin tebal, melilit pepohonan seperti tentakel raksasa.

Ia melangkah perlahan ke tengah jalan, tempat kendaraan misterius itu menghilang. Tidak ada jejak ban, tidak ada serpihan kaca, tidak ada bau bensin. Jalanan itu bersih, seolah tidak pernah ada apa-apa di sana.

Sebuah bau aneh tercium di udara. Bukan bau tanah atau daun basah, melainkan aroma busuk yang samar, seperti sesuatu yang mati, namun bercampur dengan bau rempah yang asing. Aroma itu seolah merayap ke dalam paru-parunya.

Dari kegelapan hutan, terdengar suara. Bukan suara binatang, melainkan bisikan, samar namun jelas. Seperti desahan panjang yang membawa duka, atau perhaps, sebuah panggilan yang menakutkan.

Andi menoleh cepat, mencari sumber suara. Tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan raksasa yang tampak seperti siluet monster dalam kegelapan. Namun, bisikan itu seolah mengitarinya, datang dari segala arah.

Ia kembali ke mobilnya, mencoba sekali lagi menyalakan mesin. Tetap nihil. Ketakutan mulai menggerogoti logikanya. Ia teringat cerita-cerita tentang Tikungan Naga Hitam, tentang pengemudi yang menghilang tanpa jejak.

Ia membuka laci mobil, mencari peta. Sebuah buku kecil tentang legenda lokal yang ia bawa terjatuh. Matanya tertuju pada bab tentang “Penjaga Naga Hitam,” entitas yang konon menuntut persembahan jiwa.

Legenda itu bercerita tentang kabut yang menelan, tentang suara-suara yang memanggil, dan tentang waktu yang melengkung. “Yang terhenti di tikungan ini,” bunyi tulisan itu, “adalah tamu tak diundang bagi sang penjaga.”

Tiba-tiba, lampu depan mobilnya berkedip-kedip, lalu padam sepenuhnya. Kegelapan total menyelimutinya. Jantung Andi berpacu, napasnya memburu. Ia merasakan kehadiran yang dingin, tepat di sampingnya.

Bukan sentuhan fisik, melainkan sensasi yang lebih dalam. Sensasi seperti ada sesuatu yang menatapnya, mengamatinya, menilai setiap ketakutannya. Udara di dalam mobil terasa sesak, berat, dan dipenuhi bau busuk yang semakin pekat.

Dari balik kabut, di luar jendela, ia melihatnya. Bukan wujud yang jelas, melainkan bayangan hitam pekat yang bergerak, berputar-putar. Bentuknya tidak beraturan, seperti gumpalan asap yang hidup, namun dengan mata merah menyala.

Mata itu memancarkan kebencian, kelaparan, dan kedinginan abadi. Andi tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak. Ia hanya bisa menatap, terjebak dalam teror yang melumpuhkan.

Bayangan itu mendekat ke jendela, lalu seolah melayang melewatinya. Andi merasakan hawa dingin menusuk tulang menembus kursinya. Bisikan itu kini terdengar jelas di telinganya, bukan lagi desahan, melainkan nama. Namanya sendiri.

Suara itu serak, berderak, seperti suara batu yang bergesekan. Ia mencoba menutup telinganya, namun suara itu menembus pikirannya, menggema di dalam kepalanya. “Kau… adalah… persembahan…”

Ia merasakan sebuah tarikan, bukan fisik, melainkan pada jiwanya. Sebuah kekuatan tak terlihat yang mencoba merenggut esensinya, menariknya ke dalam kegelapan yang tak berujung. Ia melawan dengan sekuat tenaga, berpegangan pada kesadaran terakhirnya.

Waktu terasa berhenti, atau mungkin melengkung seperti yang dikatakan legenda. Ia tidak tahu berapa lama ia bertahan dalam pergulatan itu, terjebak antara dunia nyata dan jurang kegelapan.

Kesadarannya mulai memudar, pandangannya mengabur. Mata merah menyala itu adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum kegelapan menelannya sepenuhnya. Sebuah kekalahan yang total, tanpa perlawanan yang berarti.

Ketika fajar menyingsing, kabut perlahan menghilang. Sinar matahari pagi menyinari Tikungan Naga Hitam, membuatnya tampak biasa saja, tidak ada yang menakutkan. Sebuah mobil terparkir di pinggir jalan, mesinnya mati.

Beberapa jam kemudian, seorang pengendara melintas dan menemukan Andi di dalam mobilnya. Ia pingsan, tubuhnya dingin dan pucat, seolah baru saja melewati cobaan berat. Wajahnya tampak lebih tua, matanya cekung.

Ia dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dokter tidak menemukan penyakit fisik apa pun, namun Andi tampak trauma. Ia tidak bisa berbicara, hanya menatap kosong ke dinding, kadang berbisik kata-kata tak jelas tentang “bayangan” dan “bisikan”.

Polisi menyelidiki mobilnya, tetapi tidak menemukan tanda-tanda kerusakan atau penyebab kematian mesin yang jelas. Tidak ada jejak kendaraan lain, tidak ada bukti kecelakaan. Misteri tetap menyelimuti Tikungan Naga Hitam.

Andi tidak pernah menulis lagi. Ia pulang ke rumahnya, tetapi ia bukanlah Andi yang dulu. Ada sesuatu yang hilang darinya, sebagian dari dirinya yang telah direnggut oleh kegelapan di tikungan itu.

Setiap malam, ia terbangun dengan keringat dingin, mendengar bisikan yang sama, mencium bau busuk yang sama. Dan terkadang, ia melihat sepasang mata merah menyala dalam kegelapan kamarnya, menunggu.

Perjalanan Andi memang terhenti di Tikungan Maut. Ia selamat secara fisik, namun jiwanya telah disentuh, atau mungkin sebagiannya telah diambil. Dan Tikungan Naga Hitam, dengan segala misteri dan legendanya, tetap ada, menanti korban selanjutnya.

Tikungan Ini Selalu Memakan Korban — Konon Dijaga Naga Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *