Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Warung Kopi di Ujung Jalan Itu Menyimpan Sesuatu… Jangan Datang Saat Senja

10
×

Warung Kopi di Ujung Jalan Itu Menyimpan Sesuatu… Jangan Datang Saat Senja

Share this article

Warung Kopi di Ujung Jalan Itu Menyimpan Sesuatu… Jangan Datang Saat Senja

Warung Kopi Misteri di Ujung Senja

Pak Budi, satpam malam, hafal setiap jengkal. Dua puluh tahun ia mengabdi, rutin tanpa cela. Warung kopi tua itu, kosong sepuluh tahun. Sebuah kenangan usang di sudut jalan.

Tak pernah terlintas di benaknya, warung itu menyimpan rahasia. Hingga suatu malam, keheningan pecah. Sebuah cahaya samar muncul dari sana.

Mula-mula, Pak Budi mengira hanya ilusi. Mungkin pantulan lampu jalan. Atau anak-anak iseng bermain. Ia mengabaikannya, melanjutkan patroli.

Namun, malam berikutnya, cahaya itu kembali. Lebih terang, lebih jelas. Aroma kopi tercium, tipis, namun nyata. Seolah warung itu hidup kembali.

Jantung Pak Budi berdesir aneh. Warung itu tak punya listrik. Pintu dan jendela terkunci rapat. Bagaimana mungkin ada cahaya, apalagi aroma?

Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Ia mendekat perlahan, langkahnya ragu. Aroma kopi itu makin kuat, menusuk hidung. Manis, pahit, memikat.

Dari balik semak, ia mengintip. Cahaya kuning remang memancar. Seolah ada lentera di dalam. Suara bisikan sayup terdengar. Mirip obrolan orang.

Tetapi, tak ada satu pun bayangan manusia. Hanya keheningan absolut di luar. Warung itu berdiri sendiri, seolah mengundang, seolah menanti.

Pak Budi bergidik. Bulu kuduknya meremang. Ia tak pernah percaya hal mistis. Namun pemandangan ini, logika tak sanggup menjangkau.

Keesokan harinya, ia memeriksa warung itu. Pintu masih terkunci gembok berkarat. Debu tebal menutupi segalanya. Tak ada tanda-tanda aktivitas.

Seolah malam itu hanyalah mimpi buruk. Atau halusinasi karena kelelahan. Pak Budi mencoba melupakan, tapi bayangan itu terus menghantui.

Malam ketiga, warung itu kembali hidup. Kali ini lebih berani. Cahaya lebih benderang. Suara tawa pelan, denting cangkir, alunan musik klasik sayup.

Pak Budi bersembunyi di balik pohon asam besar. Mengamati setiap detail. Pintu warung terlihat sedikit terbuka. Seolah ada yang sengaja membukanya.

Ia melihat bayangan samar bergerak di dalam. Mirip sosok wanita ramping. Rambutnya tergerai panjang. Melayani entah siapa.

Rasa dingin merayap di punggungnya. Keringat dingin membasahi pelipis. Ini bukan main-main. Ini adalah sesuatu yang lain.

Ia mencoba memberanikan diri. Melangkah satu dua kali ke depan. Namun, begitu kakinya menyentuh area depan warung, semua lenyap.

Cahaya padam seketika. Suara-suara berhenti. Pintu tertutup rapat. Hanya kegelapan dan keheningan yang tersisa. Seolah warung itu tak pernah hidup.

Pak Budi terhuyung mundur. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, ia telah melewati batas. Warung itu tidak ingin diganggu.

Beberapa hari berikutnya, ia menghindari warung itu. Berpatroli lebih jauh. Mengambil rute memutar. Rasa takutnya kini jauh lebih besar.

Namun, rasa penasaran itu tak bisa dipadamkan. Setiap malam, matanya terus tertuju pada warung tua itu. Menanti saat ia kembali hidup.

Dan warung itu tak mengecewakan. Setiap malam, setelah jam dua dini hari, ia akan membuka. Mengeluarkan aroma kopi, suara tawa, dan cahaya remang.

Pak Budi mulai mencari tahu. Bertanya pada warga lama. Mengenai sejarah warung itu. Tentang pemiliknya, tentang apa yang terjadi di sana.

Seorang nenek tua, penghuni asli kampung, akhirnya bercerita. Warung itu milik Bu Lastri. Seorang janda yang hidupnya didedikasikan pada kopi.

Bu Lastri sangat mencintai warungnya. Ia tak pernah menutupnya. Bahkan saat sakit, ia tetap melayani pelanggannya dengan senyum.

Suatu malam, saat hujan badai, Bu Lastri menghilang. Warungnya kosong begitu saja. Tak ada tanda-tanda perampokan. Hanya menghilang.

Banyak yang menduga ia hanyut banjir. Ada pula yang bilang ia diculik. Namun, jasadnya tak pernah ditemukan. Warung itu pun terbengkalai.

“Bu Lastri itu orangnya gigih,” kata nenek itu. “Dia pernah bilang, ‘Selama masih ada yang butuh kopi, warungku takkan pernah tutup’.”

Kata-kata nenek itu menusuk benak Pak Budi. Apakah ini? Apakah jiwa Bu Lastri masih terikat pada warungnya? Melanjutkan janjinya?

Malam itu, Pak Budi merasa harus melakukan sesuatu. Ia tak bisa lagi hanya mengamati. Ia harus menghadapinya. Atau setidaknya, mengerti.

Ia membawa senter dan sebotol air mineral. Bertekad mendekati warung itu lebih dari sebelumnya. Saat cahaya muncul, ia langsung bergerak.

Aroma kopi lebih pekat dari biasanya. Suara-suara di dalam lebih jelas. Ia bisa mendengar cangkir beradu. Bisikan nama-nama pelanggan.

“Pak Anwar, kopi pahitnya.” “Bu Siti, teh hangatnya sudah siap.” Suara wanita itu merdu. Jelas itu suara Bu Lastri.

Pak Budi memberanikan diri. Melangkah ke teras warung. Udara dingin menyergap. Namun, ada kehangatan aneh dari dalam.

Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di dalam, warung itu bersih. Meja-meja tertata rapi. Cangkir-cangkir berjejer.

Di belakang meja kasir, ada siluet wanita. Rambutnya disanggul rapi. Gerakannya cekatan. Melayani deretan kursi kosong.

Kursi-kursi itu terlihat berpenghuni. Namun, hanya bayangan tipis. Tak ada wujud nyata. Hanya kabut samar yang bergerak-gerak.

Mereka tertawa. Mereka berbicara. Seolah warung itu dipenuhi pelanggan. Namun, hanya Bu Lastri yang terlihat jelas.

Ia menuangkan kopi ke cangkir yang kosong. Mengusap meja yang bersih. Mengatur kursi yang tak pernah bergeser.

Pak Budi merasa ngeri sekaligus iba. Wanita itu, arwah Bu Lastri, masih terjebak. Melayani pelanggan yang tak ada. Menjaga janji abadi.

Ia mengumpulkan keberanian. “Bu Lastri?” panggilnya pelan. Suaranya bergetar.

Siluet itu berhenti bergerak. Perlahan, menoleh ke arahnya. Wajahnya samar, namun Pak Budi bisa merasakan tatapan mata itu.

Bukan tatapan marah. Bukan tatapan menakutkan. Melainkan tatapan lelah. Tatapan kesepian yang dalam.

Warung itu tiba-tiba sunyi. Tawa-tawa lenyap. Cahaya mulai meredup. Aroma kopi memudar. Seolah kehadirannya mengganggu ritual.

Pak Budi tetap berdiri di sana. Merasakan hawa dingin menusuk tulang. Siluet Bu Lastri mengangkat tangannya perlahan. Menunjuk ke sebuah papan.

Di papan itu, tertulis: “Maaf, sudah tutup.” Tulisan itu tampak baru. Tidak berdebu.

Kemudian, dengan gerakan sangat lambat, siluet itu melayang mundur. Menghilang di balik dinding dapur. Cahaya padam total.

Pintu warung tertutup perlahan. Suara ‘klik’ gembok berkarat terdengar. Lalu, keheningan kembali menguasai. Warung itu kembali mati.

Pak Budi terdiam. Kakinya lemas. Ia terduduk di teras. Pikirannya kalut. Ia telah melihatnya. Ia telah berinteraksi.

Sejak malam itu, Pak Budi tak lagi sama. Ia sering memandangi warung itu. Menanti kemunculan cahaya dan aroma kopi.

Dan warung itu tetap hidup. Tetap membuka. Tetap melayani pelanggan yang tak kasat mata. Setiap malam, setelah jam dua dini hari.

Pak Budi tahu, Bu Lastri takkan pernah beristirahat. Ia masih di sana. Menepati janjinya. Menjaga warung kopinya yang abadi.

Kadang, Pak Budi akan meninggalkan sebatang rokok di depan pintu warung. Atau setangkai bunga melati. Sebagai persembahan.

Sebuah penghormatan pada jiwa gigih yang terjebak. Yang tak ingin warungnya mati. Yang masih setia pada aroma kopi dan pelanggannya.

Dan setiap pagi, rokok itu akan hilang. Bunga melati layu. Seolah ada yang menerimanya. Seolah Bu Lastri masih ada di sana.

Menunggu senja berikutnya. Menunggu pelanggan setia yang hanya ia yang bisa lihat. Menjaga warung kopi misteri di ujung senja itu.

Dan Pak Budi, sang saksi bisu, adalah satu-satunya manusia yang tahu. Bahwa warung kopi itu, sejatinya, tak pernah benar-benar tutup.

Warung Kopi Misteri di Ujung Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *