Scroll untuk baca artikel
Provinsi Aceh

Bayangan Itu Selalu Berdiri di Ujung Jembatan Lamnyong Saat Tengah Malam

10
×

Bayangan Itu Selalu Berdiri di Ujung Jembatan Lamnyong Saat Tengah Malam

Share this article

Bayangan Itu Selalu Berdiri di Ujung Jembatan Lamnyong Saat Tengah Malam

Bayangan di Atas Jurang: Misteri Jembatan Lamnyong

Jembatan Lamnyong membentang kokoh di atas sungai, urat nadi beton yang menghubungkan dua sisi kehidupan. Di siang hari, ia adalah jalur sibuk, saksi bisu ribuan perjalanan. Namun, saat malam tiba, aura kelam menyelimuti strukturnya yang perkasa, menyingkap cerita-cerita bisikan dan bayangan yang tak terjelaskan.

Penduduk setempat berbisik tentang kehadiran tak kasat mata, entitas yang bersembunyi di balik tiang-tiang pilar, menunggu. Arifin, seorang jurnalis investigasi dengan reputasi skeptis, mendengar selentingan ini. Ia melihatnya sebagai tantangan, sebuah misteri urban yang layak dikupas tuntas, jauh dari takhayul belaka.

Malam pertama Arifin di Jembatan Lamnyong terasa hampa. Hanya keheningan yang memekakkan telinga dan gemericik air di bawah sana. Ia berdiri di tengah jembatan, membiarkan angin dingin membelai wajahnya, mencoba menangkap setiap anomali, namun nihil. Ia hampir saja menganggap cerita itu isapan jempol.

Namun, saat ia berbalik untuk pergi, sebuah sensasi aneh menjalar di punggungnya. Bukan dingin, melainkan kehampaan yang menusuk. Dalam sepersekian detik, di sudut matanya, ia menangkap sesuatu: sebuah bayangan yang lebih gelap dari malam itu sendiri, melesat di antara celah pagar jembatan.

Jantung Arifin berdebar. Ia berbalik sepenuhnya, namun bayangan itu lenyap, seolah tak pernah ada. Hanya kegelapan pekat yang menatapnya kembali. Keraguan mulai merayap, menggantikan skeptisisme awalnya. Malam itu, ia pulang dengan pikiran kalut dan benih ketakutan yang tertanam.

Penyelidikan Arifin membawanya ke warga tertua di Lamnyong. Pak Darso, seorang nelayan tua, menatapnya dengan mata sayu. “Jembatan itu punya jiwa, Nak,” bisiknya serak. “Bukan jiwa yang hidup, tapi sisa-sisa dari mereka yang hilang di sana. Mereka terjebak, mencari jalan keluar.”

Pak Darso bercerita tentang serangkaian kecelakaan dan penghilangan misterius selama bertahun-tahun. Bukan hanya kecelakaan lalu lintas, tapi juga orang-orang yang tiba-tiba melompat, atau menghilang begitu saja di tengah malam. Polisi selalu menyimpulkan bunuh diri atau kecelakaan, tapi warga tahu ada yang lebih.

“Mereka melihatnya,” lanjut Pak Darso, suaranya nyaris tak terdengar. “Bayangan-bayangan itu. Mereka bukan hanya kegelapan, mereka adalah penarik. Mengajakmu ke dalam kekosongan, ke dalam dingin abadi di bawah sana. Jangan pernah menatapnya terlalu lama, Nak.”

Arifin menolak untuk percaya sepenuhnya, namun cerita Pak Darso menghantuinya. Ia kembali ke jembatan, kali ini dengan kamera infra-merah dan alat perekam suara. Ia ingin bukti, sesuatu yang bisa menjelaskan fenomena ini secara logis. Malam itu, udara terasa lebih berat, lebih pekat.

Ketika ia menyiapkan peralatannya, suhu di sekitarnya mendadak anjlok. Napasnya berubah menjadi kabut. Sebuah bisikan halus, nyaris tak terdengar, seolah berhembus di samping telinganya. “Pulanglah…” bisik suara itu, terdengar seperti koleksi rintihan dan desahan yang terangkai.

Arifin menekan tombol rekam, tangannya sedikit gemetar. Ia mencoba mencari sumber suara, mengarahkan lensa kameranya ke sekeliling. Tiba-tiba, di rekaman infra-merah, muncul sebuah anomali. Bukan bayangan hitam, melainkan distorsi energi, seperti lubang menganga di udara.

Lubang itu bergerak, melayang perlahan ke arahnya. Arifin merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang, diikuti oleh sensasi tercekik. Bayangan yang Pak Darso bicarakan bukanlah ketiadaan cahaya, melainkan lubang yang menyerap cahaya, menyerap kehangatan, menyerap segalanya.

Ia mundur perlahan, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Bisikan itu kini lebih jelas, lebih banyak, seperti paduan suara orang-orang yang menderita. “Bergabunglah… Bersama kami…” Mereka memanggil, menjanjikan kedamaian di tengah kegelapan yang tak terbatas.

Arifin tersandung, hampir terjatuh. Ia merasa seperti ada tangan tak terlihat yang meraih pergelangan kakinya, menariknya ke bawah. Ia berjuang, berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Lubang energi itu semakin dekat, bentuknya kini menyerupai siluet manusia yang memanjang.

Siluet itu tidak memiliki wajah, hanya kekosongan yang mengerikan. Ia mengulurkan “tangan” yang tak berbentuk, seolah ingin menyentuh Arifin, menariknya ke dalam. Arifin merasakan pikirannya mulai keruh, ditarik ke dalam pusaran keputusasaan yang asing.

Dalam kepanikan, ia teringat kata-kata Pak Darso: “Jangan pernah menatapnya terlalu lama.” Dengan sisa-sisa kekuatannya, Arifin memalingkan muka, memejamkan mata erat-erat, dan berlari. Ia berlari sekuat tenaga, tidak peduli ke mana kakinya membawanya, yang penting menjauh dari jembatan terkutuk itu.

Ia tidak berhenti sampai mencapai jalan raya yang ramai, di bawah terangnya lampu jalan. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Ia membuka matanya, melihat sekeliling, dan memastikan bahwa bayangan itu tidak mengikutinya. Ia selamat, tapi ia tahu ia tidak akan pernah sama lagi.

Rekaman yang ia dapatkan terlalu buram, terlalu abstrak untuk dipublikasikan. Hanya distorsi samar dan bisikan yang samar-samar. Siapa yang akan percaya? Siapa yang akan percaya pada bayangan yang menghisap kehidupan, pada suara-suara dari jurang?

Arifin menulis laporannya, namun ia menyamarkan bagian-bagian paling mengerikan. Ia hanya menulis tentang sejarah kelam jembatan dan kecelakaan yang sering terjadi. Dunia perlu penjelasan logis, bukan mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Namun, di dalam hatinya, ia tahu kebenaran yang jauh lebih gelap.

Malam-malam setelah itu, Arifin sering terbangun dalam keadaan berkeringat dingin. Ia masih bisa mendengar bisikan-bisikan itu, merasakan dingin yang menusuk. Ia tahu, bayangan di Jembatan Lamnyong tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya. Mereka telah menyentuhnya, dan sebagian dari dirinya telah ditarik ke dalam kekosongan itu.

Jembatan Lamnyong masih berdiri, megah namun diselimuti misteri. Ribuan kendaraan masih melintasinya setiap hari, tak menyadari apa yang bersembunyi di balik kegelapan. Namun, bagi mereka yang pernah melihatnya, yang pernah mendengar bisikannya, jembatan itu adalah gerbang menuju jurang tak berdasar.

Dan di malam-malam tertentu, ketika bulan bersinar redup dan kabut merayap, jika Anda cukup berani untuk berhenti dan mendengarkan, Anda mungkin akan merasakan dingin yang menusuk. Anda mungkin akan mendengar bisikan samar. Dan jika Anda menoleh, mungkin Anda akan melihatnya: sebuah bayangan yang lebih gelap dari malam itu sendiri, menunggu di atas jurang.

Apakah mereka arwah yang tersesat, mencari teman? Atau entitas kuno yang bersembunyi di bawah infrastruktur modern? Misteri Bayangan di Jembatan Lamnyong tetap tak terpecahkan, menjadi pengingat mengerikan bahwa di balik hal-hal yang terlihat, ada kegelapan yang siap menelan apa pun yang berani mendekat.

Dan terkadang, dalam keheningan malam, Arifin bertanya-tanya: apakah bayangan itu masih memanggilnya? Apakah mereka masih menunggu untuk menariknya sepenuhnya ke dalam pelukan dingin yang pernah ia rasakan? Ia tidak pernah berani kembali ke sana, namun ia tahu, jembatan itu akan selalu ada, memanggil.

Bayangan di Jembatan Lamnyong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *