
Di ujung tanjung, tempat angin laut membelai pasir dengan bisikan mistis, berdirilah sebuah rumah tua. Ia tegak sendiri, seolah membelakangi hiruk pikuk dunia, menghadap langsung samudra luas. Jendela-jendela pecah seperti mata buta, catnya mengelupas menyisakan luka waktu yang dalam.
Rumah itu adalah legenda. Kisah-kisah seram mengelilinginya, ditiupkan oleh nelayan tua dan penduduk setempat. Tak seorang pun berani mendekat, apalagi melangkah masuk. Mereka bilang, rumah itu menyimpan rahasia kelam, jiwa-jiwa yang tak tenang.
Namun, rasa penasaran yang tak terpadamkan selalu menarikku. Setiap kali melintas di jalan setapak pesisir, pandanganku terpaku padanya. Aura misteriusnya memanggil, menantang setiap saraf keberanian dalam diriku. Aku harus tahu apa yang tersembunyi di balik dinding-dinding usang itu.
Suatu sore yang muram, di tengah awan mendung dan desau angin yang meratap, aku memutuskan. Aku akan mendekat. Langkahku terasa berat, seolah pasir di bawah kakiku mencoba menahanku. Setiap embusan angin membawa bisikan aneh, atau mungkin itu hanya imajinasiku yang ketakutan.
Pagar besi berkarat menjulang tinggi, sebagian roboh ditelan usia dan korosi garam. Tanaman rambat liar melilit erat, seolah ingin menelan seluruh bangunan. Pohon-pohon cemara di sekelilingnya tumbuh menjulang, bayangannya menari-nari menakutkan.
Aku mendorong gerbang yang sudah lapuk. Engselnya berdecit nyaring, memecah kesunyian sore itu. Suara itu menggema, seolah memperingatkan agar aku mundur. Namun, rasa ingin tahuku lebih kuat dari rasa takut.
Jalan setapak menuju pintu depan tertutup lumut dan daun kering. Udara di sekitar rumah terasa lebih dingin, lebih pekat. Bau apek, lumut, dan garam laut yang pekat menusuk hidung. Rasanya seperti masuk ke dimensi lain.
Di depan pintu utama yang kokoh, ukiran kayunya sudah memudar. Ada bekas-bekas tangan yang mencoba membuka paksa, atau mungkin itu hanya imajinasiku. Aku meletakkan tanganku di kenop pintu yang dingin dan berkarat.
Pintu itu tak terkunci. Sebuah kejutan yang membuat jantungku berdebar lebih kencang. Apakah memang ada yang sengaja membiarkannya terbuka? Atau waktu telah mengikis penguncinya hingga tak berfungsi lagi?
Aku mendorong pintu perlahan. Suara derit panjang menyambutku, seolah rumah itu menghela napas berat. Kegelapan menyelimuti bagian dalam, hanya sedikit cahaya sore yang berhasil menyusup dari celah jendela yang pecah.
Debu tebal menyelimuti segalanya. Jejak kaki pertamaku menciptakan pola di atas lapisan abu-abu itu. Udara di dalam terasa pengap, berat, seolah tak pernah ada yang menghirupnya selama puluhan tahun.
Ruang tamu dihiasi furnitur yang ditutupi kain putih. Bentuk-bentuk samar di balik kain itu menciptakan ilusi menyeramkan. Aku bisa merasakan tatapan dari setiap sudut ruangan, meskipun tak ada mata yang terlihat.
Sebuah piano tua berdiri di sudut, tuts-tutsnya menguning. Aku mengulurkan tangan, menyentuh salah satu tuts. Suara sumbang keluar, memecah kesunyian dan membuat bulu kudukku merinding. Aku menarik tanganku cepat.
Di atas meja kecil, ada sebuah cangkir teh yang retak. Di sampingnya, sebuah majalah usang dengan tanggal puluhan tahun lalu. Seolah-olah penghuni rumah ini pergi begitu saja, meninggalkan segalanya di tengah aktivitas mereka.
Aku melangkah perlahan ke dapur. Piring-piring masih tertata di rak, beberapa bahkan masih ada sisa makanan kering di dalamnya. Aroma busuk yang samar masih tercium, meskipun telah lama mengering.
Di sudut dapur, ada kalender dinding. Tanggalnya berhenti di suatu hari di bulan Oktober, puluhan tahun yang lalu. Lingkaran merah ditarik di tanggal itu, seolah menandai sebuah peristiwa penting, atau akhir dari segalanya.
Aku merasakan hembusan angin dingin di belakang leherku. Padahal, semua jendela dan pintu tertutup. Aku menoleh cepat, tapi tak ada apa-apa. Hanya bayangan-bayangan yang menari di dinding akibat cahaya remang.
Naik ke lantai dua, setiap anak tangga berderit mengerikan. Suara itu seolah langkah kaki raksasa yang mendaki bersamaku. Aku berpegangan erat pada pegangan tangga yang dingin dan licin.
Kamar-kamar di lantai atas lebih gelap. Di salah satu kamar, aku menemukan tempat tidur yang berantakan, selimutnya tergeletak di lantai. Ada boneka lusuh tergeletak di atas bantal, matanya kosong menatapku.
Boneka itu seolah mengikutiku dengan pandangannya. Aku merasa seperti sedang diawasi oleh sepasang mata tak terlihat. Bulu kudukku meremang, namun rasa ingin tahu tetap mendorongku untuk terus melangkah.
Di kamar lain, ada meja rias dengan cermin yang buram. Di atasnya, sebuah sisir perak dan beberapa jepit rambut. Seolah pemiliknya baru saja selesai berdandan, lalu tiba-tiba menghilang.
Aku mengamati pantulan diriku di cermin. Untuk sepersekian detik, aku bersumpah melihat siluet samar di belakangku. Siluet seorang wanita, dengan rambut panjang terurai dan tatapan kosong.
Aku berbalik cepat. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan diriku yang gemetar di cermin yang buram. Jantungku berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuh. Apakah ini hanya halusinasi?
Aku terus menjelajah. Ada sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik lemari pakaian yang besar. Pintu itu terlihat lebih baru, seolah baru dipasang atau disamarkan. Rasa penasaran mengalahkan ketakutanku.
Aku mendorong lemari dengan susah payah. Di baliknya, sebuah pintu kayu kecil yang polos. Tidak ada pegangan, hanya lubang kunci yang sudah berkarat. Ini pasti menyimpan sesuatu yang penting.
Aku mencoba membuka pintu itu, tapi terkunci rapat. Aku mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk membukanya. Sebuah linggis kecil tergeletak di pojok ruangan, mungkin tertinggal oleh penghuni sebelumnya.
Dengan hati-hati, aku memasukkan ujung linggis ke celah pintu. Aku mengungkitnya perlahan. Suara kayu retak dan engsel berderit memekakkan telinga dalam kesunyian rumah itu. Akhirnya, pintu terbuka.
Di balik pintu itu, ada lorong sempit dan gelap. Udara di dalamnya terasa jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Bau apek bercampur dengan aroma aneh yang samar, seperti melati yang layu.
Aku menyalakan senter ponselku. Cahaya redup menembus kegelapan. Lorong itu mengarah ke sebuah ruangan kecil di ujung. Ruangan itu tidak seperti kamar-kamar lain, dindingnya kosong, tidak ada perabotan.
Di tengah ruangan, tergeletak sebuah kotak kayu tua. Kotak itu diukir dengan detail rumit, namun tertutup debu tebal. Aku mendekat, merasakan energi aneh memancar darinya.
Aku membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku harian lusuh, beberapa foto hitam putih, dan sebuah kalung perak dengan liontin berukir inisial “A.M.”.
Aku mengambil buku harian itu. Halamannya menguning, tintanya memudar. Aku mulai membacanya. Ini adalah tulisan tangan seorang wanita bernama Amelia, yang tinggal di rumah ini puluhan tahun lalu.
Buku harian itu menceritakan kisah hidupnya yang terisolasi. Ia adalah seorang seniman yang mencintai laut, namun kesepian menggerogoti jiwanya. Ia sering berbicara tentang “teman-teman tak terlihat” yang menemaninya.
Pada halaman-halaman terakhir, tulisan tangan Amelia menjadi semakin kacau. Ia menulis tentang suara-suara aneh, bayangan yang menari di dinding, dan rasa dingin yang tak pernah hilang. Ia merasa tidak sendiri.
“Mereka ada di sini,” tulisnya di salah satu halaman. “Mereka ingin aku bergabung dengan mereka. Laut memanggil, tapi bukan ombak yang kudengar.” Kata-kata itu membuat darahku membeku.
Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat yang diulang-ulang: “Aku harus pergi. Aku harus pergi. Laut menunggu.” Dan tanggal yang sama dengan yang dilingkari di kalender dapur.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki yang berat di lantai atas. Suara itu bukan dari arahku, melainkan dari kamar tempat aku melihat boneka tadi. Jantungku hampir melompat keluar.
Aku bersembunyi di balik pintu rahasia, mematikan senter ponselku. Suara langkah itu semakin mendekat, perlahan, menyeret, seolah ada seseorang yang berjalan pincang. Atau bukan seseorang sama sekali.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu rahasia. Aku bisa merasakan hembusan napas dingin menembus celah. Sebuah bisikan samar terdengar, “Kau di sana, bukan?” Suara itu serak, seperti pasir yang bergesekan.
Aku menahan napas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak berani bergerak, bahkan untuk bernapas. Aku bisa merasakan kehadirannya, sangat dekat, di balik pintu kayu yang tipis ini.
Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini lebih mengerikan. Lalu, aku mendengar suara decitan, seolah seseorang mencoba membuka pintu dari luar. Aku mencengkeram erat buku harian itu.
Aku tidak bisa tinggal lebih lama. Rasa takut menguasai segalanya. Aku tahu aku harus keluar dari sini, sekarang juga. Aku tidak peduli dengan buku harian atau rahasia lainnya.
Aku membuka pintu rahasia itu dengan dorongan keras, berlari secepat mungkin menembus lorong gelap. Aku tidak melihat ke belakang. Aku mendengar suara teriakan samar dari ruangan di belakangku.
Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, hampir tersandung. Suara-suara aneh mengikuti di belakangku, seperti bisikan berantai yang mengejarku. Aku tidak tahu apakah itu imajinasiku atau kenyataan.
Aku menerobos keluar dari pintu depan, tak peduli dengan deritnya yang nyaring. Aku berlari menembus halaman yang dipenuhi ilalang, tak menghiraukan ranting-ranting yang menggores kakiku.
Angin laut menerpaku, terasa seperti pelukan dingin dari sesuatu yang tak terlihat. Aku tidak berhenti berlari sampai aku mencapai jalan raya utama, tempat lampu-lampu kota terlihat samar di kejauhan.
Aku menoleh ke belakang. Rumah itu berdiri tegak di tengah kegelapan, siluetnya semakin menakutkan di bawah bulan sabit. Jendela-jendela yang pecah seolah menatapku, menyimpan rahasia abadi.
Aku masih menyimpan buku harian Amelia. Setiap malam, aku membacanya kembali, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu. Apakah Amelia gila karena kesepian, ataukah ia benar-benar diganggu?
Rumah tak berpenghuni itu masih berdiri di ujung tanjung. Tak ada yang berani mendekat. Tapi aku tahu, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Suara bisikan, bayangan samar, dan aroma melati yang aneh.
Misteri rumah itu tetap tak terpecahkan. Namun, satu hal yang pasti: rumah itu tidak kosong. Ia dihuni oleh kenangan, kesedihan, dan mungkin, oleh sesuatu yang lain, yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat.
Setiap kali aku melewati jalan setapak pesisir itu, aku merasakan tatapan dingin dari rumah tua itu. Seolah ia memanggilku kembali, untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Tapi aku tahu, aku tak akan pernah kembali.
Setidaknya, tidak dalam waktu dekat. Karena terkadang, rahasia yang tidak terpecahkan adalah yang paling menakutkan. Dan rumah di ujung tanjung itu, dengan segala misterinya, akan selamanya menghantuiku.
Bisikan angin laut di malam hari seolah membawa pesan dari rumah itu. Sebuah pesan yang tak terucap, namun sangat terasa. Tentang kesunyian, kehilangan, dan kehadiran yang abadi.
Dan aku tahu, di balik dinding-dindingnya yang usang, kisah Amelia dan “teman-teman tak terlihatnya” akan terus hidup. Menunggu siapa pun yang cukup berani untuk mendengarkan bisikan mereka.





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4941209/original/000416600_1725961690-IMG-20240728-WA0015.jpg)


