Scroll untuk baca artikel
Provinsi Aceh

Sosok Bertopi Itu Tak Pernah Bergerak, Tapi Selalu Menghadapku

10
×

Sosok Bertopi Itu Tak Pernah Bergerak, Tapi Selalu Menghadapku

Share this article

Sosok Bertopi Itu Tak Pernah Bergerak, Tapi Selalu Menghadapku

Sosok Bertopi di Tengah Ladang: Bisikan Kengerian dari Tanah yang Terlupakan

Ladang itu membentang sunyi, permadani hijau keemasan di bawah langit biru yang tak bertepi. Arka datang mencari kedamaian, menjauh dari hiruk pikuk kota yang menggerogoti jiwanya. Ia memilih sebuah rumah tua di pinggir desa terpencil ini, tepat di tepi ladang gandum yang luas.

Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Beberapa hari setelah kedatangannya, sebuah siluet asing muncul di tengah ladang. Sosok itu berdiri tegak, tak bergerak, mengenakan topi lebar yang menutupi wajahnya.

Awalnya, Arka mengira itu patung orang-orangan sawah, sebuah hiasan biasa. Namun, patung orang-orangan sawah tak seharusnya berdiri di tempat yang sama selama berhari-hari, tak peduli angin atau hujan. Kejanggalan pertama mulai merayapi benaknya.

Sosok bertopi itu seolah berakar di tanah, tak pernah bergeser sejengkal pun. Arka mengamati dari jendela kamarnya, siang dan malam. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi optik atau kelelahan mata.

Namun, ia mulai merasakan tatapan. Meskipun wajahnya tersembunyi, Arka merasa sosok itu memperhatikannya. Sebuah sensasi dingin merayap di punggungnya, bahkan di bawah terik matahari.

Ia mencoba mengabaikannya, melanjutkan rutinitas menulisnya. Tetapi setiap kali ia mengangkat kepala dari layar laptopnya, matanya tanpa sadar tertuju pada titik yang sama di cakrawala ladang. Sosok itu masih di sana, menunggu.

Suatu sore, Arka memberanikan diri mendekat. Ia berjalan perlahan di pematang sawah, jantungnya berdegup tak karuan. Setiap langkah terasa berat, seolah ladang itu sendiri menahannya.

Semakin dekat, semakin jelas detailnya: jubah usang berwarna gelap, topi yang menaungi kegelapan, dan tangan yang tergantung kaku di sisi tubuhnya. Tidak ada wajah, hanya bayangan kosong di bawah topi itu.

Ketika jaraknya hanya tinggal puluhan meter, sebuah angin dingin berdesir, padahal tidak ada awan di langit. Angin itu membawa serta bisikan samar, suara yang tak bisa ia pahami namun menusuk ke dalam tulang.

Arka berhenti mendadak. Bulu kuduknya berdiri. Bisikan itu terdengar seperti rintihan, atau mungkin, sebuah peringatan. Rasa takut yang tak beralasan mencekiknya.

Ia berbalik dan lari, kembali ke rumahnya tanpa menoleh lagi. Pintu rumahnya ia kunci rapat-rapat, seolah ingin mengusir kengerian yang baru saja ia rasakan.

Malam itu, ia tak bisa tidur. Setiap suara gemerisik di luar terdengar seperti langkah kaki yang mendekat. Setiap bayangan di sudut ruangan terasa seperti siluet bertopi itu.

Keesokan harinya, sosok itu masih ada. Namun, ada yang berbeda. Posisi tubuhnya sedikit condong, seolah-olah baru saja bergerak. Atau mungkin, ia sedang membungkuk.

Arka mulai bertanya kepada penduduk desa. Mereka adalah orang-orang tua yang ramah, namun mata mereka menyimpan rahasia. Saat Arka menyebut tentang ladang dan sosok bertopi, senyum mereka memudar.

Pak Karta, seorang petani tua dengan kerutan di wajahnya, menatap Arka dengan tatapan khawatir. “Ladang itu, Nak, sudah ada sejak kakek moyang saya. Banyak cerita yang terkubur di sana.”

Ia bercerita tentang anak-anak yang hilang tanpa jejak, ternak yang mati misterius, dan tanaman yang layu tiba-tiba. Semuanya terjadi di sekitar ladang itu, bertahun-tahun yang lalu.

“Ada yang bilang, itu penjaga ladang,” Pak Karta berbisik, suaranya tercekat. “Tapi bukan penjaga yang baik. Dia menarik apa yang dia inginkan, dan tak pernah melepaskannya.”

Arka mencoba mencari tahu lebih banyak, namun penduduk desa lainnya memilih bungkam. Mereka menghindari tatapan matanya, seolah takut akan sesuatu yang tak terlihat. Misteri itu semakin dalam.

Hari demi hari, ketegangan Arka memuncak. Sosok bertopi itu kini muncul di tempat-tempat yang berbeda, kadang lebih dekat ke rumahnya, kadang di sudut ladang yang lain.

Kadang, ia merasa sosok itu bergerak ketika ia tidak melihat langsung. Sebuah bayangan melintas di ujung pandangannya, sebuah ilusi gerak yang membuat jantungnya berdebar kencang.

Ia mulai merasa terisolasi, terjebak dalam pengawasan sosok itu. Telepon genggamnya sering kehilangan sinyal, dan listrik di rumahnya sering padam tanpa sebab yang jelas.

Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruk. Ia melihat dirinya berjalan sendirian di tengah ladang gelap, dengan sosok bertopi itu berdiri di kejauhan, memanggil namanya dengan bisikan yang tak jelas.

Suatu malam, Arka terbangun oleh suara ketukan pelan di jendela. Ia menduga itu ranting pohon, namun ketukan itu terlalu teratur, terlalu disengaja. Ia menahan napas, tak berani bergerak.

Ketukan itu berlanjut, semakin cepat, semakin keras. Seolah ada sesuatu di luar yang ingin masuk. Ia melirik ke jendela, dan di antara celah tirai, ia melihatnya.

Siluet topi lebar itu, sangat dekat dengan jendelanya. Hanya kegelapan pekat yang terlihat di balik bayangan topinya. Tidak ada suara, hanya kehadirannya yang mencekik.

Arka berteriak, melompat dari tempat tidurnya, dan menyalakan semua lampu. Ketika ia memberanikan diri melirik lagi, sosok itu telah lenyap, meninggalkan dingin yang menusuk di udara.

Ia tahu, ia tidak bisa lari lagi. Ia harus menghadapi misteri ini. Atau setidaknya, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di ladang itu, sebelum ia benar-benar gila.

Ia mencari informasi di internet, menemukan artikel-artikel lama tentang “Ladang Kesunyian” dan kisah-kisah kehilangan yang tak terpecahkan. Ada pola yang mengerikan: semua korban menghilang di dekat ladang, tanpa jejak.

Sebuah foto lama menarik perhatiannya: foto keluarga yang memudar, diambil di tengah ladang yang sama. Di belakang keluarga itu, samar-samar, terlihat siluet seorang pria bertopi. Tanggal di foto itu puluhan tahun yang lalu.

Arka memutuskan untuk kembali ke ladang, kali ini di malam hari. Ia membawa senter dan kamera, sebuah tekad yang bercampur ketakutan menguasai dirinya. Malam itu, ladang itu tampak lebih gelap, lebih luas, dan lebih menakutkan.

Gandum-gandum tinggi berdesir dihembus angin, menciptakan bisikan-bisikan seram. Setiap bayangan seolah bergerak, setiap suara kecil memicu adrenalinnya. Ia merasa ladang itu hidup, mengawasinya.

Ia berjalan ke tengah ladang, tempat ia sering melihat sosok itu. Udara semakin dingin, dan bau tanah basah bercampur dengan aroma aneh yang menusuk hidung, seperti bau jamur dan sesuatu yang mati.

Senter Arka menyapu kegelapan, mencari-cari. Lalu, ia melihatnya. Sosok bertopi itu berdiri di sana, di tengah-tengah lautan gandum yang bergoyang. Kali ini, ia lebih besar, lebih mengancam.

Arka mengangkat kameranya, tangannya gemetar. Ia mengambil beberapa foto, blitz-nya menyala di tengah kegelapan, mengungkap detail yang mengerikan: jubahnya tampak seperti lumut, dan kakinya tampak berakar ke tanah.

Saat blitz terakhir menyala, sebuah bisikan menyeruak dari sosok itu, lebih jelas dari sebelumnya. Itu bukan bahasa manusia, melainkan suara gesekan daun, rintihan angin, dan suara tanah yang berdenyut.

Lalu, perlahan, sosok itu mulai bergerak. Tidak berjalan, tetapi seolah-olah tumbuh, memanjang. Topinya condong, dan dari kegelapan di bawahnya, dua titik merah menyala, seperti mata yang terbakar.

Arka menjatuhkan kameranya. Ia melihat bukan mata, melainkan lubang kosong yang menganga, sebuah kekosongan yang menarik semua cahaya di sekitarnya. Sosok itu bukan manusia, atau hantu.

Itu adalah sesuatu yang lebih tua, lebih primordial. Sebuah entitas yang terbuat dari kesunyian ladang, dari kesedihan yang terkubur, dari semua yang telah hilang di sana. Ia adalah penjaga yang lapar, sebuah jurang yang menelan.

Sosok itu melangkah maju, perlahan, setiap langkahnya menggetarkan tanah. Bisikannya kini terdengar seperti lolongan, suara yang tak bisa dibayangkan, namun menggetarkan jiwa.

Arka berbalik, berlari sekuat tenaga. Ia tidak peduli arah, ia hanya ingin keluar dari sana, jauh dari kengerian yang baru saja ia saksikan. Ranting-ranting mencakar wajahnya, lumpur menarik kakinya.

Ia jatuh bangun, terus berlari, sampai ia melihat cahaya lampu rumahnya yang remang-remang. Ia tak berhenti sampai ia berada di dalam, mengunci semua pintu dan jendela, terengah-engah.

Ia tak pernah melihat sosok itu lagi. Beberapa hari kemudian, Arka meninggalkan desa itu. Ia tak pernah kembali ke Ladang Kesunyian. Namun, bayangan topi lebar itu, dan kekosongan di bawahnya, selalu menghantuinya.

Ia tahu, ada hal-hal di dunia ini yang tidak seharusnya diganggu. Misteri ladang itu tetap tak terpecahkan sepenuhnya, namun Arka telah melihat cukup untuk tahu. Ladang itu memiliki penjaga. Dan penjaga itu selalu lapar.

Sosok Bertopi Itu Tak Pernah Bergerak, Tapi Selalu Menghadapku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *