Scroll untuk baca artikel
Provinsi Aceh

Kami Terjebak di Jalan yang Sama… dan Tak Pernah Sampai Tujuan

10
×

Kami Terjebak di Jalan yang Sama… dan Tak Pernah Sampai Tujuan

Share this article

 

Jalan Berputar yang Tak Pernah Selesai

Malam itu, Andika berkendara pulang. Perjalanan jauh telah menguras energinya. Ia memilih jalan pintas yang direkomendasikan. Sebuah jalan yang tak pernah ia lewati sebelumnya.

Jalan itu gelap, sunyi, dan diselimuti kabut tipis. Lampu mobilnya menembus kegelapan pekat. Pepohonan di kedua sisi tampak seperti siluet raksasa. Hawa dingin mulai menusuk tulang.

Pukul dua pagi, ia melewati sebuah papan nama. “Selamat Datang di Gerbang Hitam.” Nama yang aneh, pikir Andika. Ia mempercepat lajunya, ingin segera tiba di rumah.

Lima belas menit kemudian, papan nama itu muncul lagi. “Selamat Datang di Gerbang Hitam.” Jantung Andika berdebar. Mustahil, ia baru saja melewatinya. Mungkin ia salah lihat.

Ia mencoba memutar balik, mencari kesalahan. Namun, jalan itu selalu kembali ke titik awal. Setiap belokan, setiap tikungan, seperti mengarahkannya kembali ke papan yang sama.

Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia telah terjebak. Jalan ini berputar, tanpa henti. Panik mulai merayapi jiwanya yang lelah.

Jam di dasbornya seperti membeku. Pukul 02.17. Sudah berjam-jam ia mengemudi, namun waktu tak bergerak. Matahari tak kunjung terbit sempurna. Langit selalu kelabu.

Andika mencoba berteriak, memanggil bantuan. Suaranya tenggelam dalam keheningan aneh. Hanya dengung mesin mobilnya yang terdengar. Jalan itu benar-benar sepi.

Bensin mulai menipis. Ia tahu ini tidak mungkin. Tangkinya penuh saat ia memulai perjalanan. Ketakutan nyata mulai mencengkeram Andika.

Sebuah truk tua melaju di depannya. Andika merasa lega. Ada kendaraan lain. Ia membunyikan klakson, mencoba menarik perhatian pengemudi itu.

Truk itu tiba-tiba menghilang. Bukan berbelok, atau menepi. Ia lenyap begitu saja. Hanya menyisakan kabut kosong di belakangnya. Kengerian mulai mencengkeram Andika.

Ia menghentikan mobilnya. Keluar dan melihat sekeliling. Jalan aspal yang sama. Pepohonan yang sama. Kabut yang sama. Tidak ada tanda-tanda truk itu.

“Apa-apaan ini?” bisiknya, suaranya bergetar. Ia kembali masuk ke mobilnya. Terus mengemudi, berharap menemukan jalan keluar.

Namun, yang ia temukan hanyalah perulangan. Papan nama “Gerbang Hitam” muncul lagi. Jembatan tua yang reyot. Pohon tumbang yang sama. Segalanya berulang.

Rasa lapar dan haus mulai menyiksa. Tenggorokannya kering. Perutnya bergejolak. Namun, tidak ada toko, tidak ada rumah makan, tidak ada sumber air.

Ia melihat bayangannya di kaca spion. Wajahnya pucat pasi, mata cekung. Rambutnya berantakan. Ia tampak seperti orang gila.

Tiba-tiba, radio mobilnya menyala sendiri. Hanya desisan statis yang terdengar. Lalu, bisikan-bisikan aneh muncul. Suara-suara memohon, penuh keputusasaan.

“Jangan berhenti…” sebuah suara samar berbisik. “Kau akan terjebak…” Suara lain menimpali, lebih jelas. Andika merinding ketakutan.

Ia mematikan radio itu dengan cepat. Jantungnya berpacu liar. Siapa yang berbicara? Apakah ada orang lain di sini? Atau ia mulai gila?

Pemandangan di luar mulai berubah perlahan. Pepohonan tampak lebih tua, lebih layu. Bangkai mobil berkarat muncul di kejauhan. Ini bukan jalan yang sama persis.

Ia melihat sebuah mobil lain terparkir di pinggir jalan. Lampu depannya berkedip-kedip lemah. Andika mendekat perlahan, penuh harap.

Seorang pria tergeletak di kemudi. Wajahnya biru, matanya kosong. Tangannya mencengkeram erat setir. Sepertinya ia sudah meninggal.

Andika berteriak, mundur teratur. Kematian di jalan ini. Kengerian itu nyata. Ia tidak bisa berhenti. Ia harus terus bergerak.

Semakin lama ia berkendara, semakin aneh jalan itu. Aspal retak, lubang-lubang besar bermunculan. Lampu jalan berkedip tak beraturan.

Kabut semakin tebal. Ia hampir tidak bisa melihat. Namun, ia tahu di mana ia berada. Papan nama “Gerbang Hitam” kembali terlihat samar.

Ia membanting setir ke kanan, mencoba keluar dari jalan. Mobilnya menabrak pembatas jalan dengan keras. Suara benturan yang memekakkan telinga.

Andika terlempar ke depan, kepalanya membentur setir. Pandangannya gelap sesaat. Ketika ia sadar, mobilnya ringsek. Ia tidak bisa bergerak.

Ia melihat ke luar jendela yang retak. Di tengah kabut, sebuah siluet samar berdiri di tepi jalan. Seorang wanita berbaju putih pucat.

Matanya kosong, menatap lurus ke depan. Rambutnya terurai panjang. Ia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, seperti menunggu.

Andika mencoba menyalakan mesin. Percuma. Mobilnya mati. Ia terjebak. Sendirian di jalan berputar yang mengerikan ini.

Wanita itu perlahan mendekat. Setiap langkahnya tanpa suara. Andika mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia mengetuk kaca jendela dengan jari pucatnya. Ketukan itu terdengar seperti gema di dalam mobil. Dingin dan mematikan.

“Kau… tidak bisa… pergi…” suaranya serak, seperti dedaunan kering. “Kau… adalah… bagian… dari… kami…”

Andika memejamkan mata, berharap semua ini mimpi buruk. Ketika ia membukanya, wanita itu telah lenyap. Hanya kabut tebal yang tersisa.

Ia melihat ke kaca spion. Bayangan-bayangan samar muncul di sana. Wajah-wajah putus asa, mata kosong, seperti wajah wanita tadi.

Mereka adalah para pengemudi yang terjebak sebelumnya. Para korban jalan berputar ini. Dan sekarang, Andika adalah salah satunya.

Rasa dingin yang menusuk tulang kini berasal dari dalam dirinya. Ia merasa jiwanya perlahan terkuras. Tidak ada lagi harapan.

Ia tertawa. Tawa yang getir, putus asa. Ia gila. Atau mungkin, ia hanya menerima takdirnya. Takdir untuk selamanya di sini.

Bensinnya habis. Mesin mobilnya benar-benar mati. Namun, anehnya, lampu interior masih menyala redup. Cukup untuk melihat wajahnya yang hancur.

Ia melihat ke luar jendela. Kabut menyingkap sedikit. Di kejauhan, ia melihat sebuah mobil lain mendekat. Lampu depannya bersinar terang.

Seorang pengemudi yang lelah, seperti dirinya dulu. Memilih jalan pintas yang salah. Memasuki lingkaran neraka ini.

Andika mencoba berteriak, memperingatkan. Namun, suaranya tak keluar. Ia hanya bisa menatap, tak berdaya.

Mobil itu melaju melewatinya. Andika melihat ke belakang. Papan nama “Selamat Datang di Gerbang Hitam” kembali terlihat.

Pengemudi mobil baru itu pasti akan melihatnya. Melihat mobilnya yang ringsek. Melihat Andika yang terperangkap di dalamnya.

Namun, tidak ada yang berhenti. Mobil itu terus melaju. Dan Andika menyadari. Ia bukan lagi Andika yang dulu.

Ia adalah bagian dari jalan itu. Bagian dari bayangan yang muncul di kaca spion. Bagian dari bisikan-bisikan di radio.

Ia adalah peringatan. Sebuah hantu di jalan yang tak berujung. Menanti korban berikutnya. Menambah daftar yang tak pernah habis.

Mata Andika kini tampak kosong. Wajahnya pucat, membeku dalam ekspresi kengerian abadi. Tangannya mencengkeram setir.

Ia telah menjadi seperti pria di mobil sebelumnya. Sebuah penampakan. Sebuah tanda dari apa yang menanti.

Kabut kembali menyelimuti mobilnya. Ia menghilang dari pandangan. Seolah-olah mobil itu telah menjadi bagian dari jalan.

Jalan berputar ini tak pernah usai. Selalu ada pengemudi baru yang lelah. Selalu ada papan nama “Gerbang Hitam.”

Dan Andika, masih di sana. Menjadi bisikan di radio. Menjadi bayangan di kaca spion. Menjadi tatapan kosong di tepi jalan.

Selamanya terjebak. Selamanya berputar. Dalam lingkaran misteri yang tak pernah selesai. Di Jalan Berputar yang Tak Pernah Selesai.

Ia adalah penjaga gerbang. Gerbang menuju kehampaan abadi. Menunggu jiwa-jiwa baru untuk bergabung dengannya.

Malam itu, Andika tidak pernah pulang. Dan jalan itu terus menelan. Satu demi satu. Tanpa akhir. Tanpa belas kasihan.

Ia adalah legenda urban. Cerita yang diceritakan para pengemudi. Tentang jalan gelap yang menipu. Tentang jiwa-jiwa yang terperangkap.

Tentang Jalan Berputar yang Tak Pernah Selesai. Sebuah lingkaran horor yang abadi. Menanti korban berikutnya dalam keabadiannya.

Dan Andika, masih di sana, selamanya. Menjadi bagian dari kengerian itu sendiri. Menjadi pengingat yang mengerikan.

Bahwa beberapa jalan, sekali dimasuki, tak akan pernah bisa ditinggalkan. Sebuah misteri tanpa jawaban. Sebuah siklus tanpa akhir.

Hanya ada keheningan. Dan kabut. Dan putaran tak berujung. Di Jalan Berputar yang Tak Pernah Selesai. Selamanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *