Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Apa yang Terdengar di Cadas Pangeran — Dan Mengapa Itu Selalu Terulang?

10
×

Apa yang Terdengar di Cadas Pangeran — Dan Mengapa Itu Selalu Terulang?

Share this article

Apa yang Terdengar di Cadas Pangeran — Dan Mengapa Itu Selalu Terulang?

Jalan Cadas Pangeran: Lingkaran Abadi Jerit Jiwa

Ada kisah yang berbisik di setiap tikungan tajam Jalan Cadas Pangeran, bukan sekadar legenda lama, tapi sebuah kutukan yang tak pernah usai. Ia bukan hanya jalan yang membelah bukit terjal, melainkan denyut nadi waktu yang terkoyak, mengulang duka dan teror yang sama, lagi dan lagi.

Setiap napas yang diembuskan di sana terasa dingin, sarat dengan embun beku yang bukan berasal dari udara. Ini adalah embun ketakutan, dari keringat dingin mereka yang pernah melintasi dan tak pernah kembali, atau mereka yang terjebak dalam putaran tanpa akhir.

Arjuna, seorang jurnalis investigasi dengan reputasi skeptis, datang mencari kebenaran di balik desas-desus. Ia menganggapnya tak lebih dari bualan warga lokal, cerita yang dilebih-lebihkan untuk menakuti pendatang. Jalan Cadas Pangeran baginya hanyalah sebuah proyek infrastruktur kuno.

Namun, sejak mobilnya memasuki gerbang tak kasat mata di awal tanjakan, sesuatu terasa berbeda. Udara menekan, berat, seolah setiap partikelnya membawa beban sejarah yang tak terkatakan. Pepohonan di sisi jalan tampak seperti siluet hantu yang mengawasi.

Malam pertama, ia hanya merasakan kantuk yang tak wajar. Kemudian, suara-suara. Bisikan samar yang seolah memanggil namanya dari balik rerimbunan, atau tawa pilu yang melayang dibawa angin malam, menghilang sebelum sempat ditangkap nalar.

Pagi hari, ia merasa segar, kembali fokus pada misinya. Tapi ada yang aneh. Sebuah truk tua berwarna hijau yang ia lihat kemarin sore, kini kembali melintas di depannya, dengan kecepatan dan posisi yang sama persis. Sebuah déjà vu yang terlalu kuat.

Ia mengabaikannya, mungkin kelelahan. Namun, kejadian serupa terulang. Sebuah sepeda motor dengan plat nomor yang sama, seorang nenek penjual kopi di warung yang sama, bahkan awan mendung di langit pun membentuk pola yang identik. Kecemasan mulai merayapi benaknya.

Arjuna mulai mencatat. Setiap detail, setiap insiden. Dan semakin ia mencatat, semakin jelas pola itu terkuak: hari-hari, jam-jam, bahkan percakapan singkat dengan penduduk desa terulang dengan presisi yang menakutkan. Ia terjebak dalam putaran waktu yang tak kasat mata.

Jalan Cadas Pangeran bukan hanya mengulang sejarah, melainkan mengulang setiap momen yang terjadi di atasnya. Sebuah simpul waktu yang terikat erat, di mana masa lalu, kini, dan masa depan saling bertabrakan, berputar tanpa henti.

Malam-malamnya dipenuhi keringat dingin. Ia mencoba melarikan diri. Berkendara menjauh sejauh mungkin, hanya untuk menemukan dirinya kembali di titik awal, di depan gerbang tak kasat mata itu, seolah jalan itu sendiri adalah makhluk hidup yang enggan melepaskan mangsanya.

Keputusasaan merayap, menggerogoti kewarasannya. Ia mencoba berbicara dengan penduduk setempat, namun mata mereka tampak kosong, seulang mereka pun terjebak, hidup dalam pengulangan yang sama, tanpa menyadarinya, atau mungkin terlalu takut untuk mengakuinya.

Arjuna menggali lebih dalam sejarah kelam jalan ini. Kisah Daendels, sang Gubernur Jenderal yang kejam, dan Pangeran Kornel yang gagah berani. Namun, di balik narasi sejarah, ada bisikan lain. Bisikan tentang ribuan jiwa yang dipaksa bekerja, mati kelaparan, dan terkubur hidup-hidup di bawah bebatuan.

Mereka bukan hanya membangun jalan, melainkan mengukir penderitaan abadi ke dalam setiap inci bebatuan cadas. Jeritan, tangisan, dan kutukan mereka meresap, menjadi esensi dari jalan itu sendiri. Jalan itu, bukan sekadar jalur, melainkan monumen hidup dari siksaan yang tak berkesudahan.

Seiring waktu, Arjuna mulai melihat mereka. Bukan hantu dalam pengertian tradisional, melainkan bayangan buram, siluet tembus pandang dari para pekerja paksa. Mereka bergerak lambat, menyeret cangkul dan batu, dengan ekspresi kosong, mata cekung yang memancarkan penderitaan.

Kadang, ia mendengar mereka. Desisan “lapar,” rintihan “sakit,” dan yang paling mengerikan, “pulang.” Mereka ingin pulang, namun terikat pada jalan yang menjadi kuburan massal mereka. Dan jalan itu, dengan kehendaknya sendiri, terus mengulang adegan kematian mereka.

Pangeran Kornel, yang menantang Daendels, kini terlihat bukan sebagai pahlawan semata, melainkan saksi bisu. Ia adalah jiwa yang terikat pada cadas, mengawasi siksaan abadi rakyatnya, sebuah simbol keberanian yang terkutuk untuk menyaksikan pengulangan tanpa akhir.

Arjuna menyadari, ia bukan sekadar terjebak dalam pengulangan waktu. Ia telah menjadi bagian dari pengulangan itu sendiri. Sebuah pengamat baru, sebuah jiwa baru yang ditambahkan ke dalam lingkaran abadi penderitaan Jalan Cadas Pangeran.

Setiap kali ia terbangun, ia tahu persis apa yang akan terjadi. Truk hijau itu, nenek penjual kopi, bisikan di telinganya. Ia mencoba mengubah alur, berteriak, berlari, namun selalu berakhir di titik yang sama, dengan kejadian yang sama, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menuntunnya.

Puncaknya datang pada malam yang sangat gelap. Ia melihatnya, dengan jelas. Bukan bayangan, bukan siluet. Ratusan wajah pucat menatapnya dari balik kegelapan, mata mereka menyala dengan pendaran hijau pucat. Mereka tidak lagi bisu.

“Kami takkan pernah pergi,” suara mereka berdesir, serempak, menggetarkan tulang. “Kami adalah jalan ini. Kami adalah siksaan ini. Dan kau, kini adalah salah satu dari kami.” Mereka melambaikan tangan kurus, memanggilnya untuk bergabung.

Ketakutan mencekik Arjuna. Ia meronta, namun tubuhnya terasa lumpuh. Wajah-wajah itu mendekat, dingin mereka menembus kulit. Ia merasakan dirinya ditarik, bukan secara fisik, melainkan jiwanya ditarik ke dalam pusaran kelam yang tak berujung.

Kini, jika kau melintasi Jalan Cadas Pangeran di malam hari, perhatikan baik-baik. Di antara desiran angin dan gemuruh kendaraan, mungkin kau akan mendengar suara baru. Sebuah bisikan putus asa yang tak dikenal, bergabung dengan jeritan-jeritan lama.

Itu adalah suara Arjuna, yang kini terikat abadi pada siklus jalan itu. Menjadi bagian dari pengulangan, sebuah bayangan baru yang melintas di tikungan yang sama, berteriak dalam keheningan yang tak terdengar.

Jalan Cadas Pangeran terus mengulang. Setiap hari adalah kemarin, setiap malam adalah siksaan yang sama. Ia menunggu mangsa baru, jiwa baru yang akan menambah putaran dalam lingkaran abadi, sebuah museum penderitaan yang tak pernah ditutup.

Siapa pun yang berani menantang misterinya, bersiaplah. Sebab Jalan Cadas Pangeran tidak akan melepaskanmu. Ia akan menarikmu masuk, menjadikanmu bagian dari kisah kelamnya, mengulang dirimu, lagi dan lagi, selamanya.

Dan bisikan di setiap tikungan akan bertambah. Jerit jiwa yang baru, terjebak dalam lingkaran abadi, menanti korban berikutnya untuk mengisi kekosongan, di Jalan Cadas Pangeran yang tak pernah berhenti mengulang.

Jalan Cadas Pangeran: Lingkaran Abadi Jerit Jiwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *