
Dengungan dari Masa Lalu: Misteri Kursi Kelas XI IPA 2
SMA Bhakti Pertiwi, sebuah bangunan tua yang kokoh namun usang, selalu diselimuti aura misteri. Dinding-dindingnya yang kusam dan koridor panjangnya seolah menyimpan bisikan dari masa lalu, mengundang rasa penasaran sekaligus ketakutan. Banyak cerita beredar, namun satu yang paling sering disebut adalah tentang kursi di Kelas XI IPA 2.
Aris, siswa pindahan yang baru bergabung, awalnya skeptis terhadap desas-desus tersebut. Ia lebih tertarik pada pelajaran fisika dan rumus-rumus rumit daripada cerita hantu. Namun, pada hari pertamanya di kelas itu, pandangannya berubah drastis.
Saat pelajaran dimulai, ia merasakan getaran aneh dari bawah kursinya. Getaran halus, namun jelas, seolah ada mesin kecil berdenyut di sana. Aris mengira itu hanya efek dari bangunan tua, mungkin fondasi yang bergetar.
Ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang iseng. Namun, teman-teman di sekitarnya tampak tenang, sibuk mencatat. Getaran itu berhenti sejenak, lalu muncul lagi, kini sedikit lebih kuat.
Hari-hari berikutnya, fenomena itu terus berulang. Terkadang getaran itu hanya dengungan samar, di lain waktu terasa seperti denyutan kuat. Selalu dari kursi yang sama, kursi di baris ketiga, dekat jendela, yang kini ia tempati.
Teman-teman sekelas mulai memperhatikan. Bisikan-bisikan menyebar, “Itu kursi keramat,” kata seorang gadis dengan nada bergidik. “Dulu ada yang bilang kursi itu dihuni.”
Guru-guru mencoba merasionalisasi. “Mungkin ada getaran dari luar,” ujar Pak Budi, guru sejarah, sambil mengetuk-ngetuk kursi itu. “Atau memang kursinya sudah rapuh.”
Namun, Aris tahu itu bukan sekadar kursi rapuh. Getaran itu memiliki pola, seolah merespons sesuatu yang tak kasat mata. Kadang ia muncul saat kelas hening, kadang saat ada pembahasan tertentu.
Rasa penasaran Aris mengalahkan keraguannya. Ia mulai bertanya kepada siswa-siswa senior, bahkan mencari informasi di perpustakaan sekolah yang berdebu. Kisah-kisah lama mulai terkuak.
Puluhan tahun lalu, sebuah tragedi pernah terjadi di SMA Bhakti Pertiwi. Seorang siswi bernama Lia, yang dikenal cerdas namun pendiam, meninggal secara misterius di dalam kelas itu. Tepatnya, di kursi yang kini diduduki Aris.
Konon, Lia meninggal karena sakit mendadak saat ujian. Namun, rumor mengatakan ada hal lain. Ada yang bilang ia menyimpan rahasia kelam, tekanan yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.
Sejak saat itu, kursi tersebut dikenal angker. Beberapa siswa mengaku pernah mendengar bisikan, merasakan hawa dingin, atau bahkan melihat bayangan samar di sekitarnya. Namun, tidak pernah ada yang merasakan getaran sejelas Aris.
Aris mencoba duduk di kursi lain, namun getaran itu tak pernah berpindah. Seolah kursi itu memiliki ikatan kuat dengan dirinya, atau dengan sesuatu yang ingin berkomunikasi dengannya.
Suatu sore, setelah semua siswa pulang, Aris memutuskan untuk tinggal. Ia ingin menghadapi misteri itu sendirian. Lorong sekolah terasa panjang dan gelap, setiap suara kecil menggema mengerikan.
Ia melangkah masuk ke Kelas XI IPA 2. Ruangan itu terasa dingin, bahkan lebih dingin dari biasanya. Debu beterbangan dalam cahaya senja yang masuk dari jendela. Kursi-kursi tampak seperti siluet hantu.
Aris berjalan perlahan menuju kursinya. Jantungnya berdebar kencang. Ia duduk, menunggu. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan, hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.
Tiba-tiba, getaran itu dimulai. Kali ini bukan lagi dengungan halus, melainkan denyutan kuat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Kursi itu bergetar hebat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mengguncangnya.
Aris merasakan hawa dingin merayap dari kakinya hingga ke tengkuk. Sebuah bisikan samar seolah melayang di udara, begitu pelan sehingga ia tak bisa menangkap kata-katanya. Ketakutan mulai menjalar.
Namun, ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menatap kursi itu, mencoba mencari celah, retakan, apa pun yang bisa menjelaskan fenomena ini secara logis. Tangannya meraba permukaan kayu yang usang.
Di bawah sandaran kursi, tersembunyi sebuah laci kecil yang nyaris tak terlihat. Aris tak pernah menyadarinya. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci itu perlahan. Di dalamnya, ada sebuah buku kecil bersampul usang.
Itu adalah sebuah diari. Tulisan tangan di dalamnya sudah memudar, namun masih bisa dibaca. Aris membuka halaman pertama, jantungnya semakin berdebar. Nama “Lia” tertulis rapi di sana.
Diari itu menceritakan kisah Lia, bukan tentang kematian misterius, melainkan tentang kesepian yang mendalam. Tekanan dari keluarga, ekspektasi tinggi, dan rahasia yang ia simpan sendiri. Ia merasa terjebak.
Setiap getaran kursi, setiap bisikan yang ia rasakan, kini terasa seperti tangisan Lia yang tertahan. Getaran itu bukan ancaman, melainkan permohonan, upaya terakhir untuk didengar.
Aris terus membaca. Lia menulis tentang bagaimana kursi itu menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman, di mana ia bisa melarikan diri dari tekanan. Itu adalah tempat di mana ia menulis semua penderitaannya.
Pada halaman terakhir, ada sebuah pesan samar. Sebuah puisi pendek tentang kebebasan, tentang beban yang akhirnya terangkat. Dan di bawahnya, sebuah kalimat yang membuat Aris terhenyak: “Aku hanya ingin didengar.”
Getaran kursi itu tiba-tiba berhenti. Ruangan kembali hening, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang damai. Seolah Lia akhirnya merasa didengar, setelah puluhan tahun.
Aris menutup diari itu, perasaannya campur aduk. Ia tidak lagi melihat kursi itu sebagai objek angker, melainkan sebagai monumen bisu atas penderitaan seseorang yang terlupakan.
Keesokan harinya, Aris menceritakan apa yang ia temukan kepada kepala sekolah. Diari itu menjadi bukti, sebuah jendela ke masa lalu yang menyakitkan. Sekolah memutuskan untuk mengadakan peringatan kecil untuk Lia.
Kursi itu tidak lagi bergetar. Sesekali, Aris masih merasakan hawa dingin di sekitarnya, atau mendengar bisikan samar. Namun, itu bukan lagi bisikan ketakutan, melainkan bisikan terima kasih.
Misteri kursi Kelas XI IPA 2 telah terpecahkan. Bukan karena hantu atau kutukan, melainkan karena suara hati yang tak terdengar, yang mencari kedamaian setelah sekian lama terkunci dalam kesepian. Dan Aris, sang siswa baru, telah menjadi jembatan bagi jiwa yang terperangkap itu.





